MY IMAM

MY IMAM
Episode 31 Kata hati



Vanessa kembali ke ruang tamu setelah sebelumnya membuatkan teh mint untuk sang sahabat agar ia lebih tenang, namun setelah kembali ke ruang tamu dan menemukan Ananda yang telah tertidur pulas Vanessa pun hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam.


Melihat sang sahabat yang tertidur di atas sofa membuat Vanessa iba seketika. Apalagi kini Vanessa tahu bahwa sahabatnya itu tengah mengandung bukan hal yang nyaman jika harus berbaring di atas sofa yang tidak begitu luas. Oleh karena itu Vanessa dengan pelan-pelan membangunkan Ananda untuk berpindah tempat tidurnya.


"Nand, Nand!. Pindah yuk ke kamar, kasihan bayi lo nanti kalau tidur di sini."


Ananda mengucek matanya yang sedikit membengkak akibat terlalu banyak menangis, dia terduduk sebentar untuk mengembalikan nyawanya seutuhnya.


Dengan gontai ia mengikuti langkah Vanessa yang membawanya ke dalam kamar wanita itu dan langsung merebahkan punggungnya ke atas kasur.


"Kalau butuh apa-apa panggil gue ya, gue di ruang tengah."


Ananda mengangguk pelan sebagai jawaban.


"Nih juga gue buatin teh mint supaya Lo rileks," Vanessa meletakan secangkir teh mint hangat di atas nakas samping tempat tidur. Setelah itu wanita itu pun melenggangkan kaki keluar kamar untuk menonton televisi dan meninggalkan Ananda untuk beristirahat.


Di lain tempat, Raline sadar bahwa dirinya menjadi biang keladi atas kesalahpahaman sang atasan dan juga istrinya. Raline sungguh merasa bersalah karena dirinya yang tidak sengaja berduaan di dalam ruangan bersama Abi menyebabkan kesalahpahaman dari Ananda den membuat pasangan itu terlibat pertengkaran.


Raline mendekati Abi yang mulai masuk ke ruangannya setelah sebelumnya sempat mengejar sang istri, "Pak saya mohon minta maaf karena saya bapak dan is-..."


"Sudah engga papa Line, ini bukan salah kamu ini cuman salah paham. Ananda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi," Tutur Abi.


"Ya tapi pak gara-gara saya istri bapak jadinya salah paham." Ucap sesal Raline dengan wajah yang gusar.


"Ananda hanya terbawa sensitif kehamilannya saja. Jadi kamu tidak usah menyalahkan diri sendiri ya," Abi melihat ke arah luar gedung melalui dinding kaca ruangannya yang terdapat panorama Jakarta dari sini.


"Kamu boleh pergi," Perintah Abi pada Ananda membuat wanita itu mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya ke arah luar.


"Sekali lagi saya minta maaf pak." Kata Raline sebelum akhirnya menutup pintu ruangan mantan kekasihnya itu.


***


Jam kantor telah habis sejak 10 menit yang lalu namun Abi masih betah memandang panorama kota dari ruangannya, entah mengapa dia malas untuk kembali ke rumahnya. Dia sebetulnya belum siap untuk memandang wajah kecewa istrinya itu. Dia sadar sekeras apapun ia membela diri nanti di hadapan istrinya, pastinya dia juga akan tetap disalahkan. Ananda adalah tipikal orang yang keras kepala, dan sulit untuk di padamkan ketika amarahnya telah memuncak.


Langit sore mulai menggelap dikarenakan awan mendung mulai mengitari langit Jakarta. Abi menerka bahwa sebentar lagi akan ada hujan yang cukup deras.


Dengan malas Abi memakai kembali jasnya yang sempat ia gantung di atas kursinya dan tidak lupa pula ia menunggut handpohone serta kunci mobilnya untuk segera kembali ke dalam rumah.


Kantor mulai sepi saat Abi mulai menyusuri koridor menuju tempat lift berada hanya tersisa beberapa karyawan yang masih mengerjakan kerjaan lembur mereka. Setelah masuk ke dalam lift dan menekan angka 1 atau lantai dasar, Abi segera berdiri tegak kembali untuk menunggu sampai lift selesai untuk membawanya ke lantai dasar namun belum juga pintu itu tertutup Abi melihat siluet Raline tengah menuju lift membuat Abi menahan pintu itu untuk Raline dapat masuk.


"Bapak duluan saja saya nunggu lift berikutnya," Raline sadar bahwa sang bos menahan pintu lift untuknya.


Abi masih memegang pintu itu agar tidak tertutup, "Masuk saja," Perintah Abi.


"Saya tidak enak pak. Apalagi tadi banyak karyawan yang mulai menggosip yang tidak enak tentang kita, Saya tidak mau itu menjadi fitnah." Kata Raline.


"Justru jika kamu terus berdiri di depan saya begini. Karyawan malah makin curiga dengan kita. Sudah lah masuk saja," Ucap Abi tegas membuat Raline tidak bisa lagi mengelak dan segera masuk ke dalam lift, dirinya memilih berdiri agak berjauhan dari Abi karena rasa canggung yang tiba-tiba hinggap di dalam dirinya.


"Kamu pulang dengan siapa?" Tanya Abi membuka pembicaraan demi untuk memecah keheningan antara keduanya.


Raline mengangkat kepalanya yang sebelumnya merunduk ke bawah, "Saya di jemput pak."


"Sama siapa?!" Tanya Abi spontan, "Pacar kamu?"


"hmmm."


"Terus siapa?"


Suara dentingan lift membuyarkan obrolan mereka dengan itu Raline segera mendahului Abi yang terlihat ingin membuka kembali mulutnya untuk berbicara.


Wajah Abi tersenyum maklum dengan tingkah Raline sedari tadi yang seolah-olah mencoba menjauh darinya akibat dari kejadian tadi sore itu.


Sebenarnya Abi tidak menyalahkan siapa pun akan kejadian tadi sore karena itu memang murni kesalahpahaman dari Ananda, namun kini mengapa Raline malah merasa begitu merasa bersalah.


Abi mulai berjalan kembali dengan salah satu tangannya masuk ke dalam kantung celananya.


Hingga ke tempat parkiran Abi masih bisa melihat Raline yang terduduk sendiri di bawah pos satpam, mungkin wanita itu tengah menunggu jemputannya.


Mata Abi terus memandang wanita itu tanpa berhenti bahkan sampai ia masuk ke dalam mobilnya mata Abi terus saja melihat ke wajah Raline.


Abi mulai menjalankan mobilnya hingga ia hendak keluar dari pagar kantornya itu Abi kembali melihat Raline yang mulai menggosok-gosokkan tangannya akibat angin yang mulai berhembus kencang di bawah pos satpam itu membuat wanita itu kedinginan.


Abi secara otomatis menurunkan kaca mobilnya dan menghentikan mobil tepat di depan Raline. "Ayo saya antar," Tawar Abi kepada Raline.


"Engga usah pak, sebentar lagi jemputan saya sampai kok,"


"Iya tapi kan ini mulai turun hujan. Sudahlah naik saja," Kata Abi sambil memandang langit seolah mencoba meyakinkan Raline bahwa sebentar lagi akan turun hujan.


Raline masih bergeming. Membuat Abi kesal setengah mati. Abi segera mengambil jaket kulitnya yang berada di barisan kursi belakang mobil dan segera turun dari mobil itu.


Dia dengan cepat berlari mendekati Raline yang masih setia berdiri di bawah pos satpam.


"Kalau tidak mau saya antar baiklah, tapi saya mohon kamu pakai ini," Kata Abi sambil menyerahkan sebuah jaket kulit hitam yang ia ambil dari mobilnya tadi.


"Buat apa?" Tanya Raline tanpa memandang ke arah wajah sang lawan bicara.


"Saya tidak mau kamu kedinginan."


Raline otomatis memandang wajah Abi dengan tatapan yang begitu marah, "Pak, saya mohon. Berhenti untuk memperlakukan saya seperti ini." Ucap Raline dengan mimik muka yang terlihat marah.


"Maksud kamu?" Tanya Abi tidak mengerti.


"Bapak ngerti engga sih, bapak itu memperlakukan saya berbeda dengan karyawan yang lain. Bapak begitu perhatian dengan saya. Saya takut saya merasa istimewa karena itu pak,"


"Siapa berkata seperti itu, saya memperlakukan kamu berbeda karena kamu sekretaris dari adik saya bukan karena saya punya maksud lain. Saya sudah memiliki istri jadi jangan sampai kamu berharap yang tidak-tidak." Bela diri Abi yang tidak mau di salahkan.


"Kalau begitu berhenti untuk perduli dengan saya mulai sekarang," Ucap Raline menolehkan pandangannya ke arah jalanan.


"Baik,. Saya akan berhenti untuk bersikap perduli sama kamu yang entah mengapa memang diri saya yang mau untuk melakukan nya. Saya juga tidak mengerti dengan diri saya kenapa saya mau begitu perduli setiap dengan kamu. Tapi jika memang itu kemauan kamu, saya turuti."


Abi lalu meletakan jaket itu ke atas meja satpam disana dan berkata, "Tapi untuk terakhirnya saya mohon kamu pakai jaket itu." Final Abi lalu berlari mengitari mobil dan masuk ke dalamnya.


Hingga ke empat roda mobil Abi mulai berjalan menjauh, Raline tetap saja tidak mau memandang wajah lelaki itu.