
19 ๐น
Brandan hanya menghela nafasnya dengan panjang dia pun kemudian melangkah meninggalkan Arumi yang duduk seorang diri di sofa ruang tengah rumahnya tersebut, Arumi menatap kepergian Brandan dengan tatapan merasa jengkel kesal dan marah dia pun kemudian mendengar mobil Brandon perlahan-lahan meninggalkan rumahnya, Arumi hanya menghela nafasnya dengan panjang, dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, sembari menengadahkan kepalanya menatap ke langit-langit rumahnya tersebut, Pak Burhan dan istrinya pun memasuki rumah saat mereka melangkah menuju ke dalam kamar terlihat Arumi yang masih duduk di ruang tengah tersebut pun membuat mereka berdua merasa heran Pak Burhan dan istrinya melangkah mendekati sang anak dan duduk di hadapan anaknya itu.
" Ada apa, kenapa Brandon cepat pulang, dia udah lama menunggu kamu di sini."
" Iya nak sebenarnya ada apa? katakan dengan mama."
Arumi kemudian menceritakan semua kelakuan Brandon dan Silva yang sudah membuat dia merasa kecewa sedih dan marah itu pun pada kedua orang tuanya, kedua orang tuanya mendengarkan dengan begitu antusiasnya, Pak Burhan terlihat mengepalkan tangannya dan menghentakkan tangannya itu ke sofa sembari berucap.
" Keterlaluan sekali Brandon, kenapa kamu tidak langsung menghubungi Ayah Arumi biar Ayah yang bicara dengannya."
" Nggak usah Yah, Ini urusan aku dan dia, aku akan menyelesaikan semuanya, yang aku tidak mengira kenapa Silva berbuat seperti itu, kalaupun Silva memang menyukai Brandon seharusnya dia sadar diri karena Brandan adalah kekasihku dan aku adalah sahabatnya sejak kecil, Kenapa dia begitu tega denganku."
Istri Pak Burhan hanya menghela nafasnya dengan panjang, sembari berdiri dan duduk di samping sang anak, dia pun mengusap pundak anaknya dengan pelan.
" Kamu yang sabar, karena itu sudah ditunjukkan oleh yang Maha Kuasa, itu artinya Brandan tidak baik untuk kamu, kamu harus menyikapi ini dengan dewasa, jangan seperti kekanak-kanakan dengan melabrak Silva dan Brandon begitu saja, kamu harus menyaring semua pendapat dan ucapan dari temannya Brandan itu, kalau memang ada buktinya kamu segeralah mengurus semuanya, agar kamu terlepas dari orang-orang yang sudah menjahati kamu dari belakang."
Arumi hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dia pun berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk menuju ke arah kamarnya, dia tidak ingin melibatkan kedua orang tuanya tersebut dengan masalah antara dia dan Brandon, Arumi kemudian merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya yang ada di kamar tersebut dengan menelungkupkan wajahnya di kasur dia pun larut dalam kesedihannya.
***
Di rumah sakit Al Insan, setelah kedatangan Neni,sang Adik, Anggara kemudian berpamitan dengan ibunya, karena dia dipaksa terus oleh ibunya untuk kembali ke tempat kerja.
Neni yang sudah berada di Rumah Sakit pun mengatakan kepada sang kakak, dia akan menemani ibunya.
" Kakak nggak usah khawatir, Neni akan selalu menemani Ibu, kalau kakak ingin kembali ke tempat kerja kembalilah."
Anggara pun hanya menganggukkan ucapan Neni, setelah itu dia pun berpamitan dengan Ibunya dan adiknya dia bergegas menuju ke arah motor pribadi yang terparkir, beberapa saat kemudian dia pun meninggalkan Rumah Sakit menuju ke arah kantor, sesampainya di kantor NA grup dia pun disambut oleh sang Paman, karena dia ingin mengetahui keadaan adiknya Anggara.
Anggara pun kemudian menceritakan semua kejadian yang menimpa Nino sang adiknya tersebut, Pak Wawan mendengarkan cerita Anggara sembari melaksanakan pekerjaannya kembali, Pak Wawan juga menceritakan kepada Anggara kalau dia sudah memintakan izin kepada Nona Arumi, tidak lupa Anggara berterima kasih pada sang paman, karena sudah menolongnya dikala dia memerlukan bantuan, Mereka pun kemudian melanjutkan pekerjaannya karena beberapa jam lagi mereka akan segera pulang ke rumah mereka masing-masing.
***
Brandon yang sedang mengendalikan mobil pribadinya itu pun bertanya-tanya di dalam hatinya, karena perubahan Arumi yang begitu cepat dalam hitungan jam, awalnya Arumi sangat senang dengan kedatangan Brandanz tapi di saat Brandan berada di rumahnya Arumi terlihat tidak senang.
" Ada apa dengan Arumi, kenapa dia begitu cepat berubah, padahal tadi pagi dia baik-baik saja, apakah dia sudah mengetahui tentang hubunganku dan Silva? kalau dia memang mengetahuinya pasti dia langsung melabrak aku ataupun Silva, tapi ini sedikitpun dia tidak melabrak aku dan Silva, itu artinya dia tidak sama sekali mengetahui hubunganku, atau jangan-jangan karena security itu yang membuat dia merasa kesal karena sikap Arumi selama ini kan selalu menampakan sikap kemarahan yang tidak bisa ditebak."
Brandon menghela nafasnya dengan panjang dia kemudian terus melajukan mobilnya menuju ke arah rumah besar tersebut yang tak lain adalah rumah pribadi milik mereka berdua Silva dan Brandon.
Silva dan Brandon memang sudah tinggal serumah bila ada waktu mereka selalu menghabiskan tinggal berdua di rumah tersebut.
Silva yang melihat kedatangan Brandon pun menatap ke arah sang kekasih.
" Ada apa denganmu? Kenapa terlihat kesal sekali."
" Aku tidak kesel, tapi aku cuma merasa heran aja dengan sikap Arumi."
" Kenapa dengan sikap dia?bukankah baru tadi pagi kamu bertemu."
" Iya, dan kita pun menghabiskan waktu bersama, tapi saat aku menemuinya di rumah, dia terlihat sangat membenciku karena terlihat sekali di wajahnya yang tidak bisa dia sembunyikan."
Mendengar ucapan Brandan dia pun menoleh ke arah sang kekasih, Silva merasa terkejut dengan ucapan Brandon.
" Marah?Marah karena apa? apa masih karena Security itu?"
" Yah aku juga tidak tahu, apakah karena Security itu atau karena yang lain."
" Atau jangan-jangan dia sudah mengetahui tentang hubungan kita di belakangnya ?"
" Aku rasa tidak, karena kalau dia mengetahui dia pasti langsung melabrak kita."
" Benar juga ya, Apa kata kamu, kalau seseorang mengetahui hubungan gelap kekasihnya tersebut tidak mungkin dia tidak langsung melabraknya, ya biarkan aja dia larut dalam kemarahannya lebih baik kita bersenang-senang tanpa adanya dia." ucap Silva, Brandan pun kemudian menganggukan kepalanya, Mereka pun menikmati minuman dingin yang disediakan oleh asisten rumah pribadi Brandon itu sambil menciptakan kemesraan-kemesraan diantara mereka berdua walaupun Pikiran Brandon masih ke arah Arumi.
***
Tepat jam pulang kantor Anggara pun kemudian melajukan kendaraannya menuju ke arah rumah sakit kembali.
Saat dia melajukan kendaraannya dia pun terbesit dengan sang Nona Bos.
" Kenapa tadi Nona Bos tidak ada ya, menurut keterangan Pak Wawan Nona Arumi sudah pergi setelah sesaat dia berada di kantor, ada apa ya sebenarnya, aku jadi kasihan dengan Nona Arumi, Astaga! Anggara, Kenapa kamu selalu memikirkan bosmu itu, bukankah dia sudah sangat membenci kamu, sadar Anggara, kamu harus sadar." ucapnya sembari tersenyum di balik helm penutup kepalanya itu, dia pun kemudian terus melajukan kendaraannya menuju ke Rumah Sakit Al Insan, saat dia memarkirkan motor pribadinya itu dia berpapasan dengan dokter yang menangani adiknya tersebut, kemudian dokter itu pun memanggilnya.
" Maaf Mas, mau tanya.."
" Oh ya bu dokter, apakah ini berkaitan dengan adik saya?"
" Bukan dengan adik Masnya, tapi dengan Masnya sendiri."
Membuat Anggara terkejut dengan ucapan dokter tersebut.