
35 ๐น
" Brandon..! Dari mana kamu." Tegur Bryan, Brandon menghentikan langkahnya dia menghela nafasnya dengan panjang, kemudian membalikkan tubuhnya ke arah sang kakak dia melangkah mendekati kakaknya yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya tersebut, dia duduk di hadapan sang kakak sembari menarik nafasnya dengan panjang dan menengadahkan wajahnya menatap langit-langit ruang tamunya tersebut.
" Dari mana kamu Brandon."
" Apa mesti aku kasih tahu dari mana aku, tidak semuanya Kakak harus mengetahui kegiatan aku di luar. Apakah kakak tidak melihat kalau aku baru saja dari kantor."
" Brandan, ini sudah jam berapa? Tidak mungkin kamu dari kantor sudah jam malam seperti ini."
Brandan mendengus dengan kesal.
" Bagaimana hubungan kamu dengan Arumi ?"
" Jangan sebut namanya di hadapanku! Karena aku sudah membenci Arumi!"
" Maksud kamu apa ?"
" Walaupun aku dan Arumi sudah memutuskan hubungan tali percintaan kami aku tetap tidak akan pernah memaafkan kesalahannya terhadap keluarga kita! Terutama pada kamu kak."
" Brandon Sudah aku bilang padamu, Arumi tidak salah! Ini bukan kesalahan Arumi, berapa kali aku sudah mengatakan kepadamu kalau Arumi itu tidak salah! Seharusnya kamu mencari tahu kalau kamu ingin mengetahui siapa sebenarnya yang bersalah di antara kejadian itu."
Bryan pun menghela nafasnya dengan panjang, dia memang merasa kasihan dengan sang adik yang seharusnya adalah tugasnya sekarang dilimpahkan kepada adiknya tersebut. Bryan kemudian menggeser kursi rodanya itu mendekati adiknya, Dia kemudian menepuk pelan pundak adiknya tersebut.
" Maafkan kakak Brandan."
Brandan menghela nafasnya kembali dengan panjang, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
" Kenapa mesti terjadi padaku semua ini!"
" Brandon, Kakak sudah berusaha seperti apa yang kamu mau, tapi kemampuan kakak tidak seperti apa yang kamu inginkan, kakak tahu, kalau kamu memang merasa lelah menghadapi ini semua, sebenarnya jika kamu ingin mengetahui semua kejadian yang telah menimpa Kakak sampai seperti ini, semua saksi seharusnya kamu cari, bukan cuma sekedar kamu mengetahui kalau Arumi lah yang bersalah. Sampai kapanpun kamu pasti akan merasa benci dengan Arumi, tapi kalau kamu sudah mengetahui siapa sebenarnya yang bersalah, kamu pasti akan merasa bersalah dengan Arumi, pikirkanlah apa yang kakak katakan itu, sekarang istirahatlah." Ucapnya sembari menjalankan kembali kursi rodanya meninggalkan sang adik.
Brandon pun mengusap kembali wajahnya dengan kasar Dia kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke lantai atas di mana kamar pribadinya berada, satu persatu anak tangga dilaluinya dengan tatapan sang kakak yang berada di lantai bawah, karena Brandan melihat sang kakak sudah memasuki kamarnya, padahal Bryan keluar kembali sembari menatap langkah sang adik.
" Maafkan kakak Brandon, karena keadaan Kakaklah yang membuat kamu merasa kelelahan, aku harus berusaha walaupun sebenarnya aku merasa kurang percaya diri kalau keluar menggunakan kursi roda ini, tapi aku harus membuang rasa kurang percaya diri itu demi adikku." Gumamnya sembari menuju kembali ke kamar tidurnya, dia pun langsung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang setelah berbicara dengan orang tersebut dia meletakkan ponselnya di atas nakas yang tidak jauh dari tempat tidurnya, karena kebiasaannya seperti hari-hari lainnya dia pun langsung naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya dengan menghela nafasnya dengan panjang dia pun berusaha menutup matanya agar dia bisa berusaha tertidur dan melupakan beberapa rasa yang telah dia rasakan di hari ini.
Brandon yang berada di kamarnya itu duduk di bibir ranjangnya dia menyilangkan kedua kakinya dan bertopang dengan kedua tangannya tersebut sembari menatap ke arah langit-langit kamarnya dia pun bergumam di dalam hatinya.
" Kenapa Kakak selalu meyakinkan aku kalau seandainya aku ini salah terhadap Arumi, kalau sebenarnya Arumi itu tidak bersalah selalu saja Kakak berbicara seperti itu, tapi sebenarnya apa salahnya kalau aku mencoba menyelidiki apa yang terjadi sesungguhnya di saat kejadian naas itu, apa benar Arumi yang salah di sini ataukah ada orang yang lain." Gumamnya, lagi-lagi dia menghela nafasnya dengan pelan, kemudian dia berdiri dari duduknya dan mengambil handuk yang ada di dalam lemari bajunya tersebut, dia pun berlalu menuju ke arah kamar mandi pribadinya untuk membersihkan dirinya itu.