
31 ๐น
Sesampai di ruangannya Arumi langsung menghentakkan tubuhnya di kursi kerjanya sembari menghelan nafasnya dengan panjang dan menengadahkan wajahnya menatap langit-langi ruangan kantornya itu dia bergumam di dalam hatinya sembari mengingat kejadian yang dialaminya di rumah sakit bertemu dengan keluarga Anggara.
" Kenapa di saat aku bertemu dengan keluarga Anggara dan aku berada di tengah-tengah keluarga itu, hatiku merasa nyaman. amarahku, egois ku dan sifat sombong ku hilang begitu saja, seolah-olah disapu oleh kehadiran dan tutur sapa serta kelembutan dari mereka semua. Apakah aku harus belajar dengan keluarga itu untuk keegoisanku saat ini yang terlalu semena-mena dengan orang lain yang tidak sesuai dengan keinginanku? Ya Tuhan apakah engkau sudah menghapus semua sifat jelekku ini setelah aku bertemu dengan keluarga Anggara." Gumamnya sembari lagi-lagi menghela nafasnya dengan panjang, ketukan di pintu ruangannya itu pun membuyarkan lamunannya dia menatap ke arah pintu tersebut.
" Masuk.." Ucapnya, pintu pun terbuka terlihat sekretarisnya masuk ke dalam sembari tersenyum. Arumi pun tersenyum membalas senyuman dari sekretarisnya itu, sekretarisnya pun terkejut dia bergumam di dalam hatinya karena melihat keanehan sang Nona Bosnya.
" Biasanya Nona Bos tidak pernah membalas senyumku, tapi sekarang dia mau membalas senyumku dan terlihat sangat baik sekali."
" Apakah kamu mau mengambil berkas-berkas yang harus ku tanda tangani itu?"
Sekretaris itu pun menganggukkan kepalanya.
" Tapi maaf aku belum menandatanganinya, lebih baik nanti aja kamu ngambil lagi ke sini." Ucapnya, dia pun menganggukkan kepalanya lagi karena masih kurang yakin kalau wanita yang ada dihadapannya itu tidak membentak dan mara-marah padanya.
" Baiklah Nona Bos, saya nanti akan kembali lagi ke sini."
" Tunggu! Apakah berkas ini sangat diperlukan sekali?"
Lagi-lagi sekretaris itu mengganggukan kepalanya.
" Baiklah, kamu boleh tunggu sebentar, aku akan menandatanganinya."
Kemudian Arumi pun membuka berkas-berkas yang ada di atas mejanya dengan cekatan dia menandatangani semua yang diperlukan oleh sekretarisnya itu, dia pun tidak memeriksa berkas tersebut karena dia percaya dengan sekretarisnya itu, sekretarisnya pun melihat keanehan di Nona Bosnya tersebut.
" Dia tidak memeriksa sama sekali berkas yang aku berikan, biasanya dia selalu mengkomplain tentang berkas yang aku sodorkan untuk ditandatanganinya. Apakah Nona Bos ada gangguan didalam kepalanya? Sehingga dia berubah begitu saja setelah dia keluar dari kantornya ini, entah apa yang terjadi dengannya." Gumam sekretarisnya tersebut, kemudian Arumi pun menyerahkan beberapa berkas yang sudah ditandatanganinya itu, sekretaris itu pun mengambilnya kemudian dia berpamitan dianggukan oleh Arumi, lagi-lagi Arumi menghela nafas dengan panjangnya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu sembari menatap langkah demi langkah sekretarisnya yang sudah menghilang di balik pintu ruangannya itu.
***
Dokter Purnama berpamitan dengan ibunya dia pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah rumah sakit, namun dipersimpangan dia malah mengarahkan kendaraan pribadinya itu menuju ke rumah bapak Innova Rahadian.
" Aku harus bertemu dengan Om Innova, Aku ingin mengatakan semuanya kalau anaknya itu masih ada dan aku pun harus memberitahu dia tentang seseorang yang mirip sekali dengannya."
Mobil pun terus melaju dengan kecepatan sedang, beberapa saat kemudian mobil pribadi dokter Purnama itu pun memasuki halaman rumah keluarga Bapak Innova Rahadian, dr Purnama memarkirkan mobilnya dengan rapi dia pun kemudian turun dari mobilnya, Dia melangkah menuju ke pintu utama rumah tersebut, kebetulan rumah itu terbuka dengan lebar dia pun kemudian mengucapkan salam dibalas oleh sepasang suami istri yang masih berada di ruang tengah tersebut, dokter Purnama melangkah mendekati Mereka kemudian meraih tangan kedua orang tua itu dan mencium punggung tangan mereka, dokter Purnama duduk di hadapan mereka berdua.
Bapak Innova dan istrinya menatap ke arah dokter Purnama dengan tatapan herannya.
" Ada apa Purnama Kamu tidak ke kantor.?" Tanya pak Innova
" Purnama baru aja datang dari tempat mama, rencananya memang mau ke rumah sakit, tapi Purnama menyempatkan diri Purnama bertemu dengan Om dan Tante karena ada yang ingin Purnama ceritakan pada kalian berdua."
Suami Istri itu pun saling bertatapan.
" Apa yang ingin kamu ceritakan Purnama.? tanya Bu Tia.
" Maaf Om Tante, bukannya Purnama mungungkit luka karena kehilangan anaknya Tante dan Om.
" Maksud kamu apa Nak? Jangan bikin Om dan Tante sangat penasaran seperti ini dan bertanya-tanya." Ucap pak Innova.
" Tapi di saat saya menceritakan semuanya nanti kepada Om dan Tante, Purnama mohon Om dan Tante jangan marah sama mama biar bagaimanapun Mama adalah mamanya Purnama yang masih ada rasa sayang dan cintanya buat Purnama, mama sebenarnya orang baik tapi karena mama terpengaruh dengan Om Paris sehingga Mama melupakan kasih sayangnya untuk Purnama."
Mereka berdua pun menganggukkan kepalanya, walau sebenarnya mereka penuh tanda tanya besar di kepala mereka sembari menatap ke arah Purnama.