
39๐น
" Maafkan saya Ibu, karena saya bertanya seperti ini mungkin Ibu agak berat untuk menceritakan semuanya, tapi saya hanya ingin mengetahui sebenarnya kalau Mas Anggara ini apakah anak kandung ibu atau bukan." ucap dokter Purnama sembari menangkupkan kedua tangannya di dada memohon maaf pada bu Ningsih atas pertanyaannya yang mungkin saja membuat bu Ningsih tidak nyaman karena ini adalah privasi dalam keluarga bu Ningsih.
Lagi-lagi bu Ningsih menghela nafasnya dengan dalam dia pun tersenyum pada dokter Purnama kemudian dia tersenyum pada anaknya tersebut Ia pun menyentuh tangan Anggara sembari menggenggamnya.
" Anggara adalah anak laki-laki pertama bagi kami berdua, semasa suami saya masih hidup.... " Hening sesaat. Kemudian Bu Ningsih menceritakan kronologi kejadian di saat suaminya itu mendapatkan Anggara, awalnya dia ingin mengembalikan Anggara ke rumah sakit di mana suaminya dititipi Anggara, namun pikirannya pun berubah dan dia ingin mengurus Anggara sampai besar pada usia Anggara mulai dewasa dia pun kemudian menceritakan kalau Anggara bukanlah anak kandungnya.
Bu Ningsih juga menceritakan kalau Anggara tidak marah dengan kebenaran yang ada menimpa dirinya itu, di samping itu Anggara juga sangat menyayangi dan mencintainya seperti ibu kandungnya sendiri dan begitu menyayangi adik-adiknya.
Sampai cerita Bu Ningsih itu pun selesai, dokter Purnama pun tersenyum karena dia merasa bahagia bu Ningsih sudah menceritan semuanya, di samping itu bu Ningsih juga sudah jujur apa adanya pada dirinya, dia merasa bersyukur bertemunya dengan Anggara dia bisa mengungkap adik sepupunya yang dikatakan sudah tiada itu oleh sang mama.
" Baiklah Ibu, terima kasih atas keterangan ibu, tapi bolehkah saya meminta satu permintaan lagi pada ibu, untuk meyakinkan kalau Anggara adalah anak dari Om dan Tante saya."
" Apa yang bisa saya bantu agar membuktikan kalau Anggara adalah anak dari Om dan Tante bu dokter. Saya juga berharap agar anggara bisa bertemu dengan kedua orang tua kandungnya, awalnya saya merasa Anggara akan meninggalkan saya tapi mendengar ucapan Anggara tidak akan pernah meninggalkan saya dan adik-adiknya, itulah yang membuat saya untuk berkata jujur tentang jati diri Anggara dari kecil sampai sekarang."
" Bisakah kita melakukan tes DNA?"
" Makasih ibu, terima kasih Mas Anggara, karena mau membuktikan kalau Mas Anggara itu adalah anak dari Om dan Tante saya."
Mereka berdua hanya menganggukkan kepalanya.
" Kapan dilaksanakan tesnya?" tanya Anggara.
" Secepatnya lebih baik." Ucap Bu Ningsih.
" Baiklah sekarang kita menuju ke laboratorium untuk tesnya. Setelah itu saya akan memanggil Om dan Tante saya untuk ke sini dan bertemu dengan kamu beserta keluarga kamu, terutama ibu." ucap dokter Purnama, bu Ningsih pun hanya menganggukan kepalanya, terlihat wajahnya merasa senang setidaknya dia bisa mempertemukan Anggara dengan kedua orang tuanya, karena sudah terpisah bertahun-tahun lamanya.
Mereka bertiga pun kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah meninggalkan ruangan dokter Purnama, mereka bertiga menuju ke arah laboratorium namun di persimpangan koridor Rumah Sakit, bu Ningsih meminta untuk tidak ikut ke ruangan laboratorium tersebut, namun dia menuju ke arah ruangan anaknya, Anggara menganggukan kepalanya, mereka berdua kemudian melanjutkan langkahnya menuju ke arah laboratorium, sedangkan bu Ningsih menuju ke arah ruangan anaknya sembari bergumam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan mungkin ini adalah jalan yang benar yang sudah aku lakukan, walaupun rasanya sangat berat, tapi aku sangat bersyukur karena Anggara sudah akan bertemu dengan kedua orang tuanya, semoga tes itu menandakan kalau Anggara adalah anak Om dan Tantenya dokter Purnama, setidaknya aku bisa membahagiakan Anggara dengan dia bertemu dengan kedua orang tuanya, karena Anggara tidak akan pernah meninggalkanku dan adik-adiknya." Gumamnya di dalam hati sembari tersenyum di wajahnya melangkah menuju ke dalam ruangan anak lelakinya tersebut.