MY IMAM

MY IMAM
Episode 22 I still loving you



Abi memijit keningnya pelan untuk meredakan segala kemumetan yang terlintas di kepalanya kini.


Hal itu di sebabkan oleh Zian yang notabene adalah mantan kekasih dari istrinya yang tiba-tiba hadir di kantornya tadi pagi. Berulang kali dia mengusap wajahnya yang tampak begitu kusut, bahkan beberapa pegawai yang lewat di depannya tadi ketika beranjak dari ruang pertemuan tiba-tiba langsung merunduk karena merasakan hawa gelap yang tengah menyelimuti bos mereka itu.


Semua ini salah Faiz menurut Abi, karena bagaimana pun Faiz-lah yang membuat kontrak dan mendatangkan salah satu orang yang saat ini ingin ia jauhkan dari kehidupannya apalagi dari kehidupan sang istri.


Kalau bukan karena surat perjanjian yang sudah ditandatangani terlebih dahulu, Abi mungkin saja akan lebih memilih untuk mencari fotografer-fotografer lain ketimbang lelaki itu. Terserah jika harganya lebih mahal ataupun harus menunda minggu depan. Dan jika perlu dia juga bisa mengundang fotografer dari negara tetangga daripada memilih Zian sebagai fotografer produk iklannya.


"Arrrrghhhh-" Teriak Abi emosi lalu sedetik kemudian teriakan nya itu berhenti karena tiba-tiba pintu ruangan yang terbuka dan menampilkan seorang wanita cantik dengan berpenampilan hijab yang juga begitu cantik.


"Dek~ Kamu pakai kerudung?" Tanya Abi tidak percaya.


Ananda sebagai lawan bicara hanya tersenyum manis dan melangkah mendekati suaminya itu, dia lalu menarik tangan kanan Abi untuk dia cium.


"Hai Mas imam!" Kata Ananda dengan senyuman yang begitu manis hingga membuat dunia Abi untuk sebentar berhenti.


Wanitanya kini telah berhijab dan demi apapun kadar kecantikan Ananda kini bertambah berkali-kali lipat dihadapannya. Abi bahkan beberapa kali memukul pipinya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi, dan dia pun merasakan bahagia tiada tara saat ia bisa merasakan sakit akibat pukulan di pipinya itu.


"Kamu yakin?"


Ananda mengangguk, "Kalau engga sekarang kapan lagi?"


Abi tersenyum lalu berdiri dan memeluk Ananda erat, "Makasih dek, sudah menjaga diri kamu."


Ananda mengangguk dalam pelukan Abi.


Ananda melepas pelukan mereka dan menatap wajah suaminya lekat, "Lagi waktu istirahat kan? Makan diluar yuk!" Ajak Ananda semangat.


Abi yang memang sedari tadi tidak dapat mengalihkan pandangannya dari wajah cantik Ananda yang kini sudah berhijab, hanya mampu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Ananda tersenyum sumringah lagi dan menarik lengan suaminya itu untuk ikut bersamanya.


"Memangnya mau makan apasih, sampai ngajak keluar?" Tanya Abi.


"Aku pingin salad buah di cafe biasa aku beli," Jawab Ananda membuat Abi mengerti bahwa istrinya itu mengalami ngidam.


"Okeh~" Ucap Abi bernada patuh pada istrinya.


Mereka tidak memperdulikan sepanjang jalan banyak karyawan yang menatap mereka penuh minat. Banyak yang mengatakan bahwa pasangan Abi dan Ananda adalah pasangan yang serasi.


Tampan dan Cantik. Sudah cukup untuk mendefinisikan kecocokan mereka berdua.


Namun dibalik tatapan-tatapan bahagia terhadap mereka berdua, ada satu orang yang menatap keduanya dengan pandangan nanar. Raline-lahmelihat keduanya dengan pandangan seperti itu.


Tanpa sengaja Abu malah melihat ke arah Raline yang juga melihat ke arahnya. Sungguh pandangan Raline tidak dapat ia artikan namun ada perasaan sakit dalam lubuk hatinya saat ia menatap wajah lesu wanita itu.


Tidak tahu harus berbuat apa, Abi hanya bisa melemparkan senyum kearahnya. Raline membalas senyum tipis lalu beranjak pergi menjauh.


Tidak tahu mengapa dada Abi tiba-tiba terasa semakin sesak karena melihat ekspresi yang Raline perlihatkan.


*****


"Pelan-pelan dong makannya Nand," Peringat Abi pada Ananda yang duduk dihadapannya sambil memakan salad buah secara lahap di salah satu cafe di pinggiran kota.


"Ma-ap Mwas habisnya laperrrr." Ucap Ananda sambil tetap mengunyah makanannya dengan lahap.


Abi sejujurnya bahagia-bahagia saja jika Ananda mau memakan sesuatu daripada tidak mau makan apa-apa sama sekali karena Abi merasa takut masa-masa kehamilan Ananda sama seperti masa kehamilan salah satu istri dari pegawainya yang susah sekali untuk makan dan membuat si suami sedikit frustasi.


Abi tidak sanggup jika harus membayangkannya.


"Sudah." Kata Ananda sambil menaruh mangkuknya sedikit jauh yang tadinya berisi salad buah yang cukup banyak.


Abi mengernyit, "Itu sedikit lagi, habiskan dong. Mubazir lho,"


"Engga mas aku sudah kenyang. Yuk pulang saja!"


"Aduh engga bisa dek, Mas harus balik ke kantor nanti sore palingan baru bisa pulang ke rumah," Kata Abi dengan jemarinya yang mengelus punggung tangan Ananda lembut.


"Yaudah!" Sahut Ananda dengan nada sebal karena permintaannya tidak dituruti.


"Jangan ngambek, besok kan weekend. Mas ajakin jalan-jalan deh ya?." Abi mulai membujuk Ananda yang entah mengapa sedari kemarin juga begitu manja padanya. Bukan tidak suka, malah jujur Abi begitu senang karena Ananda yang seperti begitu membutuhkannya. Apakah Ananda sudah bisa melupakan si Zian itu, pikir Abi. Jika iya, maka Abi akan bersujud syukur pada Tuhan sekarang juga karena telah mengabulkan segala doanya.


"Mas antar pulang ya?" Tawar Abi sambil mengajak Ananda untuk berdiri.


Ananda mengangguk tidak minat.


"Ya sudah. ayok!" Ujar Abi lagi sambil menaruh lembaran uang di permukaan meja sebagai bayaran untuk makan siang mereka.


Keduanya pun berjalan bergandengan ke arah liar cafe. Sesekali Abi melihat ke arah Ananda yang masih memasang wajah sebalnya yang entah mengapa bagi Abi malah terlihat begitu menggemaskan.


***


Abi membukakan pintu mobil untuk Ananda yang masih terlihat memasang wajah datarnya.


Selama perjalanan di mobil tadi memang Ananda lebih banyak diam daripada menanggapi segala pertanyaan Abi.


Abi mengecup puncak kening Ananda lama setelah wanita itu keluar dari mobil Abi. "Kamu baik-baik ya di rumah, Kalau ada apa-apa langsung hubungi mas, oke?" Kata Abi.


Ananda mengangguk patuh tanpa berniat menginterupsi. Abi sekali lagi menciumnya sebelum berlari ke arah pintu kemudi mobil dan masuk kedalamnya. Suara mesin mobil telah menyala membuat Ananda memutuskan untuk berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah.


"Tunggu mas pulang ya bidadari!" Teriak Abi membuat Ananda berbalik dan menemukannya di balik kaca mobil yang terbuka.


Abi tersenyum di sana ke arahnya. Ananda membalas senyumnya tidak kalah manis.


"Mas sayang kamu!" Teriak Abi lagi tidak kalah menggelegar dari sebelumnya membuat beberapa tetangga yang melihat interaksi mereka sedari tadi ikut terkekeh. Sedangkan Ananda hanya mampu menutup mukanya malu karena di perhatikan.


Mobil Abi pun melaju meninggalkan rumah mereka. Sedangkan Ananda mulai mengangkat membuka wajahnya dan tersenyum bahagia.


Jujur baru kali ini Ananda merasakan begitu di cintai oleh seseorang, bahkan seorang Zian pun tidak pernah melakukan hal-hal seperti itu selama dengannya dulu.


TBC.


****


**Terima kasih untuk kalian yang sudah support semoga aku bisa update cerita "My Imam" ini setiap hari ya. Aamiin


Dan semoga juga kalian suka terus jangan lupa like dan comment ya. Oke!


Selamat malam minggu!*****