My Love My Security

My Love My Security
BAB 14



14๐ŸŒน


" Beberapa tahun yang lalu aku merasa terpukul dengan kehilangan anakku, saat itu kamu tidak ada disamping ku, jadi aku tidak tahu apakah benar anak kita itu sudah meninggal atau..." Ibu Tia Ivanka pun menghentikan bicaranya dia menghela nafasnya dengan panjang sang suami menatap ke arah sang istri.


" Kamu Jangan berpikiran seperti itu, Aku tidak ingin nanti kamu drop kembali, karena sudah cukup saat kehilangan kala itu kamu tidak pernah menjaga kesehatanmu."


" Tapi aku merasa kalau anak kita itu masih hidup, saat aku pergi ke makamnya aku tidak merasa kalau makam itu adalah makam anakku."


" Bukankah sudah diberitahu dari pihak rumah sakit juga sudah mengatakan semuanya, mereka sudah melakukan pekerjaannya dengan benar, dengan memakamkannya lebih cepat, karena kamu saat itu tidak sadarkan diri, untung saja saat itu ada Firda dan suaminya, kalau seandainya tidak ada mereka, aku juga tidak tahu apa yang terjadi denganmu, saat aku mendengar kamu ingin melahirkan seakan-akan terhalang untuk segera menemuimu."


Ibu Tia Ivanka pun memijit keningnya dengan pelan dan merebahkan kepalanya di bahu sang suami, suaminya itu pun menyentuh tangannya dan mengusapnya dengan pelan penuh dengan kasih sayangnya.


" Apakah salah kalau aku mengatakan seperti itu, karena perasaanku mengatakan dari awal aku sadar, saat itu Aku memiliki perasaan kalau anakku masih hidup, tapi aku tidak tahu kemana dia pergi."


Pak Innova hanya menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia dikejutkan dengan suara ponselnya yang berdering, dia pun kemudian mengambil ponselnya dan melihat layar ponselnya tersebut tertera nama si pemanggil Jovanka.


Jovanka Rahadian adalah anak perempuannya yang berada di luar negeri, dia memilih menjalankan perusahaan sang ayah yang ada di luar negeri bersama dengan keluarganya, Jovanka memilih menikah muda sambil kuliah, kedua orang tuanya hanya mengiyakan keinginan sang anak, Jovanka memilih tinggal di luar negeri dan tidak berniat untuk tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, walaupun dia tahu kedua orang tuanya hanya memiliki dirinya, Jovanka memang mengetahui kalau dia memiliki seorang kakak, namun Jovanka hanya tahu kalau kakaknya itu telah tiada di saat masih kecil.


" Apa kabar Ayah..."


" Ayah baik-baik aja, tapi tidak dengan Mamah mu..."


" Mamah kenapa ? sedih lagi?"


Pak Innova hanya menganggukkan kepalanya walaupun sang anak tidak melihat anggukan sang ayah.


" Mama selalu saja seperti itu, kan sudah dibilang kalau kakak sudah tiada, kalau kalian merasa kesepian kenapa kalian tidak mengangkat seorang anak, biar kalian merasa senang dan tidak kepikiran tentang almarhum Kakak lagi, itulah yang membuat aku tidak mau tinggal di tanah air, karena akan selalu teringat, walaupun aku tidak pernah melihat kakakku itu, baiklah papa, kalau seperti itu kalian istirahat aja, aku hanya menanyakan kabar kalian kalau ada waktu luang aku akan pulang ke tanah air untuk menjenguk kalian." ucapnya.


" Baiklah Nak, kamu di sana hati-hati."


" Iya Yah..."


Kemudian mereka berdua pun memutus sambungan bicaranya, pak Innova kemudian meletakkan ponselnya di atas meja ruang tengah tersebut, dua orang asisten rumah tangga itu pun membawakan minuman dan cemilan untuk Nyonya dan Tuan besarnya itu, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah mereka, mereka berdua pun menoleh ke arah luar, terlihat Frida dan suaminya melangkah menuju ke arah mereka sembari tersenyum, Frida adalah adik dari Pak Innova namun berbeda Ibu.


" Dari mana kalian, aku tadi mencari kalian di kantor, tapi kalian tidak ada?" tanyanya sembari duduk di hadapan mereka bersama dengan suaminya tersebut.


" Apa? kalian ke sana?"


" Na grup menawarkan sebuah proyek yang berada di Singapura."


" Kakak, proyek yang ada di Singapura itu terlalu kecil dan tidak ada apa-apanya bagi perusahaan kamu."


Ibu Tia Ivanka menoleh ke arah sang adik ipar, Ibu Tia Ivanka sebenarnya memang tidak menyukai sang adik iparnya tersebut, karena adik iparnya itu terlalu mengikut campuri urusan mereka, baik di dalam keluarganya ataupun di dalam perusahaan, padahal perusahaan yang diberikan padanya itu adalah jerih payah dari almarhum mertuanya, tapi karena ketidakpuasannya dia pun menginginkan perusahaan yang sudah lama dikelola oleh suaminya itu.


" Apa maksud kamu berbicara seperti itu, memang proyek yang ada di Singapura itu tidak terlalu besar, tapi sangat besar bagi NA Group, lebih baik kamu tidak usah mengikut campuri urusan kami, kalau kamu ingin mencari proyek lebih besar dari itu kamu bisa mencarinya dengan perusahaan yang lain."


Frida menoleh ke arah sang kakak ipar.


" Sepertinya Kakak ini dari dulu tidak menyukai aku, aku cuma mengatakan ini pada kalian karena keuntungan dan kerugian serta baik buruknya aku sudah bisa memperkirakannya, Aku tidak ingin kalian mengalami kerugian yang sangat besar, proyek itu sudah aku teliti sejak dulu, tapi tidak akan menghasilkan lebih banyak dan kerugiannya lah yang banyak kalian dapat nantinya."


" Itu bukan urusan kamu, lebih baik kamu urusin aja perusahaan yang sudah diwariskan oleh papa dan aku mohon padamu jangan lagi kamu mengikut campuri urusan yang sudah kami jalankan."


Frida menghela nafasnya dengan panjang dia pun kemudian bergumam di dalam hatinya sembari menatap sesaat ke arah sang kakak ipar dan beralih menatap ke arah sang kakak.


" Kak Tia ini memang sangat keterlaluan dia tidak ingin melihat aku terlalu dekat dengan kakakku, apakah dia sudah mengetahui kalau aku ingin menguasai semuanya, karena aku tidak ingin semua perusahaan itu jatuh pada keturunan mereka."


" Selama ini Aku curiga padamu dan aku juga merasa tidak yakin kalau anakku itu sudah tiada, ini pasti ada campur tangan kamu di saat aku melahirkan dulu, karena tidak ada keberanianku saat itu sampai sekarang pun aku tidak bisa menemukan kebenaran, apakah anakku itu benar-benar sudah tiada atau masih ada."


Gumam Ibu Tia Ivanka di dalam hatinya sembari menatap tidak senangnya ke arah adik iparnya itu.


" Sudahlah! kalian tidak usah berdebat tentang proyek itu, tapi benar apa yang dikatakan oleh kakakmu, kamu tidak usah mengikut campuri tentang proyek itu, untung dan ruginya itu tergantung kami, lebih baik kamu urusin aja perusahaan yang sudah dibangun Papa sejak dulu, aku rasa kamu harus menyeimbangkan lagi beberapa perusahaan yang sudah dikembangkan oleh almarhum Papa, jangan sampai perusahaan tersebut gulung tikar seperti perusahaan yang lain yang sudah diberikan Papa padamu."


" Sepertinya kalian tidak percaya denganku selama ini, semenjak anak kalian meninggal dunia, aku tahu Kak Tia sangat marah padaku kala itu, karena aku yang menyuruh pihak rumah sakit agar segera memakamkan anak kamu itu, karena percuma kalau menunggu Kak Tia sampai sadarkan diri, dia bukan boneka yang diharuskan menunggu kakak untuk sadarkan diri dan melihatnya untuk mengijinkan segera dimakamkan, apa salah aku berbuat seperti itu? semenjak kejadian itu kakak sudah mulai membenciku, apalagi saat ini kakak hanya memiliki seorang anak perempuan dan dia pun tidak mau berada di tanah air, tapi melainkan berada dan menetap di luar negeri, kenapa sih Kakak terlalu benci sekali padaku? seharusnya Kakak itu bersyukur denganku, karena kalau tidak ada aku mungkin saat ini kakak tidak bisa memiliki anak lagi."


" Sudah cukup!! kamu berbicara seperti itu, sudah dari dulu Aku tidak suka kamu mengikut campuri urusan keluargaku, mau aku punya anak ataupun tidak itu bukan urusan kamu, seharusnya kamu sadar diri sendiri, urus saja keluargamu dan uruslah anak laki-laki dan anak perempuan kamu yang sampai saat ini tidak tahu apa yang mesti mereka kerjakan."


" Baiklah Kak aku tidak ingin bertengkar denganmu...."


" Aku juga tidak ingin bertengkar denganmu!" Ucap Ibu Tia Ivanka sembari mendengus dengan kesal.