
45 ๐น
" Ada apa Tuan Muda memanggil kami berdua ke sini."
" Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian berdua."
" Tentang apa Tuan Muda?"
" Nona Muda kalian Silva akan datang ke sini, kalau dia bertanya tentang aku, Apakah aku sudah ada di rumah Atau tidak, kalian bilang saja kalau aku sedang keluar bersama temanku, kalau dia bertanya lagi bilang saja aku menemukan orang yang sudah mencelakai Kak Bryan dan sedang membawanya ke suatu tempat."
" Baiklah Tuan Muda, kami akan melaksanakan perintah Tuan." Ucap mbak Teti.
" Silakan kalian melaksanakan tugas kalian, sebentar lagi dia akan datang."
Dianggukkan asisten rumah tangganya tersebut, Brandon kemudian melangkah menuju kamar tamu yang tidak jauh dari ruang tengah itu, dia ingin melihat secara langsung reaksi Silva.
" Bagaimana reaksinya kalau dia sudah mendengar kalau yang selama ini aku cari itu sudah aku temukan, aku ingin membuktikan apakah benar chat misterius itu memberikan kabar yang akurat."
Berapa saat kemudian sebuah taksi berhenti di depan rumah Brandon, Silva turun dari mobil tersebut dan melangkah tersenyum menuju ke arah rumah pribadi Brandon, saat dia hendak menuju ke pintu utama rumah tersebut dia menyapa tukang kebun yang sedang membersihkan dan merapikan tanaman yang ada di depan rumah itu.
" Halo Pak apa kabar..."
" Eh Nona Muda, tumben Nona muda ke sini ada apa ya."
" Tadi aku dihubungi oleh Brandon, untuk ke rumah ini."
" Oh iya benar, tapi Nona disuruh menunggu karena Tuan Muda Brandon dijemput sama temannya."
" Kalau boleh tahu ke mana ya pak?"
" Katanya menemui orang yang sudah mencelakai Tuan Muda Bryan."
" Menemui seseorang..."
Dianggukkan tukang kebun tersebut.
" Perempuan apa laki-laki?"
" Perempuan Non..."
Tukang kebun itu pun asal sebut saja, karena dia tidak diperintahkan untuk mengatakan siapa yang akan ditemui oleh bosnya tersebut.
" Lebih baik Nona nunggu didalam aja, nanti Mbak Teti yang akan membuatkan minuman untuk Nona Muda."
" Baiklah."
Kemudian tukang kebun itu pun melanjutkan kembali pekerjaannya.
Silva pun melangkah dengan penuh bertanya-tanya, di dalam hatinya.
" Siapa yang ditemui mereka? apakah Arumi? Aku rasa tidak mungkin, karena dia tidak ingin lagi bertemu dengannya, Jadi siapa pelaku itu? Pelaku itu adalah aku, siapa yang ditemuinya? Kok rasanya aneh ya, dia kan tidak tahu siapa sebenarnya orang yang sudah mencelakai kakaknya itu."
Kemudian dia pun duduk di ruang tengah, Mbak Teti yang memang sudah menunggu di ruang dapur itu pun melihat Nona Mudanya datang dia langsung menemuinya
" Nona Muda silakan duduk, Saya mau membuatkan minuman untuk Nona dulu, saya dikasih pesan sama Tuan Muda Brandan agar menjamu Nona Muda terlebih dahulu, karena mungkin Tuan Muda sedikit lama, karena Tuan Muda sedang membawa seseorang ke suatu tempat."
" Ke suatu tempat? Memangnya mau ke mana Mbak ?"
" Saya juga kurang tahu, cuma yang dijelaskan oleh Tuan Muda kalau orang yang sudah mencelakai Tuan Muda Bryan sudah ditemukan dan dibawa ke suatu tempat."
Kemudian Silva berdiri dari duduknya dan mondar-mandir seperti setrikaan sembari bersuara. Dia tidak sadar kalau Brandon berada di kamar tamu dan tentunya jelas sekali terdengar Silvaberbicara.
" Siapa yang ditemui oleh Brandon, dia kan nggak tahu sebenarnya akulah yang membuat kakaknya itu tidak bisa berjalan, tapi kenapa ada orang lain yang mengaku dia yang mencelakai kakaknya, seharusnya aku senang karena ada yang menutupi kesalahanku di hadapan Brandon, namun aku merasa gelisah sama orang itu yang sudah mengaku tapi bukan dia yang membuat kesalahan, kenapa mesti ada orang lain lagi, apa yang harus aku lakukan kalau seandainya Brandon salah orang dan mencelakai orang itu, dia pasti akan berurusan dengan pihak yang berwajib, terus aku bagaimana? aku sangat mencintainya Aku tidak ingin dia meninggalkan aku, begitu saja. Kenapa sih orang itu begitu saja muncul mengatakan kalau dia yang berbuat salah!" ucapnya sembari tetap mondar-mandir di depan kamar ruang tamu tersebut, mendengarkan ucapan Silva membuat Brandon marah ia mengepalkan kedua tangannya sembari mendesis dengan pelan.
" Ternyata aku mencintai orang yang salah, ternyata aku mencintai wanita yang sudah mencelakai kakakku, ternyata apa yang diucapkan oleh Kak Bryan itu memang benar kalau Arumi tidak bersalah."
Kemudian dia pun membuka pintu kamar tersebut dan menepukkan kedua tangannya sembari menatap Silva dengan tatapan tajam dan marahnya pada Silva.
" Bagus!! Rupanya selama ini aku salah orang."
" Sayang? kamu rupanya ada di rumah? Apakah kamu sudah merencanakan ini semua?"
" Ya!! Terkaan kamu memang benar, rupanya selama ini kamu yang sudah mencelakai kakakku, Kamu sangat keterlaluan sampai aku membenci orang lain."
" Tapi sayang,.."
" Tidak perlu Kamu memanggil aku dengan sebutan sayang, karena aku sudah muak dengan kamu! seharusnya kamu berpikir sejak dulu jika kamu mengakui kesalahan kamu dan tidak melemparnya dengan orang lain mungkin semuanya berubah!!" Teriak Brandan.
" Sayang kamu salah sangka, bukan aku yang melakukan itu semua."
" Apa!! Bukan kamu? terus apa yang kamu ucapkan tadi hah!! apa aku tuli, semua sudah aku dengarkan, sekarang kamu harus ikut denganku!"
" Kemana Kamu membawa aku, jangan kamu bawa aku ke pihak yang berwajib."
" Tidak perlu tahu kamu aku bawa ke mana, yang jelas kamu harus ikut denganku dan kamu harus mempertanggungjawabkan semuanya."
" Maafkan aku, tolong jangan bawa aku, kita bisa bicarakan baik-baik, tolonglah! kamu kan sudah bilang padaku kalau kamu mencintai aku saat pertama kali kamu melihatku."
Namun Brandon tidak menghiraukan omongan dari Silva, dia terus menarik Silva menuju ke arah mobilnya dan dia langsung memasukkan Silva ke dalam mobilnya, beberapa saat kemudian mobilnya pun tinggalkan rumah pribadinya itu menuju ke arah rumah sang kakak, dia ingin memperlihatkan wajah orang yang sudah mencelakai kakaknya itu di hadapan kakaknya, di dalam mobil tidak ada suara sama sekali dari Brandan dia tetap fokus menatap ke arah depan untuk mengendalikan kuda besinya tersebut dengan kecepatan tinggiz sedangkan Silva mencak-mencak di dalam mobil karena dia melihat kendaraan yang digunakan oleh Brandon itu melaju dengan kecepatan tinggi.
" Brandon berhenti! Aku ingin keluar aku tidak ingin ikut denganmu, Brandon sadarlah Brandan! kamu menggunakan mobil kamu ini dengan kecepatan tinggi! ini di jalan raya !!" Teriak Silva di dalam mobil, Brandan pun merasa teriakan Silva itu memancing emosinya dia langsung bersuara dengan keras.
" Diamlah!! Ini tidak sebanding dengan apa yang telah kamu lakukan dengan Kak Bryan!! apa kamu sadar saat kamu menggunakan kendaraan itu hah?!! Kamu tidak mementingkan keselamatan orang lain, bagaimana rasanya kalau seandainya kamu yang berada di posisinya Kak Bryan!!"
" Tapi kita bisa bicarakan baik-baik." Ucap Silva dengan deraian airmatanya itu.
" Tidak ada lagi untuk dibicarakan baik-baik."
Silva menyentuh tangan Brandan, namun ditepiskan oleh Brandon, Brandon terus fokus melajukan kendaraan yaitu dengan kecepatan tinggi membuat Silva kalang kabut di dalam mobil tersebut, dia berpegangan erat tidak terasa air matanya pun mengalir terus sembari bergumam di dalam hatinya.
" Percuma aku menjelaskannya pada Brandon, Karena dia sudah mendengar semuanya apa yang aku bicarakan tadi, aku harus tanggung semua akibatnya, karena perbuatanku ini aku tidak ingin lagi ada orang lain yang menjadi korban karena ulahkuz aku harus menanggungnya semua." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap air matanya yang mengalir di pipi mulusnya itu, beberapa saat kemudian mobil Brandan pin memasuki halaman sebuah rumah yang sangat besar dan memarkirkan Mobilnya di sembarang tempat, dia kemudian turun dari mobilnya dan membuka pintu mobil yang lain, dia pun menarik tangan Silva dengan sedikit kuat membuat Silva bersuara.
" Aduh sakit Brandan, Kenapa kamu menjadi ka*sar seperti ini?"
Namun Brandon tidak menghiraukan ucapan dari Silva, dia terus menarik Silva menuju ke arah pintu utama rumah tersebut, dia langsung membuka pintu tersebut terlihatlah di situ Riana dan Bryan sedang duduk di ruang tengah, terlihat Riana menyuapi Bryan dengan buah segar yang sudah dipotong-potong di atas piring, mereka berdua menatap ke arah pintu yang terbuka sedikit keras dan terlihat Brandan menarik tangan Silva dan dengan sedikit kuat Brandon lepaskan tangan Silva dan mendorongnya ke arah Bryan yang sedang duduk bersama dengan Riana.
" Kenapa kamu ini Brandan? Kenapa kamu mendorong wanita itu ?"
" Dia adalah kekasihnya Brandon Kak." ucap Riana.
" Kenapa kamu dorong kekasih kamu seperti itu, Apa kesalahannya sehingga kamu berbuat ka*sar padanya."
" Kesalahan yang sangat besar sekali Kak, Kakak tahu yang mencelakai kakak di kala itu adalah dia!! Mobilnya yang telah membuat kaki kakak tidak bisa berfungsi lagi, Dialah pelakunya.
Mereka berdua pun menatap ke arah Silva yang terduduk di lantai ubin keramik tersebut sembari mengusap-ngusap tangannya yang terasa sakit oleh cengkraman Brandon, dan sesekali dia meringis memegang perutnya.