
49๐น
" Kenapa mereka datang lagi ke rumah kita.?" tanya Frida pada suaminya.
" Aku juga tidak tahu, pasti mereka akan menanyakan yang kemaren pada kita, Tapi kita lihat saja nanti, apa lagi yang akan dia tanyakan pada kita, ingat! Kamu jangan sampai membongkar rahasia!" ucap Paris seraya mengukir senyum di wajahnya, karena melihat langkah demi langkah kakak iparnya itu berjalan menuju kearah mereka.
" Silahkan masuk Kak!" Ucap Frida.
" Aku akan melanjutkan pertanyaanku tempo dulu yang tertunda padamu! Bisa kita bicara di dalam sekarang "
" Oh! Silahkan kak." Ucap Friida kemudian mempersilahkan Kakak dan suaminya itu beserta anaknya masuk ke dalam.
Mereka kemudian duduk di ruang tengah rumah Frida, sesaat mereka terdiam terdengar helaan nafas mereka.
" Maaf kak apa lagi yang Kakak ingin tanyakan?" Tanya Frida l.
" Aku ingin kejujuran kamu."
" Kejujuran apa kak? Kan sudah aku katakan semuanya kemaren."
" Frida! Selama ini anakku tidak meninggal duniakan, saat itu kamu tidak jelas dengan perkataan kamu saat aku datang beberapa hari yang lalu padamu, Jujurlah Frida, kamu berusaha untuk memisahkan aku dan anakku, karena harta kan?!"
Membuat Frida dan suaminya terdiam.
" Katakan padaku, Apakah benar itu semua? apa sebenarnya kesalahan dari anakku, sehingga kamu ingin memisahkannya dari aku dan istriku jawablah Frida! Jangan sampai aku marah!"
" Mama harus berkata dengan jujur, karena aku sudah mendengar semuanya, apa yang dikatakan Mama dengan om paris, selama ini aku diam Mah, sebenarnya aku tidak setuju Mama menikah dengan om Paris, seharusnya Mama memahami aku saat itu, karena Mama menikah dengan om Paris Mama tidak memberikan kasih sayang mama padaku, aku hidup dengan nenek dan kakek tapi kenapa Mama tega memisahkan tante Tia dan Om Innova sama anaknya." Ucap dr Purnama.
Frida menatap ke arah anaknya namun dia tidak merasa marah anaknya berbicara seperti itu dia hanya terdiam saja tidak dengan Paris dia mendelik ke arah dr Purnama.
" Anakku masih hidup kan.?"
" Sebelum aku katakan ..."
" Frida !!" Panggil Paris.
Frida menoleh ke arah Paris.
" Kamu lupa dengan pembicaraan kita tadi, dari awal semenjak kita menikah aku yakin kamu masih ingat."
Kemudian Frida menghela nafasnya dengan panjang.
" Aku capek, karena aku lelah mencari orang itu aku juga merasa capek karena aku selalu bermusuhan dengan anakku sendiri,."
" Tapi kamu tidak bermusuhan dengan anakmu, kamu bisa bertemu dengan Purnama, Purnama juga bisa mengunjungi kamu." Ucap Paris.
" Memang aku tidak bermusuhan secara langsung tapi permusuhan secara batin Aku tidak bisa rasanya melanjutkan ini semua Aku tidak tahu harus bagaimana lagi Aku harus mengakuinya di hadapan mereka semua kalsu anak kak Innova memang masih hidup, tapi aku tidak tahu di mana dia berada, maafkan aku karena aku selama ini bersalah padamu kak, karena ambisiku aku telah melakukan kesalahan yang sangat fatal, Maafkan aku Kak." Ucapnya begitu saja langsung bersimpuh di kaki Pak Innova membuat Pak Innova terkejut dia pun langsung berdiri dan mengangkat tubuh adiknya itu.
" Kamu tidak boleh seperti ini, Kamu mengakui kesalahan kamu saja itu sudah lebih dari cukup, Kenapa tidak dari dulu kamu mengakui kesalahan kamu, sampai berpuluh tahun lamanya aku kehilangan anakku dan aku tidak bisa merawat anakku sendiri, Kamu tahu hampir saja gila Kakak iparmu karena kehilangan anaknya itu, Terus siapa yang kamu makamkan itu?" tanya pak Innova pada adiknya tersebut.
" Dia adalah seorang bayi yang memang sudah meninggal dunia bayi orang lain."
" Kamu harus meminta maaf pada orang tua bayi tersebut, Apakah kamu masih mengingatnya?"
" Iya kak, aku masih ingat kak."
" Lebih baik kamu selesaikan,Frida "
Frida mengangguk.
" Tidak! aku tidak mau kalau kamu masih tetap dengan pendirian kamu Frida! aku akan menceraikan kamu!"
" Silakan kalau kamu ingin menceraikan Adikku, lagi pula kamu sudah mengucapkan kata cerai, itu artinya kamu sudah melepaskan adikku, aku akan membawa adikku kembali dan silakan kamu pergi dari kehidupan adikku!" ucap pak Innova membuat paris pun merasa jengkel.
" Baiklah! aku akan meninggalkan adikmu! Frida hubungan kita sampai di sini, aku juga muak karena kamu selama ini tidak memberikan apa yang aku inginkan, silakan Kamu urus sendiri apa keinginan kamu dan dua anakmu itu, silakan kamu urus sendiri!" ucapnya kemudian pergi meninggalkan mereka, Frida pun hanya menghela nafasnya dengan panjang, dia pun kemudian menatap ke arah Ibu Tia, dia langsung bersimpuh di kaki Ibu Tia, membuat Ibu Tia terkejut, Ibu Tia pun langsung meraih Frida dan menyuruhnya duduk di sampingnya.
" Aku tidak marah denganmu Frida, jujur aku dulu memang benci denganmu, Tapi sekarang aku memaklumi keadaanmu."
" Maafkan aku Kak, karena aku jahat padamu, Maafkan Mamah Purnama, Maafkan Mama, karena selama ini Mama tidak melihat tumbuh kembang mu selama kecil dulu maafkan Mamah."
Dokter Purnama hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum, terasa bahagia di hatinya mendengar dan melihat kalau mamanya sekarang menyadari kesalahan dia selama ini terhadap keluarga Omnya tersebut.
" Maafkan aku Kak, selama ini aku memang tidak bisa jujur padamu, aku terambisi dengan kekayaan yang telah kita miliki. Dan aku tidak merasa puas dengan apa yang telah aku dapatkan, Maafkan aku sekali lagi, aku tidak bisa mencari orang itu untuk mengembalikan anakmu. Maafkan aku, Maafkan aku." ucapnya sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Ibu Tia pun kemudian mengusap pundak adik iparnya tersebut, sembari tersenyum.
" Aku selama ini sudah dihantui rasa bersalah yang sangat dalam, aku juga berusaha mencari orang itu Kak, Tapi aku tidak menemukannya, Sudah lama aku ingin mengakhiri ini semua, namun aku tidak bisa karena selalu saja didorong oleh Mas Paris agar aku bisa menggapai impianku selama ini memiliki kekayaan dan kekuasaan yang berlimpah, tapi aku salah dengan ambisiku yang saat ini menguasai diriku, tapi aku tidak bisa menguasai kesadaranku sendiri semua itu berperang di benakku, aku tidak bisa mengakhirinya dan sekali lagi aku minta maaf pada kalian, karena aku tidak bisa menemukan lelaki yang telah membawa anak kalian itu."
" Mama tidak usah khawatir, anak Om Innova sudah ditemukan dan sekarang mereka sudah bertemu satu sama lain."
Mendengar ucapan dari dokter Purnama, Frida pun terkejut dia menatap ke arah Ibu Tia dan Pak Innova mereka berdua pun menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
" Ya Tuhan terima kasih, Ya Tuhan... Engkau telah mempertemukan anak dengan orang tuanya, Sekali lagi maafkan aku ya Kak." ucapnya dianggukan oleh mereka berdua.
" Sekarang kita bertemu dengannya, tapi sebelum kita bertemu dengan anakku kita harus bertemu dulu dengan keluarga bayi tersebut."
Frida pun menganggukkan kepalanya, Kemudian mereka pun bergegas keluar dari rumah Frida dan beberapa saat kemudian mereka meninggalkan rumah Frida menuju ke arah rumah di mana keluarga bayi yang dimanfaatkan oleh Frida kala itu saat di rumah sakit tersebut, Frida mengetahui tempat dimana orang tua bayi itu berada karena Frida setiap bulan selalu mencukupi kebutuhan orang tua bayi itu.
Mobil terus melaju dengan kecepatan sedang menuju ke arah tempat tujuan mereka.
***
Di kediaman keluarga Pak Burhan.
Saat mereka sedang santai di teras belakang terlihat Arumi tersenyum-senyum menatap layar ponselnya, membuat kedua orang tuanya merasa bertanya-tanya karena perubahan Arumi yang sangat cepat itu pun membuat kedua orang tuanya ingin bertanya pada Arumi, namun niat itu pun diurungkannya karena tidak ada waktu yang tepat untuk bertanya soal itu.
" Sekarang waktunyalah yang tepat kita harus bertanya pada Arumi, Ada apa sebenarnya ini ucap bu Antik pada Pak Burhan.
Pak Burhan hanya menganggukkan kepalanya.
" Arumi..." panggil sang mama.
Arumi pun menoleh ke arah Mamanya itu.
" Mama ingin bertanya dengan kamu."
" Tanya soal apa Mah?"
" Kenapa kamu tidak keluar rumah, padahal ini waktu libur, biasanya kamu tidak pernah ada di rumah dikala waktu libur."
Arumi menghela nafasnya dengan panjang sembari tersenyum.
" Ada apa Nak?" tanya Pak Burhan.
" Tidak ada apa Yah...Arumi ingin berada di rumah aja dan menghabiskan waktu libur bersama dengan Ayah dan Bunda, karena anak Ayah kan cuma Arumi seorang, kalau Arumi meninggalkan Ayah dan Bunda di rumah berduaan saja, Arumi rasanya tidak sempurna menjadi seorang anak yang tidak bisa membahagiakan kedua orang tuanya di waktu luang seperti ini."
Mendengar ucapan Arumi kedua orang tuanya pun saling pandang dan mengekspresikan dengan mengangkat kedua bahunya tersebut.
Mereka seakan tidak percaya dengan perubahan anaknya tersebut.
" Siapa yang merubah Arumi?" gumam Pak Burhan.
" Kenapa perubahan Arumi begitu drastis sekali." gumam sang istri, mereka berdua Saling pandang kembali lalu kembali menatap ke arah Arumi yang tersenyum-senyum sembari menatap ke arah ponselnya.
" Kamu sedang jatuh cinta nak?" tanya Bu Antik mendengar pertanyaan dari sang Bunda Arumi pun terkejut dia menatap bundanya dengan lekat.
" Kalau memang kamu jatuh cinta lagi katakan pada ayah, siapa laki-laki itu dan segera perkenalkan pada ayah agar Ayah tahu apakah dia baik untukmu atau tidak, Ayah tidak ingin kamu mendapatkan laki-laki yang sama seperti yang telah menyakiti kamu saat ini."
" Siapa dia nak?" tanya Bu antik lagi.
Arumi kemudian berdiri dari duduknya yang awalnya dia duduk di lantai ubin keramik teras belakangnya itu dia langsung duduk di samping ibunya itu.
" Maafkan Arumi Yah,, maafkan Arumi Bun, Mungkin Arumi akan mengecewakan Ayah dan Bunda kalau Arumi mengatakan pada ayah dan bunda siapa laki-laki yang sudah merubah Arumi dan membuat Arumi memiliki perasaan yang lebih padanya."
Pak Burhan dan Bu Antik pun saling bertatapan, kemudian dia tersenyum pada anak gadisnya itu.
" Apapun yang kamu katakan dan kamu memperkenalkan laki-laki itu pada kami, kami akan menilainya baik dan buruknya untuk kamu, karena ayah tidak ingin anak Ayah ini sakit hati lagi."
Kemudian Arumi menghela nafasnya dengan panjang.
" Arumi belum tahu Yah, apakah dia menyukai Arumi atau tidak."
" Maksud kamu?"
" Karena Arumi dan dia hanya sebatas teman biasa, tidak ada kata-kata menuju ke arah ikatan percintaan."
Pak Burhan dan bu Antik pun menghela nafas panjangnya.
" Orang yang sudah mengubah Arumi dari sikap Arumi yang arogan, egois serta angkuh dan sombong itu seketika hilang setelah Arumi bertemu dengan keluarganya, dimana Arumi sangat tenang saat berada bersama dengan mereka, Arumi tidak menyadari kalau dia adalah laki-laki istimewa selama ini karena Arumi memiliki sifat yang jelek membuat pandangan Arumi untuk laki-laki yang sangat baik dan perhatian tidak terlihat sama sekali, melainkan hanyalah laki-laki yang Arumi anggap baik dan perhatian ternyata menyakiti Arumi, laki-laki itu hanya berkedok cinta bohongan tapi berbeda dengan laki-laki yang sudah merubah sikap Arumi selama ini, dia berbeda dari lelaki yang Arumi kenal Yah, Bun." Ucapnya sembari menghela nafasnya dengan pelan.