My Love My Security

My Love My Security
BAB 08



08 ๐ŸŒน


Sesampainya ditempat produksi Anggara pun langsung diperkenalkan dengan sesama Security yang lain.


Sebentar saja mereka sudah terlihat akrab dan pak Wawan pun sudah melangkah meninggalkan rumah produksi kembali kekantor utama.


***


Tepat jam makan siang selesai Arumi meninggalkan kantor sang kekasih, Silva dan Arumi melangkah menuju kearah mobilnya masing-masing dan langsung saja meninggalkan kantor tersebut.


Arumi melajukan mobilnya menuju kearah kantor sang Ayah.


" Kenapa aku merasa ada yang aneh antara Brandan dan Silva ya,perasaanku mengatakan ada sesuatu yang lain." Ucapnya dengan tiba-tiba saja dia berpikiran seperti itu."


" Tapi tidak mungkin kalau Brandan berbuat seperti apa yang aku pikirkan.Tapi apa salahnya aku menyelidikinya nanti." Ucapnya lagi sembari melajukan mobilnya menuju arah kantor NA Group.


Sesampainya dikantor NA group mobil Arumi berhenti ditempat parkir dan dia pun langsung turun dari mobilnya dan melangkah menuju ke pintu mobil di depan pintu dia disambut Security yang ada di kantor tersebut, security itu pun membukakan pintu untuk Putri tercinta pak Bosnya tersebut, semua Security dan karyawan yang ada di NA group sudah mengetahui kalau Arumi adalah anak semata wayang dari pimpinan mereka, semua memberi hormat padanya, Namun karena sikap Arumi yang kurang bersahabat dengan mereka dan bertolak belakang dengan sikap ayahnya tersebut dia tidak terlalu menanggapi sapaan itu. Saat pintu lobby dibuka, dia melangkah begitu saja tanpa memberikan senyuman ataupun berterima kasih pada Security tersebut dia terus melangkah menuju ke arah lift.


Saat menunggu pintu lift terbuka salah satu karyawan NA grup itu pun menyapanya namun sayangnya Arumi tidak membalas sapaan dari karyawan tersebut, dia langsung memasuki lift dan menuju ke arah lantai atas di mana ruangan sang ayah berada.


Sesampainya di atas dia disambut dengan sekretaris sang ayah.


" Ibu Arumi, Ibu sudah ditunggu oleh Bapak diruangannya.'


" Heh! Sudah aku bilang ya Dari dulu, kamu selalu menyebut aku Ibu! apa aku terlihat tua?! sebut aku dengan sebutan Nona!" ucapnya dengan ketus sembari meninggalkan sekretaris tersebut, dia pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan ayahnya, tanpa mengetuk pintu ruangan itu, dia langsung saja membuka dan masuk kedalamnya, dia menghentakkan tubuhnya di sofa ruangan tersebut, membuat Pak Burhan merasa heran dengan Arumi.


" Ada apa dengan kamu Arumi? kenapa wajah kamu cemberut seperti itu.?" Tanya Pak Burhan sembari berdiri dari duduknya dan mendekati anaknya yang sedang duduk di sofa dengan wajah ditekuk, karena marah dengan salah satu bawahan ayahnya itu.


Arumi tidak menjawab pertanyaan sang Ayah, dia tetap diam, dia larut dalam kekesalannya itu.


Pak Burhan hanya menghela nafasnya dengan pelan dia pun tersenyum pada anak gadisnya tersebut kemudian Dia menepuk pundak anaknya itu dengan pelan.


Pak Burhan paham dengan sikap Arumi, itu menandakan kalau sang Anak kesal dengan seseorang, pak Burhan tidak terlalu banyak bertanya, dia hanya tersenyum sembari berucap pada Anak kesayangannya itu.


Arumi hanya menghela nafasnya dengan panjang dia kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa yang saat ini diduduki.


" Maafkan Arumi Yah, Arumi terbawa emosi."


" Baiklah, Ayo sekarang kita menuju ke ruang rapat, Ayah mau memperkenalkan kamu pada staf semua yang ada di kantor ini, karena mulai besok kamu sudah melaksanakan pekerjaan kamu di kantor ini, sebagai pimpinan utama dan pemilik kantor perusahaan NA Group." Ucap pak Burhan sembari berdiri dari duduknya.


Arumi menganggukan kepalanya dan mengikuti langkah sang ayah keluar dari ruangan tersebut, mereka menuju ke arah ruangan rapat di mana seluruh kepala staf sudah berada di ruangan itu untuk menunggu instruksi kembali dari pimpinannya yaitu Pak Burhan, karena hari ini adalah hari di mana Pak Burhan sudah menyerahkan kepemimpinannya pada sang anak dan hari ini adalah hari terakhirnya Pak Burhan berada di kantor tersebut, mulai sekarang dan seterusnya Arumilah yang akan memimpin perusahaan tersebut.


Satu jam lebih mereka berada di ruangan rapat dan memperkenalkan Arumi sebagai pimpinan yang baru, semua pun mengenal Arumi dengan kejutekanya, kesombongannya yang dimiliki Arumi tersebut dan Arumi juga sudah mengungkapkan beberapa hal aturan pada mereka, salah satunya, jika Arumi tidak menyukai pekerjaan yang dilakukan oleh karyawannya dia tidak segan-segan untuk memecat karyawan tersebut dan menggantinya dengan yang baru, karena Arumi tidak ingin pekerjaan yang dilakukan mereka terbengkalai.


Setelah Pak Burhan dan Arumi keluar dari ruangan rapat dan menuju ke ruangan kerja, Pak Burhan dan Arumi memasuki ruangan tersebut yang lain pun keluar dari ruangan rapat itu sembari berbicara berbisik satu sama lainnya, terlihat mereka mulai hati-hati dalam bekerja, karena pimpinan mereka sekarang berbeda dengan pimpinan pertama yaitu Pak Burhan.


Antara suka sedih dan takut dengan apa yang diucapkan Arumi pada mereka, tentang beberapa hal yang ditetapkan oleh Arumi tersebut, membuat mereka harus mematuhinya dan tidak bisa untuk dipungkiri oleh mereka.


" Arumi, Apakah kamu tidak keterlaluan dengan beberapa hal yang sudah kamu katakan pada mereka tadi.?" tanya Pak Burhan pada anaknya.


" Arumi rasa itu sudah sepantasnya yang harus mereka lakukan, karena itu termasuk tata tertib dalam perusahaan ini, karena Arumi tidak ingin mereka bekerja berleha-leha, menurut Arumi itu adalah hal yang wajar di semua perusahaan harus ketat, jangan diberi kelonggaran pada mereka yang hanya bisa bermalas-malasan dengan santai."


Pak buruan pun hanya menghela nafasnya dengan panjang, dia merasa kalau Arumi merubah semua peraturan yang ada di kantor tersebut hanya karena ingin mereka lebih giat lagi dan lebih rajin lagi dalam bekerja.


" Baiklah, ayah akan memberikan penjelasan pada kamu tentang beberapa pekerjaan yang harus kamu selesaikan nantinya."


Arumi hanya mengangguk saat sang ayah berbicara, kemudian Pak Burhan pun berdiri menuju ke arah meja kerjanya dan mengambil satu berkas, di mana di dalam berkas itu sudah tercantum semua pekerjaan yang harus dikerjakan oleh Arumi nantinya di kantor NA group tersebut.


***


Saat jam 03.00 sore Anggara sudah menyelesaikan pekerjaannya di rumah produksi tersebut, dia lalu digantikan dengan seorang Security yang lain, Anggara pun kemudian berpamitan, setelah dia berbicara sesaat dengan Security penggantinya itu, Anggara kemudian melajukan motornya menuju pulang ke rumah dengan kecepatan tinggi, dia melajukan kendaraannya karena dia ingin mengejar waktu sampai di rumah dengan cepat, sehabis magrib dia harus mengambil mata kuliah yang tidak bisa dia tinggalkan dan dia juga harus berbicara kembali dengan pihak kampus tentang kehadirannya dan waktu bekerjanya.


Sesampainya di rumah dia pun kemudian memarkirkan motornya tersebut dan disambut oleh sang Ibu, dengan kebiasaannya dia meraih tangan Ibunya dan mencium punggung tangan Ibunya tersebut, sembari berbicara pada Ibunya, tentang pekerjaannya yang ditempatkan sementara waktu di rumah produksi bukan di kantor utama yang berada di kota, Ibu Ningsih hanya menganggukan kepalanya sembari menatap sang anak, karena dia merasa kasihan dengan anaknya yang akan menempuh perjalanan sekitar beberapa jam menuju ke tempat kerjanya itu, Ibu Ningsih hanya bisa memberikan semangat pada anaknya tersebut.