
"Mas balik ke kantor dulu ya, sayang." Abi pamit pada Ananda setelah lelaki itu mengantar istrinya pulang ke rumah.
Lelaki itu mengakhiri dengan sebuah kecupan sayang di pucuk kepala istrinya itu. Ananda terus tersenyum dan melambaikan tangannya sampai mobil Abi mulai menjauh dan menghilang dari pandangannnya.
Saat Ananda ingin masuk ke rumah ia baru tersadar bahwa handphonenya tertinggal di mobil sang suami. Dia benar-benar tidak sadar ketika dirinya keluar dari mobil Abi tanpa mengambil lagi handphone yang tadi sempat ia letakan di mobil.
Ananda ingin mengambil handphonenya itu tapi apa daya dia tidak memiliki kendaraan untuk menyusul suaminya.
Ananda bingung saat itu juga bagaimana dia bisa ke menyusul Abi. Kalau ingin naik taxi maka dia harus berjalan lagi untuk keluar dari komplek perumahannya ini. Sementara untuk memesan ojol pun harus dilakukan dengan perantara handphone. HuH!!!
Ananda termenung di depan rumahnya sendiri.
Tin. Tin.
Tidak lama berselang sebuah klakson sepeda motor mengganggu pendengaran Ananda tiba-tiba, di depan pagarnya kini telah ada sebuah motor skutermatic yang tengah mencoba masuk ke dalam perkarangan rumahnya dengan perlahan. Wajah pengemudinya tertutup namun Ananda langsung mengetahui siapa sang pengemudi tersebut karena itu adalah motor milik.....
"Ecca!" Teriak Ananda begitu kencang.
Ecca atau Vanessa sang sahabat karib dari Ananda pun segera membuka kaca helmnya dan tidak kalah membalas berteriak kencang.
"NANDA MA BESTIEEEE....!!!"
Keduanya pun kompak berlari ke arah satu sama lain dengan teriakan-teriakan yang mengiringi.
Keduanya merentangkan tangan lalu berpelukan. setelah keduanya berada di dalam pelukan masing-masing, keduanya sama-sama berjingkrang-jingkrak heboh karena sedang melepas rindu akibat sudah satu bulan lebih tidak bertemu.
Satu bulan ini memang Vanessa memilih mengikuti Fadil sang kekasih untuk liburan bersama ke Bali sekaligus melakukan pekerjaan proyek Fadil disana. Sehingga otomatis pertemuan antara Ananda dan Vanessa pun jarang terjadi membuat keduanya merasakan rindu menguap seketika saat mereka bertemu.
"Kemana aja sih Lo? Sibuk banget di telpon jarang diangkat. Mentang-mentang liburan sama doi," Omel Ananda ketika pelukan mereka berdua terlepas.
"Lo tau gue disana sibuk banget Nand. Harus ngikutin Fadil kemanapun. Berasa asisten dia gue nih." Keluh Vanessa membuat Ananda terkekeh.
"Itu tandanya dia dah kode mau jadiin lu istrinya kali."
"Ih! Cowo kok kodean." Canda Vanessa.
Mereka berdua pun terlihat tertawa bersama sambil membicarakan hal-hal yang tidak sempat mereka lewati bersama selama berada di dua tempat yang berbeda. Vanessa sibuk membicarakan tentang hal-hal yang ia alami selama berada di Bali dengan Fadil seperti bagaimana Fadil membawanya untuk melihat proyek-proyek dari perusahaannya hingga Fadil dengan beraninya membuat keputusan untuk melamar Vanessa di atas pasir putih sebuah pantai di Bali.
Ananda sampai terkejut saat Vanessa mengakui bahwa dirinya telah dilamar oleh Fadil. Dia pun sampai mengangkat kedua tangan sahabatnya itu untuk memastikan hal tersebut dan benar saja sebuah cincin emas putih cantik nan mengkilau telah tersemat dengan anggunnya di jari manis tangan sebelah kanan Vanessa.
Vanessa mencebik lagi, "Belum resmi kali, dia belum lamar gue di hadapan kedua orangtua gue. Itu artinya masih banyak kemungkinan di depan Nand." Tutur Ecca dengan nada tidak semangat.
"Wah ternyata lu yang ngebet ya. pingin cepet-cepet?"
Ecca menoyor kepala sahabatnya itu gemas.
"Enak aja Lo!"
"Jadi Lo udah yakin dengan Fadil?" Tanya Ananda.
"Sebetulnya sih belum Nand, gue belum ada niatan untuk kesana. Lo tahu sendiri lah gue itu gimana," Keluh Vanessa membuat Ananda merubah wajah seriusnya.
Meski terkadang terkesan kekanakan dan main-main akan hal yang berbau cinta tetapi sejujurnya Vanessa adalah seseorang yang cukup memegang tinggi sebuah ikatan pernikahan. Dirinya tidak mau terlalu cepat mengambil keputusan dengan seorang laki-laki. Maka dari itu Vanessa malah lebih senang untuk bermain-main saja dengan hubungan cintanya. Dia bahkan menganggap Fadil hanya selingan pada cerita cintanya namun dirinya kini malah salah kaprah dengan lelaki itu yang ia ajak berpacaran selama dua tahun terakhir ini. Fadil adalah lelaki yang cukup serius ternyata akan hubungan percintaan, dirinya bahkan terkadang terkesan terlalu posesif terhadap Vanessa yang memang terlalu terbuka akan setiap lelaki yang dekat dengannya membuat lelaki itu tidak bisa menahan rasa cemburunya. Vanessa adalah gadis yang tidak segan-segan untuk berjalan berdua dengan lelaki yang lain selagi dirinya menganggap bahwa hal itu masih dalam batas wajar dan juga tidak melibatkan hati.
Oleh karena itu mungkin saja alasan menguuatkan Fadil untuk segera mengikatnya dengan hubungan yang lebih serius.
"Lu jangan main-main sama hal kayak gini Ca. Ini serius. Kalau sampai Fadil udah cerita ke keluarganya kalau dia mau lamar lu gimana? Dan ternyata malah Lu yang main-main bukan cuman Lo sama Fadil yang akan ngerasain sakit Ca tapi keluarga kalian juga. Gue engga mau denger Lo curhat bilang nyesel ya nantinya," Nasihat Ananda panjang lebar.
"Tapi gue belum mau pisah sama Fadil Nand," Rengek Ecca.
"Ya Lo harus ngorbanin salah satu. Lo lepasin dia atau Lo harus jalanin hal yang masih belum mau untuk Lo jalanin."
Vanessa menarik nafas panjang lalu memposisikan dirinya menyender pada sofa. "Gue harus gimana kalau gitu?"
"Gue yakin hati Lo lebih tahu yang terbaik Ca," Jawab Ananda singkat lalu berdiri.
"Udah ah curhatnya. Yok temenin gue ke kantor suami gue!" Ajak Ananda lalu menarik tangan Ecca untuk bangun.
"Mau ngapain? Lo mau ngebucin disana. Engga ah, nanti malah gue jadi obat nyamuk." Tolak Ecca malas.
"Yeee munaroh, Gue cuman mau ngambil hp gue yang tinggal di mobil suami gue. Bentar aja ayo dong!"
Vanessa lagi-lagi mencebik kesal dengan sahabat satunya ini.
"Ck, iya-iya."
Dan dengan bujuk rayuannya Ananda berhasil membuat Vanessa mau mengantarkannya ke kantor Abi.