My Love My Security

My Love My Security
BAB 28



28 ๐ŸŒน


" Mau ke mana kamu Purnama?"


" Mama...Hem.... Aku baru datang Mah, tapi ada yang ketinggalan di mobil makanya aku mau balik lagi ke mobil untuk mengambilnya, sebentar ya Mah, aku ngambil dulu ponselku ketinggalan di mobil."


Frida menganggukkan kepalanya sembari menatap ke arah sang anak.


" Apakah Purnama mendengarkan aku berbicara tadi ya, tapi dari wajahnya tidak terlihat rasa keterkejutan saat aku memanggilnya." Ucap Frida berbicara sendiri.


" Ada apa sayang?" tanya Paris sang suami yang keluar dari ruang tamu tersebut.


" Ada Purnama datang...."


" Mana dia? Apakah dia mendengarkan pembicaraan kita tadi.?"


" Kurasa tidak! Karena dia baru aja sampai terlihat dari wajahnya menunjukkan kalau dia tidak mendengarkan pembicaraan kita."


" Astaga! Hampir saja aku ketahuan sama mama, kalau aku mendengarkan mereka berbicara tentang anak Om Innova, Syukurlah! Kalau mama tidak mengetahui kalau aku mendengarkan pembicaraan mereka berdua, Huhhhh..! Hampir saja." Ucapnya sembari mengusap dadanya dan memejamkan matanya sesaat serta menghela nafasnya dengan panjang, dia pun kemudian menutup kembali pintu mobilnya, Dia sengaja mengatakan kalau ponselnya tertinggal di mobil padahal ponselnya sejak tadi nyantol di saku celananya, dia pun kemudian melangkah kembali masuk ke dalam rumah sang mama di mana mama dan ayah tirinya itu duduk di ruang tengah, Frida pun kemudian duduk di hadapan mereka berdua.


" Sejak kapan kamu berada di rumah ini ?"tanya Paris sang ayah tiri sembari menatap lekat ke arah Purnama sang anak tiri.


Purnama terlihat biasa saja pada ayah tirinya itu, dia pun membenarkan posisi duduknya sembari menghela nafasnya dengan panjang.


" Baru aja nyampe tapi terlihat sepi di rumah biasanya kan Bibi yang bukakan pintu, saat mau masuk ke dalam rumah, ponsel ku ketinggalan makanya aku ambil kembali ke mobil." Jawab santai Purnama, terlihat Paris menghela nafasnya dengan panjang, tampak di wajahnya rasa lega, begitu juga dengan Frida.


" Ternyata anak Frida ini tidak mendengar pembicaraan kami itu." Ucapnya dalam batinnya, Paris merasa senang karena Purnama tidak mengengarnya, mereka berdua Saling pandang seolah-olah berbicara melalui hati ke hati, kemudian mereka berdua pun tersenyum, Purnama yang mengetahui kebahagiaan mereka itu karena mereka menyangka kalau dirinya tidak mendengar pembicaraan mama dan ayah tirinya tersebut, hanya menyunggingkan senyum disudut bibirnya sembari mengotak-ngatik ponselnya, seakan-akan dia tidak peduli dengan apa yang telah terjadi di antara kedua orang yang ada di hadapannya tersebut.


" Purnama, ada apa kamu ke sini pagi-pagi sekali, biasanya kamu jarang ke rumah Mama,apa ada masalah di rumah sakit, sehingga kamu pagi sekali datang ke sini.?"


" Di Rumah Sakit tidak ada masalah, Aku ingin jenguk Mama aja, memangnya nggak boleh?"


" Bukan begitu maksud mamah Purnama,oh ya Kamu sudah sarapan?" tanya Frida pada sang anak, Purnama pun menganggukkan kepalanya.


" Baiklah kalau begitu silakan saja kalian berdua berbicara aku ada pekerjaan lain di ruang kerjaku." ucap Paris sembari berdiri dianggukan oleh sang istri, Paris memang jarang berbicara dengan Purnama, karena dia tahu kalau Purnama tidak menyukai dia menikahi ibunya, Purnama memang pernah mengatakan kepada Paris secara terang-terangan kalau dia memang membenci Ayah tirinya itu dan Purnama juga pernah mengatakan pada dirinya selama Frida menikah dengan dirinya dia sudah kehilangan kasih sayang ibunya itu, saat purnama ke rumahnya pun beberapa kali Paris selalu mengatakan Dia memiliki pekerjaan yang lain, agar dia terhindar berbicara dengan anak tirinya tersebut.


Sedangkan Frida dan Purnama pun saling berbicara satu sama lain, bahkan Purnama tidak menyinggung sama sekali tentang kejadian beberapa tahun yang lalu, dia tidak ingin rencananya yang ingin mencari tahu tentang anak Om Innova itu terlebih dulu ketahuan sama sang mama.


***


Di kantor NA Group.


Arumi yang berjanji akan mengunjungi adiknya Neni di rumah sakit itu pun bergegas keluar dari ruangannya, sekretarisnya menghampirinya karena ada sesuatu yang harus ditandatangani oleh Arumi, namun Arumi berbicara pada sang sekretaris untuk menaruh semua berkas yang dia bawa di meja kerjanya karena dia akan kembali lagi ke kantor.


Arumi memasuki lift dan menuju ke arah lobby kemudian dia pun melangkah menuju ke arah mobil pribadinya, namun entah kenapa mobil pribadinya itu tidak jadi dia gunakan karena ada rasa kecurigaan tentang mobilnya tersebut, dia pun mengurungkan niatnya untuk memakai mobil pribadinya itu, dia lalu melangkah menuju ke arah kantor Security yanj berada disamping kantor utama NA group itu.


" Kemana pak Wawan?" tanyanya pada salah satu Security yang ada di dalam kantor Securitynya.


" Nona Arumi, maaf Nona Pak Wawan hari ini tidak masuk."


" Kenapa dia tidak menghubungiku."


Arumi hanya menghela nafasnya dengan pelan.


" Di mana security yang baru itu?"


" Dia berada di depan Nona."


" Di depan? Aku tidak melihaynya, cari dia sekarang dan suruh ke sini !" ucapnya dengan tegas salah satu dari Security itu pun menjalankan titah Nona Bosnya tersebut, terlihat Anggara yang baru datanj dari arah belakang itu langsung dihampiri sang rekan kerjanya itu, Dia berbicara dengan Anggara kemudian Anggara pun melangkah menuju ke arah Nona Bosnya itu.


" Ya Nona, Nona Arumi memanggil saya.?"


" Sudah tahu nanya.!!"


" Iya Nona maafkan saya, maaf Nona ada keperluan apa ua Non, saya masih bertugas."


" Di sini Bosnya siapa hah?! aku apa kamu.!!"


" Maaf Nona." Ucai Anggara sembari menundukkan kepalanya.


" Sekarang antarkan saya ke suatu tempat."


" Kan ada sopir kantor Nona, kenapa saya yang harus membawa Nona? saya kan hanya Security di kantor ini Non?"


" Saya kan sudah bilang Bos kamu itu siapa hah!!"


" Nona Arumi." Jawab Anggara cepat.


" Kalau sudah tahu jangan terlalu banyak tanya! kalau kata saya kamu yang harus mengantarkan saya ke tempat itu, jangan membantah dengan perintah saya! cepat Saya tidak punya waktu banyak.!" Ucapnya dengan melangkah meninggalkan Anggara yang ada dibelakangnya.


Anggara pun mengikuti langkah Arumi, Arumi kemudian menghentikan langkahnya karena diikuti oleh Anggara.


" Kamu mau ke mana Security rese!"


" Nganterin Nona Arumi."


Arumi mendengus dengan kesal sembari menatap ke arah Anggara dengan tajam.


" Ya kamu ambil dong kunci mobilnya di resepsionis sana.!" Ucap Arumi kesal.


" Bukannya menggunakan mobil pribadi Nona Arumi.?"


" Cepat! Ambil kunci mobil di sana, bukan mobil pribadiku!" Ucapnya.


" Baik nona." ucapnya Anggara, pun kemudian melangkah menuju ke arah resepsionis di mana kunci mobil khusus kantor itu berada.


" Isht!! Nyebelin banget sih!itu aja nggak paham-paham." Ucapnya dengan muka cemberutnya.


" Tapi ada apa ya dengan mobil pribadiku? aku rasanya tidak enak mau menggunakannya, sejak tadi pagi juga sudah digunakan tidak terasa nyaman, ada apa dengan mobilku?" Pikirnya sembari menatap mobil pribadinya yang terparkir dengan rapi itu.