
12 ๐น
" Maafkan aku ya paman,karena ketidaktahuanku sampai Paman juga kena imbasnya, Nona Bos tidak mau bertemu dengan kita."
" Kamu tidak usah khawatir, Nona Arumi memang seperti itu, kalau dia lagi jengkel ataupun kesal dia akan berdiam diri dan tidak mau menerima siapapun ataupun berbicara dengan orang lain."
" Paman tahu banyak ya tentang Nona Arumi?"
Pak Wawan tersenyum.
" Sejak Nona Arumi beranjak remaja, Paman sudah ikut dengan orang tuanya bekerja, dari perusahaan kecil sampai perusahaan besar saat ini." ucapnya lagi-lagi tersenyum Anggara hanya menganggukkan kepalanya.
" Kamu tidak usah khawatir nanti paman yang akan bicara pada Nona Arumi."
Lagi-lagi Anggara tersenyum.
Mereka berdua melangkah menuju ke arah lobi dan melanjutkan kembali pekerjaannya, saat mereka baru sampai di pintu lobi Anggara melihat seorang laki-laki yang melangkah menuju ke arah pintu.
Anggara mengenal laki-laki tersebut yang sudah membuat kakinya terasa sakit itu, Anggara pun mendekatinya namun dicegah oleh Pak Wawan.
Pak Wawan kemudian membukakan pintu lobby utama itu, Brandon pun kemudian masuk ke dalam dan menuju ke arah lift, dia tidak menengok kiri dan kanan dan dia juga tidak melihat kehadiran Anggara.
" Memangnya itu siapa paman? Kenapa Paman mencegah aku untuk memeriksa kedatangannya."
" Dia adalah kekasihnya Nona Arumi."
" Kekasihnya Ibu Bos.?"
" Jangan panggil Ibu, dia tidak mau dipanggil ibu, panggillah Nona Arumi dia itu kekasihnya, pemilik perusahaan Phim Group.
" Iya paman, maksud saya Nona,masa sih itu kekasihnya?"
" Iya, kenapa,, apakah kamu kenal.?"
" Oh tidak paman."
" Tapi kenapa kamu berbicara seperti itu.?"
" Karena saya merasa heran saja, kok masih ada ya orang mencintai dia yang super jutek dan sombong itu." ucapnya sembari terkekeh, Pak Wawan pun hanya tersenyum saja mendengar ucapan dari Anggara.
Anggara menatap ke arah lift di mana sudah digunakan Brandan menuju ke lantai atas.
" Paman tadi bilang, dia adalah kekasihnya, terus perempuan yang bersama dengan dia itu siapanya, jelas-jelas aku mendengar kalau perempuan yang bertemu dengan aku saat kejadian itu, mengatakan kalau dia adalah kekasihnya, mereka berdua terlihat mesra, tapi kenapa paman mengatakan kalau Nona Arumi adalah kekasihnya, Ach! membingungkan, biarkan aja itu urusan mereka, tapi aku merasa kasihan ya dengan Nona Arumi, kalau seandainya memang benar dia dengan wanita yang aku lihat itu, adalah sepasang kekasih, bagaimana seandainya Nona Arumi mengetahuinya, pasti dia akan merasa kecewa berat." ucapnya dalam hatinya sembari terus menatap ke arah Brandon, Pak Wawan pun menyenggol lengan Anggara.
" Kenapa kamu bengong, Ayo kita lanjut kerja."
Anggara mengganggukan kepalanya, sembari tersenyum, kemudian mereka pun menuju ke arah pintu lobby kembali.
Beberapa saat kemudian mereka berbicara berdua di depan lobby, seorang laki-laki dan perempuan paruh baya pun terlihat menghampiri kantor tersebut, mereka membukakan pintu lobby, perempuan itu menatap ke arah Anggara dan Anggara hanya tersenyum, perempuan paruh baya itu terdiam, kemudian laki-laki paruh baya itu menegur sang perempuan
" Ada apa sayang..."
Perempuan paruh baya itu pun hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum pada suaminya, kemudian lelaki paruh baya itu bertanya dengan Pak Wawan.
" Pimpinan kalian ada.?"
Pak Wawan menganggukkan kepalanya sembari bersuara.
" Sayang, disaat aku melihat Security muda itu, rasanya tidak asing bagiku." ucap sang istri.
" Bukan kamu saja, aku juga merasakannya, jika seandainya anak kita masih ada saat ini, mungkin dia sudah sebesar dan sedewasa Dia."
Istrinya itu pun menganggukkan kepalanya
Pintu lift terbuka mereka melangkah keluar dari lift tersebut menuju ke arah ruangan Arumi, karena mereka ada janji dengan Arumi tentang urusan perusahaan.
" Kok aku rasa aneh ya dengan kedua orang tua itu, rasanya aku tidak merasa asing dengan keduanya, rasanya aku mengenal lebih dekat dengan mereka, tapi di mana? Kenapa hari ini begitu aneh sekali, sehingga sangat kebetulan sekali, tadi aku tidak menyangka kalau Nona Arumi adalah Bosku, kedua tentang laki-laki kekasihnya Nona Arumi, dan ketiga kedua orang tua paruh baya tersebut, ada apa ini, semuanya menjadi bingung, hari ini terasa aneh!" gumamnya sehingga dia tidak mendengar panggilan dari Pak Wawan.
" Ada apa denganmu, kenapa kamu hari ini terlihat bengong sekali."
" Aku juga tidak tahu Paman, kenapa aku hari ini seperti orang linglung." ucapnya sembari tersenyum.
" Kamu capek istirahat aja, nanti Paman yang jaga di sini, kalau sudah agak tenangan, baru kamu lanjutkan lagi pekerjaannya."
Anggara menganggukan kepalanya, kemudian dia pun melangkah menuju ke arah pos untuk beristirahat dan duduk menenangkan pikirannya yang terlihat sangat bingung, yang dia pun tidak bisa memahami jalan pikirannya sendiri untuk hari ini, karena dia sudah mendapatkan hal-hal yang aneh yang dia rasakan.
Di ruangan Arumi.
Brandon yang sudah berada di ruangan Arumi itu pun berusaha menenangkan sang kekasih dari emosinya yang sejak tadi dia menceritakan tentang perselisihannya dengan Security baru yaitu Anggara.
" Sayang, kalau kamu tidak suka dengan Security itu kamu bisa pencet aja dia, bereskan! daripada kamu pusing memikirkannya."
" Aku memang ingin segera memecatnya, tapi aku tidak mau gegabah karena nanti ayah akan kecewa dengan cara kerja aku."
" Ini kan perusahaan kamu, kamu sudah sah menjadi pemiliknya, jadi terserah kamu dong mau memecat siapa aja, baik itu Security yang kata kamu berbuat tidak baik sama kamu, kaya apa sih rupa Security itu, sehingga dia seenaknya saja memberhentikan kamu."
" Dia Security baru, wajarlah kalau dia tidak tahu." ucap Arumi, dia pun tersentak dengan ucapannya sendiri, kemudian dia bergumam di dalam hatinya.
" Kenapa aku berbicara seperti itu, seakan-akan aku membela Security itu, jelas-jelas dia yang membuat aku kesel." Gumamnya dalam hati, sembari membenarkan posisi duduknya yang sedang berdampingan dengan Brandon.
Brandon menatap ke arah Arumi dia pun merasa heran dengan sikap Arumi, biasanya Arumi tidak akan pernah mengalah dengan sikap orang yang sudah berselisih paham dengannya, namun saat dia menceritakan semuanya tentang Security itu, Brandan menjadi penasaran karena terlihat sekali Arumi berbeda dari Arumi yang dia kenal, kemudian mereka dikejutkan dengan ketukan pintu ruangan tersebut, Arumi menghela nafasnya dengan panjang.
" Itu pasti Security itu, sudah dua kali ini Dia mengetuk pintu ruanganku, tapi aku tidak mau membukakan pintu tersebut."
" Kamu jangan khawatir, aku yang akan memberi pelajaran pada Security itu, biarkan aja dia masuk apa keinginannya."
Lagi-lagi Arumi menghela nafasnya dengan panjang, kemudian menyuruh si pengetuk masuk, saat pintu terbuka ternyata bukan Anggara yang masuk ke dalam, melainkan sekretarisnya Lisa bersama sepasang suami istri.
Arumi pun berdiri melihat kedatangan tamunya tersebut sembari tersenyum.
" Nona Arumi,ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona.'
Arumi menganggukan kepalanya, kemudian Lisa pun berpamitan dengan Arumi,dia menuju ke arah luar, kemudian menutup pintu ruangan Arumi.
" Silakan duduk ibu, bapak, terimakasih karena sudah repot-repot datang kekantor saya " ucapnya pada kedua tamunya tersebut.
Melihat Arumi kedatangan tamu tersebut, Brandon terkejut dengan kedua tamu Arumi itu, pemilik perusahaan terbesar di dalam dan di luar negeri.
Brandan bergumam.
" Wow!! hebat banget Arumi, bisa meraih pemilik perusahaan terbesar ini dari sinilah aku akan membalaskan dendamku, melalui tamu teristimewanya ini." gumamnya sembari menyunggingkan senyum di ujung bibirnya yang hanya dia sendiri yang tahu arti senyumnya itu.