My Love My Security

My Love My Security
BAB 13



13 ๐ŸŒน


Pembicaraan dengan tamu istimewanya Arumi itu pun selesai, mereka berdua kemudian keluar dari ruangan tersebut, setelah berpamitan dengan Arumi.


Arumi yang ingin menggantarkan mereka pun ditolak oleh mereka berdua karena mereka tidak ingin merepotkan Arumi, selepas kepergian kedua orang tersebut Arumi pun menghela nafasnya dengan panjang, terlihat senyum bahagia di wajahnya, karena kedua orang tersebut menyetujui kerjasama yang sudah direncanakan oleh Arumi dan ayahnya tersebut, karena tamu istimewanya itu pemilik perusahaan yang sangat terbesar dan tidak mudah untuk meraih mereka berdua dalam menjalankan sebuah kerjasama yaitu proyek besar tersebut yang berada di Singapura.


" Yes! Akhirnya mereka pun menyetujui semuanya, ini adalah hari pertamaku menjalankan perusahaan ayah dan berjalan dengan lancar." ucapnya sembari merebahkan kepalanya di sandaran sofa Brandan yang melihat kemenangan Arumi itu memasang muka sinisnya.


" Jangan senang dulu kamu,ini awal kesengsaraan kamu, kamu akan sengsara selama-lamanya dan perusahaan kamu ini akan mengalami kebangkrutan.


Arumi menoleh ke arah sang kekasih Brandan pun kemudian tersenyum sembari berucap.


" Aku juga merasa senang, karena kamu sudah bisa menundukkan dan melemahkan hati tamu istimewa kamu itu, karena tidak mudah untuk meraih mereka untuk menjalankan kerjasama antar perusahaan."


" Ya Sayang, aku sangat bahagia sekali, oh ya bagaimana kalau kita keluar, aku rasanya gerah di dalam kantor, karena mengingat kejadian tadi."


" Ya udah kalau kayak gitu, kamu mau perginya ke mana? Hemm... Bagaimana kalau kita ajak Silva.?"


Arumi terkejut karena Brandan mengucapkan kata Silva dia pun kemudian bergumam di dalam hatinya.


" Kenapa dia ingin mengajak Silva, semakin ke sini aku mulai penasaran, ada hubungan apa dia dengan Silva? aku harus mencari tahu.


" Kalau kamu tidak setuju tidak apa-apa, Aku cuma mengajak Silva itu karena dia adalah teman karib kamu, dia juga bisa kan merasakan kemenangan yang kamu rasakan saat ini."


" Baiklah kalau kamu ingin mengajak Silva hadir merayakan atas keberhasilanku meraih persetujuan tamu istimewaku itu." ucapnya sembari menatap ke arah Brandon.


" Kamu bisa menyembunyikan sesuatu dariku, tapi aku akan mencari tahu semuanya itu." ucapnya sembari menatap lekat ke arah Brandan yang mengambil ponselnya tersebut kemudian dia menghubungi Silva.


Brandan tidak sadar kalau dia menghubungi Silva melalui ponselnya, Arumi yang menyadari itu pun hanya terdiam, karena dia tidak ingin Brandon mencurigainya kalau dia sedang mencari tahu ada hubungan apa antara Brandon dan Silva sahabatnya itu.


Setelah Brandon berbicara dengan Silva mereka berdua pun kemudian turun dari ruangan Arumi menuju ke lantai lobby.


Saat sampai di depan pintu lobby Arumi berhenti sesaat, dia melirik kiri dan ke kanan tapi dia tidak menemukan Anggara berdiri di depan pintu tersebut, dia pun kemudian bertanya dengan salah satu Security yang lain.


" Ke mana Security yang baru? Kenapa dia tidak berjaga.?!"


" Dia sedang ke belakang Nona."


" Oh ya? bilang padanya jangan terlalu lama meninggalkan pekerjaan, karena aku tidak mau bawahanku terlalu berleha-leha bekerja.!"


" Siap Nona, Saya akan mengatakan padanya."


Beberapa saat kemudian mobil Brandan pun perlahan-lahan meninggalkan depan kantor NA grup tersebut.


Anggara yang mendengar pembicaraan Arumi itu pun hanya menyandarkan tubuhnya di samping tembok kantor tersebut.


" Kenapa ya, ada rasa yang tidak enak di dalam hatiku saat dia berbicara seperti itu dan melihat dia pergi bersama lelaki itu, apa karena aku kasihan dengannya? dia sudah dikhianati di belakangnya, tanpa sepengetahuannya, sebenarnya kurangnya apa dia, dia tuh wanitanya cantik, pintar, memiliki perusahaan, seorang Bos lagi, tapi masih aja dia dikhianati dari belakang." gumamnya dalam hati sembari menghela nafasnya dengan panjang, kemudian dia pun melangkah menuju ke arah depan lobby tersebut dan rekan kerjanya pun berbicara padanya menyampaikan pesan dari Bos mereka, Anggara hanya menganggukkan kepalanya, karena dia sudah mendengar apa yang dikatakan Arumi tentang dirinya itu.


Sesampainya di sebuah kedai buah, mereka pun memesan jus buah kesukaannya, Brandon pun menengok ke arah luar menanti kedatangan sang kekasih gelapnya, terlihat dia gelisah.


Arumi menatap ke arah Brandon, kemudian dia menegurnya.


" Kenapa sih terlihat gelisah sekali dan menatap terus ke pintu luar, kamu sudah tidak sabar ya ingin bertemu dengan Silva? Sebenarnya kekasih kamu itu Silva atau aku sih! Aku kan sudah pernah bilang padamu, jangan sekali-kali kamu menghianati aku dari belakang! kalau sampai terjadi itu, Aku tidak akan pernah memaafkan kamu dan Silva! kalau memang kalian berdua ada hubungannya.!!"


" Tidak sayang, aku tidak ada hubungan sama sekali dengan Silva, aku melihat ke pintu luar itu karena memang mataku pengen melihat ke situ aja, kamu jangan berprasangka buruk dulu denganku dong sayang."


" Awas aja!! kalau sampai terjadi, Aku tidak tinggal diam.!" Ujar Arumi sembari menoleh ke arah lain, Brandon pun tersenyum di luar namun terlihat benci di dalam sembari dia berucap di dalam hatinya.


" Kamu tidak tahu aja, kalau aku dan Silva memang sudah memiliki hubungan, Aku memang mencintai Silva, sangat mencintainya jauh sebelum aku dan kamu resmi menjadi sepasang kekasih, Aku mencintai kamu itu tidak ada rasa cinta sedikitpun, aku hanya ingin membalaskan dendam rasa sakit hatiku padamu, karena membuat kakakku seumur hidup berada di atas kursi roda, sampai keluar pun dia tidak mampu untuk menjalani hari-harinya di luar rumah, tunggu saja saatnya pembalasanku, akan kamu rasakan!" gumamnya sembari membelai rambut Arumi.


Beberapa saat kemudian Silva pun datang terlihat nampak tersenyum dia melangkah menuju ke arah masuk dan duduk di depan mereka berdua, saat Silva menyapa Arumi pun tersenyum, Arumi tidak menampakkan rasa senangnya dengan kehadiran Silva, karena dia merasa Silva adalah pengganggu di saat dia ingin bersama dengan kekasihnya, terlihat wajah Brandon sangat senang sekali karena kekasih gelapnya itu menepati janjinya untuk ikut bersama dengan mereka dan menghabiskan waktu di kedai buah tersebut.


Terlihat Silva santai menyikapi sikap Arumi karena dia tahu Brandon sangat mencintai dia daripada Arumi.


Mereka pun kemudian menikmati jus buah kesukaan mereka masing-masing sembari bercerita tentang kesuksesan Arumi bisa memberikan kepercayaan pada pemilik perusahaan terbesar tersebut.


***


Sepasang suami istri yang baru saja bertemu dengan Arumi itu adalah sepasang suami istri pemilik RN Group, mereka berdua pengusaha terkenal dan selalu sukses menjalankan usaha mereka itu.


Tapi sayangnya mereka tidak sukses dalam melupakan anaknya yang sudah tiada bertahun-tahun lamanya itu.


Saat mereka sampai di depan rumah besar kediaman pribadinya itu, mereka berdua pun turun dari mobil tersebut dan melangkah menuju ke arah pintu utama rumahnya itu.


Sepasang suami istri itu adalah Pak Innova Rahadian dan ibu Tia Ivanka sepasang suami istri yang sudah kehilangan seorang anaknya yang dikabarkan oleh pihak rumah sakit meninggal dunia, karena saat itu pak Inova tidak berada disamping sang istri saat sang istri melahirkan, saat itu Ibu Tia Ivanka pendarahan yang sangat hebat dan mengalami ketidaksadaran, saat dia sadar dan keadaannya pun stabil dia sudah mendapatkan kabar kalau anaknya itu sudah meninggal dunia.


Keluarga dari pihak suaminya pun menjelaskan semuanya pada ibu Tia Ivanka tersebut, dan terlihat sangat kehilangan, beberapa tahun selang berlalu kejadian itu, Ibu Tia Ivanka pun hamil kembali anak kedua berjenis kelamin perempuan, walaupun sebenarnya dia ingin menginginkan anak seorang laki-laki tapi keinginan itu sudah dikuburnya jauh-jauh, karena dia tidak bisa untuk hamil kembali karena suatu penyakit yang benderanya, terpaksa anak keduanya lahir itu adalah anak terakhir untuk mereka.


" Jika seandainya anak kita masih hidup, mungkin dia sudah sebesar Security itu, tapi ada yang aneh karena aku merasa tenang menatap Security yang ada di kantor NA grup itu." Ucap Bu Tia Ivanka.


" Bukan kamu saja, aku juga merasakan seakan-akan aku dan dia itu ada ikatan yang tidak bisa dilepaskan. Tapi aku tidak tahu siapa dia itu sebenarnya." Sambung pak Innova Rahadian sembari menghela nafasnya dengan pelan.