My Love My Security

My Love My Security
BAB 21



21 ๐ŸŒน


Sudah dua hari mereka berada dirumah sakit dan mereka kedatangan para tamu dari pihak yang berwajib yang sudah mengabarkan kalau yang sudah membuat Nino cedera sudah diamankan, mendengar keterangan dari pihak yang berwajib itu pun Anggara langsung menuju kekantor polisi bersama kedua utusan pihak tersebut, karena Anggara sangat penasaran apa penyebab sebenarnya, kalau memang tidak sengaja Anggara memakluminya tapi kalau memengang disengaja Anggara akan bertanya sedetail mungkin kenapa sampai adiknya yang jadi korban dalam kejadian itu.


Dikepala Anggara penuh dengan tanda tanya besar dikepalanya dan diapun hanya mengikuti kata hatinya untuk tetap tabah dalam menghadapi semuanya.


Selang beberapa menit mereka sudah sampai ditempat tujuan, Anggara dipersilahkan salah satu anggota untuk mengikuti mereka ketempat penyidik,sekaligus bertemu dengan orang tersebut. Sesampainya diruangan itu Anggara hanya menghela nafasnya dengan pelan dan menuju kursi yang ada didalam ruangan itu dan seseorang yang berada diruangan itu duduk membelakangi Anggara.


Anggara mengambil duduk di depan lelaki tersebut dan saat Anggara melihat lelaki itu betapa terkejutnya Anggara siapa yang berada dihadapannya itu, dia pun hanya mampu berucap dua kata, karena dia tidak menyangka dan mengiranya kalau dia sudah sangat dikenalnya yang mampu berbuat tega padanya terutama adiknya yang jadi korbannya.


" Mas Bara?!"


Bara mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Anggara terlihat wajah Bara mencerminkan penyesalan yang sangat dalam.


" Apa yang terjadi Mas? Kenapa Mas begitu tega dengan mencelakai Nino, apa salah Nino dan apa salah keluargaku pada Mas Bara."


" Maafkan aku Anggara, aku tidak menyadari penyesalan sudah menghampiriku, aku menyesal aku terpaksa melakukan itu karena Mama sudah mengadukan semua perbuatan kamu pada Ria."


" Perbuatanku pada Ria? Aku tidak berbuat apa-apa Mas.


Bara Puspito adalah saudara kandung dari Ria Puspita.


Bara yang terhasut dengan omongan sang Mama pun berniat ingin menyingkirkan Anggara, namun saat itu Anggara belum menjemput sang adik, karena Bara tidak mengetahui kalau Anggara sudah bekerja sebagai Security di sebuah perusahaan terkenal, di samping itu juga Bara tidak berpikir panjang lagi apa resikonya yang akan terjadi nanti kalau seandainya dia ketahuan, karena sudah mencelakai seseorang yaitu adiknya Anggara, dalam pikiran Bara saat itu, tidak dapat Anggara Bara pun mencelakai Nino sang adik, awalnya Bara merasa puas karena sudah membuat resah Anggara dan sudah membuat Anggara bersedih karena Bara berharap Nino tidak bisa terselamatkan, tapi sayangnya setelah melakukan perbuatannya pada Nino dia pun mencari tahu tentang keadaan Nino, Bara mengetahui kalau Nino bisa terselamatkan, saat dia pulang menuju ke arah rumahnya dan ingin mengatakan pada sang Mama serta keluarganya itu tentang kejadian yang menimpa Nino karena ulahnya itu, belum sempat dia berada lama di rumahnya pihak yang berwajib mendatangi rumahnya tersebut, karena sudah diketahui identitas si penabrak yaitu Bara, saat itulah Bara merasa takut dan merasa menyesal dengan melakukan perbuatannya tersebut pada keluarga Anggara.


Anggara hanya menghela nafasnya dengan panjang dan menatap Bara yang ada di hadapannya sembari menundukkan kepalanya, karena dia tidak bisa menatap Anggara dengan lekat.


" Anggara Maafkan aku, sampaikan kata maafku untuk ibumu dan Nino." ucapnya tanpa menatap ke arah Anggara dengan posisinya masih menundukkan kepalanya dan memainkan jari jemarinya tersebut, lagi-lagi Anggara hanya menghela nafasnya dengan panjang sembari berucap.


" Aku memaafkan kamu Mas, dan akan aku sampaikan kata maafmu pada ibu dan Nino, kalau aku pribadi aku memaafkan kamu Mas Bara dengan iklas, lain kali kamu tidak usah termakan emosi yang hanya sesaat, lebih baik kamu menyaringnya dulu dan pembicaraan dari keluargamu ataupun siapapun, terutama tentang aku dan Ria, jujur aku dan Ria tidak ada apa-apa. Sekali lagi aku katakan padamu Mas Bara, kalau aku dan Ria hanya sebagai teman biasa, Ria hanya ku anggap sebagai adikku sendiri."


" Terima kasih Anggara, karena kamu sudah memaafkan aku, Aku menyesal! sungguh menyesal! saat kejadian ini pun aku dibawa ke sini kedua orang tuaku tidak ada yang menjengukku, sekali lagi maafkan aku." ucapnya lagi-lagi Anggara menganggukan kepalanya, kemudian kedua orang anggota pun membawanya kembali ke meja yang lain sedangkan Anggara hanya dimintai keterangan sedikit, karena Anggara tidak mengetahui pasti kejadian sang adik tersebut, setelah beberapa jam dia berada di kantor polisi dia pun kemudian diantar kembali ke rumah sakit karena saat itu Anggara ikut dalam mobil anggota tersebut, sesampainya di rumah sakit dia pun kemudian melangkah menuju ke arah ruangan sang adik dengan pikiran yang tidak menyangka dengan perbuatan yang sudah dibuat Bara orang yang dikenalnya baik itu, Bara memang berbeda dengan keluarganya baik ibunya, ayahnya, atau adiknya dia termasuk orang yang sangat baik terhadap dirinya dan keluarganya, karena Bara sering menyapa orang tuanya adiknya dan dirinya sendiri, entah apa yang menghantuinya sehingga dia percaya dengan omongan ibunya tersebut.


Anggara menghela nafasny dengan panjang dan memegang handle pintu ruangan Adiknya dirawat.


" Cklek..." Pintu terbuka dan mereka yang ada didalam pun menatap kerah pintu.