
Faiz menurunkan sebuah dokumen dan segera melemparkannya ke atas meja setelah habis membaca lembaran demi lembaran dokumen tersebut, ia dengan cepat meraih telepon di atas mejanya dan mulai melakukan pembicaraan dengan orang di seberang telepon.
"Saya butuh fotografer handal untuk iklan produk kita dua hari lagi," Ucapnya to the point.
"Saya tidak mau tahu secepatnya seorang fotografer handal harus sudah hadir di kantor besok pagi untuk melakukan kontrak. Titik!" Lanjut Faiz lalu menutup sambungan teleponnya paksa.
Dibalik sifatnya yang terkadang ramah namun Faiz juga memiliki karakter keras serta perfeksionis yang memang membuat beberapa bawahannya terkadang merasa tertekan selama Faiz memegang kendali perusahaan.
Faiz tidak akan segan-segan menegur dengan keras bawahannya yang ketahuan tidak kembali tepat waktu setelah makan siang ataupun melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan mereka. Baginya pekerjaan harus dilakukan secara benar dan cepat.
Hal itu yang terkadang membuat beberapa karyawan mengeluh karena perintah Faiz yang suka mendadak dan harus cepat di selesaikan.
Seperti yang saat ini di alami oleh divisi pemasaran yang harus terpontang-panting menghubungi satu-persatu fotografer handal yang terkenal di negeri ini untuk melakukan pemotretan iklan produk terbaru yang perusahaan Abi keluarkan.
"Udah dapet?" Tanya manajer divisi pemasaran pada seluruh anak buahnya yang terlihat begitu sibuk sekarang ini.
"Belum pak, kebanyakan fotografer udah punya jadwal untuk besok dan lusa. Selain itu banyak juga yang mematok harga terlalu tinggi karena kita yang menghubungi secara mendadak." Ucap salah satu pegawai pada si manajer.
"Waduh! gawat ini. Bisa-bisa si bos bisa ngamuk." Teriak si manajer frustasi.
"Bos! boleh saya kasih saran?" Tanya salah satu pegawai.
"Apa?! Cepetaannn jangan bertele-tele." Jawab si manajer dengan gemas membuat yang lain yang ada di ruangan itu ikutan tegang di buat si manajer.
"Saya punya kenalan fotografer yang sudah sering wara-wiri keluar negeri untuk ikut lomba pemotretan,dia sebenarnya fotografer majalah sih, bukan iklan produk seperti yang kita butuhkan tapi saya yakin bos dia bisa. Dan soal harga kita bisa nego." Ujar si pegawai lelaki dengan model rambut belah tengah itu.
"Yasudah hubungi sekarang, kalau bisa besok dia harus sudah tanda tangan kontrak."
"Oke pak!"
Si pegawai pun menjauh dan mulai melakukan panggilan telfon dengan si fotografer yang di maksud tadi. Tidak berselang lama pegawai itu pun kembali dalam kerumunan dengan wajah yang di buat kecewa, semua orang tampak tegang dibuatnya menunggu keputusan, apakah fotografer itu bisa datang besok atau tidak dan akhirnya si pegawai lelaki itu merubah raut wajahnya menjadi tersenyum sumringah dan mengatakan....
"Dia bilang, DEAL!" Teriaknya membuat seisi ruangan divisi pemasaran ikut berteriak kegirangan.
Si manajer pun langsung menghubungi si bos yang telah menunggu informasi darinya. Manajer itu mengatakan dengan semangat bahwa dia telah mendapatkan fotografer beserta timnya untuk melakukan kontrak besok.
***
Besoknya......
Zian beserta Dion mulai melangkahkan kaki mereka masuk ke dalam sebuah gedung pagi ini, mereka telah dijadwalkan untuk menandatangani sebuah kontrak dengan sebuah perusahaan untuk melakukan pemotretan terhadap sebuah produk dari perusahaan tersebut.
Dion tampak begitu bersemangat karena dia beserta Zian berhasil mendapatkan sebuah kontrak dengan perusahaan besar, meski untuk pertama kalinya harus menangani sebuah pemotretan produk kemasan, Dion yakin hasil mereka akan di sukai oleh klien kali ini.
"Gede banget gedungnya Sob!" Kata Dion tidak percaya kepada Zian, sedangkan Zian hanya memutar bola matanya yang malas melihat tingkah norak Dion tersebut.
Zian menghentikan jalannya di depan meja resepsionis.
"Permisi mbak, saya sudah punya janji dengan Bapak Faiz pagi ini, boleh di beritahu ruangannya?." Tutur Zian langsung pada inti membuat sang resepsionis mengerti.
"Dengan Mas Zian ya?" Tanya resepsionis balik.
Zian mengangguk dan diikuti oleh Dion.
"Baik. Kedatangan mas memang telah di tunggu dari tadi sehingga Mas berdua bisa langsung ke lantai 12 di sana sudah ada salah satu karyawan yang akan mengantarkan mas-mas ke dalam ruangan."
Dengan itu Zian mengucapkan terima kasih kepada si resepsionis dan mulai berjalan ke arah lift. Namun yang membuatnya kesal adalah ternyata Dion malah masih sibuk berdiri di depan meja si resepsionis dan sesekali mencoba menggodanya.
Zian pun segera maju dan menarik tangan sahabatnya itu dengan kesal.
Sementara yang di marahi malah senyum-senyum tidak jelas.
Zian pun menekan tombol 12 setelah sampai di dalam lift hingga lift itu berjalan seperti semustinya.
Tidak lama sebuah suara dentingan serta pintu lift yang terbuka menandakan bahwa mereka telah sampai pada tujuan.
Mereka langsung disambut dengan seorang wanita berpakaian serba biru dongker yang menanyakan apakah mereka fotografer yang sudah di tunggu.
Zian mengangguk sebagai jawaban. Pegawai wanita itupun menggiring mereka ke dalam sebuah ruangan yang mungkin adalah sebuah ruangan untuk pertemuan.
"Selamat pagi!" Ucap seorang lelaki dengan jas serta dasi yang rapi berwarna silver.
"Selamat pagi." Balas Zian dan Dion bersamaan.
"Mari duduk," Ajak lelaki tadi.
Keduanya mengangguk lalu mulai duduk di atas kursi yang telah disediakan
"Anda orang inggris?" Tanya Lelaki tadi lagi.
"Tidak. Mengapa anda bertanya seperti itu?" Heran Zian.
"Oh tidak, hanya saja aksen inggris anda begitu kental."
Zian terkekeh, akhirnya ada orang yang menyadari akan aksen bahasanya yang sedikit berbeda dari orang kebanyakan di sini.
"Saya pernah tinggal di Inggris ketika saya kecil." Jelas Zian membuat si penanya hanya ber-oh ria.
"Baiklah kalau begitu ini adalah surat kontrak yang kami ajukan. Anda boleh membacanya terlebih dahulu, di situ tertera kami akan menggunakan jasa anda selama beberapa minggu ke depan dengan rincian harga yang sudah sama-sama kita sepakati sebelumnya,"
Zian membaca secara rinci surat tersebut setelah sepakat dengan setiap poin di dalam surat itu, Zian pun segera menandatanganinya.
Zian segera mengembalikan surat itu lagi kepada kliennya tadi.
"Terima kasih."
"Terima kasih kembali, senang bertemu anda."
Setelah saling berjabat tangan dan deal akan perjanjian mereka, Zian dan Dion pun segera bangkit dan hendak meninggalkan ruangan tersebut. Hingga suara pintu yang terbuka menampilkan seorang lelaki dewasa yang membuat Zian terpaku memandangnya.
Bahkan bukan hanya Zian, lelaki di depannya itupun ikut mematung karena melihat kehadiran Zian disini.
"Siapa ini Iz?" Tanya Abi pada sang adik yang berdiri tidak jauh darinya.
"Ouh mereka ini fotografer untuk produk kita, ini yang aku bilang semalam." Kata Faiz enteng. Dia sama sekali tidak menyadari tatapan saling membunuh dari kedua orang yang berdiri di depannya.
Zian mencoba mencairkan suasana yang mulai canggung, dia lalu menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Abi, "Saya Zian, saya fotografer untuk produk anda." Ucap Zian mencoba mengintimidasi Abi.
Abi yang tidak mau kalah pun segera menyambut uluran tangan Zian yang sempat ia hiraukan, "Saya Abi, Saya pemilik perusahaan ini."
TBC.
***
**Akhirnya up dalam waktu berselang satu hari semoga bisa seperti ini terus ya.
Maafkan segala typo hehe :**