My Love My Security

My Love My Security
BAB 11



11 ๐ŸŒน


Anggara yang sudah sampai di parkiran kantor NA group itu pun kemudian dia memarkirkan motornya dengan rapi, dia melangkah menuju ke arah samping kantor tersebut, karena semua karyawan di saat datang tidak melalui lobby melainkan melewati pintu samping, dia kemudian mendekati ke arah sang Paman, karena pagi ini dia tidak bersama sang Paman berangkat ke kantor.


" Paman..." panggilnya, Pak Wawan yang sedang duduk santai di posnya itu pun menoleh ke arah Anggara.


" Apakah aku terlambat paman?"


Pak Wawan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


" Kamu tidak terlambat, Ayo aku antar di mana tempat kamu harus menunggu."


Anggaran menganggukkan kepalanya, kemudian mereka berdua pun berjalan menuju ke arah pintu loby.


Karena saat ini giliran Anggara yang menjaga di depan pintu loby, membuka dan menutup pintu lobi tersebut jika ada orang yang bertamu kekantor tersebut.


" Kamu nunggunya di sini aja, ini alat pemeriksaan di saat siapapun masuk ke dalam, kamu bisa memeriksanya dan meminta tanda pengenalnya, karena kantor ini hanya satu Bos tidak ada yang lain digedung ini." ucapnya, Anggara menganggukkan kepalanya dan mengambil alat pendeteksi benda-benda yang tidak diinginkan yang dibawa oleh para tamu tersebut.


" Paman tinggal dulu ya sebentar." Anggara menganggukan kepalanya sembari tersenyum, dia pun kemudian berdiri di depan lobby, setelah kepergian Pak Wawan sebuah mobil memasuki halaman parkir tersebut kemudian dia memarkirkan mobilnya dengan rapi, dia melangkah dengan tenang menuju ke arah lobby, karena Anggara tidak mengetahui kalau yang melangkah menuju ke arah lobby itu adalah ibu Bosnya, disamping itu Pak Wawan lupa memberitahu pada Anggara kalau sudah berganti Bos, Arumi melangkah menuju ke arah pintu, dia berdiri di pintu namun pintu itu tidak dibukakan oleh Anggara.


" Maaf mbak, saya periksa dulu dan tinggalkan kartu pengenalnya." ucapnya sembari menghalang langkah Arumi.


Mereka berdua Saling pandang Arumi menatap dengan marah, karena di berhentikan oleh Anggara langkahnya menuju masuk ke dalam.


Anggara baru sadar dan terkejut karena wanita yang ada di hadapannya ini pernah bertemu dengannya saat insiden kejadian salah lampu sein kendaraan.


" Bukankah kamu yang sudah menyenggol kendaraan ku? kamu tidak boleh masuk dulu, sebelum saya periksa sesuai dengan prosedur kantor ini, dan tolong tinggalkan kartu pengenalnya." ucapnya sembari mengarahkan alat pemeriksanya ke tubuh Arumi.


Arumi pun kemudian menepiskan alat tersebut sembari menatap dengan marah ke arah Anggara.


" Kamu tidak mengetahui siapa aku hah!"


" Aku tahu! kamu yang sudah marah-marah denganku, kamu yang salah, kamu yang malah menyalahkan aku balik, saat kejadian itu! Apa kamu lupa? Atau kamu pura-pura lupa?" ucap Anggara sembari tetap ingin memeriksa Arumi.


" Aku ini adalah pemilik perusahaan ini, aku bisa saja memecat kamu! Karena perlakuan mu padaku!!" Ucapnya ketus.


" Minggir aku mau lewat!" Ucap Arumi mendorong Anggara, tapi bukannya Anggara yang jatuh, tapi malah Arumi yang terpeleset kurang keseimbangan disamping itu juga dia memakai hak tinggi, namun sebelum dia jatuh Anggara langsung sigap meraih tubuh ramping Arumi, mereka saling pandang beberapa saat dan sampai akhirnya Anggara tersadar dan langsung membantu Arumi agar tetap berdiri tegak.


" Jangan macam-macam kamu padaku! Sudah aku katakan akulah pemilik perusahaan ini!!" Ucapnya dengan sedikit nada tinggi dalam bicaranya.


" Masa iya, pemilik perusahaan seperti ini." ucap Anggara lagi-lagi Arumi menepiskan alat pemeriksa tersebut, karena Anggara tetap ingin memeriksanya.


" Aku ini anak pemilik perusahaan dan sekarang Aku adalah Bos kamu.!"


" Aku tidak peduli, kamu pemilik perusahaan ini atau anak perusahaan ini yang jelas aku harus menjalankan prosedurnya, lagi pula perusahaan ini pimpinannya adalah Pak Burhan, bukan kamu, kamu mengada-ngada aja bicaranya, udah jangan terlalu banyak bicara, aku periksa dulu baru kamu boleh masuk!" ucapnya lagi-lagi menyodorkan alat pemeriksa ke tubuh Arumi, membuat Arumi kesel dan langsung mengambil alat pemeriksa itu secara cepat dari tangan Anggara.


Kejadian itu pun terlihat Pak Wawan dengan cepat dia berlari menuju ke arah Anggara dan Arumi.


" Nona Arumi.." panggil Pak Wawan, Arumi pun kemudian menoleh ke arah Pak Wawan sembari bersuara.


" Iya Nona Arumi, Maafkan dia Nona, Mungkin dia tidak tahu jadi menganggap Nona adalah tamu di sini."


" Memang siapa dia Pak?" tanya Anggara sembari berbisik pada Pak Wawan, dia tidak menyebut Pak Wawan dengan sebutan Paman, karena di hadapan orang dan disaat dia bekerja Dia memanggil Pak Wawan dengan sebutan Pak.


" Pemilik perusahaan ini sekaligus Bos kita yang baru."


Anggara terkejut dengan ucapan pak Wawan.


" Sudah tahu sekarang dan sudah mengenal siapa aku hah!!" ucapnya sembari menyerahkan alat pemeriksa itu ke arah Anggara dan mendorong pelan Anggara, kemudian dia pun melangkah masuk ke dalam dengan gaya juteknya menuju ke arah lift, beberapa saat dia menunggu pintu lift terbuka, dia menoleh lagi ke arah belakang di mana Anggara sedang menatapnya dari pintu lobby, Dia kemudian memasuki lift dan membawa dirinya ke lantai atas di mana ruangannya berada.


" Kamu harus minta maaf pada Nona Arumi, karena dia adalah Bos Besar di sini, Pak Burhan sudah menyerahkan kepemimpinannya padanya, karena dia adalah anak sematang wayangnya."


" Aku tidak tahu Paman kalau itu adalah Bos kita, karena Paman tidak mengasih tahu padaku."


" Iya, ini juga kesalahan Paman, tidak mengatakannya padamu, saat penyerahan kepemimpinan bagian pihak produksi tidak dikasih tahu kala itu, tapi sekarang sudah mengetahui semuanya dan Paman juga lupa memberi tahu padamu."


" Maafkan Aku paman, karena aku dan dia pernah ketemu saat itu dia menyenggol kendaraanku."


" Hemm...Lebih baik kita ke lantai atas untuk minta maaf padanya, terutama kamu."


Anggara hanya menganggukkan kepalanya, Mereka berdua kemudian menuju kelantai atas dan menuju keruangan Arumi.


Sesampainya dilantai atas tepatnya didepan ruangan Arumi.


" Tok-tok..."


Pak Wawan mengetuk pintu ruangan Arumi, Arumi yang berada di dalam menatap ke arah pintu, namun dia tidak bersuara untuk menyuruh si pengetuk masuk, dia mengira kalau yang mengetuk pintu tersebut adalah Anggara.


" Aku tidak akan menyuruh si pembentuk itu untuk masuk, aku tahu itu pasti Security yang menjengkelkan itu, berani-beraninya dia menahan langkahku untuk masuk ke dalam kantorku sendiri." ucapnya berbicara sendiri sembari menyadarkan tubuhnya di kursi kerjanya itu.


" Hem... Tapi kalau dipikir dia tampan juga sih, kok ada ya seorang laki-laki yang tampan seperti dia berberawakan bagus seperti itu, memiliki kulit putih dan bersih, tapi kenapa dia mau menjadi seorang Security, apa dia tidak ingin mencari pekerjaan yang lebih baik lagi, daripada sebagai seorang Security." ucapnya lagi-lagi Dia berbicara sendiri sembari menatap ke arah pintu yang dari tadi terdengar beberapa kali ketukan di pintu tersebut.


Kemudian dia pun menghubungi sekretarisnya melalui telepon yang ada di dalam ruangannya itu.


" Lisa! katakan pada si pengetuk yang ada di depan ruanganku, suruh mereka pergi, karena aku sangat terganggu dengan suara ketukannya!" ucapnya kemudian memutus sambungan bicaranya sebelum Lisa mengatakan iya dan menaruh kembali gagang telepon tersebut di atas mejanya.


Lisa hanya menghela nafasnya dengan panjang sembari menggelengkan kepalanya, dia pun kemudian melangkah menuju ke arah depan ruangan Bosnya tersebut.


" Pak Wawan!" panggilnya Pak Wawan pun menoleh ke arah suara.


" Bu Lisa, ada apa Bu.?"


" Nona Bos tidak mau diganggu, dia menghubungi saya agar Bapak meninggalkan depan ruangannya, karena dia tidak mau diganggu, Maafkan saya ya Pak, karena saya cuma menyampaikan pesan dari Nona Bos."


Pak Wawan tersenyum, dia hanya menganggukkan kepalanya dan menatap ke arah Anggara, kemudian mereka berdua pun melangkah meninggalkan depan ruangan tersebut, Lisa menatap ke arah Anggara dia tersenyum terlihat di wajahnya senang melihat Anggara, sembari dia bergumam.


" Apakah dia Security yang baru? ya Tuhan ganteng banget, baru ini aku melihat seorang Security yang ganteng, kok mau ya dia bekerja sebagai Security, hem... Kalau dipikir sih dari perawakannya cocoknya dia sebagai seorang pimpinan, seandainya dia seorang pimpinan akan menambah daya tariknya, Ya Tuhan ganteng banget..." ucapnya dalam hatinya sembari tersenyum sendiri kemudian dia pun melangkah menuju ke arah mejanya.