
41 ๐น
" Cepatlah katakan pada Tante dan Om Purnama, jangan bikin Om bertanya-tanya." ucap pak Innova sembari menatap keponakannya itu dengan lekat.
" Begini Om, Purnama sudah bertanya dengan pihak keluarga yang sangat mirip sekali dengan wajah Om itu, bahkan dia juga bersedia untuk tes kecocokan dengan Om."
" Benarkah? Dengan apa yang kamu katakan itu?"
Dr Purnama menganggukkan kepalanya.
" Lebih baik sekarang kita ke laboratorium untuk mencocokkan tes tersebut."
Tanpa pikir panjang lagi bapak Innova pun berdiri dari duduknya, diikuti sang istri.
Mereka kemudian melangkah menuju ke arah laboratorium, melangkah beriringan bersama dokter Purnama, dari kejauhan terlihat seorang wanita menatap ke arah mereka, siapa lagi kalau bukan Bu Ningsih yang baru saja keluar dari kantin, karena dia ingin membeli sesuatu, dia menatap sepasang suami istri yang mengikuti langkah dokter Purnama tersebut.
" Apakah itu Om dan Tantenya Bu dokter.? Ya Tuhan, semoga aja itu memang benar, kalau Anggara adalah anak mereka, Anggara berhak Bahagia dan hidup bersama dengan mereka, agar dia tidak merasa kekurangan dan juga tidak bekerja lagi sebagai Security." ucapnya sembari melangkah menuju ke arah ruangannya itu.
***
Di kediaman Arumi.
Arumi yang sejak tadi duduk di ruang tengah rumahnya itu ditegur oleh sang Papah.
" Kenapa kamu tidak berangkat ke kantor Nak?"
" Arumi lagi menghubungi seseorang, namun dari tadi belum dijawabnya.
" Siapa yang kamu hubungi Brandon?" Tanya Ayahnya itu.
Arumi menggeleng dengan cepat.
" Arumi tidak ada hubungan lagi dengan Brandon Yah, sejak kejadian itu, Arumi tidak pernah lagi menghubunginya. Begitu juga dengan dia."
Sang ayah menghela nafasnya dengan panjang, menatap ke arah sang anak.
Kemudian ibunya pun datang dan duduk di samping sang ayah.
" Memangnya siapa yang kamu tunggu? Kalau bukan Brandon, biasanya kalian itu selalu putus sambung.
" Sekarang tidak lagi Bun, kami berdua tidak akan pernah kembali lagi, karena ini sudah di luar batas Bun, dia sudah sangat keterlaluan."
Kedua orang tua Arumi saling berpandangan, dia merasa heran dengan sang anak, masalah besar apapun yang dihadapinya bersama dengan Brandon mereka selalu berbaikan, tapi ini tidak! Arumi terlihat tidak menanggapi omongan kedua orang tuanya tentang Brandon, kedua orang tuanya pun tersenyum karena melihat perubahan sang anak.
" Bukan dia yang kamu tunggu, terus siapa lagi yang kamu tunggu?" Tanya sang Papah.
" Anggara..."
" Security kita itu....?"
Arumi menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, terlihat di wajahnya sangat bahagia bila menyebut nama Anggara, lagi-lagi kedua orang tuanya pun saling bertatapan kemudian mengembangkan senyumnya di wajahnya.
Kemudian Arumi mengambil ponselnya yang berada di atas meja, Dia kemudian menghubungi Anggara kembali.
" Ya Nona Bos ada apa.?"
" Kamu sudah berangkat.?"
" Saya masih berada di rumah sakit, karena ada sesuatu tentang adik saya."
" Apakah adikmu tidak apa-apa, apa yang terjadi dengannya? Kenapa kamu tidak mengabari aku, setidaknya kamu harus menghubungi aku Anggara."
Anggara pun menatap ke layar ponselnya, dia tidak menyangka kalau Nana Bosnya itu merasa khawatir dengan ucapannya.
" Halo Anggara ...kamu tidak apa-apa kan?"
Kedua orang tuanya pun menatap ke arah Arumi.
" Adik saya tidak apa-apa, cuma tadi ada pembicaraan dengan dokter yang menangani adik saya, saya sudah izin terlambat masuk, saya sudah menghubungi Pak Wawan."
" Sekarang adikmu tidak apa-apa, Syukurlah..."
" Iya Nona Bos."
" Oh ya, kalau kamu berangkat aku bisa kan ikut kamu lagi."
" Tapi Nona Bos,..."
" Udah nggak usah tapi-tapi, kamu jemput aku di rumah ya, kamu masih ingatkan jalan menuju ke rumahku?"
" Oh iya siap!" Ucapnya kemudian mereka berdua memutuskan sambungan bicaranya, Arumi kemudian tersenyum sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang iya duduki saat ini sembari tersenyum di wajahnya, membuat kedua orang tuanya merasa heran dengan sikap anaknya tersebut, karena tidak biasanya Arumi bersikap seperti itu, dia terlihat senang sekali setelah berbicara dengan Anggara.
" Apakah adik Anggara baik-baik saja?" tanya sang Ayah, namun Arumi tidak menghiraukan pertanyaan Ayahnya itu, dia masih tersenyum-senyum sembari menatap ke langit-langit ruangannya itu.
" Arumi, Ayah bertanya padamu, apakah adiknya Anggara baik-baik saja? hey Arumi! Arumi..."
Kemudian Arumi terkejut dengan ucapan ayahnya itu.
" Oh iya Yah, ada apa?"
" Kenapa anak Ayah seperti ini, sepertinya anak Ayah sedang jatuh cinta untuk yang kedua kalinya."
" Iya Ayah..." Sambung Bu Antik tersenyum.
" Apa-apaan sih, Ayah dan Bunda ini."
" Apakah adik Anggara tidak apa-apa?"
" Iya Yah, Adik Anggara tidak apa-apa, dia terlambat masuk kantor karena dia ada yang dibicarakan dengan dokter yang menangani adiknya."
" Syukurlah kalau seperti itu..."
" Arumi...Kenapa dengan mobilmu?" tanya Bu Antik membuat Arumi terkejut dengan pertanyaan ibunya itu.