
Raline masih terlihat serius di depan komputernya padahal jam kerja sudah sedari tadi
berakhir. Namun, dikarenakan deadline laporan yang harus dikumpulkan besok membuat dirinya harus lembur hari ini.
“Lo serius ditinggal sendirian disini?” Tanya Susi sambil membereskan
barang-barangnya hendak pulang.
“Ya mau gimana lagi. Kaya kata si nenek lampir, hitung-hitung ospek pegawai baru
untuk gue,”
“Yaudah, kalau gitu ati-ati. Kalau ada dedemit disini, Lo ajakin ngobrol aja sekalian
buat temen ngobrol kkkk.” Kekeh Susi menggoda Raline.
“Sinting Lo! Dah sono pulang!’’
“Yeee.... emang Gue mau pulang. Selamat bekerja Raline saayang.” Ejek Susi sambil berlalu
menjauh dari mejanya.
Raline kembali fokus pada layar yang kini menampilkan grafik-grafik keuangan
perusahaaan. Lima belas menit telah berlalu sejak dirinya ditinggalkan
sendirian oleh Susi, Raline merasa bahwa hanya dirinya yang tertinggal disana
sendirian. Beberapa kali pikiran-pikiran yang menjerumus kepada hal-hal yang
menyeramkan hinggap dikepalanya. Namun segera ditampik dengan beberapa kali
mencoba bersenandung.
Beberapa kali Raline mendengar suara derap langkah dari ruang di depannya. Ruang yang
merupakan milik Abi sang atasan.
Kini suara itu makin terdengar jelas mendekati pintu seperti ada makhluk di dalamnya
yang hendak keluar.
Dan akhirnya Raline sadari bahwa kenop pintu mulai bergerak seperti ada yang hendak
membukanya. Keringat dingin mulai membasahi dahinya membayangkan yang
tidak-tidak akan menimpanya segera.
Ci.....ut!
“Lho! Kamu kok belum pulang?” Suara berat Abi membuat wajah pucat Raline melepas
lega. “Alhamdulillah!”
“Wajah kamu kok pucet?”
“Eunggg.... engga papa kok pak. Cuman tadi kirain tinggal saya saja yang dikantor rupanya
bapak juga masih...”
“Ouh kamu kirain saya setan?”
“eh engga gitu kok pak,” Wajah Raline berubah menjadi tidak enak. Abi
tersenyum geli melihat tingkah Raline. Namun hatinya seperti menemukan sesuatu yang telah lama hilang. Sesuatu yang dulunya pernah hadir namun entah dimana.
“Sudah pulang saja. Kerjain dirumah atau bisa dikerjakan besok.” Ujar Abi.
“Tapi kata Mbak Titin deadlinenya besok pagi pak.”
“Sudah siang aja kamu kumpulinnya.”
“beneran pak?” Tanya Raline yang dibalas anggukan oleh Abi.
***
terduduk di halte di depan gedung.
“Lagi nungguin ojol pak, tapi lama banget ini.”
“sudah cancel saja. Saya anterin kamu.”
“enngga usah pak. Saya naik ojol saja.” Tolak halus Raline.
“yaudah...tapi jangan nyesel ya. Bentar lagi sepertinya mau hujan nih!” Abi mencoba
melihat-lihat kearah langit yang memang mulai tampak mendung.
Raline tampak berpikir sejenak mencoba meyakinkan diri untuk menerima ajakan Abi. Tapi
apa nanti dikata orang jika melihat dirinya satu mobil dengan suami orang. Namun
setelah berpikir panjang akhirnya Raline mau masuk kedalam mobil milik Abi.
Mencoba tidak perduli akan perang batin yang terjadi di dalam dirinya. Toh, ini
juga bukan kemauannya tetapi ajakan dari Abi sendiri.
“Kamu tunjukin jalannya ya.”
Raline mengangguk.
***
Selama di perjalanan hanya suara deru mesin mobil yang menemani kesunyian di mobil yang di dalamnya terdapat Abi dan Raline. Raline sendiri sedari tadi hanya melihat keluar jendela enggan untuk beradu pandang
dengan Abi.
“kamu pegawai baru ya?” Akhirnya ada sebuah percakapan
yang terlontar dan itu adalah milik Abi.
“hmmm...iya pak.” Jawab singkat Raline.
“Panggil Mas Abi aja kalau di luar jam kantor. Sepertinya umur kita tidak terpaut jauh juga.”
“ouh iya Mas Abi.” Akhirnya setelah sekian lama kini Raline bisa memanggil nama itu lagi dengan bebas tanpa harus menyertakan embel-embel sebagai wujud hormat kepada atasan.
Dan akhirnya Raline memberanikan diri untuk melihat wajah Abi. Wajah yang dulunya sempat menjadi alasan bahagianya. Alasan Raline untuk tersenyum.
“Di persimpangan nanti belok kiri aja ya Mas Abi.” Ujar Raline pada Abi.
Abi mengangguk lalu menuruti perintah dari Raline yang menyuruhnya untuk berbelok.
***
“Ini rumah kamu?” Abi sekarang tengah memandangi sebuah rumah yang tadi di katakan oleh Raline sebagai rumahnya. Namun ada yang membuat Abi merasa aneh, dia seperti merasa bahwa rumah ini tidak asing baginya.
“Ini rumah om saya Mas, rumah orang tua saya di Jogja.”
“hmmm....tapi saya kok engga merasa asing ya disini. Kayak pernah melihat rumah ini.”
Raline buru-buru menampilkan wajah sewajarnya setelah mendengar penuturan dari Abi tadi, di dalam batinnya sendiri sedang berkecamuk ingin mengatakan yang sesungguhnya kepada Abi.
“Ouh kamu anak rantauan?” Tanya Abi lagi, Raline tersenyum lalu mengangguk.
“yaudah kalau begitu saya pulang dulu, sepertinya langit memang mau hujan.” Lanjut Abi sambil sesekali menoleh ke arah langit yang semakin mendung.
“iya Mas Abi kalau begitu Terima kasih atas tumpangannya ya. Hati-hati!.”
“iya sama-sama. Kalau gitu saya pulang dulu ya, salam buat keluarga di dalam.”
Abi pun meninggalkan Raline sendirian di depan gerbang rumahnya. Didapati oleh Abi bahwa dirinya termenung memikirkan sesuatu. Sesuatu yang membuat dirinya seperti mendapatkan potongan-potongan kehidupannya terdahulu, kepingan kehidupan yang pernah utuh serta membuatnya benar-benar merasa lengkap. Tanpa tersadar satu bulir air mata jatuh dari pelupuk matanya. Ia rindu akan sesuatu yang baginya sendiri tidak bisa menjelaskan akan hal apa yang benar-benar ia rindukan.
Sedangkan Raline masih setia berdiri memandangi kepergian mobil Abi dengan tatapan sendu. Masih segar dalam ingatan Raline saat dirinya membawa Abi untuk diperkenalkan kepada keluarga besarnya. Saat itu dengan bahagianya Raline memperkenalkan Abi sebagai kekasihnya yang disambut baik oleh keluarga Raline disana. Bahkan dalam waktu singkat saja Abi terlihat bisa begitu berbaur dengan semua sanak keluarganya. Namun takdir berkata lain, kini Raline tidak bisa lagi mengakui bahwa Abi miliknya dikarenakan sekarang bahwa mereka sudah tidak bersama, ditambah lagi bahwa Abi sekarang telah memiliki pendamping hidupnya sendiri. Alasan terbesar mengapa Raline tidak berani mengutarakan kepada Abi tentang rahasia terbesar.
Rahasia bahwa Abi
pernah kecelakaan yang mengakibatkan nya HILANG INGATAN!.