
Lima hari setelah istrinya memutuskan untuk tidak mau pulang bersamanya hingga dirimya bisa menuruti syarat yang diajukan sang istri yaitu memecat Raline dari kantor miliknya. Hari-hari Abi hanya dapat dilaluinya dengan begitu hambar tanpa kehadiran sosok istri disampingnya.
Setiap pagi, ia akan terbangun dengan bantuan bunyi alarm pemecah keadaan sunyi di dalam kamarnya serta keadaan dimana ia mendapati bahwa tempat tidurnya hanya ada ia seorang tanpa adanya sang istri.
Segala keperluannya di pagi hari untuk beberapa hari ini hanya dapat dilakukan seorang diri oleh Abi, bahkan untuk sarapan sekalipun dia akan memasak makanan sederhana seperti mie instan atau olahan telur sekenanya saja sebagai pengganjal perut di pagi hari. Setelah itu pun dia akan memakan sarapannya di dalam kesunyian karena sang istri yang memilih memisah untuk sementara waktu darinya tersebut.
Keadaan saat pulang dari kantor pun tidak terlalu jauh berbeda, Abi akan membuka pintu rumah dengan hanya kesunyian yang menyambutnya serta lampu rumah yang belum dinyalakan membuat rumah seperti tidak berpenghuni. Tidak ada yang akan menyapanya dan menyiapkan makan malamnya seperti biasa. Oleh karena itu, sebelum benar-benar pulang kerumah pada malam hari Abi akan menyempatkan untuk singgah membeli makanan malam di restoran ataupun warung makan terdekat dengan rumahnya.
Tidak ada juga yang akan menanyakan bagaimana hari yang dilalui Abi selama dikantor ataupun sejauh mana pekerjaan proyeknya yang kini ia kerjakan. Serta tidak ada pula yang akan menanyakan kepada Abi yang mau mandi dengan air hangat atau tidak.
Abi benar-benar kehilangan sosok istrinya beberapa hari ini, padahal Abi ingat bahwa baru beberapa bulan ini Ananda mulai menunjukan rasa cinta pada Abi setelah dahulunya hanya memandang Abi sebagai seseorang lelaki yang berstatus suami bukan orang yang berstatus untuk dapat dicintai.
Abi bukannya tidak mau menuruti persyaratan dari istrinya itu, hanya saja persyaratan itu dirasa Abi cukup berlebihan dan kekanakan. Memecat seseorang dari kantor dengan alasan pribadi bukanlah suatu tindakan yang dibenarkan dalam dunia profesional. Selain itu, Raline juga tidak pernah melakukan sebuah kesalahan untuk perusahaan. Dia melakukan semua tugas dan pekerjaan secara baik dan cepat. Jadi, menurut Abi tidak ada alasan untuknya dapat memecat wanita itu begitu saja.
Tapi melihat istrinya yang sampai saat ini begitu ngotot dengan keinginannya membuat Abi merasa terkadang ingin saja melakukan hal yang disyaratkan oleh istrinya itu. Namun dilain sisi dia tidak ingin dipandang sebagai seorang bos yang semena-mena dan mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan.
Abi benar-benar frustasi.
"Hufftttttt..." Abi menarik nafas dalam dan melepaskannya seolah sesak di dadanya dapat berkurang.
Ia menarik selimut panjang hingga menutup tubuh seluruhnya di atas ranjang yang kini terasa lebih luas karena tidak ada Ananda yang berbagi ranjang itu dengannya beberapa malam ini.
Sebelum memejamkan mata Abi mencoba memejamkan matanya dan mulai berdoa agar harinya esok lebih mudah untuk dijalani. Selesai itu, suara dengkuran orang tidur pun keluar dari mulut Abi pertanda bahwa dirinya telah terlelap.
***
Mobil hitam sedan Abi mulai meluncur membelah jalanan ibukota sepagi ini. Jalanan pun tampak tidak begitu macet karena hari yang memang masih terlihat cukup gelap untuk para warga ibukota mulai beraktivitas.
Arah yang dituju Abi bukanlah menuju kantornya seperti pagi biasanya melainkan arah tujuannya kini adalah rumah kedua mertuanya. Dia berniat hari ini untuk mengajak jalan istrinya itu. Dia tidak berharap banyak untuk Ananda dapat melunak dan mau kembali ke rumah mereka sebelum persyaratannya di turuti Abi.
Dia juga tidak berharap Ananda mau memaafkannya secepat itu tetapi alasan mengapa Abi melakukan ini adalah ia ingin melepas rindu kepada istrinya itu karena sudah beberapa hari mereka tidak bertemu satu sama lain.
Akhirnya mobil bmw hitam yang dikendarai Abi pun tiba di rumah kedua mertuanya setelah belasan menit berkendara di jalanan. Abi mematikan deru mesin mobilnya dan keluar dari sana dengan senyuman yang tampak mengembang.
Abi merasa dirinya seperti seorang remaja pria yang berniat menjemput kekasihnya untuk diajak jalan-jalan untuk membunuh masa dan memadu kasih sayang. Padahal Abi dan Ananda dapat dikatakan sudah jauh hubungannya daripada sekedar sepasang kekasih. Mereka sudah menikah.
Abi merasa gugup ketika hendak mengetuk pintu rumah di hadapannya itu, ia seperti baru pertama kali saja berada di sana. Abi sadar bahwa dirinya mungkin saja belum pernah berpacaran dahulu sebelum ia terkena amnesia.
Yang ia ingat hanya bahwa dirinya dulu pernah berpacaran dengan dua gadis semasa SMA itupun ia tidak pernah mengantar dan menjemput kedua pacarnya itu kerumah mereka bahkan Abi pun tidak tahu letak kedua rumah dari mantan-mantannya tersebut. Jangan tertawa, Ketahuilah bahwa Abi adalah pria yang bisa dikatakan sebagai "buaya" dahulunya. Tidak pernah merasakan keseriusan dari yang namanya memiliki hubungan.
Jadi bukan suatu masalah bagi Abi jika dirinya tidak merasa terlalu dekat dengan para pacarnya terdahulu, yang jika untuk mengetahui rumah dari pacarnya saja dia tidak mau.
Namun kali ini Abi merasakan bagaimana deru jantungnya seperti memompa lebih keras ketika tangannya hendak mengetuk pintu yang berada dihadapannya kini bahkan ketahuilah tangannya kini yang mulai terasa kaku dan terasa dingin akibat gugup yang dirasanya begitu berlebihan.
***
Suara ketukan pintu terdengar di pendengar salah satu penghuni rumah, bi sumiyati sang pekerja di rumah tersebut yang mendengarnya.
"Ouh den Abi toh. Masuk, masuk den!" Sapa bi sumi ketika melihat siapa yang kini dihadapannya.
"Iya bik, Nanda ada di rumah kan bi?" Tanya Abi lalu segera dibalas dengan anggukan oleh bi Sumi. Bik sumi pun segera melegangkan kaki masuk ke dalam rumah meninggalkan Abi di ruang tamu.
Tidak lama berselang sebuah suara lembut menyapa telinga Abi dan membuyarkan konsentrasinya dari mengamati lukisan-lukisan yang ada di dinding.
"Mas Abi?!"
Suara itu memang terdengar lembut namun tidak meninggalkan rasa atau kesan dingin yang tercipta.
"Nanda!" Seru Abi dengan senyuman yang tiba-tiba langsung terpahat kala memandang wajah istrinya yang sudah tidak ia temui untuk beberapa hari ini.
"Kamu sehat?" Tanya Abi dengan nada peduli yang begitu kentara.
Ananda hanya mengangguk dengan memaksakan sebuah senyuman terukir dibibirnya.
"Ada apa mas? Kok tiba-tiba kemari?" Ananda bertanya dengan nada yang lagi-lagi terdengar dingin di kuping Abi.
Abi tidak kehabisan akal, kali ini ia justru menarik lengan Ananda untuk duduk di atas sofa sementara Abi memilih berlutut dihadapannya.
Ananda awalnya tampak terkejut namun diam-diam dia menyembunyikan sebuah senyum bahagia akibat sang suami yang memperlakukannya seperti itu.
"Aku mau ajak kamu ke pantai hari ini, boleh?" Abi meminta dengan nada yang begitu lembut hingga membuat seorang Ananda berteriak di dalam hatinya karena merasa senang.
Namun Ananda memilih untuk menyembunyikan senyumannya dan menggantikan senyuman itu dengan wajah datar agar Abi tidak merasa telah mendapatkan maaf Ananda. Juga Ananda yang masih ingin mempertahankan egonya.
"Maaf mas aku sibuk," Ucap Ananda menolak ajakan Abi.
Abi paham bahwa mendapatkan maaf dari seseorang yang telah dibuatnya kecewa memang begitu sulit, namun meminta maaf dari Ananda ternyata jauh lebih sulit dari yang Abi bayangkan.
"Sibuk apasih?. Aku ngeliatnya kamu lagi free engga kelihatan sibuk." Abi kembali merayu istrinya itu.
"Memangnya kamu tahu aku ngapain aja? orang udah hampir seminggu kamu engga nampak batang hidungnya." Cerocos Ananda buat Abi tergeli lalu menjawil hidung mancung istrinya itu.
"Cieee, yang nyariin Mas." Goda Abi dengan seloroh membuat pertahanan Ananda runtuh dan akhirnya wanita itu tidak dapat menahan senyumnya dan yang akhirnya bisa dilihat oleh Abi. Senyuman yang Abi rindukan hampir seminggu ini.
Ananda memukul lengan Abi dengan kedua tangannya karena berhasil menggoda dirinya.
"Yaudah, mau ajak aku kemana?" Tanyanya Ananda yang menyerah namun tetap dengan nada marah yang terkesan dibuat-buat demi menutup rasa bahagia yang memuncak dalam dirinya.
Ananda sadar bahwa dirinya memang telah jatuh cinta terhadap lelaki tersebut sehingga melihat lelaki itu berusaha menggodanya sedikit saja maka pertahanan dirinya akan runtuh. Namun, Ananda tetap belum mau memberi kemaafan bagi suaminya itu hingga lelaki itu bisa memecat Raline dari kantornya Begitulah tekad Ananda yang telah bulat.
Abi mengetuk jemari pada dagunya seperti keadaan orang yang tengah berpikir mencari sesuatu.
"Gimana kalau kita ke pantai aja?" Usul Abi.
Ananda mengkerutkan keningnya, "Kok ke pantai sih. Masih pagi begini." Protes Ananda membuat Abi mengalah kembali.
"Yaudah kamu mau kemana?"
Kini gantian Ananda yang mengetukan jemarinya pada dagu seolah memikirkan sesuatu, "Aku mau ke kebun teh."
"Kebun teh?" Tanya Abi memastikan pendengarannya.
"Iya, memangnya kenapa mas?"
"Kamu kan tahu itu jauh banget, bisa makan waktu dijalan. Tempat lain engga mau?" Abi mendadak pusing memikirkan jarak jauhnya antara rumah Ananda dan tujuan yang dimaksud Ananda. Bukan tidak mau mengabulkan permintaan sang istrinya tapi masalahnya perjalanan ke kebun teh itu bisa memakan waktu sekitar 3 jam, belum lagi kemacetan yang akan memakan waktu lebih lama lagi di perjalanan.
"Yaudah kala engga mau, aku engga ikut sama kamu." Ancam Ananda sambil bangkit dari duduknya.
"Ettttt, Iya-iya. Kita ke kebun teh," Ucap Abi pasrah.
Ananda memasang senyum di balik wajah datarnya, akhirnya dia yang memenangkan pertandingan ini.
Oleh karena itu Ananda meminta suaminya untuk menunggu sebentar sementara dirinya akan mengganti pakainnya dan memerintahkan bi sumi untuk membuatkan minum untuk suaminya itu.
Ananda berlari kecil ke kamarnya sambil menahan sebuah teriakan bahagia karena hari ini suaminya mengajaknya untuk pergi bersama.
Dalam hati Ananda juga merasa lega karena dengan hal seperti ini suaminya itu lebih menunjukan bahwa dia lebih memilih Ananda ketimbang wanita yang saat ini begitu tidak disukai Ananda.
Tidak ingin membuang waktu, Ananda segera bergegas hingga 15 menit kemudian Ananda telah berubah menjadi wanita yang begitu cantik dengan pakaian terusan dari pundak hingga menyentuh lantai serta hijab yang menutupi rambut panjangnya.
Abi tersenyum bahagia saat Ananda menegurnya dari bermain smartphonenya. Abi melihat Ananda tanpa berkedip karena demi apapun Ananda memang begitu indah dalam pandangan Abi.
Hingga sebuah deringan pesan singkat muncul di layar smartphone milik Abi. Yang isi pesan tersebut.
*Faiz :
Urgent!! Pak broto ingin ketemu sekarang*.