My Love My Security

My Love My Security
BAB 38



38 ๐ŸŒน


" Memang sebenarnya saya ingin berbicara masalah Nino, selain masalah Nino ada yang ingin juga saya bicarakan dengan mas Anggara." Ucap dokter Purnama sembari tersenyum.


" Benar apa yang kukatakan, aku sudah curiga ini pasti masalah keluarga Rahadian itu, Ya Tuhan jangan pisahkan Anggara dari kami, karena aku sudah sangat menyayangi Anggara seperti anakku sendiri." ucap Bu Ningsih di dalam hatinya sembari menatap ke arah dokter Purnama, dokter Purnama pun tersenyum pada Bu Ningsih.


" Apa yang ingin Ibu bicarakan tentang adik saya." Ucap Anggara.


" Baiklah, saya akan menjelaskan semuanya tentang Nino, sebenarnya Nino sudah menampakkan kondisi yang sangat membaik, namun harus tetap berada di rumah sakit ini beberapa hari ke depan, dikarenakan dia harus mendapatkan penanganan yang lebih eksklusif lagi agar segera bisa berjalan kembali." ucapnya.


" Selain masalah Nino ada masalah apalagi bu dokter?" Tanya bu Ningsih.


" Kebetulan Ibu ada di ruangan ini, saya ingin bertanya dengan Ibu selaku Ibu dari Mas Anggara."


" Apa yang ingin bu dokter tanyakan dengan saya.?"


" Maafkan saya sebelumnya Bu, mungkin pertanyaan ini membuat Ibu tidak nyaman, namun saya harus bertanya langsung pada ibu yang sebenarnya, saya ingin bertanya dengan mas Anggara perihal ini tapi karena Ibu ikut berada di ruangan ini ibu juga berhak tahu."


Mereka saling berpandangan.


" Benarkah mas Anggara ini anak kandung Ibu.?"


Mendengar pertanyaan dari dr Purnama Bu Ningsih pun terkejut, dia menatap sesaat ke arah Anggara kemudian menatap lekat ke arah dokter Purnama, namun di wajahnya tidak menampakkan rasa marah dengan pertanyaan tersebut.


" Jangan salah sangka dulu pada saya Bu dan jangan marah pada pertanyaan saya, bukan bermaksud saya bertanya seperti itu untuk menyakiti hati Ibu, ataupun membuat Ibu tidak nyaman dengan pertanyaan saya tadi, tapi ini terpaksa saya tanyakan langsung pada Ibu karena Ibu pasti mengetahui semuanya tentang Mas Anggara."


" Iya saya sudah pernah bertanya pada Mas Anggara, tapi saya ingin mendengar langsung dari Ibu Ningsih selaku Ibunya Mas Anggara."


Dr Purnama pun Kemudian menceritakan semuanya tentang kemiripan wajah dari Anggara, Bu Ningsih dan Anggara pun mendengarkan dokter Purnama bercerita sampai Akhir, Bu Ningsih kemudian menghela nafasnya dengan panjang setelah mendengar cerita dari dokter Purnama, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia pun merasa tersentuh dengan cerita tersebut, karena seorang ibu dan Ayah dipisahkan dari anak kandungnya sendiri oleh adiknya hanya karena menginginkan harta dari sang saudara, tapi jauh di lubuk hatinya yang lain dia takut kehilangan Anggara untuk selama-lamanya, kalau seandainya dia mengatakan yang sebenarnya, dia pasti akan kehilangan Anggara karena Anggara akan tinggal bersama dengan kedua orang tuanya, tapi kalau seandainya dia tidak berkata jujur dia tidak jauh beda dengan adik yang tega memisahkan anaknya dari kakaknya tersebut.


" Saya kasihan dengan Om dan Tante saya, berpuluh tahun dia tidak bisa melihat anaknya dan berpuluh tahun juga mereka berdua hidup dengan cerita yang bohong dari Ibu saya, jujur saudara dari Om saya itu adalah Ibu kandung saya, karena dia terobsesi dengan bujukan dari Ayah Tiri saya."


Anggara pun terdiam dia tidak menyangka kalau seandainya benar terjadi, kalau dirinya itu adalah anak dari keluarga dokter tersebut.


Kemudian Anggara menatap ke arah dr Purnama mencari tahu kebenaran yang ada, dia tidak mempermasalahkan dari mana dia berasal, dia akan menerima semuanya kalau memang benar apa yang dikatakan oleh dokter tersebut.


Bu Ningsih memandangi wajah anaknya tersebut sembari menghela nafasnya dengan panjang.


" Maafkan Ibu Anggara..."


" Kenapa Ibu minta maaf pada Anggara, Ibu tidak salah, kalau memang Anggara ini adalah anak yang dibuang oleh Tante Anggara sendiri, Anggara tidak mempermasalahkannya, masalahnya itu Anggara tetap tidak akan meninggalkan ibu dan adik-adik, ke mana Anggara tinggal Ibu dan adik-adik harus ikut Anggara." Ucapnya, mendengar ucapan sang anak itu Bu Ningsih pun merasa lega, karena Anggara tidak akan pernah meninggalkan dirinya dan adik-adiknya.


Bu Ningsih pun menatap ke arah dokter Purnama dia menatap lekat jauh ke bening bola mata dokter bernama di mana dia mencari tahu apakah Dokter bernama itu benar orang yang bisa dipercaya atau memang benar-benar berpihak pada Om dan Tantenya yang sudah diceritakannya kepada dirinya itu.


Bu Ningsih lagi-lagi menghela nafasnya dengan panjang, dia menemukan kebenaran di bening bola mata dokter Purnama tersebut, dia pun bergumam di dalam hatinya.


" Aku akan jujur dan mengatakan seadanya tentang asal-usul Anggara pada bu dokter ini, karena dia memang terlihat orang yang sangat jujur tidak berpihak kepada kiri dan kanan, Ia hanya lurus untuk mencari tahu kebenaran yang ada dan membantu Tante dan Omnya tersebut." Gumamnya sembari terus menatap ke arah dokter Purnama.