My Love My Security

My Love My Security
BAB 44



44๐ŸŒน


" Kamu tidak apa-apa kan Nona?"


" Terima kasih ya, kamu sudah membantu aku."


" Maafkan saya juga Nona, karena sudah lancang berbicara seperti tadi, di hadapan mantan kekasih Nona."


" Tidak apa-apa, aku merasa senang kamu sudah bisa membantuku seperti itu, bahkan aku juga merasa senang kalau kata-kata itu memang jadi nyata untukku."


Mendengar ucapan Arumi, Anggara pun terkejut dia tidak menyangka Arumi berbicara seperti itu.


" Hehehe aku hanya bercanda saja, ya udah ayo Sekarang kita ke kantor."


Anggara pun kemudian tersenyum dia Lalu melajukan laju kendaraan roda duanya menuju ke arah kantor NA group, mereka berdua terdiam di atas motor, tidak ada bicara sama sekali sampai akhirnya motor pun memasuki halaman NA grup, Anggara memarkirkan mobilnya, Arumi melihat montir yang sudah berada di kantornya itu untuk memeriksa mobilnya tersebut, salah satu montir itu pun mendekati.


" Apa yang terjadi dengan mobil saya, apakah ada kerusakan?"


" Maaf Nona mobil anda ada beberapa onderdil yang tidak terlalu nempel sehingga bisa membahayakan orang yang menggunakannya, tapi sudah kami perbaiki semuanya."


Arumi mengangguk dengan ucapan montir tersebut, dia tidak menyangka dan dia juga tidak mengetahui siapa sebenarnya yang sudah membuat kendaraan pribadinya seperti itu.


Anggara mendekati montir tersebut, Dia berbicara dengan montir itu, setelah berbicara akhirnya Anggara memberikan nota pembayarannya tersebut pada Arumi, Arumi kemudian memberikan uang kontan pada Anggara dan Anggara memberikannya pada montir itu, beberapa saat kemudian montir itupun mohon pamit, Arumi hanya terdiam, dia berusaha keras mengingat siapa yang sudah membuat dia hampir celaka itu.


Arumi kemudian melangkah masuk ke dalam lobby, dia melangkah menuju lift dan lift itu membawa dia menuju ke arah lantai atas dimana ruangannya berada, Pak Wawan yang dari tadi melihat Anggara berboncengan dengan Arumi pun segera mendekati Anggara.


" Anggara, bagaimana bisa kamu membonceng Nona Bos?"


Anggara tersenyum.


" Anggara juga tidak tahu Paman, dia kemarin sudah ikut denganku dan meminta Anggara mengantarkan pulang ke rumahnya, pagi tadi dia juga menghubungi Anggara dan Dia juga minta jemput di rumahnya."


" Terlihat Nona muda berubah ya."


" Anggara juga tidak tahu paman, apa yang merasuki dia sehingga dia bisa berubah begitu saja, dia juga tidak marah-marah lagi dengan karyawan lainnya, malah dia selalu mengumbar senyumnya, mereka semua yang ada di kantor ini pun bertanya-tanya, ada apa dengan Nona Bos itu, termasuk aku juga paman."


" Jangan-jangan dia ada hati lagi."


" Dia memang ada hati Paman, kalau nggak ada hati dia pasti tidak akan hidup dan berdiri di sini heheeh...."


Pak Wawan pun terkekeh...


" Maksud paman, siapa tahu dia ada hati padamu, ya istilah anak remaja saat dia menyukai kamu agar ada cinta diantara kalian."


Anggara terkejut dengan ucapan Pak Wawan, namun dia pandai menyembunyikan rasa terkejutnya di hadapan pamannya itu.


" Paman ini ada-ada saja, oh ya bagaimana kabar adikmu?"


" Alhamdulillah Paman, Nino sudah mulai membaik, mungkin beberapa hari ke depan dia akan meninggalkan rumah sakit dan pulang ke rumah."


" Syukurlah kalau seperti itu, Paman tidak bisa menjenguk lagi, karena Bibi mu juga kurang enak badan."


" Oh ya paman, ada yang ingin Anggara tanyakan pada Paman."


" Soal apa Anggara ? "


Anggara pun kemudian menceritakan semua tentang pembicaraannya dengan dokter Purnama, Pak Wawan pun mendengarkan cerita Anggara, setelah cerita Anggara selesai dia hanya menghela nafasnya dengan panjang.


" Ya Anggara,, apa yang dikatakan ibu kamu itu memang benar dan yang ditanyakan oleh dokter Purnama itu memanglah benar awalnya memang ayah dan ibu kamu adalah pendatang baru di daerah tempat tinggal kita, tapi ayahmu sudah bercerita semuanya padaku namun aku tidak mau menceritakan semua cerita Ayahmu itu pada kamu, walaupun kamu sudah mengetahuinya sekarang ini, kalau kamu itu bukanlah anak kandung dari mereka berdua, bagiku sudah cukuplah kalau kamu mengetahui itu saja, cerita yang lainnya aku tidak ingin menceritakannya pada kamu dan aku berharap juga kamu tidak mengetahuinya, tapi ini semua adalah takdir dari yang Kuasa takdirmu sudah digariskan oleh sang pencipta mungkin kamu sudah waktunya untuk dipertemukan dengan kedua orang tua kamu, Paman berharap kalau kamu sudah bertemu dengan kedua orang tua kandungmu, jangan lupakan ibu dan adik-adikmu, karena ibumu sangat menyayangi kamu begitu juga adik-adikmu."


Anggara menganggukan kepalanya.


" Anggara tidak akan pernah melupakan ibu dan adik-adik Anggara, ataupun Almarhum Ayah, Anggara tetap akan bersama dengan ibu dan adik-adik di manapun Anggara berada, mereka juga harus ada, biar bagaimanapun mereka sangat berjasa pada Anggara sejak kecil Anggara diasuh oleh mereka sampai dewasa, saat ini dan nanti Anggara tidak akan pernah meninggalkan mereka Paman.


" Baguslah, kalau sikap kamu seperti itu, Paman bangga padamu, ya udah Ayo sekarang kita kerja."


Anggara mengangguk.


***


" Mbak Teti! Mbak Teti! Mbak Teti! "


Karena asisten rumah tangganya itu berada di belakang tidak mendengar panggilan dari Tuan Mudanya.


Tukang kebunnya pun masuk ke dalam ruang tengah rumah Tuan Mudanya itu.


" Maaf Tuan, apa yang ingin Tuan perlukan?"


" Mbak Teti ke mana? Kenapa dia ku panggil-panggil tidak datang sudah bosan ya bekerja denganku!" ucapnya.


" Maaf Tuan, saya akan panggilkan Mbak Teti, mungkin Mbak Teti ada di belakang."


" Cepat panggilkan dia!" ucapnya sembari mengangkat kedua kakinya dan menaruhnya di atas meja ruang tengahnya itu, dia pun menyandarkan kepalanya sembari menatap ke arah langit-langit ruang tengah rumahnya tersebut, dia Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


" Mbak Teti! Kamu dipanggil oleh Tuan Muda."


" Apa? Tuan Muda?"


" Cepatan, kelihatannya dia marah!"


" Baiklah.."


Mbak Teti pun kemudian melepaskan pekerjaannya dan bergegas menuju ke arah Tuan Mudanya.


" Maaf Tuan, saya tidak mendengar panggilan Tuan, karena saya berada di belakang."


" Bikinkan aku minuman dingin! lain kali perhatikan siapa yang datang ke dalam rumah ini, jangan mengurus pekerjaan di dapur saja! Sudah bosan ya bekerja denganku! Sehingga panggilanku diabaikan!"


" Maafkan saya Tuan."


" Cepat bikinkan minuman dingin kesukaanku!"


" Baik Tuan, saya akan bikinkan."


" Orang rumah sama saja, di rumahnya kakak, kak Bryan yang menyebelin, di rumah ini asisten rumah tangga yang menyembelin!" ucapnya kemudian ponselnya pun berbunyi tanda chat pribadi masuk, dia kemudian membuka chat pribadi itu.


" Nomor siapa ini ?" Gumamnya, dia pun kemudian membuka chat pribadinya itu yang dikirim oleh orang yang tidak dikenalnya


" Hai Brandon, apa kabar... Kamu pasti ingin tahu apa yang selama ini kamu carikan, kalau kamu ingin tahu siapa sebenarnya yang membuat kakakmu itu tidak bisa berjalan sampai sekarang, kamu harus bertanya dengan kekasih kamu Silva." Isi chat pribadi tersebut.


" Siapa yang mengirim chat pribadi ini tentang berita tersebut." Ucapnya langsung menghubungi nomer tersebut, Namun sayangnya terdengar nada nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


" Sial ! Apa hubungannya sama Silva, Ini pasti ulah Arumi yang menjebak aku agar aku bisa membenci Silva." ucapnya kemudian dia pun menaruh kembali ponselnya di atas meja tersebut, Mbak Teti yang membawakan minuman dingin kesukaan Bosnya itu pun meletakkannya di atas meja, dan mempersilahkan Tuan mudanya untuk menikmatinya, Brandon menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun minuman minuman dingin tersebut, kemudian dia menyadarkan tubuhnya kembali di sandaran sofa dengan kepala mendongak ke atas menatap langit-langit ruang tengahnya kembali.


Terbesit di otaknya dengan isi cat pribadi tersebut.


" Benar juga sih, apa salahnya aku mencari tahu, siapa tahu memang Silva mengetahui semua ini. Tapi siapa pemilik nomer ini? Ah! Aku tidak peduli siapa dia yang jelas aku ingin mengetahui sebenarnya terlebih dahulu semua kejadian itu dan Silva bisa memberitahu aku siapa sebenarnya orang yang telah mencelakai kakakku itu, Kalau seandainya Silva tidak mengetahui aku akan mencari tahu siapa pemilik nomor yang tidak aku kenal ini." Ucapnya berbicara sendiri kemudian dia pun berdiri dan menghubungi Silva.


" Halo sayang kamu sekarang di mana?"


" Aku di rumah."


" Kamu bisa nggak ke sini?"


" Dimana?"


" Di rumah pribadiku, tapi aku tidak bisa menjemputmu karena aku masih dalam perjalanan menuju ke rumah seseorang dengan temanku, tunggu aku dirumah ya, karena aku tadi dijemput sama temanku."


" Siapa teman kamu? cewek apa cowok."


" Sabar sayang, temanku itu cowok kamu nggak usah berpikiran yang tidak-tidak tentang aku." ucapnya.


" Baiklah, kalau seperti itu aku akan menuju ke rumah pribadi kamu."


Kemudian pembicaraan itu pun terputus mereka berdua memutus sambungan secara bersamaan Brandan menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun meletakkan ponselnya kembali di meja ruang tengahnya itu sembari memanggil tukang kebun dan Mbak Teti nya itu.


Mereka berdua pun berada di hadapan Brandan, kemudian berdiri dari duduknya dengan posisi kedua tangan berada di saku celananya sembari mondar-mandir seperti setrikaan mengencangkan pakaian yang lusuh.