My Love My Security

My Love My Security
BAB 52



52๐ŸŒน


" Arumi Brandon benar dia memang memiliki kesalahan besar denganmu, tolong maafkanlah dia, aku disini pun meminta maaf kepadamu, karena aku sebagai kakak tidak bisa mencegah Brandan untuk membenci kamu."


" Arumi, maafkanlah Brandan dan Silva, menyongsong masa depan mereka, Brandon akan bertanggung jawab tentang keadaan Silva sekarang ini." Sambung Riana, Arumi pun menghela napasnya kembali dengan panjang, dia Lalu menatap Brandan bergantian menatap ke arah Bryan dan Riana.


" Brandan aku akan memaafkan kamu, tapi kamu harus bertanggung jawab dengan Silva, biar bagaimanapun dia adalah sahabatku walaupun kata sahabat itu sudah dicorengnya dengan berselingkuh di belakangku, tapi aku memaklumi itu karena kamu memang mencintai Silva dari pada aku." ucapnya sembari tersenyum.


" Terima kasih, Aku mau minta padamu, luangkanlah waktumu untuk menjenguk Silva di rumah sakit."


" Iya, aku akan datang, tapi bagaimana dengan orang tuanya?"


" Hari ini aku akan menemui orang tuanya."


" Baiklah, kalau kamu ingin ke tempat orang tuanya, aku akan ikut, aku juga harus menjelaskan semuanya karena dulu aku memperkenalkan kamu pada orang tuanya, sejak pertengkaran itu Aku tidak pernah bertemu dengan Silva dan berkunjung ke rumahnya."


Brandon pun menganggukkan kepalanya kemudian mereka berempat pun berlalu dari ruang tamu tersebut dan menuju ke arah pintu lift beberapa saat kemudian lift itu pun membawa mereka turun ke lantai Lobby, mereka meninggalkan depan kantor NA grup menuju ke arah rumah Silva.


***


Di rumah kediaman Rahadian, saat mereka bersantai duduk di ruang tengah terdengar suara taksi yang berhenti di depan rumah tersebut, mereka semua menatap ke arah luar ternyata.


Jovanka Rahadian anak kedua dari pasangan pak Inova dan Bu Tia.


Jovanka mellangkah masuk ke dalam bersama suami dan anaknya.


Setelah mengucapkan salam, Mereka pun disambut dengan kedua orang tuanya tersebut, dia melangkah menuju ke dalam Jovanka merasa bingung, siapakah saudaranya itu, namun dia langsung menatap ke arah Anggara, karena wajah Anggara mirip sekali dengan papah tersebut.


Anggara pun berdiri sembari tersenyum pada Jovanka.


" Jovanka ini adalah kakakmu.." ucap sang Papah.


Jovanka pun tidak bisa menahan air matanya, dia langsung menangis dan memeluk kakaknya itu, Anggara membelai rambut adiknya, dia tidak menyangka akan bisa bertemu dengan adiknya yang sudah memiliki keluarga.


" Kemana saja Kakak selama ini, kenapa membiarkan aku dan mama, papa disini, Kenapa Kakak begitu lama perginya?" ucapnya di dalam sela tangisnya, Anggara kemudian mengusap air mata adiknya itu, sembari berkata.


" Maafkan kakak ya, ini adalah takdir, kakak tidak bisa melawan takdir yang dikehendaki oleh yang Maha Kuasa."


Jovanka pun menganggukkan kepalanya, kemudian dia diajak oleh Anggara duduk di sampingnya kemudian Anggara pun bersalaman dengan suaminya Jovanka sedangkan anak Jovanka hanya menatap Anggara dengan tatapan herannya, kemudian dia pun tersenyum, Anggara pun tersenyum pada anak kecil tersebut.


Mereka kemudian berbicara satu sama lain dan meminta Anggara untuk bersedia tetap menjadi pemilik perusahaan RN group yang ada di tanah air.


keluarganya dan juga Ibu Ningsih dan adik-adiknya terpaksa menginginkan Anggara menerima apa yang dikatakan pak Innova. Anggara akhirnya mengiyakan, saat dia mengiyakan itu pikirannya pun melayang jauh ke Arumi.


" Kalau dia seandainya menjadi pemilik perusahaan dari keluarga Rahadian, dia pasti tidak akan pernah bertemu dengan Arumi lagi.


Pak Innova pun menatap ke arah anaknya, dia mengetahui apa yang dipikiran anaknya itu, karena dia mengetahui juga kalau anaknya itu menyukai bosnya sekarang ini.


Pak Inova dan Bu Tia pun tersenyum mereka berdua saling berpandangan kemudian menganggukkan kepalanya karena mereka berdua berniat ingin mendatangi keluarga dari Arumi yang memang sudah dikenalnya sejak dulu.


Mereka pun dilanjutkan berbicara lagi, terdengar tawa kecil dari keluarga itu, Kemudian mereka pun dikejutkan oleh suara Frida dan dokter Purnama beserta dua orang anak Frida dari hasil pernikahannya dengan Paris.


Merekapun ikut bergabung.


" Bagaimana sekarang, apakah urusannya sudah selesai?"


" Alhamdulillah Kak, sudah diselesaikan, besok adalah sidang pertama perceraian kami."


" Semoga lancar dan jadikanlah masalah ini pelajaran untuk kamu kedepannya." ucap pak Innova dianggukan oleh Frida, Mereka kemudian melanjutkan pembicaraannya kembali terdengar colotehan celotehan anak dari Jovanka membuat mereka pun tertawa bahagia.


***


" Assalamualaikum Tante..."


" Waalaikumsalam, silakan masuk."


Merekapun dipersilakan masuk dan duduk di sofa ruangan rumah Silva.


" Ada apa Arumi, kenapa baru aja datang ke rumah tante?"


Arumi menghela nafasnya dengan panjang.


" Tante sudah mengetahui semuanya, Tapi sayangnya Silva lari dari rumah sampai sekarang dia pun tidak ada mengabari tante."


Lagi-lagi Arumi menghela nafasnya dengan panjang dan menatap ke arah Brandan.


" Tante, Arumi mohon pada tante agar tidak marah dengan Silva, karena ini bukan kesalahan Silva, bukan murni kesalahan Silva semata, tapi melainkan kesalahan Arumi, Brandon memang benar-benar mencintai Silva, dia memang pertama kali melihat Silva sudah jatuh cinta pada Silva, Arumi datang dan menghalau percintaan mereka berdua, Maafkan Arumi tante, Silva tidak salah, dia memang murni dicintai oleh Brandan, Begitu juga dengan Brandon yang memang benar-benar mencintai Silva, Arumi mohon pada tante agar tante tidak marah dengan dengan Silva dan Brandan.


Kedua orang tua Silva pun menghel nafasnya dengan panjang.


" Apakah kamu mengetahui di mana Silva berada, biarpun Silva berbuat jahat ataupun membuat kami berdua marah, tapi kami sangat merindukan Silva."


" Maafkan saya sebelumnya, karena selama ini akar permasalahannya adalah saya, yang dikatakan Arumi memang benar, kalau saya mencintai Silva jauh sebelum saya bertemu dengan Arumi." Brandon pun kemudian menceritakan akar permasalahan yang terjadi sehingga dia harus mencintai Arumi karena hanya ingin membalas dendam rasa sakit hatinya itu, ditambah lagi Bryan menceritakan semuanya kepada keluarga Silva tentang asal muasal kejadian kecelakaan tersebut, sehingga dia tidak bisa berjalan sampai saat ini, kedua orang tua Silva hanya menghela nafasnya dengan panjang terlihat penyesalan yang dalam di wajah mereka berdua, tidak terasa air mata ibunya Silva pun menetes, Arumi mendekati ibunya Silva kemudian menghapus air matanya sembari bersuara.


" Tante tidak usah menangis karena semua ini murni bukan kesalahan Silva."


Orang tua Silva pun menganggukkan kepalanya.


" Sekarang dimana Silva? Tante ingin bertemu."


" Sekali lagi maafkan Tante, kalau Tante bertemu dengan Silva Saya harap tante tidak marah pada Silva, karena...."


Brandan tidak melanjutkan perkataannya.


" Karena apa? Apa yang terjadi dengan Silva?" Tanya ayahnya Silva.


" Silva mengandung anak saya tante..." Ucap Brandan tertunduk.


Mendengar ucapan itu antara marah, benci, kecewa, bercampur jadi satu, namun mereka berdua tidak bisa mengungkapkan semuanya itu, mereka berdua hanya menghela nafasnya dengan pelan sembari terkejut menatap ke arah Brandan, Arumi pun mengusap pundak ibu Silva tersebut, Mereka kemudian terlihat mulai menguasai dirinya dan menyadari kesalahan yang telah mereka berbuat selama ini, karena sudah memanjakan Silva daripada Silvi.


" Di mana sekarang Silva?"


" Silva berada di rumah sakit."


Brandan menceritakan semuanya tentang terjadi masalah tersebut, kedua orang tua Silva mengusap wajahnya dengan pelan.


" Antarkan kami menemui Silva." ucap ayahnya Silva dianggukka oleh Brandon, Kemudian mereka pun berlalu dari rumah Silva menuju ke arah rumah sakit di mana Silva berada, di dalam mobil mereka hanya diam tidak ada suara sama sekali, sampai mobil itu pun memasuki halaman rumah sakit di mana Silva sedang dirawat, Mereka pun memarkirkan mobilnya dan melangkah menuju ke arah ruangan Silva, saat pintu ruangan terbuka Silva terkejut karena kedua orang tuanya datang menjenguknya, namun yang lebih terkejutnya lagi dia melihat Arumi yang tersenyum manis kepadanya, dia tidak menyangka Arumi melupakan masalah yang telah berlalu dengan memberikan senyumannya kepadanya itu, Silva pun menangis, ibunya langsung memeluk Silva.


" Maaf Silva mah, Maafkan Silva." ucapnya.


Sang mama hanya menganggukkan kepalanya mengusap pelan kepala anaknya tersebut, Arumi mendekati Silva.


" Arumi maafkan aku, karena kesalahan itu membuat kamu dibenci oleh Brandan."


" Kamu enggak usah memikirkan itu lagi, Sekarang kamu harus cepat sehat Begitu juga dengan bayi yang kamu kandung, setelah kamu sehat Aku ingin mendapat kabar kalau kalian berdua segera menikah." ucap Arumi dianggukan oleh Silva, Mereka pun akhirnya tersenyum dan bahagia melihat kebahagiaan yang mereka raih itu, Arumi pun hanya bisa mengukir senyum di wajahnya terbersit di pikirannya wajah Anggara yang sekarang tidak bisa dilihatnya karena Anggara tidak berdinas di siang hari melainkan dinas malam.