
Malam berganti pagi, sinar mentari yang cerah masuk kedalam kamar yang di huni sepasang suami istri itu.
Abi yang menarik tirai kamarnya sehingga cerahnya sinar matahari pagi menembus dinding kaca kamar mereka. Tidur lelap Ananda pun terganggu olehnya.
Kelopak mata Ananda mengerjap untuk beberapa saat, demi menyesuaikan cahaya yang langsung masuk ke kornea matanya. Dan akhirnya mata Ananda menangkap siluet tubuh tegap Abi di depannya yang sedang mencoba membelakangi cahaya matahari.
"Mas sudah bangun?"
Abi tersenyum, "Sudah,"
"Maaf ya mas aku ketiduran. Malah kamu yang akhirnya bangunin aku,"
Abi terkekeh, "Engga papa, gimana sudah enakan badannya?"
Ananda menggeleng, "Lemes." Tuturnya.
Abi meraih mangkuk yang sudah tersedia di atas nakas di samping tempat tidur, membawa benda itu ke atas pangkuannya.
"Tadi, Mas beliin bubur ayam kang asep di depan. Kamu makan ya,"
Belum juga mendapat jawaban dari pertanyaannya, Abi malah di balas dengan ringisan Ananda, "Ehmmm, Mas bauk!" Teriak Ananda.
Abi menghirup aroma tubuhnya cepat, dia merasa bahwa aroma tubuhnya biasa saja tidak ada yang berbau aneh-aneh, "Dek, Mas udah mandi lho!" Kata Abi, "Kamu mau hindarin makan kan? makanya bilang masnya bauk?"
Ananda menggeleng kuat sambil menutup hidungnya, "Enggak, Mangsnya memang baukk!" Ucap Ananda dengan suara sengau yang tercipta akibat dirinya berbicara dengan hidup yang tertutup.
"Hoekss!"
Ananda dengan secepat kilat langsung masuk ke kamar mandi meninggalkan Abi yang masih memegang mangkuknya. Tidak tinggal diam Abi pun segera menyusul istrinya ke dalam kamar mandi.
"Jangan deket!" Tangan Ananda seperti otomatis menahan Abi untuk mendekat meski wajahnya tidak melihat ke arah orang yang dituju.
Abi mundur satu langkah membuat Ananda menurunkan tangannya dan mulai menggosokkan tengkuknya sendiri.
Setelah bermenit-menit di kamar mandi demi mengeluarkan muntahannya, Ananda sekarang berjalan lemas ke arah tempat tidur dimana Abi menunggunya dengan mendudukan diri di atas tempat tidur.
Ananda melihat ke arah suaminya yang menatapnya khawatir, Ananda jadi merasa tidak enak karena tadi sempat menolak bantuan suaminya. Salahkan saja indra penciumannya yang sedari tadi menolak kehadiran Abi di dekatnya, "M-mas!" Panggil Ananda takut-takut.
Abi diam, membuat Ananda semakin merasa menciut tidak berani menatap mata suaminya itu, sungguh.
"Maafin ya, tapi engga tau kenapa hidung aku tuh sensitif banget dari semalam. Apalagi kalau deket sama mas," Lirih Ananda.
Abi tersentak, "Jadi dari semalam kamu nahan buat engga bilang itu?"
Ananda mengangguk takut-takut lagi.
"Kenapa? Kok engga bilang terus terang?"
"Aku engga enak aja, takut masnya marah." Ananda menunduk takut menunggu reaksi Abi selanjutnya. Apakah lelaki itu akan marah padanya?.
Namun sedetik kemudian reaksi berbeda malah diterima Ananda,
"Hahaha," Ketawa Abi pecah karena melihat kepolosan istrinya itu, demi apa dia seperti menikah dengan seorang bocah pikir Abi. Bagaimana bisa Ananda sekarang bertingkah seperti bocah yang menggemaskan di depannya.
"Kamu ada-ada aja, mana mungkin mas marah. Kamu lagi hamil wajar kalau mood kamu gampang berubah apalagi indra penciuman kamu yang sekarang udah mulai sensitif banget,"
Kalimat Abi membuat Ananda tersenyum
****
Bintang-bintang malam ini begitu berkilauan di atas langit sana, Abi terduduk di atas balkon rumahnya dengan kursi kayu sebagai penyangga tubuhnya.
Angin malam mulai berhembus pelan namun dapat membuat tubuh terasa menggigil malam ini. Cuaca cerah namun angin udaranya malah terasa begitu dingin.
Beberapa kali Abi menggosokkan kedua telapak tangannya untuk mencari sumber panas tubuhnya demi mengusir rasa dingin yang mendera.
Dia bangkit dan mulai berdiri dengan tangan yang memegang pembatas balkon.
'Bintang sirius!' Pekik sebuah suara, Abi melihat ke kanan dan ke kiri tidak ada siapa-siapa.
Dia melihat ke angkasa. Dan benar saja ada bintang sirius di sana. Bintang yang paling bersinar di malam hari itu kini mencoba memanjakan mata Abi.
Sekelebat bayangan terlintas di kepala Abi membuatnya pusing seketika, bibirnya memekik keras hingga membuatnya terlempar ke atas kursi kayu yang tadi ia duduki.
"Kamu tahu engga. kalau bintang sirius itu yang paling terang lho di malam hari dibanding bintang-bintang lain." Ucap sebuah suara lelaki di benak Abi.
"Haha, sudah tahu kok!" Sekarang muncul suara wanita yang membalas.
"Yaudah mau ikut aku liatin bintang malam ini?"
....
"Ha! Itu dia!" Teriak Suara lelaki itu menunjuk ke arah langit tepat di mana ada benda langit yang bersinar dengan terangnya.
"Bintang sirius!" Pekik suara wanita lantang membuat sang lelaki menutup kuping nya.
"Aduh, maaf aku kekencengan ya teriaknya?" Sesal wanita itu membuat lelaki tadi hanya tersenyum, "Engga papa kok, Ra-"
Abi masih memegang kepalanya yang berdenyut-denyut tidak karuan, suara pekikannya semakin keras.
Ananda tergopoh-gopoh mencari asal suara yang berteriak tadi mengganggu dia yang tengah beristirahat sambil menonton televisi di ruang tengah. Dia tahu itu suara suaminya.
Suara teriakan kesakitan Abi yang semakin kuat memudahkan Ananda menemukan lelaki itu yang ternyata sudah terbaring di atas lantai nomor dua rumah mereka.
"Mas Abi!" Pekik Ananda kuat.
Abi pingsan!.
****
Ananda menggenggam erat jemari Abi yang masih terkulai lemas di atas tempat tidur.
Setelah tadi mengetahui Abi pingsan, Ananda pun segera memanggil bala bantuan yang untungnya saat itu ada dua orang satpam komplek perumahan mereka yang tengah melintas di depan rumah mereka itu, hingga Abi pun di bawa ke atas tempat tidur di bantu oleh 2 satpam tersebut.
Ananda memanggil seorang dokter kepercayaan segera untuk memeriksakan keadaan suaminya.
"Pak Abi hanya mengalami goncangan pada saraf otaknya sehingga membuat beliau susah untuk mengendalikan diri barusan, beruntung tadi anda segera memanggil saya," Jelas dokter itu pada Ananda yang masih menggenggam jemari Abi yang terasa lebih dingin.
Ananda terlihat semakin khawatir, "Apa penyebabnya dari goncangan saraf itu dok?"
"Biasanya ini disebabkan oleh penerimaan informasi di otak yang tidak beraturan sehingga otak mengalami shock yang berat,"
Ananda terdiam masih mencoba mencerna dengan baik apa yang dikatakan si dokter barusan.
"Mohon maaf, apa sebelumnya pak Abi pernah mengalami lupa ingatan.. hmmmm, maksud saya Amnesia?" Tanya si dokter dengan tangannya yang mencoba merapikan segala barang bawaannya hendak pulang.
"Am-amnesia?" Tanya Ananda balik dengan nada yang cukup terkaget.
"Ya, menurut saya pasien mengalami amnesia. Namun saya belum bisa memastikan secara detail karena jika memang ingin memastikannya kita harus membawa pasien ke rumah sakit."
Ananda terdiam.
"Maaf bu, saya harus kembali pulang." Ucap dokter itu pamit.
"Ouh iya dokter terima kasih telah mau membantu,"
"Sama-sama."
Selepas mengantarkan dokter tadi ke depan teras rumah, Ananda kini di selimuti akan pertanyaan-pertanyaan mengenai suaminya itu.
'Benarkah suaminya itu mengalami amnesia?'
Namun, kenapa tidak ada satu orang pun yang memberitahunya?.
Apakah memang keluarga Abi sengaja merahasiakan ini, Tapi untuk apa semuanya dirahasiakan.
Ananda bingung, hingga terbesit nama Faiz sebagai orang yang dapat memberikannya informasi mengenai apa yang di alami suaminya.
Ananda meraih handphone dari saku celana panjang yang ia kenakan. Dia pun mengetikkan pesan singkat dengan tangan yang bergetar.
From Ananda:
Besok temuin aku di cafetaria tengah kota, Iz. Aku mohon!.
From Faiz:
Oke, jam makan siang. Sepuluh menit terlambat. aku pergi.
****
Keesokannya sesuai kesepakatan mereka. Ananda menemui Faiz di cafetaria tengah kota.
Faiz yang saat itu memakai baju kemeja hitam lengan panjang yang kontras dengan kulit putih bersihnya cukup mencolok bagi siapa saja yang melihatnya kala itu. Tidak sulit bagi Ananda mengenali Faiz di antara kerumunan pengunjung cafe.
"Maaf aku telat, Iz." Ananda memohon maaf saat baru tiba di meja mereka.
Faiz berdeham ringan, "Langsung to the point saja aku malas berlama-lama," Katanya menatap tajam Ananda.
"Baik. Apa benar mas Abi pernah-" Ananda tidak sanggup mengutarakan nya. Tapi hati Ananda bersikeras untuk segera ingin mengetahui tentang hal ini.
"Am-amnesia?" Kata itu dengan terbata-bata akhirnya keluar dari bibir ananda.
Faiz tersenyum culas menanggapi pertanyaan itu, "Akhirnya kamu mengetahuinya sekarang Nand!"
Ananda shock bukan main, "Jadi benar?"
"Seperti itulah." Ucap Faiz dengan entengnya.
"Dengar Nand, kamu engga pernah sadar kan bahwa selama ini kamu di bohongi keluargaku dan juga Ayahmu itu?. Mereka menjodohkan kalian hanya untuk bisnis dan juga tali pertemanan,"
Ananda membelalakan matanya kaget.
"Tidak usah kaget Nanda, orangtua memang suka begitu. Memaksakan kehendak, kamu hanya belum tahu rahasia lainnya Nand."
Faiz tertawa dingin lagi seolah menghakimi kebodohan Ananda yang bisa-bisanya terperdaya akan perjodohan omong-kosong ini.
Faiz berdiri, "Aku pergi! kerjaan ku masih banyak."
Ananda menyorotkan pandangannya melihat Faiz yang telah menjauh.
Ingin rasanya kali ini Ananda berteriak demi melepas segala permasalahan ini di dalam otaknya.
Ananda sekarang tahu mengapa sang ayah begitu bersikeras untuk menjodohkannya dengan Abi, yang ternyata bertujuan tidak lain dan tidak bukan hanya karena permasalahan bisnis diantara kedua belah pihak.
Dan gara-gara perjodohan ini juga Ananda harus merelakan kekasih yang dicintainya pergi.
Berdosa atau tidak dia sekarang, Ananda merindukan mantan kekasihnya......
Z I A N.