
Setelah beberapa hari yang lalu mengucapkan bahwa dirinya mantap untuk jatuh cinta dengan Abi. Tidak akan ada sekalipun waktu tanpa mereka berduaan. Ananda yang tidak ingin berpisah dari Abi barang sedetikpun juga Abi yang mudah sekali rindu akan istfmrinya itu.
Bahkan beberapa kali Ananda tidak akan sungkan untuk mengunjungi kantor si suami untuk sekedar membawa makan siang ataupun mengajaknya untuk makan siang di luar. Yang pasti kedekatan mereka kini lebih intens. Bahkan sekarang ini Ananda sudah tidak malu lagi saat di panggil dengan julukan nyonya Abimanyu. Karena ia merasa bahwa itu adalah panggilan yang tepat untuk dirinya.
Ananda juga tidak malu lagi untuk mengungkapkan apa yang membuatnya resah pada Abi. Seperti salah satu contohnya, Ananda yang tidak suka Abi yang terlalu peduli terhadap salah satu karyawan wanitanya yang dinilai Ananda cukup cantik dan patut diwaspadai olehnya.
Karena Ananda takut wanita itu bisa merebut Abi darinya.
"Mas!" Ananda memanggil Abi dari arah sofa ruang kerja Abi.
"Hmmm." Gumam Abi sebagai jawaban namun pandangannya masih setia pada laptopnya.
"Nama karyawanmu yang belakangan ini sering sama kamu tuh siapa namanya sih?" Tanya Ananda dengan nada yang sedikit menyindir.
Abi mengangkat pandangannya dari laptop lalu memusatkan ke matanya ke sang istri, "Yang mana?" Tanya Abi mencoba berbicara setenang mungkin.
"Yang karyawan perempuan yang sering banget sama kamu itu. Yang sukanya pakai tas selempang samping?"
"Ouh Raline?"
"Aku engga suka mas deket-deket sama dia." Kata Ananda dengan wajah cemburu.
"Kamu cemburu?"
"Kalau aku bilang iya. kenapa?" Tanya Ananda.
Abi bangkit dari kursinya dan mendekati Ananda, "Justru mas senang kamu cemburu. Itu artinya kamu mulai mencintai mas." Kata Abi setengah berbisik di depan wajah istri cantiknya itu.
Ananda mencebik bibirnya. Dia sebenarnya kesal juga dengan Suaminya ini yang entah mengapa belakangan ini tampak semakin tampan membuatnya was-was untuk sekedar meninggalkan Abi tanpa pengawasan darinya. Seperti di hari pernikahannya dulu, banyak dari teman Ananda yang terang-terangan mengatakan bahwa Abi begitu tampan dan layak untuk dicintai oleh semua wanita.
Awalnya Ananda hanya menganggap bahwa itu hanya gurauan dari teman-temannya saja. Karena baginya, orang yang tertampan saat itu hanyalah Zian seorang bukan lelaki lain, katakanlah Ananda cinta buta terhadap lelaki itu.
Namun sekarang Ananda baru mengerti bahwa memang pesona lelaki di depannya ini sulit untuk di bantahkan. Semua wanita pasti akan rela bertekuk-lutut akan ketampanan, kedewasaan berpikir serta sifat gentle yang Abi miliki.
Ibu mertuanya pernah mengatakan bahwa dulu sebenarnya Abi hanyalah anak lelaki biasa saja. Bandel dan tidak jarang membuat ulah, seperti anak laki-laki kebanyakan. Namun semuanya berubah saat ia di beri tanggung jawab oleh sang Ayah untuk mengelola perusahaan. Abi berubah seketika. Dari yang dulunya hanya tahu bermain berubah menjadi lelaki penuh tanggung jawab dan pekerja keras.
Semuanya itu semata-mata karena Abi mencintai keluarganya dan juga telah berjanji untuk tidak pernah mengecewakan keluarganya lagi seperti ia di masa lalu.
"Kamu jangan banyakan pikir yang engga-engga, mas engga ada sedikitpun berpikir untuk khianati kamu. Kamu tahukan perjuangan mas untuk dapatin hati kamu sejauh ini?" Tutur Abi mencoba berbicara melalui tatapannya ke dalam bola mata Ananda. Dia ingin berusaha meyakinkan istrinya itu bahwa dirinya benar-benar mencintai wanita itu dan tidak ada sekalipun niat terlintas di kepalanya untuk mencintai wanita lain. Karena ia telah merasa lengkap karena memiliki wanita yang seperti Ananda.
"Raline itu udah diangkat jadi sekretarisnya manajer badung alias si Faiz jadi dia sering diajak Faiz kelapangan yang juga ada mas disana."
"Itu sekretaris atau asisten? payah ngikut segala kemana-mana" Sindir Ananda.
Abi gemas bukan main dengan tingkah laku istrinya itu, dia pun segera mencubit pipi istrinya itu pelan.
"Lucu banget sih kalau cemburu. Harusnya yang cemburu tuh bukan kamu lagi tapi pacarnya Faiz, karena Faiz yang lebih sering berduaan dengan Raline,"
"Tapi sayangnya Faiz engga punya pacar. Jadi aku lebih waspada ke kamu ya,"
Abi hanya tersenyum saja melihat tingkah istrinya ini. Dia pun lalu mengajak istrinya itu untuk pergi makan siang di luar kantor.
Sepertinya istrinya ini butuh refreshing untuk menghilangkan dugaan-dugaan buruknya itu.
***
Suara ketukan kini terdengar dari luar pintu ruangannya. Abi pun menyuruh orang yang mengetuk untuk masuk.
Abi melihat siapa yang masuk, ternyata Raline adalah orangnya. Dia tersenyum segan ke atasannya tersebut.
"Ada apa Line?" Tanya Abi ramah.
"Permisi pak, ini ada dokumen yang di amanahkan bapak Faiz untuk di tanda tangan oleh pak Abi," Jawab Raline lalu mendekat.
Abi membaca satu-persatu lembar dokumen tersebut. Setelah mengerti Abi pun segera mengambil penanya dan membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu.
"Terima Kasih pak. Kalau begitu saya kembali bekerja dulu," Pamit Raline mengangguk lalu hendak pergi namun tangannya di hentikan oleh Abi.
Raline tersentak kaget. Dirinya kaku karena tangannya kini tergenggam, takut terjadi salah paham saat ada yang melihatnya Raline pun segera menghempaskan tangan tersebut.
"Kemarin saya mimpiin kamu!" Seru Abimanyu setelah tangannya dihempaskan Raline.
Malam kemarin, Abi memang mengalami sebuah mimpi yang aneh dimana dia dan Raline tergambar begitu jelas sebagai dua orang yang saling jatuh mencintai. Abi membawakan pada wanita itu setangkai bunga berwarna putih pucat lalu entah bagaimana setelah itu Abi mengalami suatu tabrakan yang membuatnya menjauh dari sisi Raline. Raline melihat Abi yang tersungkur namun dia hanya bisa diam, mata wanita itu mengeluarkan bulir-bulir air mata namun tidak berwarna bening namun malah berwarna merah. Buliran air mata berwarna merah itu pun perlahan-lahan jatuh ke atas bunga tadi dan menyebabkan bunga itu berwarna merah DARAH.
Raline masih membelakangi Abi saat laki-laki itu terus mencecarnya dengan pertanyaan.
"Kamu tahu Line tingkah kamu yang seperti ini makin menguatkan dugaan saya kalau kamu memang tahu tentang masa lalu saya."
"Bagaimana bisa bapak berpikiran seperti itu? bahkan saya tidak pernah mengenal bapak sebelumnya."
Raline merutuki matanya dalam hati karena tanpa seijinnya mengeluarkan air mata di saat yang tidak tepat.
Abi melihat air mata itu dan tersenyum culas.
"Kenapa kamu menangis jika saya memang tidak pernah kamu kenal sebelumnya. Bahkan saya bisa memastikan bahwa saya pernah menyakiti kamu sebelumnya sehingga setiap saya berbicara dengan kamu-," Abi tercekat akan ludahnya sendiri akibat kata-katanya yang semakin menggebu-gebu.
"Kamu menangis akan kata-kata saya?!" Teriak Abi yang sudah tidak sanggup lagi menahan sesak dalam dadanya.
"Itu karena saya tidak suka di tuduh." Kata Raline membungkam kalimat Abi.
Wanita itu lalu bergegas mengambil dokumen yang sudah di tanda tangan oleh Abi sebelumnya dan berniat segera keluar dari ruangan bersama Abi ini. Dia sudah tidak sanggup.
Namun naas, dikarenakan dokumen yang Abi letakan berdekatan dengan segelas kopinya, otomatis saat Raline mengambil dokumen itu secara emosi. Gelas itupun tumpah ke arah Abi menyebabkan baju serta celana yang pria tampan itu kenakan terkena noda dari tumpahan kopi itu.
Raline terkejut dan merasa bersalah. Dengan cepat ia mengambil beberapa tisu yang terletak di atas meja dan segera membersihkan kemeja Abi.
"Maaf pak saya tidak sengaja," Raline dengan raut muka bersalah berupaya membersihkan kemeja Abi dengan ligat.
"Tidak apa-apa. saya bisa bersihkan send-" Ucapan Abi terhenti saat sebuah suara teriakan memanggil namanya dari arah pintu.
"MAS ABI!"
Ananda berdiri mematung di ambang pintu saat melihat badan Raline yang membelakanginya tengah terbungkuk maju ke arah Abi di seberang meja seperti sebuah adegan ciuman yang gila.
Ananda mengehentakan kakinya dan segera pergi.
Menghiraukan Abi yang berulang kali memanggil namanya.