
Raline memandang sejenak sebuah foto yang ia simpan sejak lama, semenjak lelaki yang ada di foto itu benar-benar dijauhkan darinya. Laki-laki yang sebenarnya telah Raline pastikan akan menjadi
miliknya namun ternyata itu hanya mimpi terlalu tinggi yang Raline gantungkan.
Ia sentuh kalung berbentuk palang salib di lehernya, inilah alasan kenapa Abi
dijauhkan darinya. Mereka berbeda.
Hari ini adalah hari minggu sudah menjadi kewajiban bagi Raline untuk pergi ke gereja guna beribadah, dan juga guna menyejukan jiwanya dalam memohon pada Tuhan. Raline mengenakan pakaian yang tampak
cocok ia gunakan untuk masuk ke Gereja.
Paman, bibi serta para sepupunya telah menunggunya sejak tadi, “Mbak Raline lama banget sih?” Ketus Gilang si bungsu di keluarga pamannya saat Raline tiba di hadapan mereka.
Raline menyengir lalu menguyel-uyel pipi
tembam adik sepupunya yang berumur 10 tahun itu. Adik sepupu yang sudah ia
anggap seperti adiknya sendiri, maklum Raline adalah anak tunggal di keluarga
kandungnya. Ia memasuki mobil sambil menggandeng Gilang si bocah gembul tadi.
“Namanya juga cewek kan lama lho siap-siapnya Lang,” Alasan Ananda membuat Gilang memutar mata malas.
“Mah,Pah, Kalau besok-besok mbak Raline ngaret lagi. Tinggalin aja deh.” Gerutu Gilang membuat semua yang berada di mobil tertawa terbahak-bahak.
“Memangnya kenapa sih kamu mau cepet-cepet, biasanya juga kamu ngebo kalau di bangunin pagi. Hari minggu aja yang kamu rajin?” Tanya tante Raline.
“Kan biar bisa ibadah Ma.” Jawab Gilang.
“Alah....bilang aja mau ketemu Nessi.” Goda Rio pada sang adik dari bangku belakang. Gilang langsung menatap abangnya kesal karena membawa-bawa nama gadis kecil seummurannya yang sering dia ajak
bermain bersama di pelataran gereja. Abangnya itu selalu meledek Gilang bahwa
Gilang menyukai gadis manis itu.
“Ma! Bang Rio nakal!” Kesal Gilang lalu mengadu.
“Cieeeee.... adek bontotnya mbak udah gede ni!” Kompor Raline mendukung Rio untuk menggoda si bungsu.
“Aku ngambek!” Ucap Gilang lucu dengan wajah yang memerah tanda malu. Semua pun kompak terbahak kembali.
Raline merasa begitu bahagia berada di tengah keluarga dari adik ibunya ini. Ya, Omnya yang menjadi kepala keluarga di antara mereka ini adalah adik ibunya. Dan sudah 2 minggu lebih Raline tinggal
bersama mereka karena dia yang harus tinggal di kota ini untuk bekerja di
kantor milik Abimanyu meninggalkan kedua orangtuanya di Jogja. Sebenarnya
Raline ingin tinggal di kamar kos saja karena tidak mau merepotkan keluarga
omnya ini, namun malah om dan tantenya itu menawarkan rumah mereka untuk
ditempati Raline karena memiliki kamar kosong lain yang tidak di tempati.
Raline sungguh bersyukur memiliki sanak keluarga yang begitu baik seperti
keluarga ini
Suara mesin mobil berhenti tanda mereka telah sampai di pelataran gereja, mereka semua turun terkecuali om Danu yang harus memarkirkan mobilnya terlebih dahulu. Mereka ikut menunggu om Danu hingga
lelaki dewasa itu berhasil menemukan tempat parkir untuk mobilnya.
Mereka pun masuk kedalam Gereja yang begitu megah dengan sebuah palang salib di dinding kaca di atas mimbar yang cukup besar. Mereka pun larut dalam hikmat beribadah di atas bangku-bangku
panjang, begitupun dengan Raline yang mulai mengepalkan tangannya untuk berdoa.
***
Sepulangnya dari gereja mereka
memutuskan untuk berbelanja di pusat perbelanjaan terdekat, sudah menjadi
kebiasaan keluarga ini untuk pergi ke mal sehabis beribadah setiap hari minggu,
hitung-hitung menghilangkan penat di akhir pekan. Kali ini keluarga Nessi pun
ikut bersama mereka membuat Gilang sedari tadi tersenyum karena kehadiran Nessi
yang selalu di dekatnya. Namun Raline memilih untuk kembali kerumah karena dia
merasa tidak enak badan tiba-tiba.
Akhirnya disinilah Raline berada, di sebuah cafe dimana dulu pernah menjadi satu-satunya cafe yang di kunjunginya ketika liburan kuliah dan berkunjung ke rumah om Danu di kota ini. Cafe ini
jugalah yang menjadi saksi bisu dimana Raline diminta untuk menjauhi Abi oleh orangtua
Abi yang mengetahui hubungan mereka yang saat itu sebenarnya belum siap di
ketahui oleh orangtua mereka masing-masing namun entah darimana orangtua Abi
bisa mengetahui hubungan mereka itu.
membawanya ke tempat ini.
Sebuah lagu melantun dengan tenang didalam cafe membuat Raline semakin larut dalam lamunan kejadian beberapa tahun lalu.
Beberapa tahun lalu :
“Saya minta kamu untuk jauhi Abi!.”Tutur ibu Abi tanpa basa-basi terlebih dahulu
kepada lawan bicaranya.
Raline sebagai lawan bicara ibu Abi langsung terkejut bukan main dengan kalimat permintaan ibu Abi yang lebih cocok di sebut sebagai sebuah kalimat perintah. Raline tidak tahu harus merespon apa kepada
kalimat ibu Abi.
“Maaf bu, tapi apa salah saya sehingga ibu minta saya untuk menjauh dari Abi?” Tanya
Raline memberanikan diri. Raline sebenarnya tahu kemana arah cerita ini berujung
namun entah mengapa dia belum ikhlas terlalu cepat berhadapan dengan masalah ini.
“Saya yakin kamu cukup pintar untuk mengetahui kemana arah pembicaraan ini. Kalung kamu!”Tunjuk
Ibu Abi tepat kearah leher Raline yang sekarang tergantung dengan cantik sebuah
kalung dengan Palang salib sebagai gantungannya.
“Kita berbeda Nak. Abi, saya, ayahnya Abi dan kamu itu berbeda. Kita berbeda Raline
tolong mengertilah.”Ucap Ibu Abi dengan mata yang mulai berkaca-kaca seolah
benar-benar anaknya menjalin cinta dengan Raline.
“Tapi bu, kita bisa mencari solusinya untuk masalah ini.” Tutur Raline dengan nada
perlahan.
Namun, dengan cepat ibu Abi menyela, “Dengan apa, Kamu mau anak saya mengikuti
keyakinan kamu?”
Raline terdiam seketika tidak tahu harus berbicara apalagi, ibu Abi benar. Tidak ada
cara lain untuk Abi dan Raline bersatu kecuali salah satunya keluar dari apa
yang mereka yakini. Sementara Raline yakin bahwa Abi sama sekali tidak akan mau
untuk keluar dari apa yang dia yakini dan begitupun dengan Raline.
***
Raline tersadar dari lamunannya yang membayangkan kembali kenangan dan luka lama di hidupnya terdahulu. Raline memakaikan kembali tas selempangnya untuk pulang karena hari yang mulai menggelap. Tidak mungkin
dia sampai di rumah saat keluarga om dan tantenya sampai duluan, padahal
dirinya tadi telah mengatakan untuk pulang terlebih dahulu.
Raline keluar dari cafe bertepatan dengan Azan maghrib yang berkumandang. Raline kembali teringat pada saat masa kuliahnya dulu di Jogja, dimana saat itu dia dengan semangatnya menemani dan
mengantar Abi ke Masjid untuk shalat berjamaah sementara dia akan menunggu di
luar pelataran Masjid ditemani semangkuk bakso buatan Mas bejo langganannya
yang memang sering berjualan di luar pelataran Masjid. Bahkan Raline sendiri
yang menawari Mas Bejo untuk menjaga gerobak baksonya sementara lelaki tambun
itu bisa ikut shalat berjamaah di dalam Masjid.
Raline tersenyum lagi mengenang masa-masa indahnya bersama Abi yang dulu. Bukan Abi yang sekarang yang sama sekali tidak mengenalinya.
Raline rindu saat bisa menemani Abi untuk pergi ke Masjid, saat dia bisa mendengar cerita-cerita Abi tentang Agamanya atau bahkan saat Abi dengan tidak kalah semangatnya mengantar Raline ke Gereja
untuk beribadah setiap hari minggunya. Raline rindu akan Abi, benar-benar
Abinya... Abi miliknya bukan milik orang lain. Bukan Abi yang kini telah memiliki
pendamping hidup yang sama keyakinannya dengan dirinya. Yang pastinya membuat
kedua orangtua Abi begitu menyayangi menantu mereka yang sekarang ketimbang
dengan Raline yang selalu mereka wanti-wanti untuk tidak mendekati putra mereka.
Raline menyentuh salibnya lagi untuk
menguatkan dirinya yang sebenarnya begitu rapuh untuk sekedar mengingat masa
lalunya yang begitu pahit karena harus berpisah.........
dengan lelakinya.