My Love My Security

My Love My Security
BAB 20



20 ๐ŸŒน


" Tentang saya dok? memang ada apa.?"


" Kalau tidak saya tanyakan, semakin penasaran dengan kamu, makanya Saya memberanikan diri untuk bertanya denganmu langsung."


" Maksud dokter? saya jadi tidak mengerti bisakah dokter lebih memperjelas lagi pertanyaan dokter pada say"


Dokter tersebut pun menghela nafasnya dengan panjang.


" Sejak tadi saat saya melihat kamu pertanyaan itu sudah muncul di benak saya, bolehkah saya tahu siapa nama orang tua kamu


" Ayah saya bernama Fauzan dan ibu saya bersama Ningsih, memangnya ada apa ya bu dokter?


" Bolehkah saya bertemu dengan ayahmu?"


Anggara menghela nafasnya dengan dalam.


" Tidak bisa bu dokter, karena ayah saya sudah meninggal dunia."


" Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Maafkan saya, apakah tadi itu ibu kamu?"


Anggara menganggukan kepalanya.


" Hanya itukah Bu dokter yang ingin Ibu Dokter tanyakan pada saya.?"


" Satu lagi saya, mohon kamu menjawab pertanyaan saya, apakah kamu masih ada hubungan keluarga dengan Pak Innova Rahadian dan Ibu Tia Ivanka.?"


" Pak Innova Rahadian? Ibu Tia Ivanka? saya baru mendengar nama itu, tapi saya tidak mengenal sama sekali karena saya tidak ada hubungan sama sekali dengan mereka, dengan apa yang ditanyakan bu dokter itu, saya mohon maaf karena saya memang tidak mengenal mereka."


" Baiklah kalau seperti itu, terima kasih ya mungkin saya salah."


" Iya Bu dokter, sama-sama... kalau begitu saya permisi dulu ya Bu dokter, karena ingin melihat adik saya dan menemui ibu saya " ucapnya sembari tersenyum di anggukan oleh dokter tersebut.


Dokter itu pun hanya menatap kepergian Anggara sembari berpikir keras.


" Apakah karena mirip aja ya wajahnya dengan Om Innova, aku merasa curiga kalau sebenarnya anak kandung mereka itu tidak meninggal dunia, aku harus mencari tahu karena selama ini aku tidak ingin mereka berdua itu kehilangan ataupun dibohongi oleh Mama."


Dokter Purnama adalah anak dari Frida dan suaminya terdahulu, namun dokter Purnama tidak diurus sama sekali setelah ibunya itu menikah lagi, dokter Purnama dirawat dan dibesarkan oleh Almarhumah nenek dan Almarhum kakeknya sampai dia menjadi seorang dokter dan Rumah Sakit Al Insan itu adalah milik pribadinya, walaupun dia memiliki sebuah rumah sakit, dia tidak terlihat sangat sombong, dia baik hati dan dia juga sangat penurut, namun sayangnya Frida tidak menginginkan untuk mengurus dokter Purnama, Frida tidak pernah mengganggu gugat rumah sakit yang diberikan kepada anaknya itu, karena itu adalah permintaan dari ibunya, agar tidak mengganggu gugat hak yang sudah diberikan kepada Purnama.


Dokter Purnama kemudian mengambil ponselnya, dia pun kemudian menghubungi seseorang yang tak lain adalah Pak Innova Rahadian.


" Selamat sore menjelang malam Om..."


" Ya nak ada apa.?"


" Tidak ada apa-apa, Purnama cuma ingin mendengar kabar Om aja, karena sekarang Purnama jarang bertemu dengan Om, di samping banyak pekerjaan di Rumah Sakit, Purnama juga sering pulang malam dan tidak bisa bertemu secara langsung dengan Om dan Tante."


" Ya Om, Om dan Tante jaga kesehatan ya." ucapnya, Kemudian dianggukan oleh Pak Innova Rahadian, walaupun Purnama tidak melihat anggukan sang Om, mereka berdua pun kemudian memutus sambungan bicaranya.


" Aku tidak ingin langsung mengatakan pada mereka berdua, karena kemiripan yang dimiliki oleh lelaki itu, aku merasa curiga dengan sikap mama dan Om Paris, semenjak mama menikah dengan Om Paris sikap Mama sudah mulai berubah, dia tidak pernah lagi sayang denganku, dia juga tidak pernah lagi menjengukku, bahkan hasratnya ingin memiliki kekayaan sangatlah tinggi, padahal Om Paris itu tidak ada kerjaan sama sekali, ditambah lagi Delima dan Romi yang hanya bisanya menghabiskan uang selalu saja bersukaria pergi jalan-jalan ke luar negeri hanya itu yang bisa mereka kerjakan, tidak sedikitpun Dia membantu mama. Apakah benar anak Om Innova itu sudah meninggal dunia, aku rasanya tidak percaya, karena saat itu mereka tidak berada di rumah sakit ini, melainkan mereka berada di rumah sakit lain, Aku pun tidak diberi kabar saat Tante Tia melahirkan dan anaknya meninggal dunia, yang aku tahu setelah dimakamkan."


Dokter Purnama menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun melajukan mobilnya menuju ke arah rumah kediaman kakek dan neneknya yang sudah sah menjadi miliknya, sebelum kakek dan neneknya meninggal dunia mereka sudah memberikan rumah itu menjadi hak milik dokter Purnama.


***


" Kamu sudah pulang nak?"


" Iya Bu, Anggara sudah pulang."


" Kamu tidak bohong kan sama Ibu?"


" Tidak Bu, memang ini sudah waktunya pulang kerja." Ucap Anggara tersenyum.


" Syukurlah."


" Tapi kenapa wajah Kakak sepertinya ada sesuatu yang membuat Kakak merasa heran?" tanya sang adik.


Anggara hanya menghela nafasnya mendengar pertanyaan adiknya itu, dia pun kemudian menceritakan kepada adik dan ibunya tentang pertanyaan seorang dokter yang sudah menangani adiknya di ruangan UGD itu sampai selesai.


" Keluarga Rahadian?" Ucp bu Ningsih terkejut.


Anggara hanya menganggukan kepalanya, kemudian dia menatap sang ibu, bu Ningsih pun terdiam.


" Ibu kenapa? Apakah ibu mengenal keluarga Rahadian?"


Awalnya bu Ningsih tidak merespon pertanyaan dari anaknya tersebut, kemudian Anggara pun mengulangi pertanyaannya itu, membuat bu Ningsih terkejut.


" Ibu tidak mengenal keluarga Rahadian, mungkin karena wajah kamu itu terlalu tampan, Jadi dokter itu sengaja untuk bertanya seperti itu, agar lebih dekat dengan mu." ucap bu Ningsih sembari tersenyum menyembunyikan rasa terkejutnya sembari bergumam di dalam hatinya.


" Ibu tidak mengenal keluarga Rahadian, tapi saat kamu dibawa ayahmu pulang ke rumah, di pergelangan tanganmu masih melingkar sebuah nama Nyonya Innova Rahadian. Apakah saatnya ini kamu harus mengetahui tentang keluarga kamu, sebenarnya Ibu juga tidak tahu kenapa orang itu memberikan kamu pada ayahmu begitu saja saat itu." Kemudian ibu Ningsih pun teringat beberapa tahun yang lalu, saat sang suami ingin menjenguk seorang sahabat di rumah sakit tersebut, di mana Anggara dilahirkan, saat pak Fauzan keluar dari taxi nya dia pun langsung diserahi seorang bayi, tanpa pikir panjang lagi pak Fauzan itu pun langsung membawa pergi bayi tersebut, sesampainya di rumah Ibu Ningsih pun langsung menanyakan tentang perihal bayi itu, dia tidak ingin suaminya di katakan sebagai penculik, awalnya Ibu Ningsih menyuruh suaminya untuk mengembalikan bayi tersebut ke rumah sakit, Tapi sayangnya karena Ibu Ningsih juga sangat menyukai dan melihat kegemasan bayi tersebut yang tak lain adalah Anggara Putra Pradisa itu pun memilih untuk tetap merawat bayi itu sampai saat ini.


" Bu...Ibu, kenapa Ibu melamun?" tegur Anggara.


Lamunan Bu Ningsih pun buyar, dia pun tersenyum menatap ke arah sang anak.


" Ibu tidak melamun, cuma Ibu berpikir saja kenapa bisa dokter itu menanyakan apakah kamu itu memiliki hubungan dengan keluarga Rahadian itu."


Anggara menghela nafasnya dengan panjang.


" Nggak usah dipikirkan Bu, mungkin dia melihat aku ini mirip dengan keluarga Rahadian, Tapi aku tidak tahu miripnya itu di mana, Apakah mataku, hidungku, mulutku, gigiku, atau sebagainya." ucapnya sembari tersenyum membuat bu Ningsih pun menyunggingkan senyum di wajahnya, walau sebenarnya di dalam pikirannya berkecamuk takut kehilangan Anggara, kalau seandainya Anggara mengetahui sebenarnya keluarga Rahadian itu adalah keluarga kandungnya, tapi bu Ningsih juga berpikiran di dalam hatinya, karena nama Rahadian ataupun keluarga Rahadian banyak di luaran sana, setidaknya suatu saat nantinya Anggara pasti akan tahu siapa sebenarnya dirinya, lagi-lagi Bu Ningsih menghela nafasnya dengan panjang, dia menatap ke arah sang anak yang sedang berbicara dengan Neni sang adik, kemudian dia pun berdoa di dalam hatinya agar yang maha kuasa tidak memisahkannya dari Anggara sang Anak.