
16 ๐น
Saat di lampu merah Arumi melihat Anggara berhenti di arah yang berlawanan, dia pun menatap ke arah Anggara sembari bergumam di dalam hatinya.
" Bukankah itu Security rese yang membuat mood ku kesel dan marah padanya, ngapain dia berada di luar pada jam kantor seperti ini, ini tidak benar! Benar kata Brandon, aku harus bertindak, Aku tidak ingin di kantorku ada orang yang bekerja seenak jidadnya!" ucapnya di dalam hatinya dia tidak mengungkapkan kata-kata itu di hadapan Brandon, karena dia tidak ingin Brandon berpikiran yang macam-macam padanya.
Terlihat Anggara melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi membuat pandangan Arumi merasa heran, saat Arumi menatap pengendara motor tersebut yang ternyata itu adalah Anggara, Security yang sudah membuat Arumi kesel itu, melewati seberang jalan di mana Arumi masih menunggu lampu lalu lintas menyala hijau, Brandon merasa heran karena Arumi langsung memalingkan wajahnya menatap ke arah belakang, Brandan menoleh ke arah kanan, karena posisi Anggara berada di sebelah kanan jalan menuju ke arah berlawanan.
" Kamu lihat apa sayang? kenapa kamu sepertinya melihat sangat serius sekali, apakah kamu melihat seseorang yang sudah membuat kamu marah atau membuat kamu kesel atau jangan-jangan kamu sudah melihat Security itu, aku jadi penasaran dengan Security yang kamu maksudkan itu." ucap Brandan membuat Arumi terkejut dengan ucapan Brandan itu, dia hanya tersenyum sembari berkata.
" Aku tidak melihat siapa-siapa, Aku hanya ingin melihat ke arah belakang aja, itu sudah lampu hijau! Ayo kita segera menuju ke kantorku, karena aku sudah terlalu lama meninggalkan kantor, Aku tidak ingin imageku sebagai seorang pimpinan yang baru sangat jelek di hadapan bawahanku." ucapnya dianggukan oleh Brandon kemudian mobil pun melaju menuju ke arah kantor Arumi.
Anggara yang sudah memasuki halaman parkir Rumah Sakit tersebut memarkirkan motornya dengan rapi, Dia kemudian menengok kiri dan kanan mencari keberadaan sang ibu, kemudian dia pun melangkah dengan cepat setelah melihat kalau ibunya berada di depan UGD
Anggara menghampiri ibunya yang terduduk di kursi ruang tunggu itu, Anggara duduk di samping sang Ibu sembari menyentuh tangan ibunya, membuat Ibu Ningsih terkejut.
" Kamu tahu dari mana Kalau Ibu ada di rumah sakit?"
" Tahu dari Paman karena bibi tadi ke rumah kita, nggak usah dipikirkan Ibu dari mana Anggara tahu dan dari mana juga Bibi memberitahu itu semua pada Anggara, sebenarnya apa yang terjadi ibu.?"
" Adik mu mengalami kecelakaan saat pulang ke sekolah."
" Ya Allah, apa yang terjadi dengan Nino, Kenapa dia sampai mengalami kecelakaan seperti ini."
" Ibu juga terkejut mendengarnya, menurut cerita dia sedang menunggu Neni menjemputnya, dia berdiri di depan sekolahnya, entah apa yang terjadi ada seseorang mendorongnya ke arah jalan besar dan salah satu kendaraan melintas, Ibu tidak tahu cerita jelasnya seperti apa, karena Ibu sudah diceritakan sama guru kelasnya, mereka juga mengetahui keterangan dari teman-teman Nino."
Anggara menghela nafasnya dengan panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar sembari menopangkan kedua tangannya di pahanya dan menangkupkan kedua tangannya di wajahnya.
" Ya Allah semoga adik hamba tidak apa-apa." Doanya di dalam hati.
" Kenapa kamu ke sini nak, kamu kan baru aja bekerja, apakah pimpinan kamu nanti tidak marah kamu meninggalkan pekerjaan di saat jam kerja seperti ini keluar dari kantor."
" Paman Wawan yang akan memintakan izin pada pimpinan, kalau seandainya pimpinan tidak memberikan izin, Anggara akan mencari pekerjaan yang lain, karena Ibu dan adik-adik lebih penting bagi Anggara, Anggara tidak ingin ibu berada di rumah sakit sendirian, karena Anggara adalah anak lelaki yang tertua, Anggara harus menjaga Ibu dan adik-adik semoga saja Nino tidak apa-apa."
Ibu Ningsih hanya menganggukkan kepalanya sembari tersenyum getir, karena dia belum mengetahui keadaan sang anak bungsunya itu, berkali-kali dia menghela nafasnya sembari menatap ke arah ruangan di mana sang anak dirawat, cukup lama dia menunggu kemudian pintu itu pun terbuka seorang dokter perempuan menemui mereka.
Mereka berdiri melihat sang dokter melangkah mendekati mereka, sebelum dokter itu sampai di hadapan mereka mereka terlebih dahulu berhadapan dengan dokter tersebut.
" Bagaimana keadaan anak saya dok.?"
Dokter itu pun tersenyum.
" Alhamdulillah ibu, semua atas kehendak yang Maha Kuasa, anak ibu terselamatkan, walaupun harus menjalani perawatan di efektif lagi, karena kaki sebelah kanannya mengalami patah tulang."
" Terima kasih ya Allah, karena Engkau mengabulkan doaku, setidaknya Nino masih bisa bersama dengan kami, walaupun dia harus menjalani perawatan yang eksklusif lagi."
" Apa boleh kami menjenguknya.?" tanya Anggara pada dokter tersebut.
Dokter itu pun menatap ke arah Anggara, dia tidak langsung menjawab pertanyaan Anggara, Bu Ningsih pun merasa heran dia menatap dokter tersebut yang tidak berkedip menatap ke arah Anggara.
" Bu dokter, ada apa? Kenapa bu dokter menatap ke arah anak saya?" tanya Bu Ningsih dengan cepat karena dia merasa heran dengan dokter tersebut.
" Oh maaf, apa yang ditanyakan tadi, bisakah diulangi lagi?"
" Apakah kami bisa menjenguknya dok?" tanya Anggara.
" Bisa... Tapi setelah dipindahkan ke ruangan, baiklah kalau seperti itu, saya tinggal dulu." ucapnya sembari tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Bu dokter itu pun kemudian melangkah meninggalkan ibu dan anak tersebut.
" Siapa laki-laki itu, kenapa sekilas dia mirip sekali dengan Om Innova." Gumamnya di dalam hati sembari terus melangkah meninggalkan ruang UGD menuju ke arah ruangannya.
" Kenapa dengan dokter itu ya, dia menatap Anggara dengan sangat lekat, apakah dia mengetahui kalau Anggara bukan Anakku? Aku tidak ingin Anggara meninggalkanku dan juga adik-adiknya." gumam bu Ningsih sembari menatap Anggara yang berada di tempat duduk menunggu sang adik keluar dari ruangan UGD menuju ke arah ruangan umum.
Anggara tidak menghiraukan tentang dokter tersebut dia fokus dengan keadaan sang adik karena dia belum melihat pasti adiknya itu keluar dari ruangan itu, Bu Ningsih kemudian melangkah mendekati anaknya dan duduk di samping anaknya tersebut.
Beberapa saat mereka menunggu kemudian dua orang suster pun membawa Nino melewati ibu dan kakaknya itu, kemudian salah satu suster itu pun berbicara pada ibu Ningsih, setelah menjelaskan semuanya pada ibu pasien, mereka pun kemudian melangkah mengikuti ranjang dorong tersebut menuju ke arah ruangan umum.
***
Saat Arumi berada di ruangannya dia pun menghubungi sekretarisnya agar memanggilkan Pak Wawan.
Pak Wawan yang berada di posnya itu pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan Arumi.
Arumi mempersilahkan Pak Wawan masuk ke dalam, Arumi yang menunggu Pak Wawan duduk di sofa dan mempersilahkan Pak Wawan duduk di hadapannya.
" Ada apa Nona Arumi, sehingga Nona memanggil saya.?"
Arumi menghela nafasnya dengan panjang.
" Ada yang ingin saya tanyakan dengan bapak, soal Security yang Rese itu, kenapa dia keluar dari kantor saat jam kerja? Pak Wawan kan sudah tahu kinerja di kantor ini, kenapa memperbolehkan dia keluar dari kantor tanpa seizin saya."
Pak Wawan hanya menundukkan kepalanya, karena dia tidak ingin langsung berbicara dengan Nona Bosnya itu, dia mencari kata-kata yang tepat untuk berbicara dengan Nona Bosnya itu.