My Love My Security

My Love My Security
BAB 29



29 ๐ŸŒน


Anggara pun kemudian mendekati Arumi yang sedang berdiri di dekat mobil pribadinya tersebut.


" Kenapa kamu masih berdiri di situ?! Cepatan! Sekarang kita berangkat nanti aku terlambat.!" Ucapnya melangkah menuju ke arah mobil khusus kantor tersebut.


Anggara terdiam sembari mengikuti langkah Arumi dan saat dia membuka pintu mobil tersebut Arumi pun langsung masuk ke dalamnya.


Anggara kemudian berbicara pada Arumi.


" Maaf Nona, Saya tidak bisa menggunakan mobil ini, bisakah kita menggunakan mobil yang lain.?"


" Memangnya kenapa ? Kamu tidak bisa menggunakan mobil atau hanya roda dua saja yang kamu bisa gunakan gitu?!"


" Bukan Nona, tapi saya tidak bisa menggunakannya mobil matic, saya bisanya menggunakan mobil manual."


" Kalau kamu bisa manual berarti kamu bisa menggunakan matic! Ayo! sudah jangan terlalu banyak bicara, aku sudah terlambat ingin bertemu seseorang, jangan terlalu banyak ngoceh!" Ucapnya, Anggara pun hanya menganggukkan kepalanya kemudian dia pun memasuki mobil tersebut.


" Bismillah..." Ucapnya, Arumi menoleh sesaat ke arah Anggara sembari tersenyum.


" Hemmm...Kalau dilihat-lihat dengan jelas ganteng juga nih Security ku." Gumamnya dalam hati dua kali Arumi mengagumi ketampanan Anggara.


Perlahan-lahan mobil yang dikendarai oleh Anggara pun meninggalkan kantor NA Group, Anggara juga tidak menyangka kalau Dia bisa mengendarai mobil itu.


" Kita mau ke mana Nona.?"


" Rumah Sakit Al Insan..."


" Rumah Sakit Al Insan ?" Ucap Anggara terkejut sembari menatap sesaat ke arah Nona Bosnya tersebut.


" Ya! Memang kenapa? Kok kamu terkejut gitu mendengar Rumah Sakit Al Insan."


" Tidak apa-apa Nona."


Mereka berdua pun hanya terdiam, hening! Tidak ada suara sama sekali, beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman Rumah Sakit Al Insan, Anggara memarkirkan mobil tersebut di tempat parkir yang sudah disediakan khusus roda empat, mereka berdua pun turun dari mobil.


" Ngapain kamu berdiri di situ aja." Tegur Arumi, karena Anggara tidak mengikuti langkah Arumi.


Saat Arumi hendak melangkah menuju ke koridor Rumah Sakit tersebut.


" Aku mengajak kamu itu untuk menemaniku masuk ke dalam sana, bukan menunggu Aku di sini."


" Tapi Nona, apakah nanti saya tidak mengganggu Nona saat Nona mengunjungi seseorang."


" Udah jangan banyak tanya! Cepat bawa bingkisan itu." Ucapnya sembari meninggalkan Anggara dan Anggara pun hanya menganggukkan kepalanya, dia mengambil beberapa bingkisan yang tadi sempat dibeli mereka saat menuju ke arah rumah sakit, Anggara pun mengikuti langkah Arumi dari belakang.


Saat Arumi menuju ke arah ruangan sang adik dia pun terkejut.


" Ini bukannya menuju arah ruangan Nino.?"


" Security! Kenapa kamu bengong di situ?!" Tegur Arumi, karena terlihat Anggara terdiam di depan ruangan sang adik, melihat Arumi berhenti di sebuah ruangan di mana adiknya itu dirawat.


" Maaf Nona, sebenarnya Nona mau mengunjungi siapa.?"


" Kalau ke rumah sakit ini berarti mengunjungi orang yang sakit, memangnya kalau ke rumah sakit ini berarti mau dugem gitu? Dari tadi kamu ini terlalu banyak tanya aja, sini! biar aku yang bawa, terserah kamu mau ikut atau enggak!" Ucapnya kemudian meninggalkan Anggara dan mengetuk pintu ruangan Nino.


Pintu pun terbuka terlihat Neni terkejut siapa tamunya yang datang menjenguk sang adik.


" Kak Arumi...?"


" Neni..." Ucap Arumi sembari memeluk Neni.


" Aku beneran kan datang untuk menjenguk adikmu sekalian." Ucapnya sembari tersenyum dan merangkul Neni, begitu juga Neni yang merangkulnya begitu akrabnya seakan-akan mereka sudah berteman sejak lama.


Neni tidak melihat sang kakak yang berdiri tidak jauh dari Arumi, Neni pun kemudian mempersilahkan Arumi masuk ke dalam dan menutup kembali pintu ruangan tersebut.


" Kak Arumi ?? dari mana Neni mengenal Nona Arumi.?" Ucap Anggara merasa heran dengan kedekatan sang adik dengan Nona Bosnya itu.


Sebelum kebingungannya terjawab dia pun melangkah menuju ke arah pintu dan membuka pintu itu, semua yang ada di dalam pun menoleh ke arahnya, Begitu juga dengan Arumi dia pun menatap ke arah Anggara dengan tatapan lekatnya sembari bersuara.


" Akhirnya kamu masuk juga, mau bareng dugem juga di sini?" Ucap Arumi membuat Neni merasa heran Arumi mengenal kakaknya, sebelum Neni bertanya pada Arumi,


Ibu Ningsih keluar dari kamar kecil, dia terkejut melihat di dalam ruangan itu ada tamu yang baru saja dilihatnya, dia pun kemudian menyalami tamu tersebut, Neni kemudian memperkenalkan Arumi pada sang ibu dengan mengatakan kalau Arumi adalah temannya saat menunggu antrian gorengan tadi malam, Ibu Ningsih pun percaya saja apa yang dikatakan Neni, tapi tidak dengan Arumi, dia merasa heran Neni berbohong pada sang ibu, tapi Arumi tidak menanggapi semuanya itu, dia hanya mengikuti apa yang dikatakan Neni saja pada ibunya itu, kemudian ibu Ningsih pun melihat kedatangan sang anak dia pun langsung bertanya pada Anggara.


" Kenapa kamu sudah pulang kerja? Jangan bolong-bolong kamu kerja nak, kamu harus bekerja itu dengan sungguh-sungguh, jangan Kamu mencuri waktu hanya untuk menjenguk adikmu di sini, karena adikmu ada ibu dan Neni yang menjaganya, Kalau kamu ketahuan sama Bos kamu, Nanti kamu dimarahin lagi, Ibu tidak ingin kamu mengecewakan bos kamu dan Paman kamu, lebih baik kamu cepat kembali ke tempat kerja kamu, nanti kalau bos kamu tidak melihat kamu bekerja dia akan memecat kamu, mencari pekerjaan sangatlah sulit nak." ucap Bu Ningsih mendengar ucapan Bu Ningsih sontak saja membuat Arumi terkejut dengan ucapan bu Ningsih itu, kalau Neni dan adiknya yang terbaring di rumah sakit itu adalah adiknya Anggara, dia kemudian menatap ke arah anggaran dengan lekat seakan-akan meminta penjelasan pada anggaran tentang semuanya ini.