MY IMAM

MY IMAM
Episode 27 Bayi kembar



Ananda menyusuri jalan setapak yang begitu terjal kini, di samping kanan dan kirinya telah terdapat jurang yang dipastikan begitu dalam ke bawah sana. Jika sedikit saja salah dalam melangkah dipastikan bahwa Ananda akan terperosok dan jatuh ke dalam lembah itu yang gelap gulita tersebut. Membayangkannya saja membuat bulu kuduk merinding.


Bibir Ananda terus saja berkomat-kamit memanjatkan doa agar ia bisa sampai dengan selamat ke tepi dari lembah ini, Dimana disana telah ada sosok Abi yang menunggunya dengan senyuman yang begitu merekah.


Suaminya itu terus menyemangati Ananda dengan berteriak bahwa dirinya bisa melalui jalanan curam ini. Abi mengatakan bahwa Ananda pasti selamat hingga menuju ke arahnya.


Ananda terus fokus pada jalannya sambil sesekali mencoba melihat ke arah Abi yang semakin semangat untuk meneriakan kata-kata penyemangat untuk dirinya.


"Ayo semangat. Pelan-pelan aja. Jangan terburu-buru!!" Teriak Abi mencoba menyemangati heboh.


Ananda makin sulit berjalan karena kini ia telah sampai pada medan yang justru semakin ekstrem. Bebatuan kerikil nan tajam serta hujan gerimis yang mulai turun membuat jalan semakin licin dan juga jalan setapak itu kian semakin sempit hingga menyusahkan gerakan langkahnya.


Perlahan-lahan Ananda mencoba berjalan namun naas sebuah kerikil tajam melukai kaki kanannya menyebabkan Ananda harus kehilangan keseimbangannya dan membuat tubuh wanita itu pun mulai terhuyung ke arah jurang.


Dan akhirnya Ananda benar-benar jatuh ke dalam lembah itu. Namun sebelum dirinya benar-benar jauh jatuh ke dalam sana Ananda sempat melihat ke arah dimana Abi berada. Dia melihat Abi yang ternyata sudah tidak berdiri sendiri lagi di ujung sana. Telah ada seorang wanita cantik yang sekarang malah berada di dalam pelukan Abi yang begitu erat dan menghangatkan.


Ananda meraung memanggil nama suaminya itu untuk meminta tolong dan memberitahu pada suaminya bahwa dirinya telah jatuh. Tetapi Abi sepertinya telah terlanjur terbuai oleh pelukan wanita itu sehingga dirinya kini pun hanya mengacuhkan panggilan Ananda.


Ananda kecewa. Tubuhnya pun makin terperosok ke dalam jurang dan akhirnya tubuhnya pun menghantam dasar jurang itu dengan kecepatan penuh. Dan.....


BAAAAAKKKKKK!!!!


"ARRRRRRGGG!!!!"


Ananda terbangun dari tidurnya seketika, Ia bangun karena mimpi tadi terasa begitu nyata. Ia menoleh ke samping kanan ternyata Abi masih berada di sisinya.


Ananda bernafas lega kini karena apa yang ada di mimpinya tadi tidak nyata. Namun air mata ternyata sudah meleleh di pipinya.


Hatinya terus gundah karena mimpinya tadi yang entah mengapa begitu nyata dan mengganggu ketentraman batinnya. Dia lalu melirik jam digital yang berada di atas nakas samping tempat tidur yang ternyata menunjukan pukul yang masih begitu dini hari.


Ananda memutuskan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya agar terasa lebih rileks. Dilihatnya wajahnya kini di pantulan cermin, matanya ternyata memerah akibat tangisannya.


Sesudah mencuci wajah Ananda pun kembali menuju kasurnya. Merebah kan tubuh mencoba kembali tidur, namun ternyata setelah beberapa kali membolak-balikkan tetap saja matanya susah untuk terpejam lagi. Dengan itu Ananda pun meraih salah satu Novelnya yang belum sempat ia baca kemarin.


Ananda bermaksud agar matanya dapat merasa kantuk setelah membaca novel beberapa lembar mungkin. Namun tetap saja sampai novel itu tiba di lembar 45 pun mata Ananda masih sulit terpejam.


Ananda terus melanjutkan membacanya hingga suara Abi mengagetkannya.


"Dek. kok belum tidur?" Tanya Abi dengan suara serak khas orang yang baru terbangun dari tidur.


"Enggga mas, aku cuman engga sengaja terbangun tadi. Terus udah nyobain untuk tidur lagi malah engga bisa. Makanya ini aku baca novel aja siapa tahu bisa ngantuk lagi,"


Abi dengan sigap menarik tubuh Ananda yang mulai berisi karena hamil ke dalam rengkuhannya.


Ananda tersenyum malu-malu, "Bukan salah dedek kok. Memang akunya aja yang susah tidur." Aku Ananda.


"Sini biar Mas peluk. Mana tahu nanti kerasa ngantuk nya."


Abi membuka lagi pelukannya setelah sempat terlepas tadi.


"Kamu harus banyak istirahat dek. Ingat di dalam tubuh kamu sekarang ada satu nyawa lagi selain kamu. Pesan mas jangan sampai kalian sakit ya, pokoknya sehat-sehat terus." Ucap Abi sambil terus mengelus rambut Ananda. Sementara Ananda semakin masuk ke dalam rengkuhan suaminya yang ia nilai begitu hangat dan membuatnya nyaman.


Terakhir Ananda pun tertidur di dalam dekapan suaminya itu.


***


2 bulan kemudian.


Seperti bulan-bulan sebelumnya Abi dan Ananda kompak untuk melakukan pemeriksaan kandungan mereka. Kandungan kini telah berusia 4 bulan lebih dan telah melewati trimester pertama.


Ananda dan Abi bahagia bukan main karena mereka berhasil menjaga buah hati mereka dengan baik selama satu trimester tersebut.


Keduanya pun kompak menunggu nama mereka dipanggil untuk masuk ke ruangan si dokter. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Ananda di panggil untuk melakukan pemeriksaan. Abi hanya mengikuti dari belakang dengan tangan yang bertaut dengan jemari istrinya.


Dokter yang bernama Dewi itupun segera mengeluarkan beberapa alatnya untuk membantu pemeriksaan.


Terakhir sebuah alat usg di pasang untuk mengetahui jenis kelamin si bayi. Dan betapa semangatnya si dokter saat mengatakan bahwa mereka memiliki dua bayi kembar dalam perut Ananda.


Dua bayi itu terlihat begitu sehat dan mulai bergerak aktif.


"Selamat Pak Abi, bayi anda kembar,"


Abi bahkan tidak kuasa menahan emosi harunya saat mendengar itu bahkan kini ia menitikkan air mata karenanya. Sementara Ananda tidak kalah bahagia dan terus menggenggam tangan sang suami.


"Yang satunya laki-laki, tapi yang satunya belum bisa saya identifikasi karena si bayi mungkin masih malu-malu, hehe." Dokter Dewi pun tertawa renyah saat mengatakan itu membuat Abi dan Ananda tergelak.


Setelah melakukan pemeriksaan usg akhirnya mereka berdua pun memilih kembali kerumah. Senyuman terus saja terukir dari keduanya.


"Makasih dek. Makasih sayang." Tidak henti-hentinya Abi mengucapkan kata terimakasih pada istrinya yang telah membuatnya merasa lengkap menjadi lelaki.


"Aku juga mau bilang terima kasih mas untuk segala hal baik yang udah mas lakukan untuk aku. Meski awalnya aku ragu akan pernikahan kita tapi sekarang aku yakin bahwa mas adalah yang terakhir untuk aku." Ucap Ananda mantap.


Abi terkejut mendengarnya, "Jadi sekarang kamu.....?" Abi menjeda kata-katanya.


"Ya, aku jatuh cinta karena kamu mas." Ucap Ananda terakhir yang di iringi dengan sebuah ciuman mesra di bibir Abi.