My Love My Security

My Love My Security
BAB 37



37 ๐ŸŒน


Dr Purnama yang ada di ruangan Nino itu pun kemudian berbicara pada Anggara


" Maaf Mas Anggara, bisakah kita berbicara sebentar di ruangan saya?"


Anggara menganggukkan kepalanya.


" Bisa Bu dokter, apakah ini masalah adik saya?"


Dr Purnama hanya menganggukkan kepalanya, namun tidak dengan Bu Ningsih dia merasa curiga dengan Bu dokter tersebut, karena akhir-akhir ini dia memiliki perasaan yang aneh tentang Anggara, dia pun bergumam di dalam hatinya.


" Aku rasa ini bukan masalah Nino, pasti ada masalah yang lain karena terlihat dari wajah dokter menyembunyikan sesuatu, apakah ada hubungannya dengan keluarga Rahadian itu yang pernah dikatakan oleh Anggara padaku." Ucap Bu Ningsih sembari menatap ke arah Anggara.


Anggara tersenyum pada Ibunya tersebut.


" Baiklah Mas Anggara, bisakah kita ke ruangan saya?"


Lagi-lagi Anggara hanya menganggukan kepalanya, dokter Purnama pun kemudian melangkah meninggalkan mereka terlebih dahulu keluar dari ruangan Nino.


" Anggara tunggu sebentar, Ibu boleh ikut?" Ucap Bu Ningsih.


Anggara pun menatap ke arah sang Ibu.


" Bolehkah ibu ikut bersama kamu?"


" Tapi Ibu, Bu dokter maunya Anggara saja, Ibu biar tinggal di sini menunggu Nino sampai Neni datang dari kantin."


" Tapi Ibu ingin tahu juga kondisi Nino langsung dari keterangan Bu dokter."


Anggara menghela nafasnya dengan panjang.


" Baiklah kalau Ibu mau ikut, mari Bu kita temuin dokternya."


" Kamu tidak apa-apa kan Nino ditinggal sebentar, nanti kakakmu datang segera ke sini."


" Kamu harus berani karena kamu seorang cowok." Ucap Anggara dianggukan oleh Nino sang adik, mereka berdua pun kemudian meninggalkan Nino dan menutup pintu ruangannya, Anggara dan Ibunya melangkah beriringan, Hening! Tidak ada suara dilangkah mereka berdua, meskipun mulai rasa khawatirnya semakin menjadi di dalam pikirannya Bu Ningsih, karena dia tidak ingin Anggara meninggalkan keluarganya, Anggara sudah dianggapnya seperti anak kandungnya sendiri, walaupun Anggara sudah tahu kalau dia hanyalah anak asuh di keluarganya, tapi kasih sayang pada Anggara sang anaknya tidak berubah layaknya seperti anak kandung dan saudara kandung bagi kedua saudaranya itu, Anggara pun menoleh ke arah sang Ibu, kemudian dia bertanya pada ibunya tersebut karena melihat perubahan wajah Ibunya itu.


" Ibu kenapa? Kenapa ibu terlihat sepertinya menyimpan sesuatu yang gelisah di pikiran Ibu."


" Ibu tidak merasa gelisah nak, tapi ada satu yang membuat Ibu merasa tidak enak, kenapa dokter itu mau berbicara dengan kamu, kenapa tidak dengan Ibu, Ibu kan Ibunya Nino."


" Mungkin dokter tersebut tidak ingin membebankan pada ibu, jadi dia lebih enaknya berbicara dengan Anggara, Ibu Jangan berpikiran yang aneh-aneh dengan Bu dokter, karena dia kita bisa merawat Nino secara eksklusif."


" Iya Ibu paham, tapi jujur Ibu merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Bu dokter itu."


" Tentang apa ibu? "


" Kamu pernah bilang pada ibu kan, waktu awal kita berada di rumah sakit ini tentang keluarga Rahadian."


" Kenapa Ibu sampai kepikiran ke sana?"


" Karena Ibu merasa kalau dokter itu ada hubungannya dengan keluarga Rahadian, apalagi dokter itu masih mengira kamu ini mirip sekali dengan keluarga Rahadian itu."


" Sudahlah Ibu, nggak usah Ibu pikirkan masalah itu, anggaplah itu berita angin lalu, lagi pula Anggara masih bersama dengan Ibu, wajah boleh mirip tapi keluarga tidak." Ucapnya sembari tersenyum dan merangkul pundak Ibunya tersebut sembari melangkah menuju ke arah ruangan dokter Purnama.


Anggara pun mengetuk pintu ruangan tersebut, terdengar suara dari dalam menyuruhnya masuk, pintu terbuka mereka berdua pun masuk ke dalam, melihat Anggara membawa ibunya dan dr Purnama pun terkejut.


" Kenapa Bu dokter sepertinya terkejutnya melihat saya ikut bersama dengan Anggara." Tegur Bu Ningsih.


" Oh tidak Ibu, saya tidak terkejut kok, karena ini memang masalah anak Ibu, ibu sah-sah saja ikut bersama dengan mas Anggara ke sini."


" Maafkan Ibu saya ya Bu dokter, karena Ibu saya ingin ikut dan mengetahui tentang keadaan anaknya."


" Oh tidak apa-apa, silakan duduk, kita bicarakan semuanya."


Kemudian mereka berdua pun duduk di sofa di ruangan dokter Purnama.