
53 ๐น
Keesokan harinya Arumi berangkat bekerja seperti biasanya, dia tidak menyangka kalau Anggara tetap tidak masuk bekerja karena Anggara sudah mengundurkan diri, dia tidak mengetahui surat pengunduran diri Anggara ada di atas mejanya, dia terus melangkah menuju ke arah ruangannya namun dia tidak mengetahuinya.
Setelah dia pergi dari rumahnya sebuah mobil pun memasuki halaman rumah keluarga Pak Burhan, mobil itu tak lain adalah mobil pribadinya Pak Innova dan Ibu Tia mereka berdua pun turun dari mobilnya melangkah menuju ke arah pintu utama, Dia mengetuk pintu tersebut karena pintu itu baru saja ditutup, Pak Burhan dan istrinya pun terkejut.
" Kenapa Arumi balik kembali, apakah ada yang ketinggalan." kemudian dia pun membuka pintu itu dia terkejut melihat tamunya yang datang.
" Innova..."
" Burhan...."
" Apa kabar... silakan masuk"
" Kabarku baik-baik aja, aku kemarin ada ke kantor kamu dan mengajukan kerjasama yang akan diadakan di Singapura, tapi kamu sudah tidak menjalankan perusahaan lagi."
" Iya, silakan duduk dulu.... Aku memang sudah tidak menjalankan perusahaan lagi, Aku pensiun dari perusahaan dan diteruskan oleh anakku. Ada apa nih sehingga membuat pengusaha terkenal bertandang ke rumahku ini?"
" Ah .. Kamu biasa aja, kamu sama juga pengusaha terkenal juga yang sama-sama merintis dari no."l ucapnya sembari terkekeh, Mereka pun kemudian duduk bersama.
" Begini Burhan, Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu."
" Soal apa itu.?"
" Kamu masih ingat kan saat aku kehilangan anak pertamaku dulu, beberapa tahun yang lalu."
" Iya aku masih ingat, tentang perihal itu, kenapa kamu mengingatnya lagi?"
" Itulah permasalahannya, karena sebenarnya anakku itu tidaklah meninggal dunia, melainkan dia diculik oleh orang lain."
" Apa? aku tidak salah dengar kan?"
" Iya, kamu tidak salah dengar Burhan, dan security yang ada di kantor kamu itu yang bernama Anggara adalah Anakku yang selama ini sudah hilang."
" Anggara anak kamu?" ucapnya untuk kedua kalinya dia terkejut, Pak Inova hanya mengganggu kan kepalanya, Pak Burhan dan istrinya pun terdiam, dia tidak menyangka kalau Anggara adalah anak kandung dari keluarga Rahadian, pak Burhan hanya menghela nafasnya dengan panjang, mereka berdua saling berpandangan.
" Aku sebenarnya juga merasa ada keanehan dengan Anggara, wajahnya itu memang mirip denganmu, tapi aku mengira bukan anak mu, karena kita hidup didunia inikan memailiki wajah yang mirip lebih dari satu orang, makanya aku biasa aja menanggapinya."
Pak Innova tersenyum...
" Begini Burhan, Aku ingin hubungan kita berteman ini menjadi hubungan besan."
Mendengar ucapan dari Pak Innova, pak Burhan pun tidak menyangka mendapatkan kabar yang baik dari sahabat lamanya itu.
" Aku pribadi ingin melamar Arumi menjadi istri Anggara, jujur karena aku tahu Anggara sangat menyukai Arumi."
" Wah! Kebetulan, Arumi juga menyukai anggaran."
" Benarkah?"
Pak Burhan dan istrinya mengangukkan kepalanya sembari tersenyum, Bu Tia pun merasa bahagia karena gayung bersambut, kedatangan mereka ke keluarga pak Burhan tidak sia-sia, keinginan dari mereka mempersunting Arumi menjadi istrinya Anggara mendapat restu.
" Tapi mereka berdua belum menyatakan cinta satu sama lain.Aku tidak ingin mereka mengetahui kalau kita menjodohkan mereka berdua." Ucap pak Burhan.
" Aku ingin mereka mengatakannya sendiri kalau mereka sama-sama mencintai." Sambung pak Innova.
" Kamu mengatakan pada Arumi kalau kamu sudah menjodohkannya dengan laki-laki lain. Dan aku akan mengatakan kepada Anggara kalau dia sudah aku jodohkan dengan anak temanku sendiri, bagaimana?" Tanya pak Innova, dianggukan oleh pak Burhan sembari tersenyum, Mereka pun kemudian berbicara satu sama lain menentukan hari dan tanggal pernikahan kedua anaknya itu, setelah ditemukan kesepakatan Mereka pun Kemudian berpamitan pada Pak Burhan beberapa saat kemudian mobil Pak Innova meninggalkan kediaman rumah Pak Burhan menuju ke arah kediaman rumah pribadinya sendiri dan membuat rencana pada keluarganya yang ada di rumah untuk mengatakan kepada Anggara.
Anggara yang sudah diperkenalkan kepada seluruh karyawan RN group pun kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya yang baru Anggara tidak menyangka kalau perusahaan ini sudah menjadi miliknya, terbersit di dalam pikirannya tentang Arumi yang sekarang mungkin sudah membaca surat pengunduran dirinya itu, benar saja Arumi yang masuk ke dalam ruangannya itu pun Tidak diberitahu oleh siapapun baik sekretarisnya ataupun pihak HRD, Karena itu adalah permintaan dari Anggara, agar Arumi membaca sendiri surat tersebut, Arumi pun melihat di atas mejanya sebuah amplop coklat berada, Dia kemudian duduk di kursi kerjanya dan membuka amplop tersebut, dia mengambil surat yang ada di dalamnya dan dia pun membacanya dia terkejut karena amplop itu bertulisan surat pengunduran diri dari Anggara, dia merasa lemas dan tidak berdaya karena sudah membaca nama yang tertera di surat itu.
" Anggara! Kenapa dia mengundurkan diri?" Gumamnya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu.
" Apakah aku sangat keterlaluan padanya, sehingga dia mengundurkan diri dari pekerjaan ini, di saat aku sayang sayangnya padanya, disaat aku menyukainya dan disaat aku mendapatkan jati diriku sendiri sekarang ini, Kenapa dia meninggalkan aku, Apakah dia tidak ingin bersama denganku." ucapnya dalam tangisnya beberapa saat dia larut dalam tangisannya tersebut, kemudian dia pun menghela napasnya dengan panjang, Karena dia disadarkan oleh suara ponselnya yang berdering di dalam tasnya, dia pun kemudian membuka tasnya tersebut dan mengambil ponselnya, dia melihat layar ponselnya itu, siapa pemanggilnya ternyata dari ayahnya tersayang, dia pun langsung menjawab panggilan dari Pak Burhan.
" Assalamualaikum Ayah."
" Wa'alaikumussalam...Arumi Ada yang ingin Ayah bicarakan padamu."
" Soal apa Yah?"
" Kenapa suaramu nak, apa kamu habis menangis?"
" Nggak Yah, Arumi nggak nangis Arumi cuma merasa nggak enak badan aja."
" Kalau kamu merasa nggak enak badan lebih baik kamu pulang aja, nggak usah bekerja."
" Iya Yah, Arumi akan pulang ke rumah." ucapnya kemudian ponsel itu pun terputus pembicaraannya, Arumi kemudian melangkah meninggalkan ruangan tersebut dengan wajah sebabnya setelah habis menangis, semua mata menatap ke arahnya, namun mereka tidak berani untuk menegur ataupun bersuara tentang nona Bosnya itu, Arumi kemudian melangkah meninggalkan ruangan lobby menuju ke arah mobil pribadinya, dia terus melajukan mobilnya menuju ke arah rumahnya beberapa saat kemudian mobil itu pun masuk ke dalam halaman rumah pribadi kedua orang tuanya, Arumi turun dari mobil tersebut menuju ke arah pintu utama rumahnya itu.
" Assalamualaikum..."
" Waalaikumsalam...." ucap kedua orang tuanya, Mereka pun kemudian menatap ke arah Arumi, Arumi dengan lesu dan lemah duduk di sofa ruang tengah rumahnya itu.
" Kamu kenapa nak?" Tegur Ibunya.
" Arumi tidak apa-apa kok Bun."
" Ada yang ingin Bunda dan Ayah bicarakan dengan kamu."
" Soal apa." Ucapnya gamang, karena dia tidak bisa berpikir jernih disebabkan dia kehilangan Anggara dan tidak akan bisa bertemu kembali dengan Anggara, itulah yang ada di dalam pikirannya saat ini.
" Maafkan ayah dan bunda, karena tidak mendukung kamu bersama dengan security itu."
Arumi tidak menghiraukan ucapan dari kedua orang tuanya, mereka berdua pun saling berpandangan.
" Terus apa yang ingin ayah dan bunda katakan, kayaknya memang Arumi dan Anggara tidak bisa bersatu, karena dia sudah mengundurkan diri dari perusahaan."
Pak Burhan dan Bu Tia pun hanya menghela nafasnya dengan panjang.
" Ayah dan bunda ingin menjodohkan kamu dengan anak teman lama ayah."
Arumi pun menghela napasnya dengan panjang.
" Apapun yang ayah dan bunda lakukan Arumi akan menurutinya, kalau memang itu jalan yang terbaik untuk Arumi, Arumi akan mengikuti keinginan ayah dan bunda." ucapnya sembari berdiri.
" Maaf Ayah Bunda Arumi mau istirahat dulu, aturlah apa yang ingin ayah dan bunda inginkan, agar Arumi bahagia, Arumi akan mengikutinya." ucapnya kemudian melangkah meninggalkan kedua orang tuanya menuju ke arah kamar pribadinya, karena dia ingin menangis sejatinya, di dalam kamar tersebut.
Pak Burhan dan istrinya pun mengangguk kemudian tersenyum.
" Dia pasti sedih karena Anggara berhenti dari kantornya dan dia mungkin berpikir tidak akan pernah bertemu dengan Anggara lagi, rencana kita akan berhasil untuk menyatukan mereka di pelaminan." ucap Ibu Antik sembari tersenyum di anggukkan oleh pak Burhan.
***
Anggara yang ada di dalam ruangannya itu pun terkejut karena pintu itu diketuk dari luar dia pun menyuruh masuk, pintu terbuka ternyata kedua orang tuanya dia langsung berdiri dari duduknya dan menyalami kedua orang tuanya tersebut dan mempersilahkan mereka duduk di sofa yang sudah tersedia di ruangan itu.
" Papa dan Mama ke sini ada apa? kalau perlu dengan Anggara, papah dan mama tinggal hubungi saja, nggak usah jauh-jauh sampai ke sini nemui Anggara."
" Karena ini sangat penting sekali nak."
" Soal apa Pah"
Pak Innova pun menghela nafasnya dengan panjang, dia menatap ke arah istrinya sesaat, kemudian istrinya menganggukkan kepalanya membuat Anggara bertambah heran dan merasa ada sesuatu yang terjadi.