
"Harusnya kalau memang mas punya kerjaan jangan ajak aku dulu. Urus dulu pekerjaan baru ngajak aku pergi." Ananda kesal karena tiba-tiba Abi harus kembali ke kantor karena ada seorang klien yang tiba-tiba ingin bertemu dengannya.
"Cuman sebentar Nand, setepah itu mas janji akan bawa kamu ketempat yang kamu mau, ya." Bujuk Abi sambil mencoba menggenggam tangan Ananda namun segera ditepis oleh istrinya itu.
"Engga usah. Udah engga mood mas. Lebih baik mas urus aja kerjaan kamu di kantor." Ananda berbalik badan hendak pergi ke arah kamarnya.
"Nand plis!" Mohon Abi dengan wajah yang begitu memelas membuat Ananda dalam hati tidak tega.
"Plis, ini cuma sebentar kok. Setelah itu kita bisa pergi karena memang hari ini mas cuti."
Ananda masih terdiam.
Abi mencoba membuka suara lagi, "Ikut ya ke kantor, sebentar aja." Rayu Abi dengan wajah yang semakin memelas.
Ananda kali ini memutuskan untuk mengalah dan mengangguk setuju. "Aku tunggu paling lama satu jam. Setelah itu kalau masih belum kelar, Aku pulang sendiri." Ancam Ananda membuat Abi lega.
"Siap bos!" Ucap Abi dengan nada dan tangan hormat di dahi seperti seorang prajurit kepada komandannya.
Ananda mengulum senyum. Namun Abi bisa melihatnya, "Nah, gitu dong senyum kan jadi manis kamunya,"
Ananda segera memasang wajah galak lagi, "Apaan sih. Yaudah ayo cepetan!" Keluh Ananda.
Abi hanya mengelus dadanya pelan namun dengan senyuman yang terus terpeta di bibirnya, akhirnya rencananya berhasil meski ada gangguan sedikit dari kantor. "Eh, iya-iya.".
****
Di dalam mobil, Abi tiba-tiba mendapati panggilan dari Faiz dan ia pun langsung mengangkatnya.
Faiz langsung to the point tanpa memberi salam terlebih dahulu membuat Abi tidak mengerti apa yang dibicarakan Faiz itu.
"Maksudnya gimana Iz." Tanya Abi pada Faiz melalui sambungan telfon. Abi mencoba fokus pada setirnya sambil sesekali membenarkan smartphone yang terselip antara bahu dan kupingnya agar tidak terjatuh.
Melihat sang suami yang dalam keadaan susah-payah dalam membagi konsentrasi, Ananda perlahan mencoba mengambil alih smartphone Abi dan kini jemari Anandalah yang menjadi media untuk membantu Abi berbicara dengan sambungan telfonnya.
Abi mengucapkan terimakasih pada sang istri dengan nada berbisik karena begitu peka dengan dirinya yang tampak kesusahan.
"Pak Broto batalin pertemuan hari ini, katanya anaknya tiba-tiba masuk rumah sakit. Jadinya ya pertemuan kita batalin untuk sementara." Ucap Faiz di seberang telfon.
"Jadi kapan bisa kita buat pertemuan?" Tanya Abi
"Nanti sekretaris Pak Broto kabarin lagi konfirmasi tanggalnya."
"Oke kalau gitu gue lanjutin cuti gue ya sehari ini titip kantor. Btw, Thanks.
bip.
Abi mematikan segera sambungan telfonnya dan berlalih dari jalanan menjadi menatap sang istri.
"Sayang," Panggil Ananda
Ananda mengangkat alisnya seolah meminta jawaban atas apa yang dibicarakan antara Abi dan Faiz.
"Pertemuannya dibatalin, Yes," Teriak girang Abi membuat Ananda membulatkan matanya terkejut.
"Beneran?"
Abi mengangguk cepat meyakinkan Ananda.
Ananda tidak kalah heboh dan kini malah memeluk leher suaminya itu, melupakan bahwa sebenarnya Ananda dalam keadaan tengah tidak ingin terlalu dekat dengan Abi.
"Eh, sorry mas" Ucap Ananda malu karena mendapati dirinya yang begitu senang sambil memeluk erat leher suaminya itu. Pipi wanita itu tiba-tiba tampak memerah dan diapun langsung memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil.
Abi menahan tawanya sejenak dengan menggigit bibirnya karena melihat tingkah lucu Ananda.
Ada bagian pada hati Abi yang terasa seperti meledak-meledak karena hari ini ia mendapati dirinya kembali di peluk Ananda seperti tadi. Padahal untuk beberapa hari ini jangankan untuk memeluk Ananda bahkan untuk melihat istrinya itu pun begitu sulit. Beruntung hari ini ada bagian dari otak cemerlangnya yang menimbulkan ide untuk membawa Ananda ketempat yang wanita itu mau.
Tak jauh berbeda dengan Abi, Ananda pun tampak terus menahan gejolak dadanya yang tiba-tiba saja semakin berdebar kencang, bukan hanya karena malu akibat perlakuannya tadi namun lebih kepada perasaannya yang terus meluap ketika berdekatan dengan Abi.
"Kita ke pantai aja mas, engga usah ke kebun teh ya," Ananda berusaha mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan.
Abi otomatis menoleh ke arah Ananda yang masih betah memandangi arah luar dari balik kaca mobil sepertinya dia masih dalam keadaan malu akibat kejadian tadi pikir Abi.
"Beneran nih, engga kecewa?" Tanya Abi lagi memastikan.
"Engga mas, udah kita ke pantai aja. Aku pingin ke sana sekarang,"
****
Dua jam telah terhitung untuk perjalanan menuju pantai ini dan akhirnya mereka berdua pun sampai di sebuah pantai yang cukup indah dengan hamparan pasir putih sebagai alas pemijak kaki. Abi mencoba memakirkan mobilnya dengan bantuan seorang juru parkir yang berada di pantai itu hingga Abi bisa memakirkan kendaraannya di bawah pohon yang sedikit rindang mencoba menghalau sinar mentari yang cukup terik agar tidak langsung terpapar ke permukaan mobilnya.
Abi menoleh ke arah samping jok mobilnya dimana ia dapati Ananda yang tengah tertidur pulas. Abi mencoba membenarkan hijab Ananda yang sedikit berantakan di sisi kiri dan kanan wajahnya.
Setelah selesai, ia pun memandangi wajah Ananda lekat, selekat-lekatnya. Memandangi bagaimana Tuhan dengan begitu luar biasanya menciptakan wanita secantik Ananda dan yang lebih Abi syukuri lagi adalah bahwa wanita itu adalah miliknya sekarang meski mereka kini terlibat pertengkaran kecil tetapi Ananda masihlah berstatus sebagai miliknya.
Ananda sebenarnya sedari tadi telah bangun ketika tangan Abi membenarkan hijabnya, namun entah mengapa ada bagian dari otaknya yang memerintahnya untuk tidak membuka mata terlebih dahulu demi merasakan bagaimana baiknya Abi memperlakukannya sebagai seorang istri.
"Nand, ayo bangun udah sampai."
Ananda mengucek-ngucek mata perlahan dan pandangannya langsung bertemu dengan kedua bola mata Abi yang tegas. Untuk beberapa detik mereka mengunci pandangan itu dengan sesekali Ananda menyapu pandangan keseluruh wajah Abi.
"Yuk!" Ajak Abi lalu lelaki itupun turun dari mobilnya dan mengitari kendaraan itu menuju pintu samping tempat Ananda ingin keluar.
Abi membukakan pintu dan mengulurkan satu tangannya untuk digenggam oleh Abi.
Dan akhirnya kedua insan itupun berjalan menuju sebuah gubuk yang telah dijadikan tempat untuk singgah bagi para pengunjung pantai dengan kedua telapak tangan yang saling tertaut.
Abi menggelar sebuah tikar berbahan anyaman pandan yang sebelumnya telah diberi oleh pemilik gubuk untuk digelar di atas permukaan gubuk tersebut agar lebih bersih untuk di duduki.
"Kamu mau makan?" Tanya Abi pada Ananda yang baru duduk dan beberapa kali menyapu debu yang menempel di atas tikar dengan kedua tangannya.
Ananda mengangguk, "Boleh deh, dari pagi belum makan soalnya." Tutur Ananda yang langsung di balas senyum oleh Abi.
"Menunya ada apa aja pak?" Tanya Abi pada sang pemilik gubuk yang juga pemilik rumah makanan di tepi pantai ini.
"Kebanyakan seafood mas, tapi kalau mau yang lain juga ada." Ucap si bapak dengan logat jawa.
"Yaudah saya mau ikan bakarnya aja pak, kamu Nand?" Tanya Abi menoleh ke arah wajah istrinya.
"Sama aja pak, oh ya. Minumnya es kelapa muda aja ya pak." Pesan Ananda yang langsung diangguki oleh si bapak penjual.
"Saya juga sama pak minumnya," Ucap Abi menambahkan.
"Baik mas."
Setelah si bapak pergi dengan membawa pesanan untuk di masak oleh seorang wanita yang di taksir Abi mungkin adalah istrinya, Abi dan Ananda tiba-tiba saja terdiam berdua di atas gubuk itu. Hanya suara atap rumbia yang beberapa kali terhantam dengan kayu gubuk akibat angin yang bertiup sedikit kencang.
Ananda tersenyum saat anak kecil yang berlarian dengan kedua orangtuanya di tepi pantai. Sepertinya anak kecil itu tidak takut dengan teriknya matahari siang ini padahal sinarnya cukup membuat siapa saja kelimpungan namun semangat anak kecil itu untuk mengajak bermain kedua orangtuanya mungkin lebih besar daripada besaran satuan suhu fahrenheit siang ini.
"Mungkin tiga atau empat tahun lagi kita yang seperti mereka Nand," Suara Abi membuyarkan lamunan Ananda dari melihat keluarga kecil bahagia itu.
"Hah!" Ananda berlagak seperti tak mendengar ucapan Abi tadi.
"Mas bilang, mungkin tiga atau empat tahun lagi kita yang seperti mereka." Tunjuk Abi pada keluarga yang dilihat Ananda tadi.
Ananda hanya mengangguk mengerti sambil kembali melihat ke keluarga tersebut lagi.
"Kamu engga mau kita seperti mereka?" Tanya Abi.
Ananda mengedikan bahunya seolah tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya. Setelah itu suasana kembali hening, hanya aroma masakan dari dapur masak di rumah makan itu yang menjadi peneman di antara pikiran-pikiran liar mereka berdua.
Keduanya terjebak di pikiran mereka masing-masing. Ananda yang berpikir apakah sudah saatnya memafkan sang suami dan kembali ke rumah mereka atau Abi yang mencoba memilih antara Ananda untuk kembali bersamanya atau mempertahankan Raline dikantornya.
Hingga Abi mulai membuka suara di tengah keheningan mereka.
"Aku udah putusin...." Suara Abi bernada serius membuat Ananda menoleh ke arahnya seketika.
"Hm?"
Abi mencoba menarik nafasnya dalam seolah apa yang ia katakan ini cukup berat baginya.
"Aku udah putusin....."
Abi kembali tercekat.........
"Aku akan pecat RALINE." Ucap Abi dengan berat sekali namun dia mencoba mengikhlaskan segalanya demi keluarganya.
TBC.