My Love My Security

My Love My Security
BAB 15



15 ๐ŸŒน


" Lebih baik kalian pergi dari rumahku dan jangan datang lagi kalau hanya ingin mengungkit-ungkit masa kehilanganku Anak aku."


" Kamu kehilangan anak kamu itu bukan salahku Kak, tapi salah kamu sendiri."


" Apa maksud kamu?!"


" Kalau saja saat itu kakak tidak mengalami pendarahan hebat, mungkin Kakak tidak akan kehilangan anak Kakak."


" Kehilangan anakku? sepertinya kamu semangat sekali untuk menyuruh aku melupakan kejadian itu, jangan-jangan anakku tidak hilang tapi melainkan..."


" Melainkan apa Kak?!" ucapnya sembari memutus ucapan dari Ibu Tia Ivanka.


" Melainkan anakku kalian bawa pergi entah ke mana." mendengar ucapan dari kakak iparnya itu Frida dan suaminya pun terkejut, mereka berdua saling pandang, kemudian Frida pintar menyembunyikan rasa terkejutnya dia pun lalu tersenyum dengan sang kakak.


" Jangan salah sangka dulu denganku, kalau memang Kakak menuduh aku seperti itu, aku akan terima apa yang kakak katakan, tapi asal kakak tahu tidak sedikitpun aku ingin mencelakai kakak, apa yang aku lakukan pada Kakak itu untuk memakamkan lebih awal anak Kakak sebelum kakak sadarkan diri adalah hal yang tepat, karena tidak mungkin menunggu Kakak sadar dan meminta izin pada Kakak, baiklah kalau kakak merasa masih marah denganku kami berdua akan pergi."


Frida menghela nafasnya dengan berat.


" Kak Innova, kami pergi dulu." ucapnya kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan kakaknya tersebut menuju ke arah luar dan beberapa saat terdengar mobilnya meninggalkan rumah kediaman keluarga Rahadian tersebut.


" Aku kesal dengan perempuan itu, Kak Innova tidak berkutik kalau dia sudah berbicara, Kak Inova hanya diam saja, dia tidak mau membela aku." Ucap Frida terlihat kesal.


" Aku juga heran dengan Kak Inova, Kenapa dia tidak mau membela kamu, padahal kamu adalah adiknya." Ucap Faris suaminya.


" Semoga saja dia tidak mengetahui yang sebenarnya."


" Aku juga mulai khawatir kalau dia mulai berpikir, bagaimana kalau dia mencari tahu dari pihak rumah sakit itu, kalau seandainya dia mencari tahu celakalah kita." Sambung Faris.


" Aku akan mengirim orang untuk mengawasi dia, agar dia tidak mencari tahu kejadian sebenarnya."


Sang suami hanya menganggukkan kepalanya mendengar ucapan istrinya itu, mereka berdua pun tidak ada suara sama sekali di dalam mobil, sang suami fokus ke arah depan, sedangkan Frida menghela napasnya dengan panjang sembari mengingat beberapa tahun silam saat Ibu Tia Ivanka melahirkan.


Saat Ibu Tia Ivanka melahirkan dia teramat senang sekali, karena dikabarkan kalau anak laki-lakinya lahir dengan selamat, namun entah apa yang terjadi Dia mengalami pendarahan yang sangat hebat dan membuat dia tidak sadarkan diri saat bayi mungil itu pun di tempatkan di ruang bayi kala itu ruangan bayi kamera pengintai yang tersedia mengalami kerusakan, hanya sekejap mata bayi itu sudah berpindah tangan dengan orang suruhan dari Frida.


Karena dalam keadaan panik orang suruhan Frida itu pun memberikan bayi itu pada seorang laki-laki yang baru saja keluar dari sebuah taksi, karena merasa bingung lelaki itu pun langsung masuk lagi ke dalam taksi tersebut dan menyuruh sopir taksi itu melajukan kembali kendaraannya menuju ke arah rumahnya.


Frida yang pura-pura kehilangan sang keponakan itu pun langsung bernegosiasi dengan pihak rumah sakit agar tidak ingin sang kakak ipar mengetahuinya, mereka pun membuat sandiwara seakan-akan anak Ibu Tia Ivanka itu meninggal dunia karena pihak rumah sakit tidak ingin dituntut oleh Frida akhirnya menyetujui apa yang dikatakan oleh Frida, peristiwa itu pun berakhir sampai di situ saja dan Ibu Tia Ivanka serta suaminya pun pasrah dengan kabar yang sudah diberikan oleh pihak rumah sakit dan keterangan dari sang adik ipar.


Frida pun menghela nafasnya dengan panjang sang suami menoleh ke arah sang istri.


" Saat kejadian beberapa tahun yang lalu adalah kecerobohan kita, karena kita menyewa orang yang tidak profesional." Ucap Frida


" Aku tidak menyangka kenapa orang suruhan Kamu itu begitu mudahnya menyerahkan bayi itu pada orang lain yang tidak dikenalnya."


Frida hanya menghela nafasnya dengan panjang. Dan sang suami pun kembali fokus dengan jalanan.


***


Saat ibu Ningsih sedang asyik mengerjakan pekerjaan di dapur, ponselnya pun berdering Dia kemudian menjawab panggilan dari si penelpon yang ternyata dari pihak sekolah anaknya tersebut.


" Selamat siang ibu...."


" Iya Pak, selamat siang ada apa ya pak." Pikiran ibu Ningsih mulai tidak menentu.


" Ibu bisa ke rumah sakit Al Insan sekarang.?"


" Rumah Sakit Al Insan? Ada apa ya pak.?"


" Niko mengalami kecelakaan sekarang berada di rumah sakit tersebut."


" Apa? kecelakaan? Baik Pak saya akan segera ke sana." ucapnya kemudian memutus sambungan bicaranya itu, dengan gemetar dan terasa lemas dia pun langsung bergegas keluar, setelah dia mengunci pintu rumahnya dia pun langsung melangkah menuju ke arah pangkalan ojek yang tidak jauh dari rumahnya, dia pun kemudian meminta salah satu ojek itu membawa dia ke rumah sakit yang sudah disebutkan, dia tidak ingin menghubungi Anggara karena Anggara masih bekerja.


Di dalam perjalanan menuju ke arah rumah sakit tersebut, doa terucap terus di dalam hatinya memohon agar anaknya tidak terjadi yang sangat serius.


Sampainya di rumah sakit tersebut dia pun melangkah menuju ke arah UGD tempat sang anak dirawat, di ruangan UGD itu dia bertemu dengan guru sekolahnya dan guru itu pun menjelaskan semuanya pada bu Ningsih.


Mendengar cerita dari guru sang anak, bu Ningsih pun semakin lemas dan dia langsung terduduk di ruang tunggu UGD karena dia tidak menyangka akan mendapat musibah yang seberat itu untuk anak lelakinya tersebut.


***


Anggara yang berada di kantor NA group itu merasa gelisah rasanya tidak enak dia ingin segera pulang ke rumah.


Pak Wawan yang melihat sikap Anggara itu pun merasa heran Dia kemudian menegur kan Anggara.


" Ada apa dengan kamu Anggara kenapa kamu terlihat gelisah sekali.


" Aku tidak tahu paman rasanya gelisah sekali pikiranku selalu ke rumah."


" Lebih Baik kamu hubungi saja ibumu kalau kamu merasa gelisah seperti itu."


Anggara pun kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang Ibu, namun sayangnya ponsel ibunya tidak aktif dia semakin merasa gelisah.


" Baiklah Kamu tunggu di sini, Paman akan menghubungi Bibimu dan mengecek ibumu di rumah."


Anggara menganggukkan kepalanya, Pak Wawan pun kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi sang istri, setelah berbicara sesaat dengan istrinya itu, Pak Wawan pun memutus sambungan bicaranya dan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya, dia menghela nafas panjangnya dan menatap ke arah Anggara.


" Ada apa paman.?"


" Lebih baik kamu pulang segera dan kamu harus menuju ke Rumah Sakit Al Insan."


" Ada apa? kenapa harus ke rumah sakit paman.?"


" Menurut kabar dari bibimu, adikmu mengalami kecelakaan di sekolah, karena saat itu Bibimu berada di rumah ibumu untuk mengantarkan buah kelapa yang dipesan oleh ibumu, tapi sayangnya ibumu tidak ada di rumah dan Bibimu kembali ke rumah dan bertemu dengan teman sekelas adikmu, bibiku pun bertanya karena Bibimu ingin berinisiatif menjemput adikmu, tapi sayangnya teman adikmu itu berbicara kalau adikmu mengalami kecelakaan dan sekarang dibawa ke rumah sakit Al Insan, berhubung rumah kamu kosong pasti ibumu sudah berada di rumah sakit, segeralah kamu menuju ke sana, Paman tidak bisa mengantarkanmu, karena Paman harus ada di kantor ini dan mengatakan kepada Nona Arumi kalau seandainya dia bertanya, paman yang akan bertanggung jawab semuanya, cepatlah pergi, kasihan ibumu di rumah sakit sendirian." ucap Pak Wawan.


Anggara terkejut, sedih, menjadi satu, tanpa berkata apapun dia pun langsung berlari menuju ke arah kendaraannya dan melajukan kendaraannya ke arah rumah sakit tersebut untuk menemui ibunya itu.