MY IMAM

MY IMAM
Episode 6



Sentuhan itu nyata, tangan Zian dengan


beraninya menggenggam lengan Ananda yang masih terdiam. Sorot mata Zian kentara


sekali sarat akan kekecewaan yang sungguh mendalam. Ananda dapat melihat sisi


terlemah dari Zian selama ia pernah mengenal pria itu, Zian tidak pernah


sekalipun terlihat selemah ini. Zian tidak pernah memiliki sorot mata sesayu


itu, Ananda merasa dirinya begitu kuat dalam mengahntam cinta laki-laki itu


hingga laki-laki itu seperti seseorang yang hilang arah.


Kisah-kisah lama seolah kembali berputar


di bola mata mereka untuk dilihat bagai sebuah slide-slide kenangan dari


masing-masing pemandang. Ananda segera memutuskan untuk memandang satu-sama


lain. Dia takut untuk terlena hingga melupakan bahwa dia telah berusami.


“Jawab aku! Kenapa kamu ada disini?”


Tanya tegas Zian. Matanya terus menatap wanita di depannya dengan tatapan


tajam.


“Ak....aku kesini sama Mas Abi,”


Dengus Zian menoleh kearah lain seperti


malas melihat wajah Ananda, “Aku tanya kamu kanapa ada disini bukan dengan


siapa!” Nada Zian meninggi di akhir kalimatnya.


“Aku.....” belum sempat Ananda


melengkapi kata-katanya, Zian kembali memotong, “OH! Aku tahu, pasti kamu lagi


bulan madu bareng dia kan?” Ananda tidak bisa menjawab lagi juga tidak berani


menatap Zian, wanita itu menunduk.


“Tega kamu, apa dosa yang udah aku buat


ke kamu sampai kamu setega ini Nand?” Cerocos Zian tidak dapat menahan emosinya


lagi, itu terdengar dari kata-katanya yang bergetar.


“Maaf Zian.” Hanya itu yang dapat


dikatakan Ananda untuk Zian. Bahkan Ananda tidak tahu mengapa dia harus meminta


maaf sedangkan dirinya sendiri juga merasakan sakit yang tidak jauh lebih sakit


dari Zian. Dia harus menghabiskan kehidupannya dengan lelaki yang ia tidak


cintai. Mereka sama-sama jadi korban disini tetapi Ananda juga berpikir bahwa


memang kesalahannya pada Zian untuk menentang perjodohan ini. Dengan itu ia


lepaskan cengkraman lelaki di depannya ini dengan pelan lalu berbalik menuju tempatnya.


Tidak lama Zian pun memutuskan untuk pergi menjauh juga. Namun yang sama-sama


mereka dapati kali ini adalah air mata mereka yang bercucuran bersama langkah


gontai mereka yang menjauh satu sama lain.


Mantan, itulah status mereka kini.


Menjadi mantan kekasih karena keadaan bukan karena perasaan yang tidak saling


menyukai lagi. Bukan pula perasaan yang tidak menginginkan satu sama lain lagi


serta bukan juga perasaan cinta dan sayang yang telah menghilang karena saat


mereka berpisah, bahkan mereka telah membuat janji untuk terus bersama sampai keduanya di jemput untuk kembali pada sang pemilik semesta.


***


Abi terkejut saat dia tiba dikamar tidak


menemukan Ananda di manapun hingga pintu kaca yang mengarah langsung pada sisi


pantai tergeser menampilkan sosok istrinya dengan wajah yang seperti habis


menangis membuat Abi panik takut terjadi sesuatu pada wanitanya itu.


“Mas, udah balik. Bentar aku cariin baju


santainya dulu,” Ananda segera berlalu ke arah koper mereka yang memang


baju-baju mereka belum sempat untuk Ananda pindahkan kedalam lemari yang


tersedia di kamar hotel. Tanpa Ananda sadari Abi masih menatap wajah Ananda


yang terlihat sembap.


“Kamu habis nangis?” Tanya Abi


hati-hati. Ananda segera berlari kearah cermin dan tampaklah matanya yang


sedikit sembap akibat menangis tadi. Ananda mencoba bersikap seolah tidak terjadi


apa-apa lalu membalikan badannya kearah sang suami lalu berkata bahwa dia hanya


kelilipan saja.


Abi mendekat lalu menyentuh wajah


istrinya mencoba melihat dengan jelas cetakan air mata yang baru saja


mengering. “Kenapa?” Nada rendah dari pertanyaan Abi tidak dapat lagi bisa coba


Ananda bohongi. Namun Ananda malah memilih untuk diam tidak mau menjawab


pertanyaan suaminya itu.


“Kalau memang kamu engga bahagia dengan


liburan ini kenapa kamu setujui permintaan Ibu. Ouh juga bukan itu, kenapa kamu


harus setuju dengan perjodohan ini kalau kamu sendiri tersiksa?”


Ananda terkejut, suamiya kini malah


salah menafsirkan tentang diam dan tangisnya. “Mas bukan gitu! Kamu salah


paham,”


Abi tertawa lucu seolah menertawakan


tentang dirinya sendiri yang juga ikut andil dalam hal perjodohan ini. Jika


perjodohan ini meskipun dia begitu mencintai Ananda dulu, dia akan mencoba


untuk meredam perasaannya itu daripada harus menjalankan pernikahan palsu ini.


Pernikahan yang tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada mereka. Mereka


saling bersama namun juga saling menyakiti. Abi cukup menyesal.


“Aku tadi ketemu mantan aku, itu yang


buat aku nangis.” Pengakuan Ananda yang membuat Abi terperanjat, bagaimana


istrinya ini bisa menemukan mantannya itu.


“Zian?” Pertanyaan abi yang lebih


terdengar seperti pernyataan yang lagi-lagi menyudutkan Ananda. Namun yang


membuat Ananda terheran adalah bagaimana suaminya itu bisa mengetahui tentang


Zian, padahal tidak pernah sebelumnya Ananda menyinggung soal Zian pada Abi.


Abi berjalan kearah keluar kamar menuju


pintu kaca tempat Ananda tadi muncul dengan wajah sembapnya. Abi menggeser


pintu kaca dan pergi menjauh dari kamar.


Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel


Ananda


*Dari: Mas Abi


Kamu tidur duluan aja,


Mas baru pesan kamar lain.*


Ananda yang frustasi menerima pesan itu


lalu segera menelepon suaminya, namun beberapa kali panggilan Ananda tidak


dijawab hingga berakhir pada nomor Abi yang tidak aktif. Sepertinya Abi cukup


marah akan dirinya Ananda sadar itu.


***


Sementara itu Abi memilih medudukan


dirinya di bibir pantai saambil memandang ke arah langit, ada ribuan bintang malam


ini sedang mengitari bulan yang bersinar penuh di tengah-tengah mereka.


Abi tersenyum meski hati dan perasaannya


tengah kacau di karenakan pertemuan Ananda dengan mantan kekasihnya.


Abi berbaring lalu menggunakan satu


tangannya sebagai bantal untuk kepala, dan matanya lalu memejam mencoba


menikmati waktu menyendirinya di bawah sinar rembulan meski angin pantai terasa


begitu dingin menerpa kulit Abi. Sekelebat bayangan lalu muncul di pikiran Abi


entah darimana. Yang jelas bisa Abi ingat dimana disana ada sepasang kekasih


yang tengah duduk berdua di bibir pantai.


Sang gadis sedang meminum air kelapa


muda ketika sang pria mencoba mengeluarkan gelang yang terbuat dari


cangkang-cangkang kerang laut yang telah di modifikasi menjadi bentuk yang


lebih indah. Sang gadis terkejut saat laki itu memberinya kalung itu kepadanya,


demi apapun itu begitu indah baginya.


“Aku tahu kamu engga mau mengganti kalung kamu dengan yang lain, makanya aku kasih


ini ajadeh biar bisa kamu pakai di tangan kamu,” Kata pria itu lalu menyerahkan gelang itu pada kekasih wanitanya.


Abi ikut tersenyum mendengar kalimat


rayuan dari sang lelaki yang bak sebuah bayangan hitam putih di kepalanya. Sang


gadis lalu menerima gelang cantik tadi dan lalu memakainya, tampak gelang itu


semakin indah d bawah terpaan sinar senja sore. Rengkuhan hangat mengakhiri


adegan romantis sepasang kekasih itu di benak Abi membuat Abi bertanya siapa


sebenarnya kedua orang itu? Mengapa mereka terasa begitu nyata padahal Abi


merasa belum pernah berjumpa dengan mereka.


Abi membelalakkan kedua matanya ketika


angin pantai semakin dingin menerpanya, dari itu Abi lalu bangkit dan pergi


menuju kamar barunya yang baru dia pesan tadi.


***


Di lain pulau dimana Raline berada dan


tengah mencari barang-barangnya yang akan dia gunakan untuk membantunya membuat


tugas dari kantornya. hingga dia pusing sendiri ketika harus mencari salah satu


penggaris untuk di gunakan, Raline mengobrak-abrik isi lemarinya dan akhirnya menemukan


penggaris yang pernah ia gunakan dulu selama menjadi mahasiswa. Namun yang


membuat Raline kembali menoleh pada isi lemarinya yang lain, disana bisa Raline


amati sebuah benda cantik seolah-olah tengah tersenyum padanya. Membuka kembali


kenangan-kenangan yang pernah ia lalui dulu.


Gelang cantik yang terbuat dari


kerang-kerang yang telah diukir dengan rapi mengingatkan Raline kembali pada


seseorang yang dulu pernah mengisi hidupnya selama bertahun-tahun sebelum orang


itu benar-benar perfi dari hidupnya.


Dan orang itu adalah.... ABIMANYU


RESPATI!.