
30 ๐น
" Ibu... Anggara tidak bolos kerja kok, Anggara ke sini mengantarkan Bosnya Anggara untuk menemui seseorang."
" Terus Bos kamu mana? Kenapa kamu tinggalkan dia seorang diri, seharusnya kamu selalu ada di sampingnya, Kalau kamu tidak masuk ke dalam ruangan di mana temannya Bos kamu itu berada, sekiranya kamu masih berdiri di ruangannya, menunggu siapa tahu nanti ada keperluan yang diperlukan oleh Bos kamu itu, saat dia melihat kamu tidak ada nanti dia akan marah, Ibu mohon padamu jangan membuat orang sakit hati dan jangan sampai membuat orang marah padamu dan juga kamu jangan menyakiti hati bos kamu itu, kamu harus benar-benar bekerja siapapun Bos kamu itu, jahat atau baiknya kamu jangan membuat dia merasa menunggu kamu, Dan lagi kamu juga tidak usah ke ruangan ini, nanti kan kamu bisa aja bertemu lagi dengan ibu dan adik-adik kamu, lebih baik kamu sekarang keluar dan temui Bos kamu, tunggu di depan ruangannya." Ucap sang ibu panjang lebar.
Anggara tersenyum mendengar ucapan sang ibu, tapi tidak dengan Arumi, dia merasa tersentuh begitu saja mendengarkan ucapan dari ibunya Anggara.
" Astaga! aku tidak mengira ternyata ibu dan keluarga Anggara sangat baik sekali, bahkan dia juga tidak mengetahui kalau aku ini adalah Bosnya Anggara, tetapi kenapa aku jadi begini ya? Kenapa sikapku yang sombong angkuh dan arogan itu begitu saja hilang setelah beberapa kali bertemu dengan Anggara, terus bertemu dengan adiknya, serta sekarang bertemu dengan Ibunya, Apakah aku sudah mendapatkan teguran dari yang maha kuasa? Ya Tuhan rasa kecil sekali diri ini di hadapan mereka." Gumamnya di dalam hati sembari menatap mereka silih berganti, terlihat Anggara hanya tersenyum, Dia kemudian menyentuh tangan Ibunya dan menepuknya dengan pelan.
" Anggara tidak akan membuat Bos Anggara marah, karena Bos Anggara ada di sini."
Mendengar ucapan sang anak, dia pun langsung menoleh ke arah Arumi, karena tamu yang datang ke ruangan anaknya itu baru saja dilihatnya.
Bu Ningsih terkejut, dia langsung menatap Arumi dan terlihat dia salah tingkah, dia langsung menyalami Arumi kembali, padahal dia sudah menyalami Arumi pertama kali bertemu dengan Arumi.
" Ibu Bos..." Ucap Bu Ningsih, namun Anggara kemudian membisikkan sesuatu pada ibunya itu, Dia takut Nona Bosnya itu marah pada ibunya, karena sudah memanggilnya dengan sebutan Ibu Bos.
Bu Ningsih menatap ke arah Anggara.
" Oh maaf Nona Bos..."
" Tidak apa-apa Bu, panggil saja saya ini Arumi." Mendengar ucapan Arumi Bu Ningsih tersenyum.
" Jadi Kakak ini bosnya Kak Anggara?"
" Ya Tuhan, maafkan saya karena saya menganggap Kakak seperti orang biasa yang ada di luar sana, Eh maaf Nona Bos Arumi."
Lagi-lagi Arumi tersenyum, dia pun kemudian menyentuh pundak Neni.
" Kamu bisa panggil aku apa aja, Kakak bisa, ataupun Arumi, tidak masalah kok, karena pertolongan kamu itu tidak sebanding dengan kamu menyebut apa saja padaku."
" Pertolongan? maksudnya ini bagaimana, kok Ibu tidak mengerti sih, hari ini memang benar-benar aneh! Ibu saja tidak mengenal Bos anak ibu sendiri, bahkan salah satu dari anak ibu menolong seseorang, sebenarnya ada apa ini? Jelaskan pada ibu.
Arumi kemudian menceritakan semuanya, kejadian tadi malam yang menimpanya dengan Brandon, jika seandainya tidak ada Neni, mungkin Brandon lebih kejam lagi menyakiti dirinya, bu Ningsih pun mendengarkan cerita Arumi kemudian dia menatap ke arah Neni, Neni hanya menganggukkan kepalanya.
Terdengar helaan nafas Bu Ningsih, dia tidak menyangka kalau sang anak bisa berbuat baik pada orang lain dan menyelamatkan dari kejahatan orang yang sudah ingin menjahati orang lain tersebut.
Kemudian mereka pun melanjutkan pembicaraan mereka terdengar tawa pelan di ruangan itu. Sedangkan anggaran hanya bisa terdiam karena dia tidak mengerti dan memahami sikap Arumi sekarang ini, pertama kali dia bertemu sangat menyebalkan, menyakitkan hati, tapi sekarang bisa berubah dengan begitu saja.
" Hem .. Engkaulah yang Maha membolak-balikkan hati." Gumamnya di dalam hati sembari menatap ke arah Arumi yang tersenyum, pada ibu dan adiknya yang sedang berbicara.
" Kalau menurut cerita Neni, dia bertengkar dengan satu orang laki-laki dan satu orang perempuan, jangan-jangan kekasihnya dan Kekasih gelap kekasihnya itu, kalau diperhatikan Arumi cantik sekali, tapi kenapa dia disakiti oleh kekasihnya? Ada apa sebenarnya, kalau aku bandingkan dengan wanita yang pernah aku lihat saat itu bersama dengan kekasihnya, tidak sebanding dengan Arumi, yang sangat cantik sekali, Ada apa denganmu Anggara? Kenapa kamu berbicara seperti ini?" Ucapnya sembari memukul kan kepalanya dengan kepalan tangannya sembari menundukkan kepalanya menyembunyikan senyum dari mereka yang ada di ruangan itu.
Setelah puas mereka berbicara di ruangan sang adikz Arumi pun mohon pamit, kemudian Anggara juga berpamitan pada ibu dan adiknya untuk kembali berangkat bekerja, Anggara mengikuti dari belakang langkah Nona Bosnya tersebut, Arumi pun terus melangkah menuju ke arah parkiran mobil, saat Anggara ingin membukakan pintu mobil tersebut, Arumi hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, dia sendiri membuka pintu mobil itu, kemudian dia pun masuk ke dalam, Anggara kemudian melajukan mobil tersebut meninggalkan Rumah Sakit Al Insan menuju ke arah kantor pribadinya Arumi, di dalam mobil mereka tidak berbicara satu sama lain, sampai kemudian mobil tersebut memasuki halaman kantor NA Group, Arumi pun tidak mau dibukakan pintu oleh Anggara, Dia kemudian membuka pintu sendiri dan melangkah meninggalkan Anggara, membuat Anggara merasa heran.
" Ada apa dengan Nona Bos?Ah! Biarkan saja, mungkin dia masih bermain dengan kata hatinya." Ucapnya Sembari melangkah menuju ke arah lobby dan memberikan kunci mobil inventaris kantor pada resepsionis yang ada di mejanya tersebut, dan kembali Anggara melaksanakan pekerjaannya lagi.