
Sentuhan itu nyata, tangan Zian dengan
beraninya menggenggam lengan Ananda yang masih terdiam. Sorot mata Zian kentara
sekali sarat akan kekecewaan yang sungguh mendalam. Ananda dapat melihat sisi
terlemah dari Zian selama ia pernah mengenal pria itu, Zian tidak pernah
sekalipun terlihat selemah ini. Zian tidak pernah memiliki sorot mata sesayu
itu, Ananda merasa dirinya begitu kuat dalam mengahntam cinta laki-laki itu
hingga laki-laki itu seperti seseorang yang hilang arah.
Kisah-kisah lama seolah kembali berputar
di bola mata mereka untuk dilihat bagai sebuah slide-slide kenangan dari
masing-masing pemandang. Ananda segera memutuskan untuk memandang satu-sama
lain. Dia takut untuk terlena hingga melupakan bahwa dia telah berusami.
“Jawab aku! Kenapa kamu ada disini?”
Tanya tegas Zian. Matanya terus menatap wanita di depannya dengan tatapan
tajam.
“Ak....aku kesini sama Mas Abi,”
Dengus Zian menoleh kearah lain seperti
malas melihat wajah Ananda, “Aku tanya kamu kanapa ada disini bukan dengan
siapa!” Nada Zian meninggi di akhir kalimatnya.
“Aku.....” belum sempat Ananda
melengkapi kata-katanya, Zian kembali memotong, “OH! Aku tahu, pasti kamu lagi
bulan madu bareng dia kan?” Ananda tidak bisa menjawab lagi juga tidak berani
menatap Zian, wanita itu menunduk.
“Tega kamu, apa dosa yang udah aku buat
ke kamu sampai kamu setega ini Nand?” Cerocos Zian tidak dapat menahan emosinya
lagi, itu terdengar dari kata-katanya yang bergetar.
“Maaf Zian.” Hanya itu yang dapat
dikatakan Ananda untuk Zian. Bahkan Ananda tidak tahu mengapa dia harus meminta
maaf sedangkan dirinya sendiri juga merasakan sakit yang tidak jauh lebih sakit
dari Zian. Dia harus menghabiskan kehidupannya dengan lelaki yang ia tidak
cintai. Mereka sama-sama jadi korban disini tetapi Ananda juga berpikir bahwa
memang kesalahannya pada Zian untuk menentang perjodohan ini. Dengan itu ia
lepaskan cengkraman lelaki di depannya ini dengan pelan lalu berbalik menuju tempatnya.
Tidak lama Zian pun memutuskan untuk pergi menjauh juga. Namun yang sama-sama
mereka dapati kali ini adalah air mata mereka yang bercucuran bersama langkah
gontai mereka yang menjauh satu sama lain.
Mantan, itulah status mereka kini.
Menjadi mantan kekasih karena keadaan bukan karena perasaan yang tidak saling
menyukai lagi. Bukan pula perasaan yang tidak menginginkan satu sama lain lagi
serta bukan juga perasaan cinta dan sayang yang telah menghilang karena saat
mereka berpisah, bahkan mereka telah membuat janji untuk terus bersama sampai keduanya di jemput untuk kembali pada sang pemilik semesta.
***
Abi terkejut saat dia tiba dikamar tidak
menemukan Ananda di manapun hingga pintu kaca yang mengarah langsung pada sisi
pantai tergeser menampilkan sosok istrinya dengan wajah yang seperti habis
menangis membuat Abi panik takut terjadi sesuatu pada wanitanya itu.
“Mas, udah balik. Bentar aku cariin baju
santainya dulu,” Ananda segera berlalu ke arah koper mereka yang memang
baju-baju mereka belum sempat untuk Ananda pindahkan kedalam lemari yang
tersedia di kamar hotel. Tanpa Ananda sadari Abi masih menatap wajah Ananda
yang terlihat sembap.
“Kamu habis nangis?” Tanya Abi
hati-hati. Ananda segera berlari kearah cermin dan tampaklah matanya yang
sedikit sembap akibat menangis tadi. Ananda mencoba bersikap seolah tidak terjadi
apa-apa lalu membalikan badannya kearah sang suami lalu berkata bahwa dia hanya
kelilipan saja.
Abi mendekat lalu menyentuh wajah
istrinya mencoba melihat dengan jelas cetakan air mata yang baru saja
mengering. “Kenapa?” Nada rendah dari pertanyaan Abi tidak dapat lagi bisa coba
Ananda bohongi. Namun Ananda malah memilih untuk diam tidak mau menjawab
pertanyaan suaminya itu.
“Kalau memang kamu engga bahagia dengan
liburan ini kenapa kamu setujui permintaan Ibu. Ouh juga bukan itu, kenapa kamu
harus setuju dengan perjodohan ini kalau kamu sendiri tersiksa?”
Ananda terkejut, suamiya kini malah
salah menafsirkan tentang diam dan tangisnya. “Mas bukan gitu! Kamu salah
paham,”
Abi tertawa lucu seolah menertawakan
tentang dirinya sendiri yang juga ikut andil dalam hal perjodohan ini. Jika
perjodohan ini meskipun dia begitu mencintai Ananda dulu, dia akan mencoba
untuk meredam perasaannya itu daripada harus menjalankan pernikahan palsu ini.
Pernikahan yang tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada mereka. Mereka
saling bersama namun juga saling menyakiti. Abi cukup menyesal.
“Aku tadi ketemu mantan aku, itu yang
buat aku nangis.” Pengakuan Ananda yang membuat Abi terperanjat, bagaimana
istrinya ini bisa menemukan mantannya itu.
“Zian?” Pertanyaan abi yang lebih
terdengar seperti pernyataan yang lagi-lagi menyudutkan Ananda. Namun yang
membuat Ananda terheran adalah bagaimana suaminya itu bisa mengetahui tentang
Zian, padahal tidak pernah sebelumnya Ananda menyinggung soal Zian pada Abi.
Abi berjalan kearah keluar kamar menuju
pintu kaca tempat Ananda tadi muncul dengan wajah sembapnya. Abi menggeser
pintu kaca dan pergi menjauh dari kamar.
Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel
Ananda
*Dari: Mas Abi
Kamu tidur duluan aja,
Mas baru pesan kamar lain.*
Ananda yang frustasi menerima pesan itu
lalu segera menelepon suaminya, namun beberapa kali panggilan Ananda tidak
dijawab hingga berakhir pada nomor Abi yang tidak aktif. Sepertinya Abi cukup
marah akan dirinya Ananda sadar itu.
***
Sementara itu Abi memilih medudukan
dirinya di bibir pantai saambil memandang ke arah langit, ada ribuan bintang malam
ini sedang mengitari bulan yang bersinar penuh di tengah-tengah mereka.
Abi tersenyum meski hati dan perasaannya
tengah kacau di karenakan pertemuan Ananda dengan mantan kekasihnya.
Abi berbaring lalu menggunakan satu
tangannya sebagai bantal untuk kepala, dan matanya lalu memejam mencoba
menikmati waktu menyendirinya di bawah sinar rembulan meski angin pantai terasa
begitu dingin menerpa kulit Abi. Sekelebat bayangan lalu muncul di pikiran Abi
entah darimana. Yang jelas bisa Abi ingat dimana disana ada sepasang kekasih
yang tengah duduk berdua di bibir pantai.
Sang gadis sedang meminum air kelapa
muda ketika sang pria mencoba mengeluarkan gelang yang terbuat dari
cangkang-cangkang kerang laut yang telah di modifikasi menjadi bentuk yang
lebih indah. Sang gadis terkejut saat laki itu memberinya kalung itu kepadanya,
demi apapun itu begitu indah baginya.
“Aku tahu kamu engga mau mengganti kalung kamu dengan yang lain, makanya aku kasih
ini ajadeh biar bisa kamu pakai di tangan kamu,” Kata pria itu lalu menyerahkan gelang itu pada kekasih wanitanya.
Abi ikut tersenyum mendengar kalimat
rayuan dari sang lelaki yang bak sebuah bayangan hitam putih di kepalanya. Sang
gadis lalu menerima gelang cantik tadi dan lalu memakainya, tampak gelang itu
semakin indah d bawah terpaan sinar senja sore. Rengkuhan hangat mengakhiri
adegan romantis sepasang kekasih itu di benak Abi membuat Abi bertanya siapa
sebenarnya kedua orang itu? Mengapa mereka terasa begitu nyata padahal Abi
merasa belum pernah berjumpa dengan mereka.
Abi membelalakkan kedua matanya ketika
angin pantai semakin dingin menerpanya, dari itu Abi lalu bangkit dan pergi
menuju kamar barunya yang baru dia pesan tadi.
***
Di lain pulau dimana Raline berada dan
tengah mencari barang-barangnya yang akan dia gunakan untuk membantunya membuat
tugas dari kantornya. hingga dia pusing sendiri ketika harus mencari salah satu
penggaris untuk di gunakan, Raline mengobrak-abrik isi lemarinya dan akhirnya menemukan
penggaris yang pernah ia gunakan dulu selama menjadi mahasiswa. Namun yang
membuat Raline kembali menoleh pada isi lemarinya yang lain, disana bisa Raline
amati sebuah benda cantik seolah-olah tengah tersenyum padanya. Membuka kembali
kenangan-kenangan yang pernah ia lalui dulu.
Gelang cantik yang terbuat dari
kerang-kerang yang telah diukir dengan rapi mengingatkan Raline kembali pada
seseorang yang dulu pernah mengisi hidupnya selama bertahun-tahun sebelum orang
itu benar-benar perfi dari hidupnya.
Dan orang itu adalah.... ABIMANYU
RESPATI!.