
51 ๐น
Tepat jam 06.00 pagi Anggara pun kembali menuju ke arah rumahnya karena tugasnya dinas malam pun sudah selesai dan disaat paginya dia tidak masuk kerja karena dia masih ada tugas malam esok harinya, dia kemudian menuju ke arah rumah kediaman orang tuanya untuk membersihkan dirinya dan menuju ke rumah sakit untuk menggantikan ibu dan adiknya menjaga Adik lelakinya tersebut.
Di Rumah Sakit Al Insan...
Kedatangan Pak Inova dan Bu Tia beserta dengan Frida dan dokter Purnama membuat keluarga Bu Ningsih terkejut, karena dia kedatangan satu orang tamu yang baru saja dilihatnya siapa lagi kalau bukan Frida.
Frida menatap Nino yang ada di atas tempat tidur namun Purnama sadar kalau Nino bukanlah anak yang dimaksudkan Mamanya itu.
" Bukan dia Mah tapi Anggara, namun dia belum ke rumah sakit karena dia masih dinas malam, mungkin sekarang dia sedang membersihkan dirinya di rumahnya."
Frida menganggukkan kepalanya, Bu Tia dan Pak Innova pun duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
" Setelah keluarnya Nino dari rumah sakit Saya ingin mengajak kalian tinggal di rumah kami, lupakan semua kegiatan kalian di rumah yang terdahulu, karena tiba saatnya kalian merasakan kebahagiaan kalian bersama dengan Anggara, kita sama-sama merawat Anggara biar bagaimanapun Anggara memiliki dua orang tua sekaligus." ucapan Bu Tia
Bu Ningsih tersenyum...
" Baiklah Bu, saya akan bicarakan nanti dengan Anggara." Sebelum mereka melanjutkan pembicaraannya pintu pun terbuka Anggara memberikan salam pada mereka dan dibalas salam oleh mereka yang ada di dalam, Anggara melangkah mendekati Ibunya dan meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangan Ibu Ningsih, Begitu juga dengan kedua orang tua kandungnya.
" Anggara, Papa ingin kalian tinggal di rumah Papa dan kamu bertemu dengan adik kandungmu, karena dia sedang dalam perjalanan menuju ke tanah air."
Anggaran tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian dia menatap ke arah Ibu Ningsih yang tersenyum terlihat bahagia.
" Anggara mau tinggal di tempat mama dan papa tapi Ibu dan adik-adik Anggara harus ikut bersama dengan Anggara, karena Anggara tidak ingin meninggalkan mereka, karena mereka adalah tanggung jawab Anggara setelah Ayah meninggal dunia.,"
Pak Innova menepuk pundak anaknya dengan pelan dan menganggukkan kepalanya.
" Satu lagi yang ingin Papa katakan kepadamu, papa sekarang sudah tua dan Papa ingin kamu menjalankan perusahaan papa saat ini, karena adikmu tidak ingin tinggal di tanah air, adikku sudah berkeluarga di luar negeri dia menjalankan perusahaan yang ada di luar negeri, sekarang kamu menjalankan perusahaan yang ada di dalam negeri, tiba saatnya Papa dan Mama lepas lelah selama ini dan ingin beristirahat bersama dengan ibu Ningsih, papah dan Mama ingin keliling dunia." ucapnya sembari terkekeh mendengar ucapan dari Pak Innova Anggara pun terkejut dia tidak menyangka akan menjadi seorang pemimpin di suatu perusahaan yang dia tidak pernah tahu bagaimana perusahaan milik papahnya tersebut.
" Tapi Anggara sudah mencintai pekerjaan Anggara."
Bu Tia pun tersenyum....
" Kamu mencintai pekerjaan kamu, Apa kamu mencintai pimpinan kamu?" ucap Bu Tia menggoda anaknya tersebut, Anggara terkejut dengan ucapan Mamanya itu.
Mereka yang ada di ruangannya itu pun terkekeh.
" Udahlah Nak, kamu harus jujur aja dengan hati kamu, apakah kamu memang menyukai bos kamu itu.?"
" Iya Kak, Apakah kakak menyukai Kak Arumi? Aku senang kok kalau kakak bersama dengan Kak Arumi, karena aku sudah menyukai kak Arumi." ucap Neni ikut bicara.
Anggara hanya tersenyum dengan ucapan adiknya itu, namun dia bergumam di dalam hatinya.
" Sebenarnya aku menyukai Arumi, Tapi aku tidak tahu apakah Arumi menyukai aku, karena aku sadar aku adalah seorang security di matanya, Dia adalah seorang pemimpin perusahaan dan dia juga orang kaya." Gumamnya di dalam hati sembari tersenyum di wajahnya, agar mereka tidak mengetahui akan isi hatinya tentang kekaguman dan rasa ingin memiliki pada Arumi tersebut.
" Oh ya Anggara, ini adalah tante kamu Frida, ibunya dari dokter Purnama." ucap Ibu Tia, kemudian Anggara pun tersenyum dengan Frida, Frida kemudian mendekati Anggara dia meraih tangan Anggara sembari berbicara.
" Maafkan tante ya nak, karena tante lah yang membuat kamu terpisah dari kedua orang tua kamu, Maafkan tante karena tante selama ini bersalah padamu."
" Sudahlah tante, Anggara tidak apa-apa, tante memisahkan Anggara dengan kedua orang tua kandung Anggara ada hikmahnya, Anggara mendapatkan kedua orang tua yang lebih melebihi dari ibu kandung Anggara sendiri." ucapnya sembari tersenyum dianggukkan oleh Frida, mereka pun mengukir senyum di wajahnya, Karena kebahagiaan yang mereka dapatkan itu lebih dari segala-galanya.
***
Dr Purnama pun memperbolehkan Nino pulang ke rumah, dengan rasa senangnya Nino merasa bahagia karena dia bisa terlepas dari rumah sakit yang dianggapnya sebagai pengekang dalam hidupnya, karena dia tidak bisa kemana-mana harus berada di atas tempat tidur saja, Nino yang duduk di kursi roda pun dibawa Anggara menuju ke arah mobil pribadinya Pak Innova mereka langsung menuju ke rumah Pak Innova tidak langsung menuju ke rumah pribadinya keluarga Anggara.
Beberapa saat mereka terombang-ambing di dalam mobil tersebut menuju ke rumah kediaman keluarga Rahadian, akhirnya mereka pun sampai di rumah tersebut, setelah memarkirkan mobilnya mereka turun dari mobil mereka dan menuju masuk ke dalam rumah itu, kamarnya yang akan ditempati mereka sudah tersedia, akhirnya mereka punya dipersilakan untuk masuk ke dalam kamar mereka dan mereka resmi tinggal di rumah keluarga Rahadian.
***
Arumi yang berangkat dari rumah sangat bahagia sekali mengendarai mobil pribadinya yang sudah diperbaiki itu, namun di saat dia sampai di kantornya dia merasa kecewa karena dia tidak bertemu dengan Anggara, Setelah dia menanyakan dengan security yang lain kalau Anggara kena tugas malam dia pun melangkah dengan gontai menuju ke arah ruangannya, tapi di saat dia menunggu di di depan lift seseorang pun memanggilnya salah satu dari karyawannya Itu.
" Ya, apa ada?"
" Ada tamu yang ingin bertemu dengan Nona."
" Di mana ?"
" Di ruang tamu di lantai atas."
" Baiklah aku akan langsung menuju ke sana, terima kasih." ucapnya, dianggukan oleh karyawannya itu sembari tersenyum, dibalas Arumi senyumannya.
Kemudian pintu lift terbuka dia masuk ke dalam dan menuju ke atas di mana tamu yang sudah sedari tadi menunggunya, Arumi melangkah menuju ke ruang tamu khusus di mana orang-orang ingin bertemu dengan pimpinan, dia langsung masuk ke dalam ruang tamu tersebut, namun dia terkejut melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu,
" Brandon!" ucapnya.
Brandon tersenyum dan Arumi pun menyambut uluran tangan Brandon, dia menatap ke arah Riana dan menatap ke arah Bryan, Arumi kemudian duduk di hadapan mereka.
" Ada apa kamu ke sini Brandan?" tanya Arumi namun di wajah Arumi tidak menampakkan rasa marahnya pada Brandan, sejak dia mengenal Anggara dia tidak pernah menampakan wajah marahnya di hadapan siapapun, terutama Brandon yang sudah membuat dia sakit hati.
" Arumi, mungkin kamu terkejut dengan kedatangan Aku, ini adalah kakakku Bryan dan ini adalah Riana (menghela nafasnya dengan panjang) Selama ini aku salah denganmu, seharusnya aku tidak membuat kamu jatuh hati padaku, dan membuat dendam padamu, karena selama ini bukan kamu yang melakukan kesalahan itu, berkali-kali Kak Bryan mengatakan kalau kamu tidaklah bersalah, tapi aku tidak percaya dan sampai akhirnya aku mengetahui siapa sebenarnya orang yang telah mencelakai Kak Bryan."
" Siapa?" tanya Arumi.
" Silva!"
" Apa Silva?"
Brandan menganggukkan kepalanya, Arumi menghela nafasnya dengan panjang.
" Sekarang kamu mengetahui kalau Silva lah yang bersalah, Terus kenapa kamu datang ke sini? Kemana Silva?"
Brandon menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia menundukkan kepalanya sesaat lalu dia pun mengangkat kepalanya lagi dan berbicara kembali pada Arumi.
" Silva ada di rumah sakit."
" Kenapa? kamu apakan Silva sehingga Silva masuk ke rumah sakit, apa kamu merasa marah besar kepadanya, sehingga kamu mencelakainya."
" Iya, aku memang mencelakainya."
" Kamu keterlaluan Brandon, seharusnya kamu tidak perlu menggunakan amarah kamu, Silva adalah orang yang sangat kamu cintai. Kenapa kamu sakiti dia, dulu aku memang salah mengenal kamu dan menempatkan cintaku padamu, tapi aku berpikir sekarang cinta tidak bisa untuk dipaksakan, kamu mencintai aku hanya karena dendam yang sebenarnya bukan aku lakukan, tapi kamu mencintai orang yang sudah mencelakai Kakak kamu sendiri sekarang kamu menyakitinya, kamu memang keterlaluan!!"
Brandan lagi-lagi menundukkan kepalanya, lalu kemudian dia mengangkat kembali kepalanya dan menjawab kata dari Arumi.
" Aku memang bersalah, Aku dulu menyakiti kamu dan aku merasa bersalah karena telah menyakiti Silva, padahal Silva mengandung anakku."
Arumi terkejut...
" Apa?? Silva mengandung anakmu Brandan."
Brandan menganggukkan kepalanya.
" Terus apa yang terjadi dengan Silva dan bayinya, Apakah dia tidak apa-apa?"
Brandon mengangguk.
Arumi merasa lega.
" Aku datang ke sini ingin minta maaf padamu dan juga meminta maaf untuk Silva, maukah kamu memaafkan kami berdua."
Arumi menghela nafas panjangnya...