My Love My Security

My Love My Security
BAB 47



47 ๐ŸŒน


Brandon terperangah mendengar ucapan sang kakak karena selama ini dia berjuang mencari tahu siapa sebenarnya yang telah mencelakai kakaknya itu, tapi setelah dia mengetahui ucapan kakaknya di luar nalarnya karena kakaknya sudah memaafkan semua kesalahan orang yang telah menyakiti kakaknya tersebut dia pun hanya menghelal nafasnya dengan panjang..


" Siapa gadis yang selama ini sudah memberikan Kakak kekuatan yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata itu.?"


Bryan pun menatap ke arah Riana, Riana menundukkan kepalanya.


Brandan menoleh ke arah Riana, antara percaya dan tidak antara senang dan rasa amarah yang telah dia rasakan dengan Silva menjadi satu di kepalanya, dia merasa senang karena sang kakak sudah mendapatkan kekasihnya itu sahabatnya kecilnya sendiri yaitu Riana dan amarahnya dia belum bisa memaafkan Silva.


" Jadi selama ini Kakak dan Riana memiliki hubungan khusus."


Mereka berdua menganggukkan kepalanya.


" Itulah yang membuat aku berjuang untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang sudah mencelakai kak Bryan, setelah aku tahu aku tidak langsung mengasih tahu pada Kak Bryan, karena aku ingin melihat pendirian kamu, kalau sebenarnya Arumi tidakkah bersalah, di situlah aku mencari tahu yang sesungguhnya sampai akhirnya aku mendapatkan titik terang sebenarnya kalau yang bersalah itu adalah Silva."


Brandon kemudian mendekati Riana dia meraih kedua tangan Riana sembari berucap.


" Terima kasih karena kamu sudah selama ini mencintai dan menyayangi tak Bryan, Aku khawatir tidak ada wanita yang benar-benar mencintai dan menyayangi kak Brayan, ternyata aku salah, di hadapanmu sendiri aku sudah salah sangka padamu, Aku kira kamu jatuh hati padaku, tapi nyatanya kamu mencintai kak Bryan."


Riana menganggukkan kepalanya, kemudian melepaskan genggaman tangan sang sahabat, dia menepuk pundak Bryan dengan pelan.


" Dari dulu aku memang tidak suka denganmu,tapi aku sukanya dengan kak Bryan. Sampai akhirnya Kak Bryan juga menyukai aku, kami pun saling jatuh cinta tanpa sepengetahuan kamu, karena selama ini aku harus mencari tahu yang sebenarnya tentang kejadian itu."


Brandon pun menatap ke arah Silva yang menunduk sembari memegang perutnya karena benturan yang sangat kuat itu di saat Brandon mendorong Silva kelantai.


Silva tidak menampakkan rasa sakitnya itu, dia hanya menundukkan kepalanya, karena dia tidak bisa bersuara disebabkan menahan rasa sakit di perutnya itu, Bryan pun kemudian menegur Silva.


" Ada apa denganmu Silva, Kenapa tanganmu memegang perutmu?"


Namun Dilva tidak bersuara sama sekali, Dia hanya terus menunduk, dia tidak meringis kesakitan karena dia tidak ingin mengeluarkan suara rasa sakitnya, cukup sudah dia menyakiti keluarga Brandon.


" Silva! Kamu kenapa?" Tanya ulang Bryan, Silva kemudian mengangkat wajahnya sembari tersenyum.


" Aku tidak apa-apa kak." ucapnya namun Bryan tidak percaya karena dia melihat wajah Silva yang sangat pucat tersebut, melihat itupun Riana kemudian mendekati Silva, sedangkan Brandan hanya mensedekapkan tangannya di dada sembari menatap ke arah Silva dengan lekat.


" Ada apa denganmu Silva?" Tanya Riana sembari mengangkat tubuh Silva dengan pelan, saat Riana mengangkat tubuh Silva dengan pelan Itu Silva kemudian mengeluarkan suara meringisnya, sambil memegang perutnya.


Dan kemudian Silva tidak sadarkan diri, melihat itu Bryan langsung menegur Brandan.


" Cepat bawa Silva ke rumah sakit, Aku takut ada sesuatu yang terjadi di perutnya, karena dia selalu memegang perutnya."


Namun Brandan tidak bergeming dari berdirinya


" Brandan cepatlah! Lupakan dulu kesalahan kamu, kita harus menyelamatkan Silva, aku khawatir jangan-jangan Silva mengandung."


Mendengar ucapan dari Riana Brandan terkejut, Ia pun langsung meraih tubuh Silva dan membawanya berlari pelan menuju ke arah mobilnya, diikuti oleh Riana untuk membantu di dalam mobil beberapa saat kemudian mobil Brandan pun meninggalkan rumah kediaman sang kakak.


' Aku ingin ikut ke rumah sakit " ucap Bryan.


" Tapi Kak,.,"


" Kenapa kamu tidak mau membawa aku ke rumah sakit?"


" Bukan itu maksudnya, Apakah kakak sudah siap untuk keluar rumah?"


Bryan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Riana pun tersenyum bahagia karena sang kekasih sudah mau memperlihatkan dirinya ke khalayak ramai, Riana pun kemudian memindahkan Bryan duduk di kursi roda, Dia kemudian mendorong kursi roda menuju ke arah mobilnya, beberapa saat kemudian mobil itu pun meninggalkan rumah kediaman keluarga Bryan menuju ke arah rumah sakit di mana Brandon dan Silva berada.


Sesampainya di rumah sakit pun Silva sudah ditangani oleh dokter yang ahlinya, Brandon mondar mandiri depan ruang UGD dia merasa bersalah karena sudah menyakiti sang kekasih. Walaupun sebenarnya kekasihnya itu mengakibatkan sang kakak tidak bisa berjalan karena kejadian yang telah dialami sang kakak.


Seorang dokter mendekati Brandon melihat dokter itu melangkah mendekatinya dia pun langsung mendekati dokter itu terlebih dahulu.


" Bagaimana Pak dokter dengan Silva.?"


" Dia harus dirawat dengan intensif, Untung saja kalian cepat membawanya ke sini, kalau tidak akan berakibat fatal."


" Berakibat fatal ? Memangnya kenapa dengan dia dok.?"


" Dia sedang mengandung."


Mendengar perkataan dari dokter tersebut, Brandon pun terkejut dia menatap ke arah dokter itu dengan tatapan tidak percayanya, dia tidak menyangka kalau Silva sudah mengandung anaknya.


Dia kemudian mengusap wajahnya dengan ka*sar dan langsung terduduk lemas di kursi depan ruang UGD sembari menghela nafasnya dengan berat dan bergumam di dalam hatinya.


" Ya Tuhan apa yang aku lakukan pada Silva, Aku tidak menyangka kalau dia sudah mengandung anakku, hampir saja aku sudah mencelakai anakku sendiri." ucapnya di dalam hatinya dia pun tertunduk sembari menangkupkan jari jemari tangannya dia tidak menghiraukan dokter yang masih berdiri di hadapannya itu.


" Apakah anda suaminya?" Tanya Dokter tersebut, Namun Brandon tidak menjawab pertanyaan dari dokter itu.


Dr yang menangani Silva pun tersenyum, dia paham dengan kabar yang telah diberikannya pada keluarga pasiennya itu, dia pun kemudian menyentuh pundak Brandan sembari berkata.


" Bapak tidak usah khawatir, istri dan anak bapak dalam keadaan baik-baik saja, namun saya berharap istri Bapak harus istirahat dengan total.'


Brandon menoleh ke arah sang dokter kemudian dia menganggukkan kepalanya.


" Terima kasih Dokter." ucapnya dianggukan oleh dokter tersebut.


" Pasien bisa dijenguk nanti setelah berada di ruangan." ucapnya lagi, Brandon pun hanya menganggukkan kepalanya dan masih tetap duduk di kursinya itu, dia kemudian menundukkan kepalanya kembali, dan memejamkan matanya sesaat, dokter yang menangani Silva meninggalkannya seorang diri, beberapa saat kemudian Riana datang bersama dengan Bryan.


" Bagaimana keadaan Silva?" tanya Riana.


Brandon kemudian menoleh ke arah Riana dia pun langsung menatap ke arah sang kakak tanpa disangka dia langsung bersimpuh sembari menggenggam tangan kakaknya itu, dia pun menangis Riana sudah dapat mengira apa yang terjadi dengan Silva.


" Ada apa Brandon, Kenapa kamu seperti ini?" Tanya Bryan.


" Aku hampir saja mencelakai anakku sendiri yang sedang dikandung oleh Silva."


" Apa ? Jadi benar Silva mengandung?"


Brandan menganggukkan kepalanya, Bryan pun hanya menghela nafasnya dengan panjang, sembari mengusap kepala sang adik.


" Tapi Silva tidak apa-apa kan? Mereka berdua selamatkan?"


Brandan menganggukkan kepalanya.


" Iya Silva tidak apa-apa, calon anakku pun tidak apa-apa, mereka berdua harus mendapatkan perawatan yang intensif, aku merasa bersalah sekali, karena aku sudah mendorong dia begitu kuat, aku tidak tahu kalau dia sedang hamil karena dia tidak berbicara denganku."


Riana dan Bryan hanya menghela nafasnya dengan panjang. Mereka pun terdiam beberapa saat, kemudian Silva yang masih dalam keadaan tidak sadarkan diri itu pun dipindahkan ke ruangan.


Brandan kemudian mengiringi langkah kedua suster itu yang sedang mendorong bunker di mana Silva masih menutup Mata tersebut, kemudian Brandan memegang tangan Silva sampai Silva masuk ke sebuah ruangan.


" Sayang maafkan aku, aku tidak tahu kalau kamu sedang mengandung, aku salah karena sudah berbuat terlalu marah padamu, cepatlah kamu sadar aku akan memperbaiki semuanya demi anak kita, aku akan mempertanggungjawabkan semuanya di hadapan kedua orang tua kamu dan kita akan memulai hidup baru setelah kamu sehat, kita akan menemui Arumi dan meminta maaf padanya." ucap Brandon sembari menatap dengan sendu ke arah Silva yang masih terbaring dengan kedua mata masih tertutup.


Riana dan Bryan hanya bisa menatap Brandan yang berbicara pada Silva itu, Bryan pun tidak bisa berbuat apa-apa, dia selaku seorang kakak hanya bisa memberikan dukungan untuk adiknya agar bisa mempertanggungjawabkan semuanya pada Silva.