My Love My Security

My Love My Security
BAB 24



24 ๐ŸŒน


Brandon hanya menatap kepergian sahabatnya itu melalui jendela kamarnya.


" Kenapa bisa Riana berkata seperti itu, apakah dia mengetahui sesuatu? Gumamnya sembari terus menatap kepergian sahabatnya tersebut.


" Maafkan aku Riana, bukan maksudku untuk berkata seperti itu padamu, tapi karena aku memang sudah membenci Arumi, Aku mencintai Arumi hanya karena aku ingin membalaskan rasa sakit hatiku ini, jika seandainya kejadian itu tidak menimpa Kak Bryan mungkin saat ini aku tidak susah menghadapi pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh Kak Bryan." Ucapnya pelan sembari menghelan nafasnya dengan panjang.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi Arumi, dia juga ingin mencari tahu tentang sikap Arumi yang begitu cepat berubah padanya, dia tidak ingin rasa sakit hatinya ini belum terbalaskan, Brandon mencari nomor kekasihnya tersebut tapi sayangnya dia tidak bisa menghubunginya, karena nomor Arumi sudah tidak bisa dihubunginya lagi, dia semakin merasa heran beberapa kali pun dia menghubungi Arumi tapi dia tidak bisa berbicara langsung dengan Arumi ponselnya.


" Kenapa aku tidak bisa menghubungi Arumi ? Apakah nomorku sudah dibloknya ? Ada apa dengan Arumi? Kenapa dia berubah begitu cepat, ini tidak bisa dibiarkan! sebelum rasa sakit ini terbalaskan Aku tidak ingin melepaskan Arumi dan aku tidak ingin juga dia mengetahui hubunganku dengan Silva!" ucapnya sembari memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan dia pun kemudian mengambil kunci kontak mobilnya, Dia melangkah menuju ke arah luar selangkah demi selangkah dia menuruni anak tangga yang menghubungkan lantai atas dan lantai bawah rumahnya itu, saat dia melangkah dengan cepat dia pun ditegurkan oleh Bryan yang kebetulan berada di ruang tengah.


" Mau ke mana lagi kamu Brandon.?"


Brandon berhenti sejenak, Dia kemudian memijit keningnya sesaat, lalu dia menatap ke arah sang kakak sembari tersenyum.


" Aku mau keluar sebentar, aku mau bertemu dengan Arumi."


" Mau bertemu dengan Arumi, atau bertemu dengan Silva.?"


" Kakak sudah aku katakan kepadamu, kalau aku mencintai Arumi atas dasar rasa sakit hati yang aku rasakan saat ini, jika seandainya kakak tidak duduk di atas kursi roda itu, mungkin saat ini kakak sudah bisa bahagia dengan wanita yang kakak sukai, tapi karena gara-gara Arumi Kakak akhirnya menghabiskan waktu di kursi roda! Maafkan aku Kak, berbicara seperti itu bukan utuk aku menyakiti hati kakak, tapi karena aku sudah terlanjur sakit hati pada Arumi. Kalau masalah hubunganku dengan Silva maafkan juga aku karena aku tidak bicara sama kakak, kakak tidak bisa mengatur aku dalam soal percintaanku, Aku pergi dulu Kak." ucapnya sebelum Bryan menjawab perkataan adiknya itu Brandon sudah meninggalkan dirinya Bryan hanya menghela nafasnya dengan panjang.


" Kakak tidak akan bisa tinggal diam dengan perlakuan kamu terhadap Arumi, karena aku adalah kakakmu jadi aku harus menegur kamu kalau kamu sudah melakukan hal yang salah." ucapnya pelan sembari menatap langkah demi langkah sang adik yang sudah hilang di pintu utama rumahnya tersebut, beberapa saat kemudian mobil Brandan pun meninggalkan rumahnya itu menuju ke arah rumah keluarga Arumi.


Di rumah Arumi...


Dia pun bersiap-siap untuk pergi dari rumahnga tersebut untuk menenangkan dirinya di suatu tempat, kebetulan rumahnya terlihat sepi karena kedua orang tuanya berada di luar rumah, dia pun kemudian bergegas menuruni anak tangga rumahnya itu menuju ke arah pintu utama, dia terus melangkah menuju ke arah parkiran mobil pribadinya beberapa saat kemudian mobilnya pun meninggalkan rumah pribadi kedua orang tuanya tersebut menuju ke suatu tempat.


Beberapa saat Arumi meninggalkan rumahnya itu mobil Brandan pun memasuki halaman rumah pribadi kedua orang tuanya Arumi, dia memarkirkan mobilnya sembarang tempat dia turun dari mobil dan memencet bel rumah tersebut, beberapa saat pintu rumahnya pun terbuka terlihat asisten rumah tangga Arumi tersenyum padanya karena dia mengenali siapa tamunya tersebut.


" Tuan muda Brandon, Non Arumi baru aja keluar, Apakah Tuan tidak bertemu di jalan?"


" Tidak Bi, kalau boleh tahu ke mana Arumi keluar Bi?"


" Oh terima kasih ya Bi..." ucapnya dan dianggukkan oleh asisten rumah tangga tersebut, Brandon pun kemudian menuju ke arah mobilnya kembali dan pintu rumah itu pun tertutup lagi


Brandon tidak langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah tersebut, namun dia berpikir keras di dalam mobilnya karena Arumi menghilang begitu saja darinya, padahal pagi sudah bertemu dengannya, siang juga bertemu dengannya, saat ini Arumi tidak menghiraukan dirinya.


Pertanyaan demi pertanyaan pun muncul di dalam benaknya, dia menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celananya tersebut Dia kemudian menghubungi Silva.


" Halo Sayang ada apa nih menghubungiku, padahal tadi kan kita sudah bertemu." Ucap Siva diseberang sana.


" Sekarang kamu ada di mana.?"


" Aku di rumah kedua orang tuaku."


" Bisakah kita bertemu sekarang, aku akan menjemput kamu di rumah kedua orang tuamu."


" Jangan sayang! jangan jemput aku di rumah ini, karena mereka tahu kalau kamu adalah kekasihnya Arumi, Aku tidak ingin mereka tahu kita berdua memiliki hubungan. Baiklah sekarang kamu ada di mana, Aku akan menemui kamu sekarang."


" Tudak usah kamu menemui aku, kamu nunggu aja aku di mana, nanti aku yang nemuin kamu."


" Okelah kalau seperti itu." kemudian dia pun men-share lokasinya di mana dia nantinya akan menunggu, mereka berdua kemudian memutuskan sambungan bicaranya, kemudian Brandon melajukan mobilnya menuju arah yang sudah diberitahukan oleh Silva.


Silva yang sudah mendapatkan telepon dari sang kekasih pun bergegas keluar dari kamarnya, dia pun turun dari lantai atas rumah kedua orang tuanya tersebut, dia ditegur kan oleh kedua orang tuanya, namun Silva pintar berbohong pada kedua orang tuanya itu, dia mengatasnamakan Arumi, kedua orang tua Silva percaya kalau Silva menemui Arumi, padahal dia menemui kekasih hatinya yang tidak pernah dikenalkannya pada kedua orang tuanya tersebut.


" Ada apa dengan Silva? Kenapa dia keluar tidak menggunakan mobilnya, padahal kan dia mau bertemu dengan Arumi, kenapa dia menggunakan sebuah taksi." ucap Yelsi sang Ibunda dari Silva.


" Mungkin Arumi menyuruh dia tidak menggunakan mobilnya, karena mereka berdua akan menggunakan satu mobil." Jawab Pak Albert sang ayah dari Silva.


Namun tidak dengan adik Silva, Silvi sudah mengetahui hubungan sang kakak kalau kakaknya itu memiliki hubungan lebih dari dekat dengan kekasih sahabatnya sendiri yaitu Arumi, namun Silvi tidak mau mengatakannya pada kedua orang tuanya, karena dia tidak ingin mengikut campuri urusan sang kakak, Silvi dan Silva memang tidak memiliki hubungan sangat dekat, walaupun mereka saudara kandung karena Silva lebih dominan disayang oleh kedua orang tuanya, sedangkan Silvi hanya biasa saja namun Silvi tidak merasa iri dengan perhatian kedua orang tuanya pada sang kakak dan dia pun tidak ambil pusing soal itu.


" Kalian berdua tidak akan pernah tahu dan mungkin kalian berdua juga tidak mengetahui kalau kekasihnya Kak Silva itu adalah kekasihnya sahabatnya sendiri, dia bermain belakang di belakang sahabatnya, tapi aku tidak ingin bicara dengan kalian, Aku ingin kalian mengetahui sendiri dengan mata kepala kalian." gumamnya di dalam hatinya sembari menatap kedua orang tuanya silih berganti yang sedang menatap layar TV tersebut.


Silvi menghela nafasnya dengan panjang kemudian dia meninggalkan kedua orang tuanya yang ada di ruang tengah tersebut, dia menuju ke kamar pribadinya, kedua orang tuanya hanya menatap langkah demi langkah Silvi dan dia pun tidak menegur Silvi mau ke mana.