
Sesampainya di rumah Abi menemukan rumahnya yang masih dalam keadaan gelap gulita karena lampu yang belum dinyalakan padahal langit sudah menggelap ditambah hujan yang mulai menderas di luar sana.
Abi masuk dengan perlahan ke dalam rumahnya serta langsung menghidupkan lampu ruang tamu serta teras. Dia pun mulai memanggil nama sang istri untuk menemukan wanita itu. Abi masih mengira bahwa sang istri masih berada dalam rumahnya.
"Dek!" Panggil Abi dengan suara yang agak besar hingga membuatnya menggema di rumah yang dalam keadaan sepi tersebut.
"Dek!. Sayang!" Beberapa kali lelaki itu memanggil tetap saja hanya kesunyian yang Abi dapatkan.
Abi mulai berjalan ke seluruh rumah hingga ke kamarnya di lantai atas namun tetap saja Ananda tidak ia temukan.
"Nanda! Dek! kamu dimana?"
Abi yang mulai lelah untuk memanggil serta mencari keberadaan istrinya itu memilih untuk duduk di atas sofa dan mengetikan jemarinya di atas ponsel untuk memanggil nomor sang istri.
Hingga sebuah nada dering muncul dari kantong celana Abi yang ternyata berasal dari ponsel Ananda yang memang telah berada di dalam sana sejak tadi.
Abi memukul keningnya karena kesal akibat dirinya yang lupa bahwa ponsel Ananda tertinggal padanya sewaktu mengantar wanita itu kembali ke rumah tadi siang.
Abi termenung memikirkan ke mana perginya istrinya itu sekarang. Abi menduga bahwa kini istrinya itu sedang ingin menjauh juga darinya akibat kejadian kesalahpahaman yang terjadi tadi siang. Abi paham betul dengan sifat Ananda yang satu ini. Kekanakan. Abi tahu dirinya akan menjadi pria yang paling dijauhkan oleh Ananda beberapa hari kedepan atau bahkan minggu karena perasaan kekecewaan Ananda itu.
Abi juga merutuki dirinya yang membuat wanita itu pergi. Memang ini bukanlah murni kesalahannya tetapi akibat dirinya jugalah Ananda merasakan kekecewaan hingga membuatnya pergi.
Dan sekarang rasa khawatir hinggap di dada Abi jika dia tidak bisa menemukan wanita itu lagi.
Di dalam masa-masa lamunannya Abi pun teringat satu nama yang dapat memberikannya informasi tentang keberadaan Ananda karena wanita itu adalah sahabatnya Ananda.
Segera Abi merampas ponselnya dan mulai mencari nama Vanessa serta melakukan panggilan keluar.
Tut....tutttt....
Suara nada sambung mulai mengalun di telinga Abi pertanda bahwa panggilannya sedang menunggu untuk di angkat.
"Halo!" Suara sapaan dari seorang wanita yang tidak lain adalah suara Vanessa langsung menyapa kuping Abi.
"Halo! Ca. Ananda ada sama kamu engga?" Tanya Abi tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Oh! hmmm. Iya ada Mas Abi. Dia lagi tidur sekarang di apartmentnya aku."
Kalimat dari Ecca membuat Abi langsung mengelus dadanya lega akhirnya sang istri dia temukan keberadaannya.
"Kalau gitu bisa kasih tahu alamat apartment kamu. Saya mau kesana jemput dia,"
"Oke mas, saya kirimin lewat text ya," Ucap Vanessa membuat Abi setuju.
Keduanya pun mengakhiri panggilan dan tidak lama berselang sebuah pesan singkat masuk ke dalam kotak masuk ponsel Abi yang dari mana dikirim oleh Vanessa yang memberi informasi alamat apartemennya.
Dari itu, Abi pun segera menyambar kunci mobil dan tidak lupa membawa ponsel Ananda yang tadi tertinggal di dalam mobilnya.
Setelah mengunci pintu dan pagar rumah terlebih dahulu, Abi pun segera melajukan perjalanannya dengan mobilnya ke alamat dimana apartment Vanessa tinggali. Jalanan tampak macet lagi karena banyak warga yang baru pulang dari kantor maupun pulang dari aktivitas lainnya.
Abi sempat memukul setir mobilnya karena saking kesalnya terhadap jalanan yang sepertinya tidak terlihat maju-maju sejak lima menit yang lalu.
Hingga akhirnya tiga menit kemudian selanjutnya jalanan kembali dapat berjalan dengan semestinya, meski dengan kecepatan yang rendah untuk para pengendara melajukan kendaraannya.
Sebuah gedung apartment yang cukup tinggi akhirnya telah terlihat di depan mata Abi dimana gedung itulah tempat tujuannya sekarang. Abi langsung memarkirkan mobilnya ke bawah basement dari gedung itu dengan cepat meski keadaan basement yang cukup minim penerangan. Abi pun tidak tahu mengapa gedung sebesar ini bisa memiliki basement yang minim penerangan. Tapi selanjutnya Abi tidak mau mengambil pusing karena itu, karena yang terpenting baginya kini adalah Ananda, Ananda dan Ananda.
***
Ting....tong
Sebuah bel meruntuhkan konsentrasi Vanessa dari keasyikannya menonton drama korea di salah satu stasiun tivi ternama di Indonesia. Drama yang tengah berada pada cerita klimaksnya pun terpaksa harus ditinggalkan dirinya dengan berat hati.
Bel itu terus berbunyi membuat Vanessa kesal dan berdecak, namun tetap saja dia beranjak dari duduknya dan membukan pintu unitnya tersebut.
Pintu itu terbuka dan menampilkan wajah Abi yang tersenyum ramah pada Vanessa.
"Oh Mas Abi, mau jemput Ananda ya?" Tanya Vanessa basa-basi. Abi mengangguk.
"Masuk dulu mas, biar aku panggilin orangnya, Dia masih tidur sih kayaknya."
Vanessa memundurkan tubuhnya sedikit agar Abi dapat masuk ke dalam apartmentnya.
Setelah melihat Abi yang sudah duduk di atas sofa, segera Vanessa berlalu ke kamarnya demi membangunkan Ananda yang terlelap tidur itu.
"Nand, bangun! ada suami Lo tu!" Ecca membangunkan paksa Ananda yang tertidur hingga membuat wanita cantik itu terbangun dan mulai mengerjapkan matanya.
"Hah! Lo bilang apa Ca?" Tanya Ananda memastikan apa yang dikatan Ecca barusan.
Helaan nafas Ecca, "Ada suami Lo di ruang tengah, temuin gih! kasian tau dia, bela-belain kesini untuk jemput Lo padahal di luar hujan,"
Ananda langsung merubah raut mukanya yang kesal, "Lo bilang kalau gue disini?"
"Ck, dia tadi nelpon gue nanyakin Lo. Engga enak dong kalau gue bohong Nand," Aku Ecca membuat Ananda menarik selimutnya untuk menutup seluruh tubuhnya. Dia malas untuk bertemu suaminya itu.
"Bilang sama dia, gue masih belum mau ketemu, suruh pulang aja gih!" Ucap Ananda dari dalam selimutnya dengan suara yang mengendap di dalam selimut itu.
Ecca binggung di satu sisi dia juga ingin membantu temannya ini agar bisa mendapatkan waktu sendirinya. Namun di lain sisi dia juga tidak enak dengan suami temannya itu yang rela menerobos hujan demi bertemu dengan sang istri. Tapi sang istri malah tidak mau bertemu.
Dengan terpaksa Ecca melangkahkan kakinya keluar kamar untuk berbicara lagi pada Abi.
Saat melihat Abi yang ternyata juga melihat padanya dengan tatapan berharap, Ecca otomatis menjadi tidak enak. Namun sepertinya memang inilah hal yang tepat di lakukan untuk sekarang ini.
"Mas Abi maaf, Nanda masih belum mau ketemu sama mas katanya," Ecca mengatakan itu dengan garukan kepala.
Ecca takut jika suami dari temannya ini marah kepadanya, namun ternyata reaksi yang di tampilkan Abi berbeda. Laki-laki itu justru tersenyum maklum dan bangkit dari dudukannya di sofa.
"Baiklah, mungkin memang Ananda masih marah sama saya. Kalau gitu saya pamit dulu ya Ca," Pamit Abi pada Ecca yang juga membalas senyuman Abi ramah.
Abi berjalan mendekati pintu apartment Ecca dan mulai memegang knop pintunya, "Oh ya," Abi kelupaan sesuatu lagi, ia langsung merogoh kantung celananya dan menarik sebuah ponsel yang ternyata adalah ponsel dari sang istri.
"Tolong kasih ke Ananda ya, tadi ponselnya ketinggalan di mobil. Saya mau kembalikan tadi siang tapi malah ada insiden yang terjadi." Abi mengucapkan itu dengan penuh sesal mendalam.
"Iya mas nanti saya kasih," Jawab Vanessa lalu mulai mengantar Abi sampai keluar unitnya.
"Kalau gitu saya pamit ya,"
Ecca mengangguk.
Abi pun meninggalkan apartment itu dengan harapan pupus dan juga sirna karena sang istri yang menolak pulang dengannya dan bahkan menolak untuk bertemu dengannya.
Namun yang Abi lewatkan adalah sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-geriknya sejak memasuki apartment Ecca.
***
"Ngapain Lo bro mojok begitu," Seorang lelaki yang sebelumnya memperhatikan Abi yang baru keluar dari apartment terkejut karena baru saja di tegur oleh temannya.
"Oh engga papa kok, oh ya dah siap pemotretannya?" Tanya lelaki itu.
"Udah, besok kelar deh tenang aja." Ucap teman lelaki itu.
Si lelaki itupun mengangguk dan hendak pergi. "Mau kemana Lo?"
Si lelaki itupun tersenyum jahil, "Ke club."
"Kaga berubah-ubah ya Lo Iz," Heran temanya mengundang gelak tawa dari seorang Faiz.