
17 ๐น
" Apa Bapak tidak mengatakan padanya? Saya tidak ingin ada bawahan saya keluar seenaknya dari kantor tanpa ada ijin yang jelas!"
Arumi menatap lekat kearah pak Wawan.
" Saya inginkan kejelasan pak Wawan!"
Pak Wawan menghela nafasnya dengan pelan.
" Anggara memang keluar dari kantor, tapi tidak untuk bersenang-senang Nona, saat Nona datang saya ingin bicara pada Nona perihal itu, tapi karena kedaan Nona terlihat tidak baik, niat itu saya urungkan, Anggara minta ijin ..." Pak wawan pun menjelaskan semuanya pada Arumi tentang Anggara, sekaligus dia juga meminta maaf pada Arumi tentang kesalahan yang tadi pagi Anggara lakukan pada Arumi itu.
Arumi yang mendengarkan pun tidak jadi marah, dia juga tidak mengetahui kenapa di saat Pak Wawan berbicara sedikitpun dia tidak merasa marah, saat dia melihat Anggara di persimpangan itu, rasa marahnya meluap-luap, tapi setelah Pak Wawan menceritakan semua dan berinisiatif Anggara ingin meminta maaf padanya pun membuat perasaan marahnya hilang begitu saja, Arumi hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia pun berbicara pada Pak Wawan.
" Terima kasih Pak atas informasinya, silakan bapak keluar dan lanjutkan kembali pekerjaannya, lain kali kalau dia ingin minta izin setidaknya kalian menghubungi saya." ucapnya sembari menatap ke arah Pak Wawan dengan lekat, Pak Wawan pun menganggukkan kepalanya dan kemudian berpamitan pada Nona Bosnya itu, dia pun kemudian melangkah meninggalkan bosnya yang duduk di sofa ruangannya tersebut dengan diiringi tatapan mata Arumi langkah Pak Wawan sampai hilang di pintu ruangannya itu.
Arumi hanya menghela, nafasnya dengan panjang dia pun menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sembari terdiam dan mensedekapkan tangannya di dada dia bergumam di dalam hatinya
" Kenapa aku tidak bisa marah di saat Pak Wawan berbicara semuanya tentang lelaki itu, ada apa denganku? Aku ini bersikap selalu angkuh, aku ini bersikap selalu jutek, dan aku juga bersikap sombong, tidak mudah untuk memaafkan seseorang yang sudah berbuat kesalahan padaku, tapi kenapa di saat dia menjelaskan tentang security tersebut Aku hanya bisa mengijinkan dan menganggukkan kepalaku saja, ada apa denganmu Arumi! Ada apa?!!" ucapnya kemudian mengusap wajahnya dengan kasar dan menyandarkan kepalanya di sandaran sofa.
" Kenapa hari ini begitu aneh sekali sih, baik itu tentang Brandon, Silva, dan juga Security itu, kenapa hari ini sangat menyebalkan dan sangat melelahkan!" ucapnya sembari berdiri dan menuju ke arah tempat duduknya, namun dia tidak langsung melanjutkan pekerjaannya melainkan dia mengambil tasnya dan kunci kontak mobilnya, beberapa saat kemudian dia melangkah meninggalkan ruangannya menuju ke arah lobby dan langsung menuju ke arah mobil pribdinya, beberapa saat kemudian mobil Arumi meninggalkan kantor pribadinya itu, menuju pulang ke rumahnya dengan pikiran yang bingung dan galau dia tidak tahu kenapa dengan keadaan dirinya tersebut, Arumi terus melajukan kendaraannya itu dengan kecepatan sedang, saat dia melewati sebuah pertigaan dia melihat sebuah mobil yang sangat dia kenal, siapa lagi kalau bukan mobil Brandon sang kekasih, dia melihat di dalam mobil tersebut kebetulan tidak tertutup kacanya ada seseorang berada didalam mobil itu, tidak jelas dilihat oleh Arumi, setelah lampu menyala hijau mobil Brandan pun terus melaju dengan kecepatan sedang, Arumi kemudian mengikuti mobil tersebut,
tanpa sepengetahuan pengemudinya itu, mobil Brandan terus melaju tanpa disadarinya kalau Arumi mengikuti laju kendaraannya tersebut, tanpa sepengetahuan mereka berdua yang ada di dalam mobil itu yang tak lain adalah Silva dan Brandon, mereka menuju ke sebuah rumah yang Arumi tidak mengetahui rumah siapa itu sebenarnya.
Arumi berhenti jauh dari kendaraan yang memasuki sebuah halaman rumah besar tersebut, Arumi turun dari mobilnya dan melangkah menuju ke arah rumah itu, dia tidak gegabah ingin mengetahui Brandon bersama dengan siapa, saat Brandon keluar dari mobil bersama dengan seorang wanita, Arumi terkejut karena wanita itu adalah sahabat yang dianggapnya sangat baik padanya, Brandon merangkul mesra Silva menuju ke arah dalam.
" Silv?? ada hubungan apa dia dengan Brandon, Astaga!! apakah mereka miliki hubungan di belakangku?" ucap Arumi pelan dibalik pohon kenanga untuk dia bersembunyi mengintai keduanya.
" Aku tidak menyangka kenapa Silva berbuat itu padaku, padahal aku sangat percaya padanya, sejak kapan mereka memiliki hubungan, kenapa aku tidak peka dalam menyikapi kedua orang itu."
Arumi hanya terdiam dia tidak langsung menemui Brandan dan Silva yang berada di rumah itu yang dia tidak pernah tahu rumah siapa itu sebenarnya.
Dia memilih untuk meninggalkan depan rumah tersebut dengan hati yang hancur dan rasa kecewa, marah benci dan kesal jadi satu, tapi dia masih memiliki akal tidak ingin membuat permasalahan di rumah orang lain, dia pun kembali ke mobilnya dengan langkah gontai saat dia mendekati mobilnya dan membuka pintu mobilnya itu, seseorang pun mendekatinya.
" Kamu kenal aku.?"
" Aku sebenarnya tidak mengenal kamu, tapi aku tahu kamu." Ucapnya tersenyum.
" Maksud kamu.?"
" Bisakah kita bicara tidak di sini." ucap wanita tersebut.
Arumi terlihat ragu dengan ucapan wanita itu, sekaligus membuat dia merasa sangat heran.
" Aku mengerti dengan rasa heran yang kamu rasakan sekarang ini, kenalkan aku Riana, Aku sudah lama ingin menemui kamu, tapi sayangnya kamu tidak bisa ditemui."
" Sebenarnya ada apa?" tanya Arumi
Riana menengok kiri dan kanan terutama dia menatap ke arah rumah besar di mana Brandon dan Silva berada.
" Lebih baik kamu masuk ke dalam mobil kamu, kita bicara di lain tempat." ucapnya kemudian berjalan menuju ke arah pintu mobil penumpang, dia pun langsung memasuki mobil Arumi, Arumi merasa heran namun dia tetap masuk ke dalam mobilnya itu karena pikirannya hari ini sangatlah kacau, Akhirnya dia pun mengikuti apa yang dikatakan oleh wanita yang baru saja dikenalnya itu yang mengaku bernama Riana, mobil Arumi pun kemudian meninggalkan tempat di mana Dia melihat Brandon dan Silva berada bersama, mobil Arumi terus melaju dengan kecepatan sedang menuju ke sebuah pantai di mana tidak jauh dari alun-alun kota tempat tinggalnya tersebut, mobil pun berhenti di tempat yang dituju karena tempat itu tidak memiliki tempat parkir, mobil Arumi pun diparkirkannya di tempat yang teduh.
Arumi tidak langsung keluar dari mobil tersebutz namun dia menatap ke arah perempuan yang ada di sampingnya itu.
" Apa yang ingin kamu bicarakan denganku? Apakah sangat penting sekali sampai kamu ingin bertemu denganku.?"
Terdengar Riana menghela nafasnya dengan panjang, dia menatap lurus ke depan, mereka berdua memang belum keluar dari mobil.
" Iya! karena ini sangat penting sekali, aku pernah ke kantor kamu tapi sayangnya kamu tidak ada di kantor itu, tapi melainkan kantor itu masih dipimpin oleh Ayah kamu, aku tahu dari Security kamu, karena dia tidak tahu kapan kamu berada di sana, akhirnya aku menunggu waktu yang tepat untuk berbicara denganmu, awalnya aku ingin menuju ke rumah di mana kekasih kamu dan kekasih gelapnya berada. Tapi sayangnya aku bertemu denganmu dan kesempatanku untuk berbicara dengan mu, aku tidak tahu apakah kamu percaya atau tidaknya nantinya setelah aku katakan padamu."
" Maksud kamu tentang Brandon?"
Riana hanya menganggukkan kepalanya sembari menatap sesaat ke arah Arumi, Arumi pun menghela nafasnya dengan panjang, dia kemudian membuka pintu mobilnya dan melangkah keluar, lalu dia bersandar di depan mobilnya tersebut, disusul oleh Riana yang melangkah mendekati Arumi, mereka berdua pun saling terdiam menikmati angin pantai yang menerpa wajah mereka mereka berdua sambil menatap ke arah anak-anak yang sedang bermain di pantai tersebut, sembari mensedekapkan tangan mereka berdua di dada, mereka berdua saling diam tidak ada pembicaraan sepatah kata pun.