
Raline menatap pigura foto dirinya ditengah-tengah satu keluarga pamannya yang berada di atas nakas di samping tempat tidur miliknya. Keluarga pamannya inilah yang begitu baik hati memberikannya izin untuk bisa tinggal di rumah mereka yang ada di Jakarta sambil Raline bisa bekerja di kantor milik Abi ini.
Raline masih ingat dulu kala ia masih kuliah di kampung halamannya di Jogja, kala setipa liburan semester datang maka pamannya ini akan meminta Raline untuk bermain ke Jakarta agar sewaktu-waktu mana kala ia telah lulus. Mungkin saja di Jakarta adalah tempat yang cocok baginya untuk mencari pekerjaan jadi oleh karena itu Raline harus membiasakan diri berada di Jakarta.
Awalnya Raline menolak karena tidak ingin menyusahkan atau merepotkan pamannya itu. Namun, kala Abi datang ke dalam hidupnya di pertengahan masa kuliahnya dan memaksa Raline untuk mengunjungi Jakarta sewaktu-waktu, maka jadilah setelah itu Raline akan mengunjungi Jakarta setiap kali liburan semester datang. Bahkan, ia akan pergi ke Jakarta di temani oleh Abi.
Jujur, kala itu bagi Raline adalah masa-masa terindah dimana ia bisa pergi ke suatu tempat yang asing namun merasa aman karena ada satu orang yang paling ia cintai menjaganya dari apapun.
Namun semuanya berubah kala permintaan atau perintah kedua orangtua Abi datang kepadanya. Perintah itu intinya adalah menyuruh dan memaksa Raline untuk menjauhi putra mereka karena mereka tidak setuju Abi memiliki hubungan dengannya.
Seperti sebuah efek de ja vu dalam hidupnya, Raline kini merasa dirinya terlempar ke masa lalu dimana dulu dirinya yang pergi di akhir cerita agar Abi bisa bahagia tanpa harus adanya Raline di kehidupan Abi.
Jika dulu kedua orangtua Abi yang memintanya pergi. Namun kini, justru Abi sendirilah yang mengusirnya dari kehidupan lelaki itu, agar dirinya bisa berbahagia dengan seorang wanita yang jika dibayangkan saja bagi Raline ini cukup menyakitkan.
Bagaimana tidak menyakitkan, jika semesta seperti mempermainkannya dengan takdirnya. Mempertemukannya lagi dengan Abi dikala dirinya yang waktu itu mulai terbiasa untuk melupakan lelaki itu dan hidup tanpa adanya bayang-bayanh lelaki itu. Dan bagaimana Raline yang dipertemukan dengan Abi saat Abi yang sedang menderita amnesia sehingga melupakan dirinya serta masa-masa indah yang dulunya telah mereka rajut bersama.
Setetes air mata pun akhirnya jatuh dengan sendirinya di atas bingkaian foto yang berada di pangkuan Raline tadi hingga tepat berada pada pantulan matanya yang terpihat melalui kaca bingkai foto tersebut. Raline mencoba menabahkan hatinya, namun tetap saja baginya semua ini cukup menyesakan dada.
Ralinr kemudian membawa foto itu dalam dekapan dadanya hingga tubuhnya pun mulai berbaring di atas tempat tidur kamarnya ini.
Bermenit-menit masih harus Raline lewati dengan isakan tangisnya yang kunjung tak reda hingga akhirnya matanya pun menutup untuk membawa Raline ke alam mimpi.
Keesokan harinya, dimana Raline kali ini memilih untuk bangun lebih awal dari biasanya. Hari ini mungkin akan menjadi hari dimana dirinya harus melewati setiap detiknya dengan perpisahan dan tangisan.
Ya, hari ini Raline memutuskan untuk pergi. Pergi kembali ke kampung halamannya di Jogja. Raline akan meninggalkan kota ini secepatnya agar luka yang telah tergores kemarin bisa secepatnya pulih dan mengering.
Raline turun dari lantai atas dengan sebuah koper besar yang ia tarik perlahan agar tidak membangunkan orang-orang seisi rumah yang mungkin masih terlelap tidur karena waktu yang menunjukan pukul yang masih terlalu pagi untuk memulai hari.
"Line."
Raline otomatis terkaget dengan sebuah suara panggilan yang ternyata berasal dari tante heni-istri pamannya-.
"Tante kebangun ya? aduh maaf ya, nte." Ucap sesal Raline karena ia pikir telah berhasil membangunkan tantenya itu.
"Engga kok, bukan karena kamu. Tante kan biasa bangun jam segini. Oh ya, kamu serius mau balik ke Jogja?"
"Iya tante," Jawab Raline.
Tante Heni menarik tangan sang keponakan untuk kemudian ia dudukan di atas sofa depan tv.
"Tante tahu seberapa kecewanya kamu terhadap Abi itu Line, tapi bukan berarti kamu harus patah semangat begini kan. Masih banyak lelaki yang lebih dari Abimu itu di dunia ini dan kamu pantes dapatin itu. Jadi sudahlah, ikhlaskan dia dan kamu bisa tinggal disini. Sama tante sama om."
"Engga tante, kali ini memang harus berjalan seperti ini. Aku yang menjauh agar semuanya terlihat baik-baik saja dan semuanya menjadi bahagia."
Tante Heni memandang wajah Raline iba, bagaimana tidak ponakannya ini telah menempuh jalanan cinta yang terjal dari awal. Dicintai oleh lelaki namun berbeda agama lalu dipaksa menjauh oleh orangtua laki-laki itu kemudian ketika dia telah hampir melupakan si lelaki dirinya dikagetkan dengan kembali dipertemukannya di tempat kerja baru Raline dengan embel-embel bahwa lelaki yang dulu mencintainya kini seratus persen telah melupakannya.
***
Satu keluarga tampak begitu berat mengikhlaskan satu orang yang hendak pergi dari mereka di sebuah stasiun kereta api.
Tante Heni terus memeluk Raline dengan erat seolah tidak mau keponakannya itu pergi.
"Tante pasti bakal kangen sama kamu Line. kamu tahu, kamu itu udah tante anggap seperti anak tante sendiri, hiks. Anak perempuan tante satu-satunya, tante sayang banget sama kamu Lin. hiks."
Raline mengusap-usap punggung sang tante yang terus terisak dalam pelukannya. "Tante udah dong nangisnya, kan aku jadinya berat untuk pergi."
"Makanya jangan pergi, Lin. Balik ke rumah ya," Bujuk Tante Heni sedari tadi.
"Lin." Kini giliran sang kepala keluarga yang berbicara. Berbeda dengan istrinya yang tampak begitu kentara berekspresi sedih karena Raline yang hendak pergi, Danu justru tampak tabah dan kuat meski beberapa kali Raline menangkap mata pamannya itu sedikit berkaca-kaca meski sesulit apapun omnya itu mencoba menahannya.
"Om harap, apapun keputusan kamu itu bisa buat kamu bahagia. Om cuma bisa bantu doa, nak."
"Pasti om."
Mata Raline langsung berkaca-kaca kala mendengar tuturan sejuk yang berasal pamannya itu yang sudah begitu baik padanya selama ini. Raline bahkan sudah menganggap pamannya itu seperti ayah kandungnya sendiri.
Setelah berpelukan dengan kedua tante dan omnya, sekarang dirinya beralih pada si bungsu Gilang yang sedari tadi hanya diam di samping sang papa. Bocah itu sejak di beritahu bahwa Raline akan pergi pulang kampung dan tidak akan kembali lagi kejakarta, tiba-tiba saja dirinya langsung berhenti berbicara pada Raline saat itu juga total sudah sejak semalam Gilang mogok berbicara. Seolah dirinya ingin menunjukan pada Raline bahwa dirinya itu marah pada Raline yang ingin pergi.
Raline membungkukan dirinya agar sejajar dengan tubuh Gilang, dia ingin merasakan pelukan terakhir dari sang adik sepupu manjanya itu sebelum dia pergi.
"Gilang engga mau peluk mba?"
"Engga." Ucap Gilang dengan acuh sambil memalingkan wajah.
"Yaudah deh, nanti mbak engga mau lagi balik ke Jakarta kalau kamu masih kayak bocah gini." Ledek Raline mencoba membangkitkan keributan yang sering terjadi di antara mereka yang biasanya akan terjadi kalau Raline mengatai Gilang dengan sebutan bocah.
"Aku bukan bocah!"
Raline terkikik geli, "Terus kalau bukan bocah kok suka ngambekan. Itu bocah namanya."
Gilang tidak menjawab namun tanpa aba-aba dia langsung menubrukan tubuhnya ke tubuh Raline dengan begitu kuat beruntung Raline tidak sampai tersungkur ke arah belakang.
"Mbak Raline hiks jangan pergi. Nanti aku di rumah sama siapa," Akhirnya Gilang ikut menangis juga dalam pelukan Raline. Bahkan bocah itupun sekarang sudah menangis dengan begitu kencang hingga menarik perhatian orang di sekitar mereka.
"Kan masih banyak yang lain di rumah, Gilang."
"Tapi aku maunya ada mbak Raline juga," Sahut bocah itu lagi dengan tangisan yang belum juga usai.
"Mbak janji nanti mbak akan sering main ke Jakarta kok." Bujuk Raline untuk menenangkan bocah itu.
"Janji?"
"Janji." Jawab Raline lalu mengambil kelingking Gilang untuk ia tautkan dengan miliknya.
Acara perpisahan pun akhirnya di interupsi dengan suara pengumuman bahwa kereta yang akan Raline tumpangi akan segera berangkat.
Raline segera memeriksa kembali perlengkapannya dibantu oleh om dan tantenya yang masih setia menunggu keberangkatannya.
"Hati-hati ya Line, kapan-kapan lagi main ke Jakarta jangan di Jogja terus." Ucap Om danu.
"Jangan lupa kalau udah sampai Jogja kabarin tante sama om ya," Timpal tante Heni yang dengan sesekali menyapu air matanya yang terkadang suka tiba-tiba terjatuh dari pelupuk matanya.
"Iya tante, om. Kalau gitu aku berangkat dulu ya salam buat Rio kalau udah pulang ngampusnya, dan untuk si bocil ini," Raline menoel hidung Gilang main-main membuat si empu kembali cemberut, "Mbak pergi dulu ya, kalau suka sama Nessi bilang terus jangan di pendam, haha"
"Mba Raline!"
"Hahaha. Dadaahhhhh semua...."
Akhirnya Raline pun berjalan masuk ke dalam kereta dan menghilang di dalam kerumunan penumpang yang lainnya.
Raline memanjatkan doa agar dirinya bisa selamat pada tujuannya dan tak lupa ia juga memanjatkan doa agar dirinya bisa terua bahagia.