
Abi mengajak Ananda untuk kembali ke
penginapan mereka karena langit yang sudah menggelap. Abi membawa serta dua
buah kelapa muda yang sudah habis mereka minum sebelumnya untuk dibuang
ditempat sampah yang tersedia. Setelah membuangnya, Abi pun kini mulai berjalan
perlahan menuju kamarnya beriringan dengan Ananda di sampingnya.
Abi kini mulai berani untuk menggenggam tangan Ananda tanpa harus meminta izin terlebih dahulu seperti
sebelum-sebelumnya, dan Ananda pun tampak tidak mempermasalahkan lagi tentang skinship-skinship yang mulai sering mereka lakukan belakangan ini. Mungkin Ananda hanya terbawa suasana bulan madu
saja pikirnya. Namun, dimata orang lain segala bentuk interaksi mereka kini dapat
dirasakan bahwa mulai ada benih-benih perasaan yang mulai tumbuh antara keduanya.
Ananda tidak tahu itu perasaan cinta atau hanya sekedar mencoba membalas cinta sang suami.
Mereka pun masuk kedalam kamar setelah membuka pintu yang terbuat dari kaca terlebih dahulu, aroma kayu-kayuan yang menenangkan punn langsung tercerup di rongga-rongga hidung keduanya. Ananda
langsung pergi kekamar mandi untuk mencuci mukanya sementara Abi mulai mencari pakaiannya untuk shalat maghrib di Masjid.
Ananda lalu dengan sigap mencari apa-apa yang dibutuhkan suaminya itu setelah sebelumnya mengeringkan wajahnya terlebih dahulu dengan handuk.
“Mas pergi dulu ya.” Ujar Abi yang kini telah tampan dengan setelan koko dan celana panjang serta peci di ambang pintu.
“Iya mas.’’ Jawab Ananda lalu mengamati kepergian sang suami, hingga punggung lebar sang suami sudah menjauh dari tempatnya Ananda pun lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk mengambil air
wudhu dan seterusnya melakukan shalat.
***
Dua sepasang kaki Dion dan Zian beriringan melangkah ke arah Masjid bersama untuk shalat Maghrib. Sejak dari dalam kamar sampai kini sudah berada di pelataran Masjid, tidak ada satu patah katapun yang
keluar dari mulut mereka berdua. Atau khususnya dari bibir Zian. Dion keheranan setengah mati, namun tetap saja ia tidak berani terlalu banyak bertanya.
Meski sering didapati oleh Dion sejak pernikahan Ananda, Zian memang sering menggalau sendiri. Namun lelaki itu tidak pernah terlihat seburuk ini. Ditanya hanya akan sekedar menjawab ‘Iya’ atau ‘Tidak’ bahkan hanya menggunakan bahasa tubuh. Ledekan dari Dion yang biasanya akan memancing umpatan dari Zian pun tidak juga berhasil membuat lelaki itu mengeluarkan suaranya.
“Lu kenapa sih?.” Tanya Dion dengan nada yang cukup kesal tampaknya emosinya sudah tidak dapat ditahan lagi.
Zian menoleh kearah Dion dengan raut muka yang seperti tidak mengerti arah pembicaraan Dion.
“Lo daritadi itu diem aja tau engga?, gue tanyain dari mana lo engga jawab. Gue ajak ke Masjid lu cuman nganngguk doang. Capek gue kayak gini Yan, jauh-jauh ke Bali niatnya untuk liburan malah
ngeliatin muka Lo yang ngegalau mulu ini,’’ Cerocos Dion dengan menunjuk wajah Zian emosi.
Namun sekali lagi decakan kesal keluar dari bibir Dion saat sang sahabat juga belum mau mengeluarkan suara, hingga qamat berkumandang pun Zian tetap saja memilih bungkam.
“Oke, kalau gitu kita balik Jakarta besok kalau LO belum mau cerita.” Final Dion lalu meninggalkan Zian untuk
berlalu ke arah tempat wudhu.
***
“Cerita sekarang juga!” Perintah Dion pada Zian yang saat ini mereka berdua memilih untuk menghabiskan malam di sebuah cafe lesehan di dekat Masjid. Zian tengah memainkan gitarnya dengan
tidak beraturan saat Dion melontarkan perintah itu.
“Gue engga papa Yon. Ribet amat dah Lu.” Ucap Zian dengan nada datar.
Satu pukulan di belakang kepala di terima Zian, ia lalu menoleh ke sang pelaku pemukulan, “Sakit woi!!” Teriak kesal Zian.
Dion tidak memperdulikan kata-kata Zian dan malah berujar kembali, “Gue bukan satu....dua hari kenal Elu ya bro!. Udah dari orok kita jadi sahabatan, kalau Elu lagi gini tuh pasti ada apa-apanya.” Zian tersenyum mendengar ucapan Dion yang kesal. Memang mereka berdua sudah menjadi sahabat sejak kecil bahkan sering dikira kembaran oleh orang lain saking seringnya berpergian bersama-sama kemana saja. Oleh karena itu juga
mereka berdua begitu mengenal watak satu sama lain dengan cukup baik, bahkan jauh lebih baik dari orangtua mereka sendiri. Memang tidak bisa menyembunyikan sesuatu rahasia dari satu sama lain.
“Gue ketemu Ananda.” Ucap singkat Zian.
Dion mengehentikan gerakan minum kopi hangatnya karena mendengar ucapan mengejutkan dari Zian tadi.”Kapan?” Tanya Dion penasaran.
Zian menyenderkan tubuhnya di dinding lalu mulai melanjutkan kata-katanya lagi. “Kemarin.”
“Disini! Di Bali?!” Teriak histeris Dion. Zian mengangguk tidak semangat.
“Terus tadi sore itu.....,” Zian menggantungkan kalimat untuk sekedar mengeluarkan napas beratnya, benar-benar
menyakitkan untuk sekedar bercerita perihal mantan kekasih itu bukan?,”....Gue
ngeliat dengan mata kepala gue sendiri Yon Doi di pasangin gelang sama suminya
itu. Gue seumur-umur pacaran sama Nanda belum pernah pegang tangan dia.... tapi laki itu?”
Baik. Dion sekarang mengerti mengapa Zian tampak begitu lesu dan tidak bersemangat. Ananda ada disini, disini
bersama suaminya itu. Dion pun tidak sanggup membayangi dirinya jika menjadi
Zian, lebih baik dia tidak pernah jatuh cinta sama sekali daripada harus
mengalami kejadian seperti Zian.
***
Deringan panggilan masuk yang menampilkan nama sahabatnya membuat Ananda cepat-cepat menggeser ikon hijau di layar handphone-nya. Dan sebuah pekikan histeris pun langsung menyapa telinga
“MA BESTIEEEEE!!!! Gue kangen!” Teriak Vanessa dari seberang telepon.
“Aihhhh,,,, pelan-pelan kali Sa.” Ingat Ananda pada Vanessa. Yang diingatkan malah terkekeh tidak merasa bersalah.
“Gue kangen sama Lo Nan. Berapa hari lagi sih Lo di Bali?”
“Tiga hari lagi pulang kok, Mas Abi engga bisa lama-lama tinggalin kantor.”
“Wihh!!! Enak deh kayaknya yang di ajakin bulan madu ke Bali. Gue juga mau kali Nan.” Rengek Vanessa dengan nada yang bikin Ananda merasa jijik.
“Makanya nikah!” Sindir Ananda yang buat Vanessa langsung merasa sakit hati.
“Jahat Lo, si doi belum mau nikahin gue ni huwaa!!!” histeris lebay Vanessa lagi.
“Engga usah lebay lo ah!”
“Hehe...., Ouh iya gimana bulan madu lo?” Tanya Vanessa exited.
“Ya gitu, jalan-jalan, makan bareng, belanja bareng.....”
“Mandi bareng?’’ Serobot Vanessa to the point.
“Gila lo ya!” Teriak ananda sebagai reaksi atas pertanyaan nyeleneh sahabatnya itu.
“Ya ampun sewot amat, cerita kali Nand?”
Ananda berpikir sejenak menimbang-nimbang apakah harus menceritkan kepada orang lain perihal dilemanya.
“Gue bingung Sa.” Akhirnya Ananda memberanikan diri untuk mengutarakan dilema hatinya kepada Vanessa.
“Dilema apalagi sih Nan? Lo itu harusnya bersyukur kali udah dijadiin istri dari seorang Abimanyu Respati, lo tau kan suami lo itu MOST WANTED dikalangan para wanita?!” Ujar Vanessa sambil menekan
dua kata yang dianggap sedikit berlebihan bagi Ananda.
Vanessa berujar lagi, “Oke gue ngerti arah pembicaraan Lo ini kemana, Lo masih mikirin si Zian lagi kan?!”
Tepat sasaran.
Mulut Ananda langsung kelu saat Vanessa bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Menjadi sahabat sejak SMA bukanlah hal baru jika keduanya memiliki radar untuk mencium sesuatu yang tidak beres
menimpa salah satu diantara mereka.
“Gue kasih tau sama Lo ya Nand, Gue lebih setuju kalau Lo sama Mas Abi bukan sama Zian. Zian itu PLAYER Nand.” Cerocos Vanessa lagi membuat sisi Ananda yang masih begitu mencintai
Zian bersuara, “Dia udah berubah Sa, dia udah engga pernah main-main lagi. Kita
berdua udah serius.”
“Seserius apa dia sama Lo?”
“Dia udah ada niat mau ngelamar Gue kok,”
“Niat? Gitu doang. Ya ampun, semua cowok bisa bilang gitu kali Nand, bocah smp juga bisa bilang gitu ada ni Videonya ini kalau mau gue kirimin ke Elo. Anak smp ngelamar ceweknya di depan kelas, gue
aja geli liatnya Nand,” Ujar Vanessa yang terdengar seperti nada sindiran untuk Zian. Memang sedari dulu Vanessa tidak pernah menyukai Ananda menjalin kasih dengan Zian karena lelaki itu merupaka seorang penggila wanita, setiap wanita yang berkenalan dengannya pasti akan berujung menjadi kekasih baik untuk urutan pertama, kedua, ketiga dan seterusnya. Namun Ananda yakin bahwa Zian telah berubah sejak Ananda memergokinya jalan dengan wanita lain dan berakhir dengan Zian yang memohon-mohon maaf pada Ananda oleh karena itu Ananda yakin Zian telah berubah untuknya.
“Nand, semua cowok di dunia ini itu bisa bilang mau lamar lah, mau nikahin lah. Tapi cuman sedikit yang bisa kita pegang omongannya, dan dari semua cowok yang deketin Lo. Cuman Mas Abi yang berani untuk ngelamar Lo kan?” Tanpa sadar Ananda mengangguk mendengar ungkapan sahabatnya itu.
“Gue yakin Lo ngangguk sekarang karena kata-kata Gue tadi, karena memang kata-kata gue itu bener. Udah lah Nanda lupain si Zian, liat siapa yang ada di samping Lo sekarang. Lelaki sholeh,
bertanggung jawab, mapan. Apalagi yang kurang?”
Ananda tidak tahu harus berkata apalagi, dia memilih diam.
“Kalau misalnya Lo emang engga mau, yaudah Mas Abi buat gue aja sini!” Ucap asal Vanessa.
“ENAK AJA Lo! Suami gue itu eh....” Teriak Ananda refleks lalu menutup mulutnya.
Reaksi itu pun mengundang tawa dari seberang telepon, “Cieeeeee......yang udah ngakuin suaminya haha....” Goda
Vanessa membuat Ananda malu setengah mati.
“Rese Lo!” Teriak Ananda lalu menutup panggilan telepon. Dia pun segera menutup wajahnya dengan bantal sambil
berteriak karena malu, kenapa bisa-bisanya dia bereaksi secepat itu hanya
gara-gara Vanessa menyinggung soal Abi.
Keasyikan menutup wajahnya yang malu Ananda tidak sadar bahwa ada dua langkah kaki yang mendekat kearahnya lalu menaruh sebuah kantongan plastik berwarna merah di atas nakas tempat tidur.
“Kamu udah tidur?”
Ananda menarik bantal yang sedari tadi menutup wajahnya
“Mas Abi udah pulang?!”