MY IMAM

MY IMAM
Episode 34



Tiga hari kemudian


Ananda memutuskan untuk memilih pulang ke rumah orang tuanya setelah hampir tiga hari menetap di apartment Vanessa, selain karena Abi yang juga belum menjalankan persyaratannya untuk memecat Raline juga dikarenakan ia yang tidak enak dengan sahabatnya yang telah banyak ia repot kan selama tinggal di tempat tinggal disana.


Kini ia masuk ke dalam kamar lamanya selama ia masih gadis, memori-memori indah pun langsung terbayang ketika ia menjadi anak tunggal dari seorang Nugraha, seorang pengusaha swasta yang cukup terkenal di negeri ini.


Ananda anak tunggal itulah alasan mengapa papanya cukup selektif dalam menentukan jodoh yang terbaik untuk anaknya. Papanya juga yang langsung mengatakan tidak ketika Ananda mengatakan bahwa ia memacari seorang yang bekerja sebagai fotografer dulu yaitu Zian. Ananda bahkan sempat membenci papanya itu karena terlalu posesif terhadapnya meski umur Ananda saat itu sudah tidak anak-anak lagi.


Meski begitu Ananda juga memiliki seorang Mama yang begitu sayang padanya, mamanya tidak melarang Ananda untuk berpacaran dengan siapapun selagi laki-laki itu Bertanggung jawab kepadanya, baik dan juga sopan terhadap orang tua. Bahkan Mamanya itu juga telah menyetujui hubungan Ananda dan Zian terdahulu tapi karena suara sang papa adalah suara mutlak yang harus dipatuhi maka tidak ada kata menolak bagi Ananda saat itu ketika harus memutuskan Zian dan menikah dengan Abi.


Ananda mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tersisa di lemari lamanya itu, beberapa potong baju bahkan terlihat bersih dan wangi mungkin karena sang mama yang rutin mencucinya meski tidak pernah Ananda kenakan.


Setelah mengganti pakaiannya dia pun turun ke lantai bawah dimana ia melihat sang mama tengah memasak untuk makan malam.


"Masak apa ma?" Tanya Ananda membuat sang mama terkejut karena sedang fokus memasak.


"Ih kamu nih bikin kaget aja, mama lagi masak sop. Kamu bisa kan makan sop soalnya papa yang minta ini." Mamanya bertanya karena takut Ananda yang hamil tidak selera untuk makan sop daging.


"Engga kok ma, aku bisa kok makannya. Oh ya papa mana?" Tanya Ananda setelah celingak-celinguk melihat seisi rumah tidak tampak keberadaan sang papa.


"Belum pulang ngantor, udah kamu duduk aja dulu. Sebentar lagi mama siap kok, mama mau tanyak sesuatu."


Ananda mengangguk lalu memposisikan dirinya di salah satu kursi di meja makan.


"Jadi~?" Mamanya langsung berbicara seraya meletakan hasil masakannya ke atas meja makan.


"Apanya yang jadi sih ma?"


Mama otomatis terduduk dan melihat wajah anaknya dengan lekat, "Kamu kok tiba-tiba pulang?"


Ananda yang tidak siap dengan pertanyaan itu hanya bisa gelagapan sambil mencoba mencari alasan dalam kepalanya.


"Yaa Ampun ma, Anaknya pulang kok ditanyain sih. Aku tuh kangen mama sama papa doang kok. Engga ada yang lain."


"Kangen, atau kamu lagi kabur dari rumah?" Sindir Nyonya Nugraha tepat sasaran yang langsung membungkam mulut anak perempuan tunggalnya.


Ananda tidak tahu harus bereaksi apalagi, dari dulu memang susah sekali untuk membohongi ibunya satu ini. Ibunya akan tabu langsung jika ia sedang berbohong tanpa harus Ananda mengungkapkan kebenarannya.


"Mama dikasih tahu Abi kalau kamu udah engga pulang kerumah selama tiga hari ini, mama juga tahu kamu nginep dimana selama kamu kabur. Dan sekarang kamu malah ada disini. Hmm,"


Nyonya Nugraha adalah sosok ibu pengertian dan juga suka memanjakan anak-anaknya tetapi jangan salah mengartikan sifat itu terlebih dahulu karena bisa saja wanita paruh baya itu akan berubah begitu tegas jika saja sang anak mulai macam-macam dan melakukan kesalahan yang dapat merugikan orang lain, apalagi kali ini sampai mengorbankan sebuah jalinan rumah tangga.


"Kamu kenapa harus lari dari Abi?" Tanya nyonya Nugraha menggeser kursi agar lebih dekat dengan sang anak.


"Dia selingkuh."


"Sampai mana kamu tahu kalau dia selingkuh?"


"Sampai~," Ananda bingung harus menjawab seperti apa lagi, tiba-tiba saja segala prasangka-prasangka buruk terhadap suaminya dan Raline yang memenuhi otaknya tiba-tiba lenyap seketika.


"Kenapa? kamu bingung mencari alasannya?. Sayang, segala ketakutan kamu itu wajar dalam pernikahan, semua orang akan memiliki sifat posesif terhadap pasangannya. Dan jujur mama senang karena kamu mulai menerima suami pilihan kedua orang tua kamu. Tapi kamu juga jangan termakan akan sifat posesif kamu itu secara berlebihan, itu akan membuat rumah tangga kamu hancur nantinya karena pasangan kamu yang merasa kalau kamu sudah tidak mempercayainya lagi," Ananda mulai meneteskan air mata saat ibunya itu memberikan wejangan padanya. Lantas sang ibu pun membawa kepala sang putri ke atas pundaknya dan menyeka rambut sang putri lembut.


"Kata orang, tahun-tahun pertama pernikahan memang adalah tahun-tahun penuh perjuangan. Selain masalah kepercayaan terhadap pasangannya juga kita akan dihadapkan oleh masalah-masalah pelik lainnya seperti masalah ekonomi, anak-anak bahkan masalah kecil sekalipun. Namun disanalah letak nikmatnya pernikahan, disana Tuhan mengajarkan bagaimana kita untuk menghormati antar sesama manusia dalam satu ikatan suci dan meminta kita untuk saling menurunkan ego agar terciptanya sebuah rumah tangga yang satu pemikiran meski kita harus melewatinya dengan susah payah." Tutur kata mama Ananda panjang lebar.


"Tapi engga semudah itu Ma bagi aku yang harus melewati ini semua dengan orang yang awalnya engga aku cinta,"


Nyonya Nugraha terkekeh pelan, "Cinta akan datang karena terbiasa. Buktinya kamu sekarang udah mulai cemburu sama Abi kan karena dia yang tiba-tiba dekat dengan wanita lain?"


Ananda mengangguk.


"Hah, berarti kamu udah cinta sama Abi. Cuman kamu terkadang masih terlalu kekeh sama ucapan kamu kalau kamu masih suka sama siapa itu nama yang mantan kamu dulu..?"


"Zian."


"Ha, iya Zian. Coba mama sekarang tanya kamu masih suka sama dia engga?" Tanya sang mama.


Ananda mengedikkan bahunya seolah tidak tahu akan perasaannya sendiri. Karena memang ingatan terhadap kebersamaannya dengan Zian tiba-tiba saja sudah lenyap entah kemana, justru sekarang yang hanya di kepalanya hanya Abimanyu seorang.


Sebuah derap langkah menarik atensi ibu dan anak itu, dilihat oleh mereka sang kepala keluarga atau bapak Nugraha telah masuk lengkap dengan pakaian rapinya dan dasi yang melingkar di leher.


"Papa!" Teriak Ananda pada lelaki paruh baya itu dan langsung berlari untuk memeluknya


"Lho, Kok ada kamu disini, Abinya mana?" Nugraha langsung terkejut saat melihat sang anak berada di rumahnya.


"Akunya disini malah nyarinya orang lain. Papa engga kangen sama aku?"


"Iya-iya papa kangen juga kok," Ucap Nugraha sambil membalas pelukan putrinya.


"Udah makan?" Tanya Pak nugraha lagi pada sang putri.


"Belum. nungguin papa biar makan sama-sama," Ucap Ananda manja pada papanya.


"Yaudah ayolah kita makan dulu."


Ananda tersenyum lalu mengangguk melihat pahlawannya yang ia rindukan kini bisa ia peluk.


***


"Kamu benar melihat Abi selingkuh?!" Tanya Pak Nugraha lantang pada sang putri saat putrinya itu bercerita mengenai alasannya untuk mengungsi ke rumah orangtuanya.


Ananda syok melihat reaksi sang ayah yang menurutnya mengerikan.


"Papa engga bisa nerima kalau putri papa diselingkuhi, Papa akan menyuruh Abi kesini besok atau bahkan Papa akan menelfon ayahnya Abi biar beliau tahu kelakuan anaknya." Ucap Nugraha tidak terima mengetahui bahwa anaknya di selingkuhi.


Nyonya Nugraha otomatis angkat bicara akan niatan suaminya itu, "Pa, Abi udah cerita semua ke mama dan kalau apa yang Nanda lihat itu engga bener. Ananda cuman salah paham,"


"Mama kok belain anak itu?" Tanya Nugraha spontan.


Nyonya Nugraha mencoba menarik nafas panjang, "Papa tahu kan gimana karakter Abi? dia pemuda yang baik pa, engga mungkin dia selingkuh,"


Nugraha diam. "Tapi papa akan tetap memanggil Abi kemari besok," Ucap Pak Nugraha final.