
“Mas Abi udah pulang?!”
Abi mengangguk atas jawaban istrinya,
“Tuh, mas beliin kamu makan malem!” Tunjuk Abi ke arah nakas yang disana sudah terletak
sebuah plastik berisi bebek bakar. Ananda sumringah bukan main saat mengetahui
apa yang dibawa pulang suaminya itu, Tidak henti-hentinya ia ucapkan terima
kasih. Abi tersenyum saat melihat bagaimana reaksi Ananda menemukan makanan
favoritnya, dan jangan tanyakan kenapa Abi bisa tahu segala kesukaan istrinya
itu, mulai dari makanan, minuman, warna, lagu hingga drama korea kesukaan
Ananda pun Abi mengetahuinya.
Salahkan saja mulut ember Vanessa yang
menjadi informan bagi Abi, Abi pun heran kenapa Vanessa begitu mendukung
hubungan keduanya yang jelas Abi bersyukur akan kehadiran Vanessa sebagai sahabat dari istrinya.
Setelah menghabiskan makan malam bersama keduanya memilih untuk membaringkan tubuh di atas kasur hotel yang cukup besar bagi keduanya. Meski telah memutuskan untuk tidur bersama, tetap saja keduanya
tidur dalam keadaan berjarak jauh. Ananda berada disisi ranjang sebelah kanan
sementara Abi berada di sisi ranjang sebelah kiri menunjukan bahwa masih ada
rasa canggung di antara keduanya yang susah untuk diruntuhkan.
“Dek...’’ Panggilan Abi membuat Ananda yang sebelumnya membelakanginya menoleh.
“Iya Mas?”
"....."
"Mas!"
“Shall we....?” Ungkap Abi tertahan namun Ananda mengerti akan apa yang dimaksud suaminya itu namun Ananda juga tidak tahu harus bereaksi apa. Haruskah dia melakukannya di saat dia tengah
berada di dalam dilema.
“Tapi kalau kamu engga mau juga engga papa.” Abi membelakangi Ananda kembali dan mencoba memejamkan matanya berniat untuk tertidur.
Ananda yang melihat itu langsung menyentuh lengan suaminya dan berkata, “I do.”
Abi membuka kelopak matanya seketika karena terkejut akan ucapan singkat Ananda tadi, dia lalu membalikan badannya menghadap istrinya lagi. “Dek....” Abi membelai puncak kepala Ananda serta
menatap manik mata berwarna coklat di depannya, “Kamu engga perlu melakukan
jika memang kamu terpaksa.”
Ananda menggeleng cepat, “Aku udah bilang sebelumnya untuk ajarkan aku mencintai suami aku seutuhnya, maka
sekarang adalah saatnya mas. Aku tidak merasa terpaksa. Kita melakukannya
karena CINTA.” Ananda menekan kata terakhirnya untuk meyakinkan Abi.
Hingga akhirnya malam itu pun menjadi malam pertama bagi mereka untuk menjadi sepasang yang seutuhnya.
***
Masa lalu:
“Nand,itu Zian kan? Sama siapa dia tuh!” Kata Vanessa yang menunjuk kearah sepasang
laki-laki dan perempuan yang tengah makan malam di sebuah kedai makan lesehan
di depan pertokoan.
Ananda memicingkan mata mencoba mengamati secara lebih detail apakah itu benar
Ziannya?, hingga laki-laki itu tidak sengaja melihat kearahnya dan Vanessa dengan
raut muka seperti seorang pencuri yang tengah tertangkap basah. Bergegas lelaki
itu melepaskan rangkulan tangannya di pundak wanita yang juga duduk di
sampingnya.
Vanessa yang pintar membaca situasi segera mengambil langkah seribu dengan membawa
Ananda kembali ke dalam mobil mereka. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada
sahabatnya itu dan soal Zian, memang sedari awalnya pacaran Ananda dengan Zian,
Vanessa telah mewanti-wanti sahabatnya akan sifat asli Zian yang terkenal
berbahaya.
Mereka sampai di rumah Ananda tepat saat sebuah mobil juga terparkir di belakang
mereka. Zian ternyata mengejar mereka.
“Ngapain lagi lo kesini?” Teriak Vanessa kearah Zian.
“Gue engga ada urusan sama lo,” Balas Zian lalu mendekati Ananda.namun semakin
mendekat tubuh Zian pada Ananda maka semakin membuat tubuh wanita itu mundur
“Nan, dengerin aku dulu!”
“Zian, aku kecewa sama kamu, aku bela-belain kamu ketika semua teman aku jelekin kamu
dan bilang kamu yang engga-engga. Aku coba pertahanin kamu dan engga percaya
semua omongannya Vanessa. Tapi sekarang apa, semua kata orang bener tentang
kamu Yan.”Cerocos panjang Ananda dengan nada yang bergetar menahan emosinya.
“Nand, MAAFIN AKU”
***
Paginya Ananda terbangun dengan Abi yang sedang memeluknya.
Ada desiran singkat di hati Ananda saat dirinya bisa melihat dengan begitu dekat wajah suaminya itu. Wajah yang tegas, hidung yang mancung, alis mata lebat serta rimbunan bulu halus yang mengitari
wajahnya membuat Ananda terkadang berpikir mengapa Ananda susah sekali menaruh
hatinya kepada lelaki di sebelahnya ini di saat di luaraan sana terdapat
puluhan wanita yang siap menerima Abi kapanpun.
Bukan hanya sekedar menerima, namun mati
untuk memperebutkan Abi pun mungkin mereka rela. Suaminya adalah definisi dari
lelaki yang digandrungi seluruh wanita.
Ananda sadar bahwa ada sesuatu di dalam diri suaminya yang menjadi daya pikat untuk kaum hawa, yaitu sifat pelindung dan menghormati sisi kewanitaan. Suaminya itu memandang bahwa wanita bukanlah
sebuah objek namun baginya wanita adalah sesosok yang harus selalu di hormati
haknya. Itu tercermin bagaimana suaminya itu bersabar atas Ananda yang masih
ragu melakukan kewajibannya sebagai seorang istri hingga malam tadi mereka
melakukan hal itu untuk pertama kali.
***
Zian hari ini memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena baru saja mendapatkan job pemotretan untuk salah satu majalah di ibukota. Awalnya Zian menolak tawaran pekerjaan ini karena masih betah berada di Bali dan ingin menikmati masa-masa libur yang jarang ia dapatkan sejauh ia menjalani pekerjaannya sebagai
fotografer yang handal namun saat bayangan Ananda dan suamminya melintas
dipikiran Zian, ia pun segera memutuskan untuk menerima tawaran pekerjaan itu.
Percuma pikir Zian jika liburannya di Bali menjadi masa di mana ia harus
melihat Ananda bermesraan dengan lelaki lain.
Zian menarik kopernya dengan cepat ke
arah dalam bandara membuat Doni yang memang ikut pulang bersamanya harus
ngos-ngosan karena langkah kaki Zian yang dinilai begitu cepat dalam melangkah.
“Santuy kali cuy! pesawat kita masih ada setengah jam lagi terbangnya.” Tegor Dion saat Zian telah duduk di salah satu bangku tunggu.
Zian tidak memperdulikan cakap temannya
itu dan malah memilih untuk membuka aplikasi game online favoritenya. Menurutnya
akan sangat membosankan menunggu keberangkatan yang masih 30 menit lagi itu,
jadi sebaiknya dia melakukan suatu hal yang menyenangkan sembari menunggu.
Bermain game misalnya.
Sedang asyik-asyiknya bermain game, satu
tangan mendarat di pundaknya, karena merasa terganggu. Segera Zian menegur Doni
yang ia kira sebagai pelaku tanpa melihat kearah Doni. “Jangan gangguin gue
Don!” peringat Zian. Namun Doni yang dituduh tersangka hanya mengernyit heran
karena Doni sendiri juga sedang bermain game di sampingnya.
“Gangguin apaan?”
“Tangan lo dipundak gue!”
“Mata lu, tangan gue di hp ini
dua-duanya.” Ucap tidak terima Doni.
“Jadi tangan yang diatas pundak gue,
tangan siapa? Ucap Zian panik takut-takut ada makhluk halus yang menyentuhnya.
Namun saat dia melihat kearah pemilik tangan yang tadi di atas pundaknya Zian
otomatis tersentak kaget bagaimana tidak.
Bahwa pemilik tangan tadi adalah.....
“Zian!”
“Vita ?!” Pekik kaget Zian.