My Love My Security

My Love My Security
BAB 10



10๐ŸŒน


" Kamu salah paham Brandon, kamu tidak pernah mendengarkan penjelasanku, yang salah itu bukan Arumi, tapi ini adalah kesalahanku sendiri kala itu." Ucapnya sembari mengingat beberapa waktu silam tentang kejadian kecelakaan yang telah melandanya.


Saat itu Bryan melihat Arumi yang berlari mengejar kereta dorong yang berisikan seorang bayi mungil milik seorang ibu muda yang tak lain adalah kakak sepupunya Arumi, saat itu mereka sedang berjalan santai, posisi sepupu Arumi memegang kereta dorong anaknya tersebut, kereta dorong terlepas dari tangan Mia sang ibu muda tersebut karena seseorang yang menabrak mereka yang sedang berlari dengan kencang, Mia hilang keseimbangannya dan Mia terjatuh membuat kereta dorong itu pun meluncur bebas ke arah jalan besar karena terlepas dari tangan Mia sang Ibu, Arumi berlari mengejar kereta tersebut sambil berteriak meminta tolong agar ada orang yang membantunya untuk meraih kereta dorong bayi tersebut, dan Bryan melihat Arumi berlari itu, dia pun langsung membantu Arumi, walaupun dia tidak kenal sama sekali dengan Arumi dia tetap membantu Arumi kala itu, bertepatan kereta dorong bayi dekat dengan Bryan dia pun langsung mengambil kereta itu dan menyingkirkannya ke samping, namun sayangnya dia tidak bisa mengelak lagi, sebuah kendaraan tidak bertanggung jawab menabrak Bryan dan kendaraan itu tetap melaju dengan cepat, pengemudi tidak menghiraukan Bryan yang terjatuh dengan rasa sakit di kedua kakinya, bayi ibu muda itu pun terselamatkan, tapi tidak dengan Bryan, dia kehilangan kekuatan di kakinya lagi, karena mengalami kecelakaan tersebut, karena kedua kakinya Bryan mengalami kelumpuhan.


Arumi dengan sikap menghubungi rumah sakit dan Bryan dibawa ke rumah sakit, untuk ditangani dengan serius.


Saat Brandon mengetahui semuanya itu, dia pun mencari tahu asal muasal kejadian yang menimpa sang kakak, sampai akhirnya dia mengetahui dan beranggapan, kalau penyebab kecelakaan itu adalah Arumi, dia mulai mendekati Arumi dan menjadikan Arumi kekasihnya, dan dia juga berniat di saat Arumi sayang dan sangat mencintainya serta takut kehilangannya, dia akan mematahkan hati Arumi dan menyakiti perasaannya lebih dalam.


Bryan menghela nafasnya dengan panjang dia tidak bisa menghubungi Arumi karena dia tidak mengetahui nomor ponsel Arumi, ataupun bertemu dengan Arumi, karena dia tidak ingin dilihat orang-orang yang ada di luar sana dengan keadaan dia yang berada di kursi roda, Dia sekarang sudah hilang kepercayaan dirinya untuk berjalan di luar dan dilihat banyak orang, waktunya hanya dihabiskannya berada di dalam rumah.


" Aku tidak mengetahui apa yang akan terjadi nantinya dengan Arumi, karena kesalahan yang tidak diperbuat oleh Arumi." Ucapnya pelan.


Kecelakaan yang dialami oleh Bryan itu adalah musibah yang tidak bisa dihindarinya, tapi dia merasa senang karena dia bisa menyelamatkan seorang bayi dari kecelakaan itu, setidaknya dia bisa melihat bayi mungil itu menikmati hidupnya seperti layaknya bayi-bayi yang lain, walaupun dia sendiri kehilangan kekuatan kakinya untuk berjalan seperti sedia kala.


***


Brandon melajukan kendaraannya menuju ke arah rumah Silva, Dia kemudian menjemput Silva kekasih gelapnya itu, dan membawanya ke sebuah kedai kopi untuk menikmati karomantisan mereka berdua.


Mobil berhenti di depan kedai tersebut mereka berdua turun saling bergandengan tangan dan mereka memesan minuman kesukaan mereka, karena kedai itu adalah kedai tempat mereka menghabiskan waktu setiap pagi.


" Aku ingin tahu kenapa kamu mencintai Arumi, aku masih penasaran, kenapa kamu tidak mengatakannya padaku sedari dulu."


Brandon pun kemudian tersenyum dan memegang tangan kekasihnya itu, Brandon memang sangat mencintai Silva jauh sebelum dia bertemu dengan Arumi, dia sudah menginginkan Silva menjadi kekasihnya, tapi karena terjadi musibah itu, dia pun kemudian mendekati Arumi, kebetulan Silva adalah temannya Arumi yang memudahkan dia untuk mendekati Arumi terlebih dahulu sebelum dia mengatakan cintanya pada Silva.


" Kamu mau tahu semuanya?"


Silva menganggukkan kepalanya.


" Sebelumnya aku mau bertanya denganmu, sejauh mana kamu dan Arumi berteman?"


" Saat SMA, dia melanjutkan kuliah ke luar negeri dan aku tetap di Indonesia, ceritakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi."


" Arumi adalah penyebab kedua kaki kakakku tidak bisa berfungsi lagi."


" Apa ? kedua kaki kakakmu tidak berfungsi lagi,kok bisa? dan apa hubungannya dengan Arumi.?"


Silva terkejut mendengar cerita tersebut setelah Brandon mengatakan tempat kejadiannya itu.


Dia berusaha menyembunyikan rasa terkejutnya.


" Aku juga mencari orang yang sudah menabrak kakakku itu, karena orang itu tidak bertanggung jawab dengan kejadian yang telah menimpa kakakku!" ucap Brandon dengan mengepalkan kedua tangannya.


Silva hanya menatap kekasihnya yang duduk di hadapannya tersebut sembari bergumam di dalam hatinya.


" Kalau saja Brandon tahu siapa sebenarnya pengendara mobil itu mungkin saat ini aku tidak berada di hadapannya, aku tidak tahu kalau itu adalah kakaknya Brandan."


Brandon menatap ke arah Silva.


" Ada apa denganmu ?kenapa kamu terdiam.?"


" Oh... tidak ada apa-apa, aku merasa tidak menyangka aja ternyata Arumi memiliki sisi yang jelek di hadapanmu."


" Itulah yang membuat aku mencintai Arumi, walaupun sebenarnya tidak ada rasa cintaku padanya, rasa cinta yang aku berikan padanya itu hanya sekedar ingin balas dendam padanya, karena dia juga harus merasakan apa yang kakakku rasakan saat ini."


Silva hanya menghela nafasnya dengan dalam, Dia kemudian mengalihkan pembicaraan mereka dengan menatap ke arah jam yang tergantung di kedai tersebut.


" Lebih baik sekarang antarkan aku ke tempat kerja, nanti aku akan terlambat kalau aku masih tetap duduk di sini." ucapnya tersenyum.


Brandon merasa heran pada Silva dia pun kemudian melihat jam yang melingkar di tangannya tersebut.


" Ini kan belum waktunya kamu ke kantor, biasanya kamu tidak berangkat jam segini, kita selalu lama berada di kedai ini, kenapa kamu mengajak aku begitu cepat ke kantormu.?"


" Aku lupa, karena ada pekerjaan yang harus aku kerjakan sekarang."


" Hem... baiklah, aku akan mengantarkan kamu." ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan kemudian membayar pesanannya tersebut, mereka berdua kembali bergandengan tangan menuju ke arah mobilnya dan beberapa saat kemudian mobil yang dikendarai oleh Brandan dan Silva itu pun meninggalkan kedai kopi langganannya menuju ke arah kantor, di dalam mobil Silva dan Brandon tidak berbicara, sesekali berandan menoleh ke arah Silva membuat tanda tanya besar di kepalanya, setelah dia bercerita tentang Arumi dan kejadian musibah yang telah menimpa kakaknya tersebut, Silva tidak terlalu banyak bicara namun Brandon pun hanya terdiam saja, mobil terus melaju ke arah tempat tujuan.


" Celakalah Aku, kalau sampai dia mengetahui kalau pengendara mobil yang menabrak kakaknya kala itu adalah aku, kalau seandainya dia mengetahui itu, dia pasti akan meninggalkanku dan benar-benar akan mencintai Arumi, karena sebenarnya Arumi tidaklah salah yang salah itu adalah aku, karena tidak hati-hati mengendarai mobil kala itu, aku harus bicara dengan papa dan menceritakan semuanya pada papa, kalau kejadian beberapa tahun yang lalu itu adalah salahku, Aku tidak tahu kalau yang aku tabrak itu adalah kakaknya Brandon." Gumamnya di dalam hati sembari memalingkan wajahnya ke samping agar Brandon tidak mengetahui kegelisahan yang ada di dirinya tersebut.


" Ada apa dengan Silva, kenapa dia diam setelah aku menceritakan semuanya padanya, sudahlah! mungkin dia merasa terkejut aja karena tidak menyangka kalau sahabatnya itu adalah penyebab Kak Bryan tidak bisa jalan lagi seumur hidupnya dan menghabiskan waktunya di atas kursi roda." Gumam Brandan dalam hatinya sembari fokus kejalan.