
Kembalinya Abi dan Ananda ke rumah mereka berdua setelah menghabiskan beberapa hari di Bali di sambut dengan hangat oleh kedua ibu mereka masing-masing.
Apalagi Ibunya Abi yang begitu senang karena sang menantu idaman telah kembali dari masa liburannya.
Abi sendiri heran sebenarnya disini siapa anak dari Ibunya itu?, kenapa Ibunya itu lebih bergembira ketika menyambut pulangnya Ananda ketimbang dirinya?.
"Lupain aja terus kalau ada anaknya disini!" Sindir Abi pada Maryam.
Otomatis kepala Maryam menoleh kearah putranya yang sedari tadi menatap Maryam yang terus menanyakan segala hal yang menurut Abi tidak cukup penting pada Ananda yang baru saja tiba, "Kamu nyindir Ibu?"
"Engga cuman bilang aja kok," Elak Abi takut dengan tatapan tajam ibunya itu.
Ibu Maryam hanya berdecak sebal dengan tingkah laku putranya itu dan kembali menatap wajah menantu kesayangannya, "Kamu istirahat lagi ya, Cape banget kayaknya." Ananda hanya mengangguk meng-iyakan. Karena memang tubuhnya kini terasa lelah betul setelah mengisi masa liburan yang panjang dan juga jetlag yang tiba-tiba menyerang.
"Kamu tolong angkatin koper-kopernya ke kamar! Ibu mau masakin kalian dulu." Perintah mutlak Maryam yang langsung di balas wajah melas Abi.
"Aku baru nyampe lho bu, udah disuruh-suruh aja." Keluh Abi yang langsung di balas tatapan tajam lagi oleh Maryam.
"Kamu tuh cowo engga boleh lemah dong." Ucap Maryam dengan nada mengomel.
Abi hanya bisa mengelus dada saja melihat tingkah laku ibunya itu. Meski terkadang terkesan baik namun juga ibunya itu bisa berubah menjadi orang yang begitu galak pada dirinya.
"Derita anak tiri nih," Lirih pelan Abi namun sayang masih bisa di dengar oleh Maryam.
"Kamu bilang apa?!" Teriak Maryam membuat Abi tersentak kaget sedangkan Ananda hanya bisa terkekeh melihat pertengkaran Ibu dan anak itu.
"Ya Allah! engga ada bilang apa-apa lho bu!."
"Hmm, awas kamu ya!" Kata Maryam lalu berlalu ke arah dapur.
"Sabar ya mas.....pfffft.....hehe," Ucap Ananda setelah melihat sang mertua telah menjauh ke arah dapur.
"Seneng banget kayaknya kalau Mas di marahin?"
"Iyalah lucu soalnya kalau Mas di marahin Ibu." Jujur Ananda membuat Abi tersenyum senang.
"Bisa aja kamu tuh, udah istirahat aja kamu dulu. Pasti cape kan?"
Ananda mengangguk, "Yaudah sini aku bantuin bawa kopernya." Tawar Ananda yang langsung di tahan Abi.
"Biar mas aja Dek,"
Ananda berkutik, "Yaudah deh, aku duluan ya Mas,"
"Iya sayang...Ups!." Jawab Abi spontan membuat pipi Ananda terasa memanas serta warnanya telah berubah menjadi merah seperti pantat Bayi.
Ananda pun langsung mengacir masuk ke dalam kamarnya sementara Abi **** senyum melihat tingkah lucu dan polos Ananda barusan. "Kamu imut kalau gitu Nand." Kata Abi dalam hati.
****
Abi dan Ananda masih sibuk menikmati hidangan makan malam mereka dengan tidak lupa di temani oleh cahaya redup lilin.
Suara sendok yang menyentuh piring pun silih berganti berdenting memecah keheningan malam di antara mereka berdua sebagai penghuni di ruang makan itu.
Ibu Abi yang sebelumnya berencana untuk menginap di rumah mereka, tiba-tiba mengurangkan niatnya dan sudah sejak setengah jam yang lalu meninggalkan pasangan itu untuk kembali ke rumahnya sendiri.
"Mas besok udah harus kembali ke kantor," Ucap Abi membuka percakapan antara keduanya.
Ananda mengangguk mengerti. "Kalau gitu nanti aku siapin dulu perlengkapan Mas untuk besok," Balas Ananda.
"Engga usah. Biar mas sendiri aja, Mas tadi cuman mau ngabarin aja kok bukan untuk nyuruh kamu nyiapin perlengkapan untuk besok,"
Ananda mengambil gelasnya lalu meneguk beberapa kali air putih, "Sudah tugas aku mas. Kamu tidur duluan aja, besok pagi kan harus ngantor." Saran Ananda.
Sesuai saran Ananda, Abi pun segera ke kamar setelah menghabiskan makanannya. Sementara Ananda terlebih dahulu mencuci piring serta peralatan lain yang baru saja mereka gunakan.
Selama mencuci Ananda hanya terdiam. Karena bosan Ananda pun memilih untuk menelepon sang sahabat karib. Vanessa.
Tutttt.
Tuttttt.
Setelah beberapa kali mengangguk akhirnya panggilan itu terjawab. Ananda mengubah setelan loudspeaker di hpnya, agar dia bisa berbicara sambil mencuci piring.
"Idih, sombong banget. Gue cuman mau ngajak Lu ketemuan besok."
"Lho, Lo udah balik?!," Tanya Vanessa dengan sedikit berteriak.
"Udah. Tadi siang, makanya yuk hangout,"
"Yaudah oke. Di cafe biasa ya." Tawar Vanessa di balas tanda tanya oleh Ananda.
"Tempat mas pelayan yang Lo bilang ganteng itu?"
Suara di ujung sana terkekeh, "Iya dong, kangen gue liatin wajah ganteng masnya itu."
"Kebiasaan Lo emang ya!"
"Haha...Udah deh besok lagi Lo ngomelnya yak, sekarang gue udah ngantuk mau tidur. Bye."
Akhirnya suara telepon pun terputus membuat sisi Ananda kembali sunyi. Tepat juga dengan dirinya yang berhasil menyelesaikan pekerjaannya mencuci piring.
Wanita muda itupun lantas bergegas kembali ke kamarnya, dilihatnya sang suami telah mendengkur pelan pertanda lelaki itu telah terbawa ke alam mimpi.
Aura teduh lelaki itu masih saja terpancar dari wajahnya bahkan ketika dia sedang tertidur. Ananda memilih menidurkan badannya di samping Abi namun masih terdapat ruang yang cukup jauh.
Hingga akhirnya Ananda menyusul suaminya itu ke alam mimpi.
Entahlah apa mereka akan bertemu di satu mimpi yang sama?.
****
Paginya, Ananda telah sibuk berkutat dengan segala huru-hara mempersiapkan perginya sang suami untuk bekerja.
Begitu lebay mungkin terdengar namun dirinya telah memantapkan diri bahwa mulai dari sekarang akan lebih memperhatikan suaminya itu dan juga terus belajar untuk mencintainya.
"Makasih ya," Ucap Abi dengan tak lupa melontarkan senyun teduh dari dalam mobilnya sementara Ananda berdiri membungkuk dari arah luar jendela mobil.
"Sama-sama, Hati-hati dan semangat ya!" Tutur Ananda lalu melepas kepergian Abi dengan senyum yang mengembang.
Siangnya, Seperti janji. Ananda dan Vanessa bertemu di cafe biasa mereka tongkrongi yang juga di sana ada sosok tampan yang di idamkan oleh Vanessa juga.
Seorang pelayan wanita mendekati mereka hendak menanyakan pesanan namun dengan tidak berdosa nya, Vanessa malah menyuruh pelayan perempuan itu untuk berganti dengan mas tampan yang kebetulan lewat di seberang meja mereka.
"Maaf ya Mbak kita sama mas itu aja ya?" Pinta Vanessa.
"Mbak mau di layanin sama Yogi?" Tanya pelayan wanita itu memastikan.
Vanessa sumringah, "Ouh jadi namanya Yogi?"
"Iya mbak. Baru sebulan kerja disini."
Pelayan wanita itu pun segera memanggil mas pelayan yang bernama Yogi tadi untuk melayani orderan Vanessa dan Ananda.
"Yog, layanin mbak-mbak ini ya, mbak mau layanin customer lain dulu." Ucap pelayan wanita tadi dan segera di angguki oleh Yogi sebagai balasan. "Iya mbak."
"Hai mas Yogi, haduh makin ganteng aja. Lama ya engga ketemu kita,"
Yogi hanya tersenyum ramah tanpa niat ikut bicara.
"Aduh Mas Yogi jangan tegang dong. Saya mau pesen mango smoothie aja deh soalnya saya lagi diet, Lo Nand?"
Ananda hanya memutar mata malas, lagi-lagi Vanessa membuat malu dirinya di cafe ini, "Saya pesen Milk shake aja mas. Ouh ya maafin kelakuan temen saya yang gesrek ini juga ya." Kata Ananda tidak perduli dengan tendangan kecil di bawah meja yang di lakukan oleh Vanessa.
Si pelayan mengangguk lalu pergi meninggalkan mereka.
"Kok Lo gitu sih Nand sama gue?" ucap Vanessa kesal.
"Ouh! mau gue telponin si Fadil biar dia tahu bahwa pacarnya godain pelayan cafe?"
"Ih jangan dong! engga asik Lo mainnya!." Teriak Vanessa spontan membuat seisi cafe malah melihat ke arah meja mereka. Dan lagi-lagi Ananda harus menahan malu memiliki teman seajaib Vanessa
****
Doain ya biar rajin update 😋