
25๐น
Karena Brandon sudah mengetahui tempat dimana Silva sedang menunggu dia pun menunggu terlebih dahulu.
Dia tidak keluar dari dalam mobilnya namun dia menyandarkan tubuhnya di jok mobilnya tersebut sembari menatap ke kiri dan ke kanan melihat sang kekasih yang belum juga datang, terlihat sebuah taksi berhenti di tempat tersebut setelah membayar taksinya Silva keluar dari taksi tersebut dia menuju ke arah mobil sang kekasih, melihat sang kekasih sudah melangkah menuju ke arahnya, Brandan merasa senang dia pun tersenyum, Silva membuka pintu mobil tersebut dan duduk di samping Brandan.
Brandan langsung melabuhkan ciumannya pada sang kekasih, Silva menyambut ciuman hangat yang diberikan oleh kekasihnya itu, karena suasana terlihat terang Silva pun mendorong pelan sang kekasih untuk menyudahi ciuman hangat yang sudah diberikan Brandan padanya itu.
Brandon tersenyum dia pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke arah suatu tempat, karena ada yang ingin dibicarakannya dengan kekasihnya tersebut, Silva yang merasa heran dengan sikap kekasihnya itu pun bertanya di tengah jalan.
" Ada apa sebenarnya ini? Kenapa malam-malam ingin bertemu.?"
" Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
" Kenapa nggak bicara aja langsung di dalam mobil ini."
" Aku mau bicara di suatu tempat di mana Aku sering menghabiskan waktuku di saat aku merasa lelah dalam pikiranku ini."
Silva hanya menganggukkan kepalanya saat sang kekasih berbicara, dia pun mengusap kepala kekasihnya tersebut sesaat, kemudian dia fokus menatap ke arah depan, beberapa saat kemudian mobil itu pun berhenti di sebuah taman di mana terlihat gemericik air berbunyi, mereka berdua turun setelah mobil diparkirkan, mereka berdua melangkah sambil bergandengan tangan menuju ke arah sebuah tempat duduk yang memang sudah disediakan di taman tersebut.
Mereka berdua duduk di kursi kayu yang sudah tersedia, Silva merebahkan kepalanya di pundak sang kekasih, Brandon pun mengusap kepala kekasihnya tersebut, sambil menghela nafasnya dengan panjang.
" Kapan hubungan kita ini bisa terlihat oleh orang lain, kapan juga kita bisa membina kebahagiaan kita berdua sekarang ini dan untuk selama-lamanya, tidak bersembunyi-sembunyi seperti ini lagi " ucap Silva lagi-lagi Brandan menghela nafasnya dengan panjang.
" Aku tidak bisa berkata apa-apa kalau kamu bertanya seperti ini, karena sakit hati yang aku rasakan saat ini pun belum terbalaskan dengan Arumi, belum sempat aku membalaskan semuanya, Arumi sudah menghilang dariku."
Mendengar ucapan dari Brandan Silva langsung menatap ke arah kekasihnya itu dan tidak lagi merebahkan kepalanya di pundak sang kekasih.
" Maksud kamu, menghilang bagaimana? Apakah ini yang ingin kamu bicarakan padaku malam-malam seperti ini? kamu menyuruh aku bertemu hanya cuma ingin mencari tahu di mana keberadaan Arumi begitu?!" ucap emosi yang langsung saja menghampiri Silva.
Brandon menatap ke arah Silva sembari tersenyum.
" Kamu jangan salah sangka dulu, aku tidak ingin mencari Arumi, kamu kan sudah tahu duduk permasalahannya, kenapa Aku mencintai Arumi, itu karena apa? kamu Jangan cemburu seperti ini dong dan kamu juga jangan marah." Ucap Brandan sembari mengusap pipi sang kekasih.
Silva mendengus dengan rasa kesalnya sembari mensedekapkan tangannya di dada, dia menatap lurus ke depan di mana air mancur yang bergemericik dan terdengar sangat indah.
" Aku merasa heran aja dengan sikap Arumi, pagi bertemu, siang bertemu dia sudah mulai berubah, Aku tidak tahu penyebabnya itu apa, saat aku menghubunginya pun tidak tersambung sepertinya nomorku sudah di bloknya."
Mendengar perkataan dari sang kekasih, Silva pun menatap ke arah Brandan.
" Coba...Aku akan coba lagi menghubunginya." ucap Brandan sembari mengambil ponselnya dan menghubungi Arumi, namun tetap seperti semula tidak bisa menghubungi nomor Arumi, kembali Brandan menghela napasnya dengan panjang, kemudian Silva pun mengambil ponselnya dan menghubungi Arumi, namun sayangnya Silva juga tidak bisa menghubungi Arumi sama seperti nada saat Brandan menghubungi Arumi, Silva menghela nafas panjangnya mereka berdua saling tatap.
" Jangan-jangan dia sudah tahu hubungan kita sayang? aduh bagaimana ini, apa yang akan aku jelaskan kepadanya nanti?"
" Aku juga mengira dia sudah mengetahui kita berdua memiliki hubungan khusus, baik di saat dia berada di luar negeri dan saat dia berada di tanah air, karena Arumi tidak biasanya seperti ini padaku, saat dia jauh dariku setiap detik menit dan jam dia selalu menghubungiku."
" Jadi kita harus bagaimana sekarang.?"
" Besok pagi kita akan menemui dia di kantornya."
" Kita berdua langsung gitu?" tanya Silva.
" Tidak! kita bergantian."
" Tapi tidak mungkin kita bertemu dia di kantornya."
" Kenapa tidak mungkin.?"
" Aku kenal dengan sikap Arumi, kalau dia sudah marah dengan seseorang dia tidak segan-segan untuk mempermalukan orang itu di hadapan orang banyak, Aku tidak ingin aku dipermalukan olehnya dihadapan orang banyak, Aku tidak ingin menemuinya di kantornya, Karena aku tahu dia pasti marah denganku sampai nomorku juga di bloknya, aku tidak bisa menghubunginya juga sama seperti kamu."
Mereka berdua pun kemudian menghela napasnya dengan panjang, beberapa saat mereka terdiam.
" Bagaimana kalau kita bertemu dengannya pas kebetulan dia keluar dari kantor, kita bisa mengikuti dia, kamu menggunakan mobil kamu dan aku menggunakan mobilku." ucap Silva Brandon pun menatap ke arah Silva dia Lalu menganggukkan kepalanya.
" Bagus, itu ide yang sangat bagus sekali, Baiklah besok pagi kita akan mengikuti dia atau sebelum dia berangkat ke kantornya, Aku tidak ingin berpisah darinya sebelum sakit hatiku ini terbalaskan."
Silva menatap ke arah Brandon sembari bergumam.
" Arumi tidak salah sebenarnya dalam masalah kakakmu itu, yang salah itu adalah aku, aku takut kalau seandainya kamu mengetahui kalau yang mencelakai kakak kamu itu adalah aku, dan aku tidak mempertanggungjawabkan semuanya itu, Maafkan aku Brandon, aku harus menutup dan mengubur semua tentang kejadian itu, bukan maksudku seperti itu, karena aku tidak tahu kalau kamu memang mencintaiku dari awal." Gumamnya, Brandon pun menatap ke arah Silva dan merasa heran atas pandangan kekasihnya tersebut padanya.
" Kamu kenapa menatap aku seperti itu? Apa ada yang salah di wajahku? aku tidak takut kehilangan Arumi, karena aku mencintai Arumi itu atas dasar rasa sakit hati yang aku rasakan saat ini."
Silva hanya tersenyum saja, kemudian Brandan pun memegang tangannya dan membawanya keluar dari taman tersebut menuju ke arah mobilnya, namun saat mereka hendak sampai ke mobil pribadinya Brandon seseorang pun memanggilnya.
' Kalian rupanya di sini...?"
Mereka berdua pun menoleh ke arah suara...