My Love My Security

My Love My Security
BAB 48



48 ๐ŸŒน


Dua hari setelah pengambilan sampel tes DNA tersebut akhirnya tes itu pun keluar sebelum Pak Inova dan Ibu Tia mengetahui tes tersebut dokter Purnama lah yang terlebih dahulu melihat hasil tes itu.


Saat dia membuka dan melihatnya dia pun terkejut rasa bahagia dan sedih pun terpancar di wajahnya karena dia tidak menyangka kalau Anggara adalah anak kandung dari Omnya itu, Dia meneteskan airmatanya karena rasa bahagia yang tidak terhingga dia rasakan, kebahagiaan yang akan dirasakan oleh om dan tantenya itu dia pun berbicara.


" Ya Tuhan apakah aku tidak salah lihat bahwa tes ini menyatakan kalau Anggara adalah anak kandung dari Om Innova, aku harus memberikan kabar gembira ini pada mereka berdua." Ucapnya sembari melipat kembali kertas tes tersebut.


Kemudian dia mengambil ponselnya dan menghubungi Omnya itu.


" Assalamualaikum Om..."


" Waalaikumsalam."


" Om bisa ke rumah sakit sekarang?"


" Apa hasil tesi sudah keluar Purnama ?"


" Ya Om."


" Katakan pada Om, apa hasilnya?"


" Lebih baik Om ke rumah sakit aja, Om sendiri yang melihatnya dan membacanya."


" Baiklah Om, dan Tante akan segera ke sana."


Kemudian mereka pun memutuskan sambungan bicaranya dengan tergesa-gesa dr Purnama keluar dari ruangannya menuju ke arah ruangan di mana adik Anggara di rawat, berhubung hari ini adalah hari libur bagi Anggara, namun dia masih mendapatkan dinas malam.


Dokter Purnama pun mengetuk pintu tersebut, kemudian Neni membukakan pintu ruangan itu, dia senyum dengan dokter Purnama, dokter Purnama pun menganggukkan kepalanya dan melangkah menuju ke arah mereka yang sedang duduk bersantai di samping ranjang sang adik.


" Maaf Ibu, Anggara, hasil tes sudah keluar."


Anggara dan ibunya pun saling berpandangan, Neni yang merasa bingung itupun kemudian menatap ke arah Kakak dan ibunya, lalu dia pun bersuara.


" Ada apa Bu? Tes apa ? Kenapa aku tidak tahu, apakah masalah Nino?"


Anggara kemudian mendekati adiknya.


" Bukan masalah Nino Neni.."


" Terus masalah apa kak?"


" Kamu duduk dulu, nanti kakak akan ceritakan."


Neni pun kemudian duduk di samping ibunya, Anggara pun menceritakan semua yang terjadi dari awal sampai akhir, Neni pun terkejut mendengarnya kalau sebenarnya Anggara bukanlah kakak kandung orang tuanya, Neni pun tidak kuasa menahan sedihnya, dia langsung memeluk sang ibu, ibunya hanya mengusap kepala anaknya itu, di dalam sela-sela tangisnya Neni pun berbicara.


" Kalau seandainya Kakak menemukan Keluarga kakak, apa Kakak akan meninggalkan kami ?"


Anggara tersenyum sembari memegang tangan Adik tersayangnya itu, kakak tidak akan meninggalkan kalian Kakak tetap akan selalu ada di samping kalian, kemanapun Kakak pergi kalian harus ikut bersama dengan kakak." ucapnya.


Nino yang baru menyadari kalau kakaknya itu bukanlah kakak kandungnya dia tidak bisa berkata apa-apa, Dia hanya bisa menitikkan air matanya. Walaupun dia lelaki tapi hatinya lembut dan penuh perasaan, dia menghapus air matanya.


Anggara pun kemudian memegang tangan Nino.


" Kamu jangan bersedih Dek, kakak tidak akan meninggalkan kalian." ucapnya.


Nino hanya bisa menganggukkan kepalanya, karena dia pun tidak mengira Kalau kakaknya itu bukanlah kakak kandungnya.


" Kalau boleh saya tahu bisakah saya melihat hasil tes tersebut?" ucap Anggara sembari menatap ke arah sang dokter.


Dokter Purnama pun kemudian memberikan kertas hasil tes tersebut pada Anggara, Anggara kemudian membukanya dia pun terkejut kalau ternyata dirinya memang adalah anak kandung dari bapak Innova Rahadian, yang belum bertemu itu.


Walaupun sebenarnya dia sudah pernah bertemu di saat Bapak Innova Rahadian bersama dengan istrinya berkunjung ke kantor NA Group.


" Dokter bolehkah saya bertemu dengan Bapak Innova Rahadian ini.?"


Doktor Purnama pun menghela nafasnya dengan panjang, sembari tersenyum.


" Sebentar lagi mereka akan ke sini, Saya memang sengaja tidak mempertemukan kalian di saat pengambilan tes tersebut, karena saya ingin meyakinkan terlebih dahulu diri saya kalau kamu itu memang adalah anak dari Om Innova Rahadian."


Ponsel dokter Purnama pun berderingnya dia langsung mengambil ponselnya yang ada di saku jas dokternya itu dia melihat layar ponsel tersebut memanggilnya adalah Omnya itu.


Setelah dia berbicara melalui ponsel pribadinya itu, dia pun kemudian berpamitan dengan keluarga Anggara, karena dia ingin menjemput Omnya yang sedang berada di luar rumah sakit itu, mereka berempat pun hanya bisa menganggukkan kepalanya dan mengiringi langkah demi langkah dr Purnama meninggalkan ruangan tersebut.


Setelah bertemu dengan Omnya dan tantenya itu dokter Purnama pun tersenyum bahagia dia memeluk kedua orang yang sangat dia sayangi tersebut, Kemudian mereka pun melangkah menuju ke arah ruangan keluarga Anggara kembali.


" Mana tesnya Purnama? Om mau melihatnya."


" Tenang Om tesnya ada di ruangan keluarga Anggara."


" Papa, Mama sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya, Purnama sih tidak ingin mempertemukan kita berdua kala itu "


Dokter Purnama pun hanya tersenyum.


Dr Purnama kemudian membuka pintu ruangan tersebut, Bapak Innova dan istrinya menatap ke arah mereka yang sedang duduk, mereka berdua pun terkejut melihat Anggara, begitu pula dengan Anggara karena Anggara sudah pernah bertemu dengan kedua orang itu.


" Ya Allah apakah kita tidak salah lihat pah?" ucapnya.


Dr Purnama kemudian melangkah mendekati mereka dan mengambil kertas hasil tes tersebut, kemudian dia pun memberikannya kepada Omnya itu kemudian Pak Innova pun membuka kertas tersebut.


" Alhamdulillah karena tesnya adalah benar kalau dia adalah anak kita Mah." Ucapnya.


Bu Ningsih pun menundukkan kepalanya rasa was-was di hatinya pun mulai melanda dia takut kalau Anggara akan melupakannya.


Dia pun mendekati Anggara, Dia kemudian memeluk anaknya tersebut dan Anggara pun memeluk Bu Tia.


Bu Tia menangis dalam pelukan sang anak.


" Ya Allah Aku tidak percaya akhirnya kita bisa bertemu Nak, bertahun-tahun Mama mencari kamu tapi tidak menemukan titik terangnya, sampai akhirnya Tuhan mempertemukan kita kembali." ucapnya Anggara melepaskan pelukan ibunya itu dia kemudian menghapus air mata ibu kandungnya tersebut.


" Ibu tidak usah menangis, kita sudah bertemu lupakan kesedihan masa lalu ibu."


Dianggukan oleh Bu Tia, kemudian dia pun memeluk anaknya kembali.


Pak Inova pun kemudian mendekati mereka berdua, Pak Inova memeluk Anggara, Anggara pun memeluk Ayah kandungnya tersebut, Anggara tidak merasa kaku walaupun bertahun-tahun tidak bertemu dengan kedua orang tuanya tersebut, karena dia sudah mengetahui kalau dia bukanlah anak kandung dari ibu Ningsih dan suaminya..


" Oh ya, ibu, bapak, ini adalah ibu Anggara dan ini adalah kedua adiknya Anggara." ucapnya kemudian Bu Tia pun mendekati bu Ningsih pun berdiri dari duduknya, Bu Tia langsung memeluk Bu Ningsih sembari berucap.


" Terima kasih sudah membesarkan anak saya dan mendidiknya dengan penuh kasih sayang serta memberikan nama yang indah untuknya."


Bu Ningsih hanya menganggukkan kepalanya, Karena dia tidak bisa berkata apa-apa sama sekali, Dia tidak menyangka akan bertemu dengan kedua orang tuanya Anggara.


Mereka kemudian berbicara satu sama lainnya terpancar sekali kebahagiaan di wajah Ibu Tia dan Bapak Innova karena sudah bertemu dengan sang anak, setelah puas mereka berbicara, kemudian mereka berdua pun berpamitan sementara waktu karena ada yang ingin diurus oleh Pak Inova dan Ibu Tia.


Dia juga menjelaskan kepada Ibu Ningsih untuk membawa Anggara beserta ibu Ningsih dan dua orang anaknya tinggal di rumah mereka.


Bu Ningsih menganggukan kepalanya, karena saat ini dia tidak bisa berpikir, dia merasa tidak menyangka bisa mengenal orang tua kandung dari Anggara.


Setelah kepergian Ibu Innova dan Bu Tia Ibu Ningsih menghela nafasnya dengan panjang, dia pun duduk di kursinya kembali terlihat wajah sedih yang terpancar, Anggara pun kemudian mendekati ibunya dia meraih tangan tua ibunya tersebut sembari berbicara pada ibunya itu.


" Ibu tidak usah khawatir, Ibu sudah mendengar sendiri kan apa yang dikatakan oleh Ibu Tia, kalau Anggara bersama dengan kalian akan tinggal di rumah mereka, Anggara tidak ingin meninggalkan kalian semua, di mana Anggara berada di situ juga kalian ada, karena Anggara tidak bisa berpisah dengan ibu dan kedua adik Anggara."


Ibu Ningsih pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


Mobil yang dikendarai oleh Pak Innova dan Bu Tia serta dokter Purnama itu pun melaju menuju ke arah rumah kediaman Frida karena Pak Inova ingin memberikan teguran serta pertanyaan kepada Frida tentang perihal anaknya tersebut yang dikatakannya sudah tiada itu, mereka ingin meluruskan semua permasalahan yang ada, setelah bertemu dengan anaknya Pak Innova tidak ingin menghakimi adiknya tersebut, Begitu juga dengan Bu Tia, dia tidak ingin memperpanjang permasalahan yang ada, karena dia sudah melihat anaknya dalam keadaan baik-baik saja, mobil terus melaju di jalan beraspal bebas hambatan, beberapa saat kemudian mobil itu pun memasuki halaman rumah Frida, kebetulan saat itu Frida dan suaminya hendak keluar, namun diurungkannya setelah melihat mobil sang kakak memasuki halaman rumahnya tersebut, mereka berdua pun saling pandang dan merasa heran karena kakaknya itu bertandang ke rumahnya semenjak kejadian hari itu, disaat sang kakak dan istrinya marah dan langsung pergi disaat sang kakak menerima telpon dan baru mereka datang lagi.