MY IMAM

MY IMAM
Episode 7



Abimanyu memutuskan masuk kedalam kamar hotel


dengan nomor 091 setelah terlebih dahulu melakukan perang batin antara masuk


atau tidak, dilihatnya Ananda kini yang masih bergelung dibalik selimutnya di


atas kasur yang sebenarnya diperuntukan untuk 2 orang. Namun dikarenakan Abi


yang lebih memilih untuk memesan kamar lain akibat insiden semalam jadilah


kasur itu seperti mubazir ukurannya dipakai Ananda. Abi menyibak tirai krim


cokelat yang menjadi penutup untuk dinding-dinding yang terbuat dari kaca di


kamar itu dengan perlahan. Sinar mentari pagi pun langsung menerpa tubuh Ananda


membuatnya sedikit terganggu akibat cahaya mentari yang membuatnya sedikit


silau. Ananda terbangun dengan perlahan lalu dengan cepat ia pejamkan lagi


matanya akibat sinar mentari yang diterima kornea matanya begitu terang.


Ananda menggeliat namun langsung tersadar karena ada orang lain dikamarnya, seingatnya semalam dia tidur sendiri namun kini ada pria di depannya membelakangi cahaya matahari yang begitu menyilaukan. Tubuh lelaki itu seperti siluet bayangan saja.


“Dek, Ayo sarapan,” Ajak Abi pada istrinya yang masih terlihat tengah mengumpulkan nyawa.


Tujuan Abi kembali kekamar mereka berdua adalah karena Abi ingin mengajak Ananda untuk sarapan bersama lalu rencananya hari ini ia ingin membawa wanita itu untuk pergi ke pasar wisatawan di dekat sini.


“Jam berapa mas?” Tanya Ananda


“Delapan kurang 15, ayo cepetan!”


Ananda mengangguk lalu bangkit dan menyambar handuk seterusnya ia berlalu ke dalam kamar mandi yang ada di kamar itu, selama Ananda mandi Abi memilih untuk menikmati udara pagi di luar ruangan yang menghadap langsung ke bibir pantai.


Lalu Abi sadari bahwa ada seorang lelaki yang dari tadi mencuri-curi pandang ke arah kamar mereka, jujur Abi merasa ada gelagat yang aneh dari lelaki itu. Pikiran Abi pun langsung menerka bahwa lelaki itu adalah mantan kekasih dari Ananda yang baru ditemui istrinya itu semalam, lelaki itu Zian. Ya, Abi langsung berasumsi kuat. Dengan itu ia langsung beranjak masuk ke dalam kamar mereka dan menutup semua tirai ruangan


itu hingga kamar itupun kembali menggelap. Ananda keluar bersamaan dengan tirai terakhir yang di tutup Abi.


“Kok di tutup lagi Mas?” Tanya penasaran Ananda.


Abi mencoba berlaku sewajar mungkin,


“Iya kan kita mau jalan-jalan.” Kata Abi.


Kening ananda mengernyit, “Jalan-jalan, Kemana mas?”


“Kata teman mas yang pernah liburan dibali di dekat sini ada pasar pernak-pernik gitu jadi ya mas mau ajak kamu kesana, nanti kita sewa motor aja ya. Kamu engga papa kan naik motor?” Tanya Abi memastikan.


Ananda tersenyum lalu menggeleng, “Memangnya kenapa naik motor?”


“Mana tahu kamu takut item,” Kelakar Abi.


“Ishh engga ya, aku seneng kok bisa naik motor,” Abi senang akhirnya mereka bisa berkelakar lagi bersama meski semalam ada perseteruan sedikit diantara mereka.


“Mas, maafin aku ya untuk yang semalam. Harusnya aku engga boleh keluar ruangan tanpa seizin kamu,” Ucap dengan nada sesal dari Ananda membuat Abi langsung mendekatinya.


“Udah engga papa, kamu engga salah, harusnya Mas yang minta maaf karena ninggalin kamu semalam sendirian. Mas minta maaf ya?”


Ananda mengangguk.


“Mas udah check out dari kamar sebelah jadinya nanti malam mas tidur disini, boleh kan?”


“Kok payah minta, ini kamar kamu juga mas.”


“Makasih.”


***


Mereka berdua kini tengah duduk berboncengan di atasa motor matic yang di sewa Abi tadi di dekat penginapan mereka. Bukan hal aneh jika bisa menyewa sepeda motor di tempat wisata seperti Bali. Bahkan disini para turis


asing begitu gemar mengendarai sepeda motor, para turis itu dengan santainya berseliweran di jalan-jalan dengan sepeda motor mereka maing-masing.


Abi mengangguk, “Ya sebenarnya aku engga tega ninggalin kamu, jadi ya aku mesen kamar aja di samping kamar kita.”


Ananda menggumam pelan.


Beberapa menit kemudian akhirnya mereka berdua sampai di pasar yang mereka tuju, Abi terlebih dahulu memarkirkan kendaraan mereka, Ananda menunggu Abi di luar jejeran motor-motor yang terparkir. Tangan Abi terulur kearah Ananda membuat Ananda terdiam antara menerima uluran itu atau mengabaikannya. Setelah berpandangan lama dengan uluran tangan Abi akhirnya Ananda memutuskan untuk menerima uluran itu, entah


kenapa ada desiran lembut di dadanya saat menerima uluran tangan Abi yang terasa begitu hangat.


Dilain pihak Abi tersenyum namun mencoba menyembunyikannya dengan **** senyumnya, ia bahagia setidaknya Ananda sudah mau bersentuhan dengannya. Abi berjanji pada hatinya untuk memenangkan hati


Ananda meski dia yakin bayang-bayang lelaki tadi masih ada di dalam hati dan rasa cinta Ananda. Namun waktu akan menjawab semuanya karena dia yakin bahwa Ananda adalah jodoh yang dikirmkan Tuhan untuknya.


Mereka disambut dengan stan-stan kedai kecil dengan corak kayu ukiran di kanan dan kiri. Ananda langsung tertarik pada sebuah stan penjual pernak-pernik buatan masyarakat lokal, dia langsung mengahampiri kedai itu dengan Abi yang mengikuti di belakangya, dan juga jangan lupa tautan tangan mereka yang tidak terlepas. Kedai ini menjual kerajinan tangan masyarakat yang terbuat dari cangkang-cangkang kerang yang sudah tidak


berpenghuni lalu di sulap menjadi aksesoris wanita yang cantik-cantik. Ada kalung, gelang dan lain-lainnya.


Abi tertarik pada suatu gelang yang begitu indah dimatanya, ukirannya begitu rapi dan warna cokelat dari hasil


sulapan tangan para pengrajin semakin menambah kesan indah pada gelang itu,


yang jelas itu adalah hasil modifikasi yang begitu cantik.


Abi langsung mengambil gelang itu dan langsung membayarnya tanpa sepengetahuan Ananda.


Tiba-tiba bayangan semalam saat Abi terduduk sendiri di pantai datang lagi, bayangan tentang sepasang kekasih yang terduduk di bawah sinar senja dan si pria memberikan gelang yang begitu persis


dengan gelang yang sedang ia genggam ini. Abi bertanya pada dirinya sendiri, Apa dia harus memberikan ini pada Ananda seperti lelaki dibayangannya lakukan?. Ah, mungkin itu adalah cara cinta memberikan sinyal untuk Abi dalam memenangkan hati pujaan hatinya.


Setelah puas berkeliling pasar dan membeli barang-barag yang mereka inginkan mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan. Dengan wajah yang lelah mereka mengitari pantai berdua dengan


masing-masing menjinjing alas kaki mereka. Keduanya pun terlibat obrolan ringan


mulai dari masa sekolah mereka hingga cita-cita mereka di masa depan.


Setelah merasa cukup lelah dengan aktivitas berjalan mereka yang menguras tenaga akhirnya mereka memilih untuk duduk di pinggir pantai sembari memandangi langit sore yang mulai memerah. Abi pamit pergi sebentar untuk buang air kecil sementara Ananda kini mengitari pandangannnya kesekitar pantai, memandangi bagaimana interaksi manusia dengan alam di sini. Hingga pandangan Ananda pun tertuju pada pemuda dengan kacamata hitam yang seolah-olah menatapnya dibalik kacamata itu. Ananda cukup mengenali


tubuh tegap itu jadi dia tidak perlu bertanya lagi siapa lelaki itu.


Abi kembali dengan dua buah kelapa muda di kedua tangannya, lalu ia berikan satu buah kelapa muda itu untuk Ananda. Ananda mengucapkan terima kasih dan menerima uluran buah kelapa muda itu. Lalu matanya


memberanikan diri untuk menoleh kearah lelaki tadi tetapi nihil lelaki itu telah menghilang membuat Ananda semakin merasa bersalah akan dosa-dosanya pada lelaki itu.


Abi merogoh kantung celananya lalu mengeluarkan sebuah kotak dengan ukiran kayu kecil  lalu mengulurkan tangannya lagi kearah Ananda dengan gestur memberi. Ananda mengerut seolah bertanya pada Abi mengapa dia di beribenda itu. Abi yang mengerti dengan ketidak pahaman istrinya itu langsung menjelaskan maksudnya.


“Tadi aku liat gelang ini di gerai aksesoris dan aku langsung tertarik jadinya aku beli. Kayaknya cocok deh untuk


kamu, Dek.” Jelas Abi.


Ananda menerima kotak itu dan membukanya, dapat Ananda lihat sebuah gelang cantik berbahan cangkang-cangkang kerang yang sudah dihancurkan dan diukir lagi dengan corak-corak yang semakin mengindahkan


gelang itu.


“Boleh aku pakaikan?” Pinta Abi dan Ananda langsung mengangguk tanpa berpikir lagi. Dia cukup tersentuh dengan cinta lelaki di hadapannya ini meski telah ia sakiti dengan belum bisa membalas


cintanya.


Abi mendekatkan tangan putih Ananda kearahnya dan segera memakaikan gelang tadi di pergelangan tangan istrinya dengan penuh semangat.


Mereka pun berakhir dengan Ananda yang mensandarkan kepala di bahu suaminya. Posisi mereka seperti itu bertahan hingga mentari yang tenggelam di ufuk barat.


Abi terseyum........


Ananda masih dalam dilemanya.........


Sementara Zian yang menyaksikan mantan kekasihnya kini telah tampak bahagia bersama orang lain, memilih memutar langkah menjauh dari mereka dengan hati yang kembali tersakiti.


Dengan kata lain, Zian sudah benar-benar HANCUR.